Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
First Kiss


__ADS_3

🚫 WARNING! 21+


Bagi kalian yang belum cukup umur diharapkan meng-skip episode ini, namun jika memaksa jangan salahkan author. Kerugian ditanggung masing-masing. 🤭


***


Happy reading


Jarum jam terus berputar namun Bryan masih belum bisa memejamkan mata. Dia mendengus kesal akibat terlalu memikirkan Aluna.


"Rasanya sangat aneh jika berjauhan dengan dia." Bryan segera pindah ke ranjang, merebahkan tubuh dan menarik selimut dan menutupi separuh tubuhnya dari dada hingga kaki.


Bryan menarik tubuh Aluna hingga menempel di dadanya, lalu memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku sayang karena tidak bisa mengontrol emosi." Bryan mengecup kening Aluna sebelum ikut hanyut dalam dunia mimpi.


***


Keesokan hari, dua orang pengawal yang bertugas untuk menjaga Aluna kini sudah bersiap dengan posisi tegak berdiri berjaga di depan pintu kamar resort. Sejak pukul lima pagi mereka sudah bersiaga berdiri disamping kanan-kiri pintu kamar, lebih awal dari jam yang diperintahkan karena mengingat keselamatan jiwa Aluna yang kelak akan melahirkan penerus perusahaan mereka tidak ingin lalai dalam melaksanakan tugas.


"Tumben jam segini tuan dan nyonya belum keluar kamar." Pengawal A berbisik ke temannya.


"Sst, jangan bergosip nanti terdengar tuan muda bisa mati kita!" Pengawal B memperingatkan agar menjaga lisan, khawatir tiba-tiba Bryan keluar kamar dan mendapati mereka sedang bergosip.


Bryan bukan hanya dingin namun juga tegas dalam pekerjaan, jika karyawan perusahaan kedapatan sedang bergosip di jam kerja maka tidak segan-segan menegurnya karena baginya waktu adalah uang. Satu detik terbuang akan sangat merugikannya.


Ding ding dung dung


Bunyi alarm ponsel Aluna berdering nyaring memenuhi ruangan.


Tangan Aluna meraba-raba atas nakas untuk mencari ponsel, berusaha menyentuh layar agar alarm tidak berdering lagi.


"Huh, berat sekali."


Aluna berusaha menjauhkan lengan kekar Bryan yang sedang melingkar di pinggangnya.


"Mas lepaskan aku."


"Eum."


Aluna masih berusaha melepaskan lengan Bryan dari pinggangnya tapi justru pria itu semakin mempererat pelukannya bahkan kini dia bisa merasakan napas suaminya berhembus dengan lembut.


"Aku mau ke kamar mandi."


"Tidak boleh, temani aku sebentar lagi." Ucap Bryan, dengan posisi masih memeluk istrinya.


"Tapi aku sudah kebelet."


Bryan dengan terpaksa melepaskan pelukannya dan membiarkan istrinya turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


Bryan meletakan dua tumpukan bantal dibelakang punggungnya, membuka ponselnya dan mencari berita terkini seputar ekonomi-bisnis.


Aluna kini sudah berada di dalam kamar mandi, melihat bayangan tubuhnya terpantul di cermin kamar mandi.


"Semalam mas Bryan begitu romantis, rasanya seperti mimpi. Tak ku sangka pria dingin dan jutek seperti dia bisa menyiapkan kejutan seromantis itu."


Aluna memukul-mukul lembut kedua pipinya.


Aluna segera menuju shower dan memulai ritual mandi pagi. Kilasan kejadian kemarin membuatnya sangat bahagia. Kejadian kemarin menjadi penyemangat hidup untuk menghadapi hari ini. Tiga puluh menit berada dikamar mandi, kini dia berjalan menuju lemari. Memilih pakaian yang akan dikenakan.


Bolak-balik mencari pakaian yang tepat hingga dia menjatuhkan pilihan ke sebuah kaos putih lengan pendek sebagai (inner atau dalaman), jumpsuit (outer), terdapat kancing dibagian depan yang bisa dibuka-lepas dan dibagian depan ada saku untuk menaruh ponsel atau dompet.


"Mas, kamu lekas mandi habis itu kita pergi sarapan."


"Tunggu sebentar, aku masih mengecek laporan pekerjaan semua karyawan."


