
Tiga Tahun Kemudian
|| Singapura ||
Tak terasa waktu berputar dengan cepat, kesedihan dan kebahagiaan sudah Aluna rasakan selama empat tahun berada di Singapura. Rendra dan Bi Sumi serta orang tua Rendra menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan wanita itu membesarkan kedua jagoan kecilnya tanpa bantuan keluarga dan mantan suami. Ia berjuang keras menafkahi anak-anaknya dengan kepintaran dan kemampuan yang dimiliki.
Sejak memutuskan untuk pindah ke Singapura, wanita itu sudah tidak tercatat lagi sebagai mahasiswa Universitas Indonesia jurusan keperawatan. Ia melanjutkan studinya di Singapura dengan jurusan yang sama namun mengambil program diploma karena menurutnya program diploma waktu yang dibutuhkan untuk kuliah lebih singkat daripada program sarjana mengingat kini ada dua orang jagoan kecil masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang darinya.
Rendra dan Bi Sumi sering membantu Aluna menjaga si kembar bahkan kedua orang tua Rendra khususnya Mama Irene hampir seminggu sekali pulang pergi Jakarta-Singapura hanya sekedar ingin melihat wajah kedua calon cucunya. Ia sudah menganggap Aryan dan Arya seperti cucunya sendiri. Mama Irene memberikan kasih sayang, cinta dan perhatian kepada si kembar melebihi apapun karena baginya Aryan dan Arya adalah sumber semangat bagi wanita itu dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Tidak jarang Mama Irene dan Papa Fengying mengajak si kembar jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, taman, tempat hiburan keluarga bahkan restoran. Mereka sudah seperti layaknya kakek, nenek dan cucu sungguhan.
Aluna bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang begitu tulus menyayanginya dan kedua anaknya. Rendra bahkan sudah seperti papa bagi si kembar karena sejak kecil pria itu selalu menemani Aluna dalam keadaan apapun. Pria itu mencurahkan cinta, kasih sayang dan perhatiannya kepada si kembar. Ia tidak ingin Aryan dan Arya tumbuh tanpa adanya sosok papa didekat mereka.
Aryan putra sulung Aluna, memiliki sifat mirip sekali dengan Bryan. Dingin dan cuek, jarang ia tersenyum apalagi tertawa kepada orang lain sementara Arya memiliki sifat sebaliknya. Ia lebih ramah, mudah bergaul bahkan murah senyum sehingga membuat orang lain selalu ingin berada didekat si bungsu namun Aluna tidak terlalu memusingkan perbedaan sifat kedua putra kembarnya baginya dingin, cuek, ramah maupun murah senyum itu hanya kamuflase belaka selama si kembar bersikap baik, patuh dan sopan itu sudah cukup bagi wanita itu.
Hari minggu merupakan hari dimana semua orang berkumpul dengan keluarga, menghabiskan waktu bersama orang terkasih.
Pagi itu Aluna dan juga si kembar sudah bersiap menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman sejawat Rendra. Aluna begitu cantik dan anggun dalam balutan dress batik dibawah lutut, si kembar pun begitu tampan. Mereka mengenakan kemeja batik dengan bahan dan motif yang sama. Aluna, si kembar dan Rendra sengaja memesan seragam batik couple untuk acara resepsi hari itu.
Kini Rendra sedang duduk diruang tamu ditemani si kembar. Pria itu sudah menunggu Aluna satu jam lalu. Sejak pukul sembilan pagi ia sudah melajukan kendaraannya menuju apartemen yang disewa Aluna untuk ditinggali oleh dirinya dan juga kedua putranya. Sejak si kembar berusia satu tahun, Aluna memutuskan untuk menyewa apartemen sendiri karena tidak ingin terus merepotkan Rendra apalagi status mereka belum sah menjadi suami istri membuat wanita itu merasa tidak nyaman tinggal satu atap dengan pria yang bukan suaminya. Awalnya Rendra menolak namun Aluna terus menerus memaksa akhirnya ia luluh tapi dengan catatan, Bi Sumi harus tinggal bersama Aluna untuk membantu menjaga si kembar saat wanita itu kuliah atau bekerja paruh waktu.
