
Happy reading
Setelah Bryan mengucapkan ijab qabul dihadapan penghulu, wali nikah dan para saksi maka mulai detik itu juga Aluna dan Bryan resmi menyandang status suami istri lagi.
Rasa syukur terpancar dari wajah kedua mempelai. Akhirnya Bryan bisa bernapas lega karena penderitaan, perjuangan dan penantiannya selama ini terbayar. Kini Aluna dan kedua putranya kembali menghiasi lembaran kertas putih kehidupan pria itu.
Diana dan Rendra ikut bahagia atas pernikahan kedua, dua sejoli yang sempat terpisah selama hampir lima tahun. Mama Irene dan Papa Fengying berlapang dada menerima kenyataan bahwa kini Aluna bukan lagi calon menantu mereka. Reymond hanya tersenyum menyaksikan putranya jadi salah tingkah saat berhadapan kembali dengan seorang penghulu. Ayunda dan Shera menangis terharu bahkan nyonya besar Smith tak henti-hentinya mengucap syukur karena kebahagiaan telah dirasakan kembali oleh keluarga Smith.
"Dokter Rendra, saya salut pada anda!" Ucap Diana sesaat setelah akad nikah selesai.
"Apa Dokter Diana kecewa karena pria yang dijodohkan dengan anda akhirnya kembali pada mantan istrinya?"
"Ehm, karena masih tahap mengagumi jadi tidak terlalu kecewa. Namun pada saat anda menolak cinta saya, nah baru sangat kecewa."
Diana terkekeh mengingat dulu pernyataan cintanya ditolak oleh Rendra.
Rendra melihat senyum manis terukir dari bibir Diana. Wanita itu begitu cantik apalagi saat terkena pantulan sinar matahari menampakan siluet putih, Rendra terkesiap akan kecantikan Diana.
"Dokter Rendra!" Ucapan Diana membuyarkan lamunannya.
"Ya!"
"Anda melamun?"
"Atau jangan-jangan, anda terpesona oleh kecantikan saya?" Goda Diana.
"Jika iya, bagaimana?"
"Jangan bercanda, mana mungkin anda tertarik pada saya."
Rendra terdiam sejenak.
"Dokter Diana, apakah masih ada sedikit celah nama saya dihatimu?"
"Apa?"
"Itupun jika Dokter Diana masih tertarik pada pria malang seperti saya."
"Ha-ha-ha." Diana tertawa kecil melihat sikap Rendra seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Dokter Rendra masih menjadi kandidat pertama untuk bisa menjadi pendamping hidup dimasa depan."
"Kalau begitu, bagaimana jika kita coba berkencan?"
Diana hanya tersenyum namun dalam hatinya berbunga-bunga, akhirnya ia bisa menjalin kasih bersama sang idola. Memang butuh waktu lama bagi Rendra untuk melupakan Aluna, namun Diana yakin dengan cinta tulus yang ia berikan perlahan-lahan mampu membuat pria keturunan Tionghoa ini berpaling dan mencintainya. Ibarat sebuah batu jika terus menerus terkena tetesan air sekeras apapun batu itu, tetesan air akan melunakannya. Cepat atau lambat, Diana yakin ia dan Rendra akan berbahagia dalam sebuah ikatan pernikahan yang sakral.
"Tentu!"
Satu per satu keluarga Saputra dan keluarga Smith memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai yang baru saja mengikrarkan janji suci pernikahan. Tak henti-hentinya Aluna menebar senyum bahagia.
"Dokter Rendra."
"Di, tolong panggil namaku saja."
"Mas Rendra." Diana menutupi wajahnya dengan tangan.
__ADS_1
"Terdengar lebih romantis."
Diana mencubit lengan Rendra.
"Kita kesana." Diana menunjuk ke arah Aluna dan Bryan yang sedang berfoto bersama keluarganya.
"Selamat menempuh hidup baru." Rendra menjabat tangan Bryan.
"Terima kasih Dokter Rendra."
"Jaga Aluna dan si kembar baik-baik, jika tidak...."
"Mas!" Diana mendelik ke arah Rendra.
"Ya-ya!"
"Tunggu, kalian berdua?" Tanya Bryan keheranan.
"Do'akan saja semoga kami bisa menyusul kalian." Rendra menepuk bahu Bryan.
