
Bandung, 2021
Setelah dirawat beberapa hari dirumah sakit, akhirnya Nenek Rina diperbolehkan pulang. Nenek Rina pulang ditemani Bryan, Ayunda dan Melisa. Mereka menuruni gedung rumah sakit menggunakan lift. Nenek Rina duduk dikursi roda dibantu perawat yang berjaga saat itu.
"Bu, tidak ada barang yang tertinggal kan di kamar?" tanya Melisa tante Bryan ke Nenek Rina untuk memastikan.
"Seingat ibu tidak ada Mel. Tapi tidak tahu juga ya apakah ada yang tertinggal atau tidak." Jawab Nenek Rina penuh keraguan. Maklum saja, karena sudah sepuh daya ingat lansia biasanya menurun.
"Tidak ada kok Mel, tadi Mbak sudah mengecek sebelum meninggalkan kamar." Ucap Ayunda sambil menekan tombol lift menuju lobi.
Lift melaju dengan cepat dan mereka sudah sampai di lobi.
Supir jemputan sudah menunggu di depan lobi rumah sakit.
"Selamat pagi tuan-nyonya." Sapa Pak Udin supir jemputan yang ditugaskan Reymond untuk mengantar dan menjemput Bryan-Ayunda.
"Selamat pagi Pak Udin." Balas Ayunda.
Bryan terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Nenek Rina. Setelah memastikan Nenek Rina duduk dengan nyaman, Bryan melipat kursi roda dan meletakan ke bagasi mobil. Kemudian Tante Melisa dan Ayunda masuk ke dalam mobil. Tante Melisa duduk di seat belakang, di seat kedua ada Ayunda dan Nenek Rina sementara Bryan duduk di seat depan disamping Pak Udin.
Mobil melaju dengan kecepatan 60 km per jam memecah keramaian kota Bandung.
Bagi sebagian orang kota Bandung merupakan kota yang sangat indah tapi tidak bagi Bryan. Dia sering bolak-balik Jakarta-Bandung bahkan hampir tiap akhir pekan mengunjungi Nenek Rina tapi tidak pernah sekalipun dia mengunjungi tempat wisata yang ada di Bandung. Padahal Kota Bandung dikenal karena keindahannya bahkan dahulu disebut juga dengan Parijs van Java. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner.
Selama dalam perjalanan Bryan hanya sibuk dengan tablet dan sesekali mengecek layar ponsel. Berharap orang kepercayaannya memberikan informasi tentang keberadaan Eliza.
"Ry, kamu tuh jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sesekali nikmati hidup tidak ada salahnya. Mumpung sedang di Bandung, apa kamu tidak ingin jalan-jalan ke gedung sate atau hanya sekedar nongkrong gitu di Jalan Braga. Disana banyak anak muda sepertimu, siapa tahu kamu menemukan jodoh disana!" Ucap Tante Melisa mencairkan suasana.
__ADS_1
"Nongkrong hanya untuk orang-orang yang tidak punya pekerjaan saja Tante." Ucap Bryan dingin.
"Sudah bisa ditebak, jawabanmu pasti begitu!"
"Mbak, dulu kamu ngidam apa sih sampai punya anak dingin seperti Bryan?" Tanya Melisa sambil melempar pandangan keluar jendela.
Ayunda dan Nenek Rina hanya tersenyum.
"Untung saja anak-anak ku tidak ada yang seperti Bryan. Kalau ada satu anakku seperti Bryan, bisa mati aku! Setiap hari aku pasti akan memarahinya karena selalu berkata pedas seperti makan seblak level sepuluh." Keluh Melisa dengan kesal.
"Mbak tidak tahu Mel, perasaan dulu hanya ngidam mangga muda saja." Jawab Ayunda sambil pura-pura berpikir.
"Mangga muda atau semut yang ada di pohon mangga?"
Seketika Nenek Rina tertawa tidak tahan mendengar ucapan putri keduanya.
"Semakin lama kamu menggodanya, maka semakin dibuat kesal kamu olehnya."
Bryan hanya diam saja mendengar keributan dari seat belakang.
Empat puluh menit kemudian. Mobil yang ditumpangi Bryan sudah memasuki pekarangan rumah Nenek Rina. Bryan dengan sigap membukakan pintu dan memapah Nenek Rina duduk dikursi roda. Tante Melisa membuka pintu rumah dan mempersilahkan Bryan dan Ayunda masuk.
