Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Selamat Tinggal Bryan!


__ADS_3

Setelah dirasa cukup, gadis itu melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia beranjak dan mendorong koper besar keluar kamar. Diluar sudah ada tiga orang pelayan yang sudah siap membantu Aluna membawakan semua barang.


"Kalian tolong bawakan koper dan kardus ini. Di depan sudah ada mobil yang menungguku."


Gadis itu kembali menghampiri Bryan yang masih terduduk di atas ranjang.


"Aku pamit mas. Assalamu a'laikum."


Kemudian ia keluar kamar, air matanya masih meluncur dari kedua mata.


"Aluna, kamu mau kemana?" Tanya Ayunda.


Aluna langsung memeluk tubuh mertuanya. Gadis itu menangis dalam dekapan wanita yang sudah ia anggap seperti mamanya sendiri. Selama enam bulan menjadi menantu keluarga Smith, Ayunda tak sedikitpun menunjukan rasa tidak sukanya terhadap Aluna. Mertuanya itu selalu bersikap ramah dan penuh kasih sayang. Aluna bisa merasakan kembali kehangatan pelukan seorang ibu berkat Ayunda namun kini dengan berat hati ia harus pergi meninggalkan mertua, ipar dan rumah itu demi kebahagiaan suaminya.


"Maafkan aku, belum bisa menjadi menantu yang baik untuk kalian." Aluna melepaskan pelukannya.


"Kamu akan pergi meninggalkan mommy dan Shera?" Tanya Ayunda. Matanya berkaca-kaca.


"Mommy dan daddy jangan menyalahkan Mas Bryan. Ini keinginanku sendiri."


Satu butir bening kristal meluncur di pipi mertuanya. Gadis itu menghapus air mata tersebut dengan selembar tisue dari dalam tasnya.


"Mommy tidak boleh menangis nanti cantiknya hilang loh." Aluna mencoba mencairkan suasana.


"Sebelum aku pergi, ada kabar gembira untuk kalian berdua. Saat ini, di dalam perutku sedang tumbuh dua orang malaikat kecil. Usianya sudah menginjak enam minggu."


Ayunda merasa seperti kejatuhan bangunan kokoh. Kabar kehamilan Aluna membuatnya terkejut. Rumah mewah milik keluarga Smith sebentar lagi akan ramai oleh suara tangisan dan jeritan yang berasal dari generasi ketiga keluarga tersebut.


"K-kamu hamil nak?" Tanya Reymond. Pria tua itu terkejut juga dengan kabar gembira yang diucapkan oleh menantunya.


"Benar daddy." Aluna tersenyum ke arah mertuanya.


"Lantas mengapa kamu pergi? Tinggal-lah disini bersama kami."


"Tidak bisa mom, Aluna sudah bukan bagian dari keluarga ini jadi aku harus pergi." Gadis itu mencoba tegar dihadapan mertuanya.


"Pergi kemana sayang? Rumah peninggalan papamu sudah dijual terus kamu akan tinggal dimana?" Ayunda cemas dengan keadaan menantunya.


"Mommy tidak usah cemas, aku bisa mencari tempat tinggal lain."


"Aluna, ayo kita pergi." Ucap seorang pria dari dalam mobil.


Pria itu sedari tadi menunggu Aluna berkemas, tanpa bertanya ia langsung datang menjemput gadis itu di rumah Bunda Imelda. Rencananya pagi itu, Aluna ingin berganti pakaian, membawa perlengkapan kuliah dan sekalian meminta Rendra mengantarkannya ke kampus karena jam pertama kuliah gadis itu ada ujian praktikum sementara Rossa mendapatkan jadwal ujian siang hari. Namun alangkah terkejutnya gadis itu saat ia berjalan menuju lift terdengar suara teriakan dari arah taman belakang. Ia mendengar semua percakapan antara suami dan mertuanya.


"Mommy dan daddy, aku pamit dulu. Terima kasih karena sudah baik kepadaku selama ini."


Aluna pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan sedih dan kecewa. Kebahagiaan yang baru saja ia rasakan kini berubah menjadi kesedihan. Harapan membina rumah tangga harmonis sampai ajal menjemput kini hancur akibat keegoisan seorang pria yang berstatuskan suami dari gadis itu.


Rendra melihat kesedihan menyelimuti wajah gadis pujaan hatinya. Ia berjalan mendekat dan membantu Aluna menuruni anak tangga.