Kemudian Rendra berpindah menyalami Aluna.
"Semoga kali ini pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan."
"Terima kasih dan semoga kakak segera mendapatkan penggantiku."
"Tenang saja, aku sudah mendapatkan kandidatnya." Ucap Rendra seraya melirik Diana yang sedang berdiri disampingnya.
***
Kini Rossa tengah berbadan dua, satu bulan semenjak menyandang status baru. Wanita itu dinyatakan positif hamil dan kehadiran calon buah hati melengkapi kebahagiaan keluarga kecil Ruddy dan Rossa.
Saat Rossa mendapatkan kabar pernikahan kedua antara sahabatnya dengan Bryan membuatnya tidak sabar ingin segera bertemu Aluna. Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan, jiwa ke-kepoan pada diri wanita itu tidak hilang meski kini sudah menjadi istri dan calon mama muda.
"Luna, bagaimana ceritanya Kak Rendra meminta Tuan Bryan menggantikannya?" Bisik Rossa.
"Jadi, dua hari sebelum akad nikah, Mas Bryan ke apartemen. Kami berbincang, ada satu momen dimana aku dan Mas Bryan saling mengungkapkan isi hati. Ternyata diam-diam Bi Sumi merekam dan mengirimkannya kepada Kak Rendra."
"Oh." Rossa ber-oh ria.
"Ternyata Kak Rendra baik ya, mau melepasmu demi kebahagiaan kalian."
"Benar. Aku berdo'a semoga hubungannya dengan Diana berjalan lancar."
"Diana?"
"Wanita yang rencananya akan dijodohkan dengan Mas Bryan. Ia juga putrinya Dokter Dianka."
"Wah, pokoknya malam ini kamu harus menceritakan semuanya padaku."
"Baru satu bulan tak saling berkomunikasi, kamu banyak menyimpan rahasia." Dengus Rossa.
"*Bab*e, malam ini aku menginap disini ya." Rengek Rossa.
"Tidak bisa babe." Ruddy menolak secara halus
__ADS_1
"Semalam saja, please!" Rossa menangkupkan kedua tangan.
"Aku tahu maksudmu meminta izin menginap disini. Babe, jangan racuni pendengaran calon bayi kita dengan gosip tak jelas. Lagipula, apa kamu mau mengganggu malam pertama tuan dan nyonya muda!"
Rossa menepuk jidat.
"OMG, aku hampir lupa. Ini kan malam pertama kalian setelah hampir lima tahun berpisah." Rossa terkekeh.
Aluna menyenggol pundak sahabatnya.
"Diam Ocha!"
"Bagaimana, sudah siap memberikan adik bayi untuk si kembar?" Tanya Rossa tanpa merasa bersalah.
Rossa bertanya dengan suara keras dan semua orang mendengar.
"Sst!" Aluna menyenggol siku sahabatnya.
Bryan menahan tawa. Ayunda dan Reymond hanya tersenyum.
"Aunty, memang Alya mau punya dedek bayi?" Tanya Arya polos seraya berbisik ke telinga Shera.
"Iya, kalian mau?" Shera balik bertanya pada kedua keponakannya.
"Mau, mana?" Tanya si kembar bersamaan.
"Minta pada papi dan mami."
Tanpa menunggu lama, si sulung Aryan segera berpindah tempat duduk. Ia meminta Bryan memangkunya.
"Papi, kakak dan adek ingin punya adek bayi pelempuan." Bisik Aryan.
"Kakak sudah siap punya adek bayi?"
"Cudah."
"Adek Arya?"
"Cudah."
Bryan begitu gemas melihat wajah imut putranya.
"Ok, papi akan segera memberikannya untuk kalian."
Percakapan diantara Bryan dan Aryan hanya mereka berdua yang mendengar karena si sulung berbicara dengan suara nyaris tak terdengar oleh orang lain.
"Tapi mulai malam ini, kakak adek bobo sendiri."
"No problem, papi. Kakak akan minta Bi Sumi menemani."
"Tos!"
Bryan dan Aryan menggerakan kedua tangan secara bersamaan dan menepuknya satu sama lain.
"Aluna, mulai malam ini aku tidak akan membiarkanmu beristirahat." Bryan tersenyum smirk.
__ADS_1