Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Bryan VS Rendra


__ADS_3

Saat malam tiba, dari atas villa puncak kita bisa melihat lautan kilau cahaya lampu berasal dari pemukiman warga. Hari itu Reymond sengaja mengajak keluarganya berlibur di villa, ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dan kedua cucunya. Ia sengaja mengajak serta Rendra dan Diana agar suasana semakin meriah.


Reymond memesan sebuah villa tepat diatas puncak. Berlokasi di daerah Cipanas. Villa ini memiliki dua lantai, enam kamar tidur dan lima kamar mandi. Pemilik villa sengaja menyediakan berbagai macam fasilitas yang bisa dinikmati oleh penyewa seperti kolam renang pribadi yang dibangun disamping danau dengan view pengunungan hijau serta hamparan sawah asri, halaman yang sangat luas dan juga terdapat playground untuk tempat bermain anak sehingga membuat anak-anak betah tinggal disana.


Malam harinya, Reymond dibantu Pak Udin, Rendra dan Bryan menyiapkan barbeque grill pan. Rencananya Reymond ingin mengadakan acara barbeque-an dengan konsep outdoor. Ayunda sedang menyiapkan kebutuhan memanggang dibantu Shera dan Diana di dapur sementara Aluna mengawasi si kembar bermain di playground.


"Diana, tolong kamu bawa daging ini kedepan." Ucap Ayunda. Nyonya besar Smith sedang mencuci bersih sayuran yang akan dijadikan bahan pelengkap pesta barbeque-an malam itu.


"Baik tante."


Diana membawa satu buah wadah besar ke halaman depan. Saat wanita itu sampai, ia hanya melihat Bryan tengah sibuk membuat bara api. Reymond pergi ke dalam dapur membantu Ayunda, Pak Udin kembali berjaga, para pelayan membantu Aluna mengawasi si kembar sementara Rendra pergi ke toilet.


"Aw!" Pekik Diana.


Diana mengucek-ngucek kedua matanya, Bryan melihat kejadian itu menjadi tak tega. Dengan berat hati, ia mendekat ke arah Diana dan meniupi kedua matanya. Tak sengaja Aluna berjalan ke halaman depan dan melihat Bryan tengah berduaan dengan Diana, jarak mereka sangat dekat. Jika diperhatikan dengan posisi seperti itu orang lain beranggapan bahwa keduanya tengah melakukan adegan kissing karena nyaris tak ada jarak pemisah diantara mereka berdua.


"Mas Bryan!" Teriak Aluna.


"A-Aluna...."


Aluna berlari masuk ke dalam villa.


"Tunggu!"


Bryan menyusul Aluna masuk ke dalam villa. Diana hanya bengong.


Kini Bryan dan Aluna sudah berada dilantai dua.


Bryan menahan tangan mantan istrinya.


"Aluna!"


"Mas, aku pikir kamu sudah berubah ternyata masih seperti dulu. Kamu masih hobi berselingkuh dengan wanita lain!"


"Hah!" Bryan terkesiap.


"Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


"Hei, tunggu. Kamu salah paham."


Aluna meronta-ronta.


"Lepaskan aku!"


"Aluna, demi Tuhan tadi aku tidak berciuman dengan Diana."


Aluna memalingkan wajah. Ia tidak mempercayai ucapan Bryan sepenuhnya. Wanita itu berpikir mana mungkin seorang kucing tidak akan tergoda dengan ikan lezat dihadapannya.


"Katakan padaku, aku harus bagaimana untuk membuatmu mempercayaiku?"

__ADS_1


"Aluna, sejak kamu meninggalkanku hingga detik ini bibir ini hanya milikmu seorang. Bahkan Elizapun belum pernah merasakan bagaimana mahirnya bibirku bermain di dalam sana." Goda Bryan.


"Pembohong!" Dengus Aluna kesal.


"Sumpah sayang, apa kamu ingin merasakannya?"


Wajah Aluna sedikit memerah karena ucapan Bryan.


"Tidak mau!" Aluna memalingkan kembali wajahnya ke arah berlawanan. Ia menyembunyikan wajahnya karena tidak ingin Bryan melihat wajahnya memerah akibat malu.


"Aluna, apakah kamu cemburu karena aku dekat dengan Diana?" Tanya Bryan penuh selidik.


