
Setelah acara makan malam itu, Aluna jadi sering melamun memikirkan jawaban yang tepat untuk disampaikan ke Alexander dan Om Reymond.
Dia tidak ingin mengecewakan Alexander tapi disisi lain, dia juga tidak ingin menikah dengan seorang laki-laki yang tidak dicintai. Setiap gadis yang sudah dewasa pasti memiliki mimpi untuk bisa menikah dan membina rumah tangga dengan pasangan yang dicintai begitupun dengan Aluna tapi siapa sangka pernikahan yang dia mimpikan sangat jauh dari perkiraan.
Saat ini, Aluna sedang duduk di teras rumah sejak tadi dia membolak balikan modul praktikum tapi pikirannya tidak fokus. Beberapa kali dia memukuli kepalanya dengan pena agar fokus dengan materi tapi hasilnya nihil. Hingga akhirnya dia menyerah dan membuang modul praktikum kesembarang tempat.
"Hufh, baru kali ini aku belajar tidak fokus. Hei bodoh, apa yang sedang kau pikirkan? Besok pre test apa kamu mau nilaimu buruk dan kau harus mengulang semester depan!" Aluna emosi dan memukul modul praktikum yang tersisa ke atas meja sehingga menimbulkan suara gaduh.
Alexander mendengar suara itu langsung berjalan ke teras menyusul Aluna. Dia segera duduk disamping Aluna.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Alex heran melihat wajah Aluna nampak tertekan.
"Papa, a-anu aku tidak apa-apa." Jawab Aluna gugup. Dia tidak menyangka jika Alex akan secara tiba-tiba muncul dan duduk disamping kursi.
"Kamu jangan bohong. Papa tahu saat ini kamu sedang menyimpan masalah. Coba cerita ke papa. Siapa tahu papa bisa bantu." Ucap Alex dengan lembut.
Aluna melihat wajah tua Alexander. Dia tidak mau mengatakan isi hatinya tapi jika terus menerus merahasiakannya dia sendiri yang akan tersiksa. Dengan berat hati Aluna mengutarakn isi hatinya.
"Pa, apa aku harus menikah dengan anak sahabat papa?" Tanya Aluna sambil memelintir ujung kaos biru warna favoritnya.
"Aku kan masih muda, belum lulus kuliah masa harus buru-buru menikah sih."
"Hm, jadi ini yang membuat kamu jadi berubah. Sering melamun dan marah-marah tidak jelas."
"Aluna, dengarkan papa. Om Reymond dan Tante Ayunda adalah orang baik. Papa bisa jamin itu. Umur tidak ada yang tahu selain Tuhan. Bisa jadi besok atau lusa papa dipanggil untuk kembali ke sisi-Nya namun sebelum itu terjadi papa ingin sekali melihat kamu menikah dengan lelaki pilihan papa. Papa rasa keluarga Smith bisa menjagamu dengan baik."
Alexander mengeluarkan sebuah album yang sedari tadi digenggamnya. Dia menyodorkan album tersebut ke Aluna dan memintanya untuk membuka.
"Lihat, itu adalah foto mama dan Tante Ayunda yang sedang menggendongmu. Foto itu diambil tepat dua bulan sebelum kepergian mama mu."
__ADS_1
"Kamu bisa melihat bagaimana ekspresi Tante Ayunda saat menggendongmu?"
Hum, Aluna hanya mengangguk.
"Tante Ayunda sepertinya sangat menyayangi Aluna pa, disini Tante Ayunda malah seperti mama Aluna." Jawab Aluna dengan berkaca-kaca. Dia ingat betul dengan foto itu, foto terakhir kali yang diambil sebelum Sang Pencipta memanggil kembali sang mama.
"Yeah, you're right. Tante Ayunda sangat menyayangimu sayang. Dia tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya kepada kamu maupun Bryan."
"Ketika mamamu melahirkanmu, lihatlah semua itu kado yang diberikan oleh Tante Ayunda dan Om Reymond." Alexander memperlihatkan kembali sebuah foto seorang bayi mungil yang baru saja lahir.
Di foto itu, nampak seorang ibu sedang menggendong seorang bayi mungil yang baru saja dilahirkan. Rasa lelah akibat melahirkan tidak menghapus rona kebahagiaan dari wajah cantiknya. Perjuangan antara hidup dan mati terbalaskan senyum bahagia tatkala bayi yang sangat dinantikan hadir kedunia ini.
"Kamu tahu Aluna, yang membantu membiayai persalinan mamamu adalah mereka karena saat itu kondisi keuangan papa kurang baik. Papa berencana meminjam uang ke mereka tapi mereka malah memberikan dengan cuma-cuma."