"Ayo, kalian masuk dulu. Istirahat sebentar disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta." Ucap Melisa sambil meletakan koper berisikan seluruh keperluan Nenek Rina selama dirumah sakit.
Bryan membawa Nenek Rina masuk ke dalam kamar dengan kursi roda. Setelah sampai dikamar, Nenek Rina menasihati Bryan.
"Ry, ingat pesan nenek. Jika kamu sudah menikahi putri sahabat daddy mu, tolong jaga pernikahan kalian jangan sampai rumah tanggamu hancur akibat kamu belum bisa melupakan Eliza. Nenek memang tidak terlalu mengenal keluarga Alexander tapi nenek yakin mereka orang baik." Nenek Rina menasihati Bryan sambil mengelus kepala cucu kesayangannya.
__ADS_1
"Tapi aku takut nek, akan menyakiti dia karena sampai kapanpun tidak akan mencintainya."
"Ry, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Percaya deh sama nenek. Kelak kamu akan mencintai istrimu asalkan kamu mau membuka hati dan menerimanya dengan sepenuh hati. Jangan sampai kamu baru menyadari setelah kamu kehilangan dia."
"Jangan tiru nenek Ry. Nenek menikah dengan almarhum kakek karena dijodohkan. Selama bertahun-tahun nenek tidak mencoba membuka hati padahal kakekmu begitu sabar dan baik tapi nenek tetap tidak mencintainya. Hingga suatu hari kakekmu mengorbankan dirinya untuk menolong nenek dari kebakaran disitu nenek baru merasa kehilangan. Nenek berasa jadi orang bodoh karena selama kakek mu hidup, tidak pernah belajar mencintainya. Nenek menyesal Ry. Sampai sekarang nenek merasa bersalah karena tidak pernah memberikan hati ini untuk kakek mu. Andai waktu bisa diputar, nenek ingin memperbaiki semua." Kenang nenek sambil menitikan air mata. Mengenang masa lalu membuat nya sedih.
Tiba-tiba pintu kamar nenek terbuka, muncul Ayunda dan langsung menghampiri Nenek Rina yang sedang berbicara dengan Bryan.
"Bu sudahlah, jangan menangis lagi. Ayunda yakin, bapak disana sudah memaafkan ibu. Kalau bapak masih hidup, pasti akan sedih melihat ibu selalu menyalahkan diri sendiri." Hibur Ayunda.
"Ay, rasanya ibu sudah tidak sanggup hidup dengan memikul penderitaan ini. Ibu ingin segera menyusul bapakmu." tangis Nenek Rina semakin menjadi.
"Hush, ibu tidak boleh bicara begitu. Pamali bu." tegur Ayunda.
"Ibu lebih baik tidur, kan baru keluar dari rumah sakit. Ingat kata dokter, jangan terlalu banyak pikiran. Ibu harus sehat agar bisa menyaksikan Bryan menikah. Memangnya ibu tidak ingin melihat cicit pertama keluarga kita lahir?" hibur Ayunda.
Seketika wajah nenek berubah menjadi bahagia, membayangkan Bryan menikah dan memberikan cicit pertama untuknya.
" Baiklah, ibu akan tidur tapi janji ya setelah Bryan menikah bawa cucu menantuku kesini. Ibu ingin berkenalan dan memberikan kado pernikahan untuknya."
"Pasti bu." Ucap Ayunda sambil tersenyum lembut.
Ayunda dan Bryan keluar kamar nenek. Ayunda melangkahkan kaki menuju ruang tamu, Bryan mengekori dari belakang.
"Ry, mommy tidak tahu pasti apa yang kalian bahas tadi tapi mommy cuma minta sama kamu. Tolong jangan mengecewakan mommy dan daddy. Aluna gadis baik nak, dia sangat cocok menjadi istrimu. Mommy yakin, lambat laun kamu akan mencintai dia dan melupakan Eliza."
Bryan hanya diam, tidak menjawab apa-apa karena bagi dia sangat sulit melupakan Eliza. Bryan ragu apakah dia akan mencintai Aluna. Pernikahan seperti apa yang akan dilalui jika Aluna tahu bahwa Bryan tidak akan pernah melupakan Eliza.
__ADS_1