
Happy reading 🍃
Tanpa diduga, wanita itu sudah duduk diatas meja kerja Bryan dengan pose yang dibuat se-menggoda mungkin. Dia mencoba mengalungkan tangannya ke leher Bryan dan tiba-tiba pintu ruangan disamping ruang CEO terbuka.
Ceklek
"Jauhkan tangan anda dari tubuh suami saya!" Teriakan Aluna menggema memenuhi seluruh ruangan.
Sontak Bryan mendorong tubuh wanita itu agar menjauh darinya. Wanita itu membola tak menyangka bahwa di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua tapi masih ada satu orang yang tak lain adalah nyonya Bryan Smith.
Wanita itu segera turun dari atas meja dan merapikan tali blouse yang sempat ia buka saat mencoba menggoda Bryan.
"Tugasmu hanya sebagai perwakilan perusahaan saja, kan?"
"Tidak untuk menggoda CEO yang merupakan rekan bisnis dari perusahaan Mega Art!"
Aluna meninggikan suaranya dan bersedekap. Setiap kata yang diucapkan gadis itu laksana pisau tajam yang siap menghunus hati lawannya.
"Ehm, anda salah paham nyonya." Ucap sekretaris perusahaan Mega Art.
"Salah paham bagaimana? Dengan jelas mata saya melihat anda duduk di depan suami saya, membuka tali blouse, mengalungkan tangan ke leher dan entah apa yang akan anda lakukan jika saya tidak segera keluar!"
"Bisa saja anda berbuat tindakan asusila dan setelah itu mencoba mencoreng nama baik perusahaan serta nama baik keluarga Smith."
Sekretaris itu dibuat tidak berkutik sedikitpun. Wanita itu nyaris kehilangan kata-kata saat disindir oleh gadis kecil dihadapannya.
"Saya peringatkan sekali lagi. Jangan pernah mencoba menggoda suami orang jika tak ingin kariermu berantakan!"
"Maaf."
Wanita itu segera menyambar map yang berisikan surat kontrak kerjasama dan berlari keluar ruangan dengan terbirit-birit.
"Kecoak kecil saja berani menggangguku!" Ucap Aluna sambil membusungkan dada.
"Dan kamu, mas. Lain kali jika dia berbuat seperti itu lagi, segera dorong atau kalau perlu putuskan kerjasama kalian dengan perusahaan Mega Art. Aku tidak sudi melihat suamiku digoda wanita lain!"
Aluna menanggis sesegukan, membayangkan dirinya akan kehilangan Bryan dan meninggalkan dirinya membuat tangisnya semakin kencang.
"Hei, sayang. Iya, maafkan aku."
"Tadi aku tidak menyangka dia akan menggodaku."
"Sungguh!"
"Aluna, sayang."
"Maafkan aku!"
Bryan panik melihat istrinya terus menanggis.
"Sudah-sudah, jangan menanggis lagi." Bryan menepuk-nepuk punggung istrinya dengan lembut.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Benar kah?" Aluna mendongakkan kepala.
"Dasar gadis bodoh!"
"Mana mungkin aku meninggalkan istri secantik dirimu."
Bryan mengusap rambut istrinya.
"Jangan menanggis lagi ya."
"Aku takut Rudy tiba-tiba muncul dan melihat kau menanggis, kemudian memberitahu mommy dan daddy. Bisa gawat jika mereka tahu."
Aluna segera menghapus air matanya.
"Aku sudah berhenti menanggis kok."
"Gadis pintar."
Bryan mengecup ujung kepala istrinya dengan penuh cinta.
"Sebentar lagi aku ada rapat dengan pemegang saham. Kamu mau menunggu disini atau mau pergi jalan-jalan?"
"Jalan-jalan saja deh, aku bosan disini terus."
"Ini." Bryan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
__ADS_1
Ia mengeluarkan sebuah black card dan menyodorkannya ke Aluna.
"Kamu bisa membeli apa saja dengan kartu ini. Apapun yang kamu inginkan, boleh dibeli."
"Tapi mas."
"Kenapa?"
"Aku tidak terbiasa berbelanja menggunakan kartu."
"Berbelanja menggunakan kartu lebih aman daripada membayar secara cash."
"Tidak mau, lagipula aku hanya jalan-jalan saja tidak berniat berbelanja."
"Jangan menjatuhkan harga diriku, sayang."
"Kamu tidak ingin kan, ada pemberitaan yang mengatakan bahwa aku suami pelit tak mampu menafkahi istri."