Aluna sekilas melirik ke arah Alexander. Dia menatap manik biru milik papanya berkaca-kaca menahan agar butir kristal tak jatuh membasahi bumi.
"Papa benar-benar ingin aku menerima perjodohan itu?" Tanya Aluna serius.
"Baik pa jika itu mau papa, aku akan menuruti. Aku yakin, papa tidak akan sembarang memilihkan jodoh untuk putri kesayangan papa ini." Aluna bangkit dan segera memeluk Alexander.
"Sungguh sayang, kamu mau menerima perjodohan itu?" Tanya Alexander tak menyangka dengan jawaban putrinya.
"Iya pa, segera hubungi Om Reymond. Minta kepadanya untuk segera mempertemukan aku dan calon suamiku atau kalau papa mau segera lakukan pertunangan kami. Aku siap kok." Ucap Aluna antusias. Dia harus berpura-pura tegar agar papa tercinta tidak kecewa. Dia rela mengorbankan apa saja demi papa tercinta.
"Anggap saja ini caraku untuk berbakti ke papa karena sudah mengurusku sejak kecil." Ucap Aluna dalam hati.
Tidak mudah bukan mengurus seorang anak dengan status single parent. Dia harus membagi waktu antara mencari nafkah dan merawat anak perempuannya. Sedikit saja dia lengah maka akan timbul masalah besar. Makanya sejak memasuki masa puber, Alexander tidak memperbolehkan Aluna berpacaran karena baginya berpacaran itu hanya akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Selain itu, dia juga teringat akan janji yang pernah dibuat oleh sahabatnya Reymond bahwa kelak mereka akan menjodohkan putra-putrinya dimasa depan.
drt drt drt
__ADS_1
Ponsel Alexander bergetar. Dia segera menatap layar ponsel dan segera menekan tombol hijau.
"Halo Rey, kebetulan sekali kau menelpon. Aku baru saja ingin menelponmu tapi sudah keduluan kamu." Gigi putih terlihat ketika Alexander tersenyum.
"Oh ya, bagaimana-bagaimana Lex." tanya Reymond penasaran.
"Gini Rey, anakku sudah memberikan jawaban. Dia mau menerima perjodohan ini. jadi kita tinggal mengatur langkah selanjutnya."
"Baiklah, aku dan keluarga akan segera mempersiapkan pertunangan anak-anak kita secepatnya. Berikan aku waktu satu minggu untuk mengaturnya. Oh iya, bagaimana kalau besok kita minta anak-anak kita ketemuan? Anak-anak kita harus menentukan cincin pertunangan sesuai selera mereka sekalian berkenalan. Kan sudah sangat lama sekali mereka tidak bertemu. Pasti akan terasa canggung jika mereka tiba-tiba bertemu pas hari pertunangan.
"Ide bagus, aku setuju. Kamu atur saja Rey besok mau ketemuan dimana. Aku akan meminta Aluna bertemu Bryan."
"Ok, ok, besok aku kabari lagi Lex. Ya sudah, aku tutup dulu. Bye Alex. Reymond mematikan sambungan telpon.
"Aluna, keluarga Smith sudah memutuskan satu minggu lagi kamu akan bertunangan dengan Bryan dan besok Om Reymond meminta kamu bertemu Bryan untuk menentukan cincin tunangan yang akan kalian pakai pas hari H nanti."
"What, secepat itu?" Aluna kaget setengah mati tak menyangka bahwa papa nya benar-benar mempercepat semua proses perjodohan ini.
"Mati kau Aluna, kamu sih punya mulut tidak pernah dijaga. Jadinya begini kan!" Kesal Aluna atas dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga lisan. Dia tidak benar-benar meminta papa nya untuk mempercepat proses lamaran. Tadi dia hanya terbawa suasana saja tapi malah berakhir seperti ini.
Hufh, Aluna hanya menghela nafas dalam. Mengeluarkannya secara perlahan, mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya dia tenang.
"Pa, ini sudah malam. Lebih baik papa istirahat dikamar. Jaga kondisi papa, tidak lucu kalau pas hari pertunangan Aluna papa malah sakit." Bujuk Aluna dengan masih memeluk Alexander.
"Baik sayang, papa masuk dulu ya. Kalau kamu sudah selesai belajar, segera tidur agar besok badanmu lebih fresh ketika bertemu calon suamimu." Ledek Alexander.
"Ish papa, jangan menggodaku deh."
Alexander mengacak rambut Aluna sambil melangkahkan kaki menuju kamar tidur.
__ADS_1
Aluna masih duduk di teras rumah, dia masih berusaha menyerap semua isi materi dalam modul praktikum. Sambil mengepalkan tangan ke udara, dia bertekad mendapatkan nilai sempurna lagi untuk pre test besok.
"Ayo Aluna, semangat!"