
Aluna menggelengkan kepala.
"Aku tidak lupa kak."
"Kakak bisa meminta Mama Irene dan Papa Fengying datang minggu depan, kita akan melangsungkan lamaran tapi tidak usah diadakan secara mewah ya karena...."
Aluna menundukan kepala, Rendra mengerti arah pembicaraan wanita yang dicintainya. Pria itu menyentuh ujung dagu Aluna.
"Iya, aku mengerti. Aku akan meminta mama, papa dan Rossa datang ke acara lamaran kita. Bagaimana?"
"Kakak selalu mengerti diriku. Terima kasih."
Aluna tersenyum manis menampakan deretan gigi putih miliknya.
Rendra tak kuasa menahan hasrat yang bersemayam dalam dirinya, pandangannya mengarah kesatu titik yaitu sebuah daging empuk berwarna merah muda. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak diantara keduanya, secara spontan Aluna memejamkan mata saat Rendra hampir mendekatkan bibirnya ke bibir wanita itu namun tiba-tiba saja mata Aluna terbuka dan ia mendorong tubuh Rendra.
"Kenapa? Apa aku tidak berhak menikmati manisnya bibirmu? Atau jangan-jangan kamu masih memikirkan pria itu?"
Aluna merasa bersalah karena ia menolak keinginan Rendra untuk mencium bibirnya.
"Kakak jangan salah paham."
"Tunggu sampai kita halal karena aku takut kakak akan khilaf dan melakukan sesuatu yang lebih." Ucapnya lembut.
Rendra bisa menerima alasan wanita itu, sejujurnya ia pun tidak tahu apakah nanti bisa menahan diri jika sudah mencium bibir merah muda milik Aluna.
"Ya sudah aku pulang dulu. Kamu istirahat-lah, jangan lupa nanti malam kita akan makan diluar. Aku sudah janji mengajak Arya makan steak dan nonton film."
Rendra mengambil kunci mobil diatas meja kemudian mendaratkan ciuman singkat dirambut Aluna.
"Assalamu a'laikum."
"Wa'alaikum salam."
***
Jakarta
Semenjak pertemuan pertama dengan Rossa, Ruddy menjadi semakin dekat dengan gadis itu. Keduanya kerap kali menghabiskan waktu bersama di akhir pekan bahkan Ruddy sudah tidak canggung lagi menjemput dan mengantarkan gadis itu kuliah. Bunda Imelda sudah bisa melihat tumbuhnya bunga-bunga cinta dihati anak gadisnya namun Rossa selalu menyangkal tentang perasaanya.
Selama empat tahun mereka bersama namun Ruddy tak kunjung mengutarakan isi hatinya kepada Rossa sementara gadis itu malu untuk menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada seorang pria karena ia takut pernyataan cintanya ditolak. Sehingga menyebabkan mereka menjalani sebuah hubungan tanpa status yang jelas.
"Rossa, ada apa?" Tanya Ruddy.
Saat ini keduanya sedang berada disebuah restoran mahal di daerah Jakarta Selatan. Sebuah restoran mengusung konsep molecular gastronomy dimana seorang koki akan bereksperimen dengan makanan baik dari bentuk hingga cara makannya selain itu mereka juga menyediakan makanan dalam bentuk yang unik dan tentunya dengan rasa yang unik juga.
Ruddy sengaja memesan tempat jauh-jauh hari karena restoran tersebut hanya menerima dua puluh delapan orang saja per hari.
Siang itu Ruddy sengaja mengajak Rossa makan siang bersama sebelum menonton film di bioskop.
"Aluna, tuan."
"Ada apa dengan nyonya muda?" Tanya Ruddy penasaran.
Pria itu sedang memakan sepotong ayam bakar with caramel sugar sauce and berry sauce.
"Tapi tuan janji jangan bilang ke Tuan Bryan."
__ADS_1
"Hu'um, katakan."
Rossa mendekatkan tubuhnya dan mengecilkan suaranya.
"Aluna akan melangsungkan lamaran minggu depan."
Uhuk
Uhuk
Ruddy tersedak.
"Tuan, apa anda baik-baik saja." Rossa menyodorkan segelas air putih.
Glek
Glek
Setelah dirasa membaik, pria itu langsung membuka suara.
"Dengan siapa?"
"Kak Rendra."
"Oh, baguslah. Setidaknya Tuan Rendra adalah pria baik dan bertanggung jawab jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan nasib nyonya muda dan kedua anaknya."
"Tuan tidak marah?"
"Untuk apa aku marah? Nyonya sudah bahagia dengan kehidupan barunya seharusnya aku bahagia karena kehidupannya lebih baik semenjak berpisah dengan Bryan."