"Papa Lendla, diminum dulu ailnya." Ucap Arya, putra bungsu Aluna.
"Iya sayang, terima kasih anak baik." Rendra mengusap kepala Arya.
Aryan hanya memandangi saudara kembarnya dan Rendra dari kursi makan, ia masih sibuk menggambar dibuku gambar yang baru saja dibelikan oleh Papa Fengying. Aryan memang lebih dekat dengan Papa Fengying karena memiliki hobi yang sama yaitu menggambar dan melukis.
__ADS_1
"Maaf sudah menunggu lama." Ucap Aluna.
Wanita itu baru keluar kamar setelah menghabiskan waktu satu jam lamanya untuk berdandan. Aluna yang sekarang mulai terlihat lebih dewasa dan semakin cantik walau hanya menaburkan lipstick dan bedak tipis namun aura kecantikannya tetap terpancar. Perpaduan wajah Asia-Eropa sangat melekat pada diri Aluna.
Rendra memperhatikan wanita pujaannya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, semuanya terlihat begitu sempura. Pria itu berdecak kagum dengan kecantikan wanita itu bahkan ia sampai tak mengedipkan mata karena terpesona oleh kecantikan Aluna.
"Papa!" Arya mengguncangkan tubuh Rendra.
"Eeh iya sayang." Jawab Rendra gugup.
"Ehm tidak apa-apa Luna, aku bisa memakluminya. Jangankan satu jam, empat tahun pun aku bersedia menunggumu." Rendra tersenyum.
Aluna tersenyum simpul dan wajahnya merona.
"Ya sudah ayo jalan."
Sesampainya dilokasi, sudah banyak tamu undangan yang hadir. Mereka semua bersuka cita atas kebahagiaan sepasang pengantin baru, tersirat kebahagiaan dari wajah kedua pengantin. Tiba-lah waktunya pelemparan bunga pengantin, semua tamu sudah berjejer dan bersiap menanti kedua mempelai melemparkan bunga.
1
2
3
Brugh!
Tepat pada hitungan ketiga, sebuah buket bunga pengantin berada dalam tangan Aluna dan sontak semua mata tertuju kepadanya.
__ADS_1
"Wah, sepertinya sebentar lagi Nyonya Aluna resmi menjadi nyonya muda Saputra." Goda salah satu perawat yang kebetulan memang sangat dekat dengan Aluna.
Suasana pesta berubah menjadi ramai karena semua orang sibuk menggoda Aluna. Aryan dan Arya hanya memperhatikan tingkah mereka di kursi.
"Kakak, lihat mami dapat bunga baguc." Ucap Arya.
"Belicik Alya." Aryan menutup mulutnya menggunakan jari telunjuk.
"Jadi kapan nih tanggal pernikahannya?" Tanya mempelai wanita.
"Do'akan saja semoga secepatnya." Ucap Rendra. Pria itu melirik ke arah Aluna.
Aluna hanya tersenyum kecut.
Satu jam kemudian, Aluna dan Rendra berpamitan kepada kedua mempelai. Rendra menggendong si kecil Arya sementara Aluna mendorong stroller, di dalamnya Aryan sedang tertidur pulas dengan tangan masih menggenggam sebuah gantungan kunci berbentuk awan tersenyum. Ia akan selalu membawa gantungan tersebut kemana-pun pergi dan tidak bisa melepaskannya.
"Aluna, kita perlu bicara empat mata." Ucap Rendra saat keduanya sudah tiba di apartemen Aluna.
Rendra dan Aluna duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa kak?"
"Mengenai kejelasan hubungan kita. Aku sudah memberimu waktu selama empat tahun dan ku rasa sebaiknya kita membahasnya dengan serius."
"Kamu tidak lupa kan?"
to be continued....
__ADS_1