
Hancur hati Eliza mendengar kisah masa lalu pria itu beserta ibunya.
"Apa yang dikatakan Tuan Reymond benar?" Tanya Eliza kepada ibunya.
"El...."
"Jawab bu!" Teriak Eliza.
"Dan kamu tahu El, sebenarnya saya sama sekali tidak pernah berhenti mengirimkan uang untuk biaya kuliah dan biaya hidup selama di London. Saya selalu mentransfer tiap bulan tepat waktu." Lanjut Reymond.
"Kamu tahu kenapa uang itu tidak pernah sampai ke rekeningmu?"
"Karena ibumu memaksa agar semua uang untuk biaya kuliah dan biaya hidupmu selama disana dikelola olehnya."
"Saya tidak punya pilihan lain jika ibumu memaksa namun ternyata ada motif tersendiri kenapa ia bersikeras melakukannya."
Jleger!
"Kenyataan apa lagi ini?" Tanya Eliza.
Eliza terduduk lemas dikursinya. Ia belum siap menerima kenyataan pahit ini.
"Reymond!" Teriak Suci.
"Ini balasan untuk orang jahat seperti kalian."
"Kamu tega memutuskan hubungan darah antara ayah dan anak serta tega memanfaatkan anakmu demi kepentinganmu sendiri. Kini, terima-lah karmanya."
"Semoga kalian sadar dengan kesalahan yang sudah diperbuat."
"Selamat tinggal." Ucap Reymond meninggalkan Eliza dan Suci.
Reymond meminta Pak Udin untuk kembali ke rumah sakit, urusannya dengan kedua iblis sudah selesai dan ia berharap kedepannya mereka tidak lagi mengganggu keharmonisan keluarga yang sudah ia bina selama 25 tahun.
Setelah Reymond meninggalkan mereka berdua, Eliza melanjutkan percakapannya dengan Suci.
"Bu, tolong jelaskan semuanya kepadaku."
"El, i-ibu...." Jawab ibunya Eliza terbata-bata.
"Jawab bu!" Bentak Eliza.
Wanita itu sudah tidak tahan ingin mendengar penuturan langsung dari mulut ibunya.
"Semua yang dikatakan Reymond benar. Ibu sengaja memanfaatkanmu untuk membalaskan dendam kepada keluarga Smith."
Suci tertunduk, bibirnya bergetar dan matanya berkaca-kaca. Sekian lama ia menyusun rencana akhirnya hari ini tiba, hari dimana putrinya sendiri mengetahui kebenaran dari sebuah rahasia yang ia simpan selama 26 tahun.
Hiks
Hiks
Hiks
__ADS_1
Air mata Eliza jatuh, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa ibu tega melakukan ini?"
"Ibu tahu bagaimana penderitaanku selama satu tahun hidup terlunta-lunta di London!"
"Siang dan malam menahan lapar karena tidak memiliki uang sama sekali. Bahkan aku harus bekerja di sebuah bar demi mencari sesuap nasi terkadang mendapatkan pelecehan dari pengunjung laki-laki."
"El, maafkan ibu nak." Ucap Suci. Ia-pun menangis.
"Lantas, apakah cerita ibu tentang kematian bapak adalah rekayasa juga?" Tanya Eliza penuh selidik.
"Iya El. Sebenarnya Tuan Reymond membantu biaya pengobatan bapakmu tapi...."
"Tapi ibu mengarang cerita bahwa Tuan Reymond tidak membantu keluarga kita kan?" Sorot mata Eliza mengintrogasi.
"Benar El."
"Bu!" Teriak Eliza.
"Rahasia apa lagi yang kau sembunyikan?"
"Tahu kah kau selama bertahun-tahun aku memendam rasa dendam kepada keluarga Smith. Aku tersiksa, sangat tersiksa." Tangis wanita itu semakin pecah.
"Kau mengajakku untuk membenci orang baik seperti Tuan Reymond. Kenapa? Kenapa kau mengajak aku terjerumus kedalam lubang dendam yang kau ciptakan sendiri?!" Bentak Eliza.
Kini Eliza sudah tidak lagi memperhatikan tata krama saat berbicara dengan ibunya. Ia kecewa karena selama ini ibunya menyimpan semua kebenaran. Dan bodohnya lagi, ia percaya dengan cerita yang dikarang oleh ibunya sendiri.
"El, maafkan ibu. Ibu sungguh tidak tahu jika kamu tersiksa selama ini nak." Suci menyentuh tangan putrinya diatas meja namun Eliza menepis.