Aluna melipatkan kedua tangan di depan dada, memperhatikan suaminya yang sedang sibuk dengan pekerjaan.


"Oke, kalau kamu masih mau mengurusi pekerjaan disaat bulan madu, maka aku akan pergi sendirian."


Aluna menghentakan kaki dan berjalan meraih gagang pintu.


"Tunggu, aku akan mandi sekarang."


Bryan melompat dan berlari masuk ke kamar mandi.


"Istri kecilku berubah menyeramkan jika sedang marah."


Tidak ingin terlalu larut dengan pemikirannya sendiri, dia segera menggeser keran shower.


Suara gemericik air terdengar menandakan saat ini Bryan sudah mulai mandi.


Tiba-tiba Aluna teringat kejadian semalam, disaat Bryan membahas rencana memiliki anak bersamanya dengan buru-buru dia membuka layar ponsel dan menelpon Rossa.


📞 Aluna


"Halo Ocha, bagaimana kabarmu?"


📞 Rossa


"Baik, kamu sendiri bagaimana? Ada kabar apa?"


📞 Aluna


"Aku mau minta pendapatmu. Semalam Mas Bryan menyiapkan kejutan makam malam romantis untuk ku dan dia meminta sebuah imbalan. Kamu tahu imbalannya apa?"


📞 Rossa


"Tidak. Memangnya apa?" Rossa penasaran.

__ADS_1


📞 Aluna


"Dia menginginkan anak dariku."


Rossa terbatuk mendengar cerita sahabatnya. Baru beberapa bulan tinggal bersama nampaknya sudah banyak kemajuan diantara hubungan sahabatnya dengan Bryan.


📞 Rossa


"Terus hubungannya denganku apa? Jika dia ingin anak seharusnya kalian segera memproduksinya bukan malah menelponku."


📞 Aluna


"Masalahnya aku b-e-l-u-m s-i-a-p!"


📞 Rossa


"Mau sampai kapan kamu akan menyiapkan diri?" Tanya Rossa kesal. Ini pertama kalinya Aluna terlihat bodoh.


📞 Aluna


"Tidak tahu." Aluna menghela napas dan menghembuskan secara kasar.


📞 Rossa


"Begini ya Aluna sayang, kamu dan dia sudah resmi menikah secara agama dan negara jadi tidak ada salahnya kalian melakukan "itu". Dia berhak memiliki kamu seutuhnya. Cepat atau lambat kamu harus memberikannya juga, kan?" Ucap Rossa penuh penegasan.


Aluna berpikir sejenak, memang benar yang dikatakan Rossa kini mereka sudah resmi menjadi suami-istri jadi tidak masalah jika dia memberikan kehormatannya kepada seseorang yang memang pantas mendapatkannya.


📞 Rossa


"Saran aku sih gitu Luna, berikan haknya jangan biarkan dia terus menunggu."


"Aku tutup dulu ya, bunda memintaku untuk membantunya di dapur. Bye Aluna!


Aluna termenung, pandangannya menatap ke arah depan. Ucapan Rossa terngiang-ngiang di telinganya.


"Kamu sedang apa sayang?" Ucapan Bryan mengembalikan kesadaran Aluna.


"Tidak ada mas."


Bryan memeluk Aluna dari belakang, menempelkan dagunya ke pundak istrinya, mencium leher dan memberikan sedikit gigitan kecil yang membuat tubuh Aluna meremang seketika.


Bryan segera membalikan tubuh Aluna, kini mereka saling berhadapan, wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. Ia meraih pinggang Aluna dan menarik gadis itu mendekat.


Aluna menatap wajah Bryan, memperhatikan mata indah milik suaminya tanpa sadar gadis itu menyusuri tulang hidung yang mancung dan turun ke lekuk bibir suaminya.


Bryan menahan dagu Aluna, sebuah ciuman singkat ia daratkan ketika berhasil menyentuh bibir ranum milik istrinya tidak ada penolakan dari gadis itu, kini Bryan mendaratkan ciuman kedua dengan memperdalam ciumannya. Menekan tengkuk Aluna, memangut dan menikmati bibir istrinya. Ciuman itu semakin lama semakin panas, bahkan kini mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing dan debaran jantung yang tidak beraturan.


Bryan memperdalam ciuman, menjelajahi setiap sudut mulut Aluna dengan lid*h, tidak ada satu celahpun yang luput dari sapuannya. Ia kehilangan kendali akibat kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2