
"Permisi, selamat siang. Apakah tuan Bryan ada?"
"Nona sudah buat janji?" Ucap salah satu resepsionis sinis, dia tidak suka kehadiran Eliza di perusahaan itu.
"Harus buat janji terlebih dulu ya mbak?" Tanya Eliza.
"Prosedurnya seperti itu nona, kecuali jika anda salah satu keluarga atau nyonya boss pemilik perusahaan ini maka langsung masuk ke ruang kerja pak boss tidak masalah!"
Jleb!
Ucapan salah satu resepsionis yang bertugas hari ini langsung mengenai hati Eliza. Dadanya terasa nyeri dan wanita itu tak menyangka akan ada seseorang secara terang-terangan menunjukan ketidak sukaannya terhadap dirinya.
Salah satu resepsionis itu langsung disenggol sikunya oleh teman disampingnya kemudia ia berbisik "apa yang kamu lakukan, kalau dia melaporkan tindakanmu ke tuan Bryan dan akhirnya dipecat bagaimana?"
"Aku hanya menjalankan tugas sesuai dengan prosedur saja, apakah salah?"
Ingin rasanya Eliza merobek mulut wanita di hadapannya dengan tangannya sendiri jika tidak ingat akan niat balas dendam mungkin saat ini dia sudah menggebrak meja dan membuat keributan di kantor itu.
"Ehm, kalau begitu saya akan menelpon Rudy, asisten tuan Bryan dan memintanya menjemput disini."
"Silahkan, jika itu mau anda!"
Eliza duduk di sofa tunggu khusus tamu dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas slempang berwarna hitam merk LV model pont 9 classic flap bag berukuran 23 centi meter. Wanita itu membuka kata sandi ponselnya dan mencari nama Rudy di dalam phone book.
"Halo Rudy, aku ingin bertemu dengan Bryan namun belum membuat janji. Bisa kah kamu turun ke lobi dan menjemputku? Aku kesulitan karena resepsionis disini tidak memperbolehkanku masuk."
"Tunggu sebentar nona, akan saya sampaikan dulu ke tuan Bryan setelah mendapatkan persetujuan maka akan menjemput anda dibawah." Sahut Rudy lewat sambungan telpon.
"Aku tunggu."
Eliza mematikan sambungan telpon dan menunggu Rudy menjemputnya.
"Tuan, ada nona Eliza di lobi dan meminta izin menemui anda."
"Suruh masuk."
"Baik, saya akan menjemput nona Eliza di lobi."
Bryan menghentikan pekerjaannya dan melirik ke arah Rudy. Pria itu melonggarkan dasi hitam miliknya.
"Menjemput, maksudmu?" Bryan mengerutkan dahi.
"Bagian resepsionis tidak memperbolehkan nona Eliza masuk karena tidak membuat janji terlebih dahulu dengan anda." Rudy berkata jujur karena ia tidak ingin menutupi apapun dari atasannya.
Bryan menghela napas panjang.
"Jemput dia sekarang."
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Rudy langsung melaksanakan perintah Bryan. Pria itu membuka pintu ruangan, menutupnya kembali dan menekan tombol lift ketika pintu lift terbuka ia segera masuk.
"Nona Eliza, mari ikut saya."
"Baik."
Eliza berdiri dan mengikuti Rudy dari belakang. Wanita itu sempat melirik sekilas ke arah tiga orang resepsionis yang berjaga dibalik meja dan bergumam "lihat saja, akan aku pecat kalian jika tujuan balas dendamku sudah tercapai." Eliza mengepalkan tangan dan menggertakan gigi.
Perlakuan kalian akan menjadi motivasiku agar semakin gencar mendekati Bryan. Sejauh ini semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana namun aku tidak akan puas dulu sebelum melihat nyonya Bryan menanggis dan meninggalkan suaminya. (Eliza)
Eliza berjalan angkuh melewati meja resepsionis dan mengacuhkan tatapan sinis dari ketiga karyawan yang berjaga.
"Dasar tidak tahu malu!"
"Hush, sudah hentikan. Tidak baik mengguncingkannya terus."
"Aku tidak suka jika ada wanita yang berani menggoda suami orang. Di dunia ini masih banyak pria lain tapi mengapa merebut suami orang."
"Calon pelakor itu pastinya!"
"Berita itu belum tentu benar adanya, kalau salah jatuhnya fitnah loh."
***
"Permisi tuan."