"Lebih baik kau pergi dari sini."
"Dan jangan pernah temuiku lagi."
Eliza beranjak dari kursi dan meninggalkan ibunya yang masih duduk dikursi.
"Pak, tolong bawa saya kembali ke sel." Pinta Eliza kepada pak polisi.
Suci masih bergeming, ia merutuki kebodohannya akibat dendam hingga tega memanfaatkan putri tercinta, kini ia harus menuai apa yang sudah ditanam. Wanita itu menanam bibit kebencian dalam diri putrinya tanpa disadari ia sudah merubah sifat anak perempuannya menjadi wanita yang kejam hingga tega berencana melenyapkan nyawa seseorang.
"Maafkan ibu, Eliza."
Kini hanya ada penyesalan dalam diri Suci.
***
|| Rumah Sakit Royal ||
Satu jam kemudian, Aluna sudah dipindahkan ke bangsal rawat inap. Reymond selaku pemegang saham terbesar di rumah sakit tersebut mendapatkan privilege sehingga direktur rumah sakit menyediakan satu lantai khusus bagi keluarga Smith jika mereka dirawat disana.
Kini Aluna sedang tertidur pulas diatas sebuah bed rumah sakit, punggung tangannya terpasang selang infus. Semenjak pingsan hingga dipindahkan ke bangsal, gadis itu belum sadarkan diri. Di depan pintu kamar, Bryan sudah menugaskan dua orang pengawal dan meminta mereka untuk tidak sembarang orang memberikan izin memasuki ruang perawatan. Jika dokter ataupun perawat berjaga hendak memeriksa, mereka diwajibkan menunjukan ID kepada para penjaga.
"Ry, kamu istirahat sana biar mommy jaga Aluna."
__ADS_1
"Tidak mom, Ry ingin menjaga Aluna."
"Sayang, kamu terluka dan butuh istirahat. Sudah sana jangan membantah." Ayunda membujuk anak laki-lakinya.
"Jika Aluna sadar, mommy janji akan memberitahumu."
Bryan setuju karena sejujurnya ia pun sebetulnya merasa lelah akibat berkelahi melawan para penculik belum lagi luka akibat tusukan membuat tubuhnya lemah.
"Mari tuan."
Rudy mengajak Bryan keruangan perawatan yang ada disebelah kamar Aluna. Bryan ditemani Rudy. Sementara Shera, Rossa dan Rendra sudah kembali ke rumah masing-masing. Mereka akan bergantian membesuk Aluna keesokan harinya.
"Apa nyonya ada di dalam?" Tanya Reymond kepada para pengawal.
Ia baru saja sampai dan langsung menemui istrinya.
"Ada tuan."
Reymond membuka pintu kamar dengan hati-hati, ia tidak ingin mengganggu istirahat menantunya.
"Sayang." Ucap Reymond.
Pria itu menyentuh pundak istrinya.
"Dad, apa kau sudah membeberkan semua kebenaran dihadapan Eliza?"
"Hu'um."
Reymond mencium kepala istrinya lembut. Ayunda bisa merasakan saat ini suaminya dalam suasana hati buruk.
"Aku bertemu Suci."
Hufh!
Ayunda menghembuskan napas kasar. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi.
"Kamu tidak usah khawatir, aku hanya menyampaikan yang seharusnya Eliza ketahui."
"Hati dan cintaku hanya untukmu seorang, Ayunda Smith."
"Aku tidak akan mungkin kembali ke pelukan Suci apalagi setelah semua kejahatan yang ia lakukan terhadap keluarga kita."
Reymond mengetahui kecemasan yang menghinggapi istrinya, apalagi dulu ia dan Suci pernah menjalin kasih dan hampir menikah jadi wajar jika Ayunda cemas dan takut posisinya dihati pria itu tergantikan.
"Apa dokter kandungan sudah memeriksa menantu kita?" Reymond mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, kata dokter menantu kita hanya kelelahan saja dan terlalu banyak pikiran. Kita harus membantu Aluna agar ia tidak terlalu stres. Jika terus menerus khawatirnya kandungan menantu kita bermasalah."
"Aku mengerti."
"Dad, kamu memaafkan Bryan kan?"
"Sayang, dari dulu hingga saat ini aku selalu memaafkan dia. Walaupun anak itu keras kepala namun ia tetap putraku, hadiah yang kau berikan dalam pernikahan kita."
__ADS_1
Reymond mengecup kening istrinya lembut.
Hola, masih setia kan baca novelku? Jangan lupa ya tinggalin jejak kalian disini. 🤗