"Iya deh, aku ambil."
"Apapun boleh aku beli?"
"Terserah kamu." Bryan mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Tapi sebagai imbalannya, kamu harus melayaniku."
"Tidak mau!"
Aluna segera berlari menjauhi tubuh suaminya.
"Weee!" Aluna menjulurkan lidah dan pergi meninggalkan Bryan di ruangannya sendirian.
"Dasar bocil!" Bryan geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan istrinya.
Aluna menuruni bangunan perkantoran mewah milik mertuanya menggunakan lift.
"Kalian ikut aku ke mall tapi tolong jangan sampai terlalu mencolok. Jagak jarak sekitar dua meter dariku."
"Tapi nyonya."
"Ya sudah, satu meter. Titik."
"Baik nyonya." Kedua pengawal tidak mau melakukan transaksi tawar menawar lagi dengan nyonya muda Bryan.
"Kalian ingat, apa yang aku katakan tadi. Jaga jarak satu meter dariku!"
"Siap nyonya!"
Aluna berjalan di depan kedua pengawal. Gadis itu pertama-tama memasuki sebuah toko buku yang menjual berbagai macam buku bacaan dan menyediakan produk lain seperti alat tulis, perlengkapan kantor, alat olahraga, alat musik dan lain-lain.
"Sudah lama aku tidak kesini." Aluna sibuk membuka sebuah novel karya penulis idolanya.
"Wah, ini novel terbitan terbaru."
"Tidak masalah kan jika aku membelinya."
Treng ting treng tring
Suara ponsel Aluna berdering.
My bestie calling
Aluna
📲 "Halo Ocha!"
Rossa
📲 "Halo Aluna, kamu dimana?"
Aluna
📲 "Aku ditoko buku xxxx di mall xxxx."
Rossa
📲 "Aku kesitu sekarang."
Aluna
__ADS_1
📲 "Memangnya kamu dimana sekarang?"
Rossa
📲 "Kebetulan aku sedang di mall xxxx juga. Tadi aku melihat wanita mirip sekali denganmu hanya saja ia berpenampilan sangat anggun dan ku pikir mana mungkin itu kamu."
📲 "Aku tahu betul selera berpakaianmu seperti apa."
Aluna
📲 "Ya sudah buruan kesini."
Rossa
📲 "Oke, tunggu aku disana."
Aluna mematikan sambungan telpon.
Lima menit kemudian....
My bestie calling
Rossa
📲 "Kamu dimana?"
Aluna
📲 "Aku di dekat meja kasir."
Rossa
📲 "Meja kasir mana?"
Aluna
📲 "Memangnya meja kasir ada berapa di toko ini?"
Aluna mematikan ponsel, ia kesal karena sejak dari tadi Rossa terus mengganggunya.
"Apakah mungkin gadis yang berdiri di dekat meja kasir itu adalah Aluna? Tapi selain gadis itu tidak ada pengunjung lain lagi."
"Tidak ada salahnya aku mencoba."
Rossa menghampiri gadis yang sedang berdiri di dekat meja kasir.
"Aluna."
Merasa namanya dipanggil, ia segera menoleh dan melihat Rossa sedang mematung.
"Ocha!" Aluna melambaikan tangan di depan Rossa.
"Ini kamu, Aluna?" Tanya Rossa tak percaya.
"Iya, ini aku." Jawab Aluna.
"Wow, cantik sekali!" Tatapan mata Rossa tak berpindah dari sosok dihadapannya.
"Berarti wanita yang tadi aku lihat memang benar kamu."
"Kamu sekarang berubah. Lama tidak bertemu, sekalinya bertemu banyak perubahan yang terjadi padamu."
"Aku masih sama seperti dulu."
"Kamu kesini bareng siapa?"
"Sendirian."
"Kamu?" Rossa balik bertanya.
"Tuh." Aluna menunjuk dua pengawal yang sedang berdiri di depan toko buku.
"Kamu berhutang banyak cerita kepadaku!" Rossa bertolak pinggang.
"Iya, nanti aku ceritakan semuanya." Aluna menarik tangan sahabatnya.
"Kita makan yuk, perutku sudah lapar."
"Ayo."
__ADS_1
"Tunggu, aku bayar buku ini dulu."
Aluna menuju meja kasir dan membayar lima buah buku yang sudah ia masukan ke dalam tas belanjaan. Dua buah buku novel dan sisanya buku yang membahas tentang persiapan kehamilan.