"Selamat siang tuan Bryan." Sapa Eliza dengan nada suara yang dibuat-buat.
"Ehm, silahkan duduk." Bryan mempersilahkan Eliza duduk di kursi."
"Terima kasih."
"Rudy, tolong tinggalkan kami berdua."
"Baik tuan."
Rudy membungkukkan badan dan meninggalkan mereka berdua.
"Ketiga resepsionismu hebat juga ya Ry, pasti kamu memberikan gaji besar untuk mereka!" Sindir Eliza membuka percakapan.
"Apa yang mereka perbuat terhadapmu?" Ucap Bryan dingin.
"Mereka melarangku menemuimu karena belum membuat janji." Eliza mengalihkan pandangan ke sekitar ruangan.
"Mereka hanya menjalankan tugas saja jadi jangan tersinggung." Tatapan mata Bryan masih fokus ke layar monitor di hadapannya.
"Ry, sampai kapan kamu bersikap dingin kepadaku?"
__ADS_1
Bryan bergeming, pria itu tak melirik sama sekali ke arah lawan bicaranya.
"Besok kamu ada acara tidak? Temani aku ke acara reuni SMA." Eliza mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin saat ini bukan waktu yang pas bagiku menjelaskan semuanya." Ucap Eliza dalam hati.
"Ku dengar Gugun dan Rudy asistenmu akan datang juga. Mengapa kita tidak coba datang bersama ke acara besok. Pasti akan seru. Sudah lama kita tidak kumpul bareng. Terakhir kali...."
"Sebelum hari perpisahan sekolah, tepat satu hari sebelum kau meninggalkanku!" Ucap Bryan dingin.
Eliza bisa merasakan bagaimana sakit hatinya pria itu mengetahui dirinya menghilang bak ditelan bumi, selama hampir delapan tahun berpisah kini mereka bertemu kembali pasti ada rasa canggung karena sudah lama tidak bertemu. Eliza bisa memaklumi dan tidak menyalahkan Bryan atas sikap pria itu terhadapnya. Wanita itu akan perlahan-lahan memperbaiki kesalahan yang pernah ia perbuat sambil menjalankan aksi balas dendam terhadap Reymond Smith.
"Ehm, itu benar. Maka dari itu aku harap kau bersedia datang bersamaku karena ada hal penting yang ingin ku sampaikan."
"Ry!"
"Ry!"
Eliza memanggil nama Bryan dengan lembut.
"Baik!"
"Kamu kirimkan saja alamat apartemenmu, besok ku jemput."
"Benar 'kah?" Eliza nampak sumringah mendengar ucapan Bryan.
Akhirnya, tidak sia-sia ku gunakan trik jitu untuk meluluhkan hatimu Ry. Trik yang pernah ku gunakan dulu disaat kamu marah atau merasa cemburu akibat banyak pria yang menggodaku. Ini menunjukan bahwa kamu masih mencintai aku 'kan Ry? (Eliza).
Mengapa setiap kali wanita ini memanggil namaku dengan begitu lembut membuat hatiku tak tega menolak ajakannya. Apakah aku masih mencintainya? Apakah rasa ini benar-benar belum hilang sepenuhnya? (Bryan).
Bryan dibuat pusing oleh pikirannya sendiri. Ia benar-benar bingung dengan perasaannya saat ini. Tidak bisa menilai apakah ia masih mencintai Eliza atau sudah melupakannya. Jika sudah melupakannya lantas mengapa setiap kali bertemu jantung pria itu selalu berdegup kencang. Lantas bagaimana perasaannya terhadap Aluna, istri sahnya. Bukan 'kah ia juga merasakan perasaan aneh setiap kali bersama gadis itu?
"Apakah mungkin aku mencintai kedua wanita ini bersamaan?" Tanya Bryan dalam hati.
"Aku akan menjemputmu tepat pukul empat sore agar tidak terjebak macet."
"Baik, terima kasih Ry."
"Oh iya, aku ingin menanyakan bagaimana kelanjutan pembangunan museum kecil yang ingin ku bangun."
"Tinggal menunggu waktu untuk survey lokasi saja."
"Mungkin satu minggu lagi aku akan ke Bandung. Semua design serta denah tempat sedang dikerjakan oleh bawahanku."
"Wow, kalian sungguh profesional. Tidak salah memberikan kepercayaan kepada perusahaanmu, Ry." Eliza dibuat takjub oleh kinerja Bryan serta para karyawan perusahaan.
to be continued....
__ADS_1