Gadis itu meminum jus alpukat menggunakan sedotan.
"Rossa!"
"Ya, ada apa?"
"Kamu sekarang sudah lulus kuliah dan usiamu juga sudah memasuki seperempat abad. Ku rasa kamu sudah cukup umur untuk berumah tangga."
"He'em, lalu?" Rossa masih menerka-nerka arah pembicaraan Ruddy.
"Kita sudah hampir lima tahun saling mengenal, kamu sudah tahu masa lalu, keluargaku dan semua tentangku begitu juga sebaliknya."
Ruddy berhenti sejenak dan menarik napas panjang.
"Maka dari itu, maukah kau menikah denganku?"
"Hah!?"
Rossa melotot, ia menatap lekat mata Ruddy mencari keseriusan dalam dirinya. Disana ia hanya melihat ketulusan dan rasa cinta yang begitu dalam untuk Rossa.
"Kenapa diam saja, lekas jawab."
Rossa mendengus kesal.
"Sabar tuan, saya masih belum sadar dari keterkejutan." Ia sengaja menghabiskan jus alpukat yang masih tersisa setengah gelas dalam satu kali seruput.
"Tuan tidak sabaran jadi orang." Protes Rossa.
__ADS_1
"Sudah, ayo jawab."
"Apa anda serius?" Tanya Rossa.
"Kamu pikir aku main-main. Sudah cukup selama empat tahun ini aku memendam rasa kepadamu dan kini waktu yang pas untuk melamarmu."
"Apakah kamu bersedia menjadi istriku, Rossa Dinata?"
Ruddy berlutut dihadapan Rossa, pria itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian yang sengaja ia beli khusus untuk meminang gadis pujaan hatinya.
Semua pengunjung yang datang langsung mengarahkan pandangan ke arah Rossa dan Ruddy, terdengar suara gaduh dari para pengunjung, mereka tak mengira akan disuguhkan sebuah pertunjukan lamaran romantis yang disiarkan langsung oleh salah satu pengunjung restoran.
Rossa menggigit bibir bawah, mata gadis itu berkaca-kaca. Ia seperti sedang bermimpi mendapatkan sebuah kejutan ditengah kebahagiaan sahabatnya yang sebentar lagi akan melangsungkan pertunangan.
"T-tuan...."
"Sst, panggil aku Ruddy." Ruddy meletakan jari telunjuknya ke bibir Rossa.
"Ehm, Mas Rudy." Rossa menutup wajahnya menahan malu.
Ruddy hanya tersenyum.
"A-akuuuu, mau menjadi istrimu." Ucapnya terbata-bata.
Seketika suasana hening berubah menjadi ramai, suara tepuk tangan menggema memenuhi ruangan restoran.
"Aku akan menemui bunda dan sepupumu untuk melamarmu secara resmi. Boleh ya?"
"Tentu saja boleh. Kapan?"
"Tiga hari lagi. Berikan waktu untukku memberitahu tuan dan nyonya Smith serta meminta mereka menggantikan kedua orang tuaku yang sudah lama meninggal.
"Iya mas tidak masalah."
Ruddy memasangkan cincin berlian ke jari manis Rossa. Cincin itu begitu indah saat terkena pantulan sinar lampu restoran.
"Kamu suka?"
Rossa mengangkat tangannya dan mengamati cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
"Suka. Sesuai dengan seleraku."
"Tuan, eh maksudku Mas Ruddy kok bisa tahu seleraku?"
"Kamu lupa, selama empat tahun kita jalan bareng aku menghapal semua yang disukai dan tidak disukai olehmu."
"Oh iya lupa." Rossa terkekeh.
Ruddy mencubit hidung Rossa.
"Mas, pemberkatan pernikahan kita apakah boleh dilangsungkan di Gereja Katedral?" Tanya Rossa ragu-ragu.
Mengadakan pemberkatan pernikahan di Gereja Katedral Jakarta sudah menjadi cita-cita Rossa sejak kecil, ia terinspirasi dari tantenya yang saat itu menggelar pemberkatan nikah disana sehingga gadis itu bercita-cita kelak ingin menikah disana dengan seorang pria yang ia cintai.
"Tentu saja, aku akan mengurus semuanya setelah melamarmu secara resmi." Ucap Ruddy.
Rossa bernapas lega akhirnya cita-cita masa kecilnya sebentar lagi akan terwujud. Mereka berdua segera menghabiskan semua makanan kemudian melanjutkan kembali kencan pertama setelah Ruddy resmi melamar gadis itu.
__ADS_1