Pria itu menggenggam jemari lentik Aluna.


Bryan memperhatikan gerak gerik keduanya, timbul rasa cemburu saat melihat pria lain menyentuh tangan istrinya. Seperti ada dorongan memaksanya berjalan dan berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Hati-hati Luna." Ucap Rendra lembut.


Rendra membukakan pintu mobil, kini Aluna duduk disamping kursi kemudi. Perlakuan istimewa yang diberikan pria itu membuat Bryan mengepalkan tangan.


"Kamu tunggu disini, ada hal yang ingin ku sampaikan pada suamimu."


"Jangan lama-lama." Ucap Aluna penuh permohonan.


Kemudian Rendra berlari kecil ke arah Bryan.


"Jika kau tidak bisa membahagiakan Aluna, maka biarkan aku memilikinya dan anak-anakmu." Ucap Rendra berbisik di telinga Bryan.


Rendra kembali masuk ke dalam mobil. Kepulan asap knalpot dari mobil hitam milik Rendra menjulang tinggi bersatu dengan semilir angin bercampur dengan udara, terbang dan menghilang.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Iya kak. Terima kasih karena selalu ada disaat aku membutuhkanmu."


"Kamu akan tinggal dimana?"


"Belum tahu." Tatapan mata gadis itu kosong.


"Kamu mau sementara waktu tinggal bersamaku?"


Aluna melotot.


"Kita tidak hanya tinggal berdua, ada Bik Sumi juga disana."


"Orang tuamu bagaimana kak?"


"Lagipula aku jarang pulang kerumah, setiap hari berada dirumah sakit. Melakukan tindakan operasi dan mengawasi mahasiswa co *** jadi waktuku lebih banyak disana."


"Bik Sumi bisa membantu menjagamu selama aku tidak dirumah."


"Lagipula, kamu harus terbiasa tinggal dirumahku sebelum akhirnya resmi menjadi Nyonya Rendra Saputra." Ucap Rendra sambil terkekeh.


Aluna tersenyum simpul.


"Beruntungnya aku memiliki teman sepertimu, kak." Ucap Aluna dalam hati.


***


"Daddy, Aluna pergi membawa cucu-cucu kita." Rengek Ayunda.


"Mommy ingin Aluna kembali tinggal disini."


Kini tubuh Ayunda bergetar, ia menangis dalam pelukan Reymond.


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika Aluna sendiri yang menginginkan pergi dari sini."


"Bagaimana ia menjalani kehidupan diluaran sana dad. Apalagi saat ini gadis itu sedang hamil bayi kembar. Itu pasti akan membuatnya repot. Dulu aku hamil anak satu saja sudah repot apalagi ini dua."


"Baik, aku akan mengurusnya tapi sudah ya jangan menangis lagi."

__ADS_1


Reymond menghela napas kasar.


Di dalam kamar, Bryan teringat semua perkataan istrinya sebelum meninggalkan rumah itu.


"Hamil!"


"Bayi kembar!"


"Wajahnya mirip denganku."


"Bibir itu rasanya sangat manis masih sama seperti dulu. Saat aku masih sering mencumbunya dengan mesra."


"Hatiku terasa sakit ketika melihat pria itu menyentuh tangan istriku."


"Tidak!"


"Tidak!"


Teriakan Bryan menggema memenuhi ruang kamar. Pria itu membanting semua berkas yang ada di atas meja. Melemparkannya ke sembarang tempat. Ia mengerang dan meninju dinding hingga menyebabkan tangannya terluka.


"Kenapa jadi seperti ini?"


"Aluna!"


"Istri kecilku."


"Apa yang harus ku lakukan!"


"Argh!"


Kring...


Kring...


Suara ponsel Bryan berdering.


Bryan


📲 Halo, ada apa?


Jawab Bryan kesal.


Eliza


📲 Ry, hari ini kita jadi 'kan pergi ke Bandung? Kamu jangan lupa jemput di apartemenku.


Ucap seorang wanita diseberang sana.


Bryan


📲 Baik, aku akan menjemputmu pukul sepuluh nanti. Sudah, aku ingin istirahat dulu. Bye!


Bryan langsung mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


Moodnya pagi itu sedang tidak baik. Bryan ingin istirahat mengembalikan energi yang terbuang akibat adu mulut dengan daddynya, belum lagi mendengar kabar kehamilan dari istrinya membuat pikirannya semakin kacau.


__ADS_2