Aluna menunduk dan bergumam, "ehm, aku...."


Mata Aluna terbelalak sempurna saat melihat Bryan mendekat. Ia mundur secara perlahan-lahan tapi sekejap kemudian tangan kekar pria itu sudah melingkar di pinggang Aluna.


Aluna membuka mulut dan bergumam "mas, kamu...."


Belum sempat Aluna menyelesaikan ucapannya, bibir hangat dan lembab membungkam mulutnya, membuat wanita itu kehilangan akal sehat.


Aluna tercengang dan akal sehatnya hilang entah kemana. Pikirannya menginstruksikan agar ia segera menjauhi pria itu namun tubuh dan hatinya berkata lain, ia menikmati setiap gerakan lidah mantan suaminya, melibas bibirnya dan menyesap dengan kuat.


Bryan melepaskan pangutan saat wanita dihadapannya kehabisan napas.


"Masih sama seperti dulu kan?"


"Kamu!"


"Mas Bryan, kamu jahat!" Aluna membasuh wajahnya berkali-kali dengan air mengalir. Ia memandangi pantulan wajahnya di cermin. Bibirnya bengkak seperti disengat lebah, merah dan bengkak.


"Bagaimana jika tuan dan nyonya Smith melihat dan curiga kepadaku."


"Argh!"


"Kenapa tidak aku pukul saja dadanya bukan malah menikmati dan memberikan akses kepadanya untuk bermain lebih di dalam sana."


"Aluna, bodoh sekali kamu!"


"Kamu ibarat wanita murahan, mau saja dicium oleh mantan suamimu."


Aluna merutuki kebodohannya.


Sementara itu, Bryan hanya terkekeh melihat sikap Aluna.


Pria itu begitu bahagia karena sudah membuat mantan istrinya jadi salah tingkah.


"Nampaknya Tuan Bryan baru saja bermain api dibelakang saya!" Ucap Rendra sinis.


"Kenapa? Apa Tuan Rendra takut posisinya akan tergantikan oleh saya?"

__ADS_1


"Saya peringatkan anda. JANGAN PERNAH MENCOBA MEREBUT ALUNA DARI SISI SAYA!" Rendra menundingkan telunjuknya ke arah Bryan.


Bryan tidak menghiraukan ancaman Rendra, ia terus berjalan menuruni anak tangga. Perasaannya begitu berbunga-bunga hingga rasanya ia tidak ingin membersihkan mulutnya selama beberapa hari kedepan.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu, Rendra." Ucap Bryan lirih namun masih terdengar oleh indera pendengaran Rendra.


"Sial!" Rendra mengepalkan tangan.


Reymond dan Ayunda heran melihat putranya begitu bahagia.


"Ry!"


"Kakak kenapa?" Tanya Shera penuh curiga.


"Tidak apa-apa."


"Daddy, terima kasih." Bryan berbisik ditelinga daddynya.


"Untuk apa?"


"Atas hadiah yang diberikan malam ini, aku begitu bahagia."


Lagi-lagi Bryan tersenyum lebar seperti orang bodoh. Pria itu tidak memperhatikan pandangan aneh semua orang, ia masih sibuk memutar memori ingatannya atas peristiwa yang baru saja terjadi.


"Mommy, kakak kenapa?" Tanya Shera.


"Mana mommy tahu!"


Beberapa menit kemudian, Aluna dan Rendra bergabung dan mereka mulai menikmati pesta barbeque dalam keheningan panjang. Rendra menatap sinis ke arah Bryan, tatapan tajam dan membunuh.


"Ada apa dengan mereka berdua?" Gumam Diana.


"Kak Rendra kenapa?"


"Jangan banyak bertanya, cepat habiskan makananmu."


Ucapan Rendra membuat Aluna tercengang. Wanita itu melirik sekilas ke arah calon suaminya, ia melihat wajah pria itu dipenuhi amarah.


"Tidak biasanya Kak Rendra berbicara dengan nada tinggi!"


"Jangan-jangan Kak Rendra melihat semua yang dilakukan Mas Bryan kepadaku?"


"Jika benar, aku harus mencari alasan apa untuk membela diri."


Malam semakin larut dan kini semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing namun Aluna dan Rendra masih menikmati udara segar di malam hari. Mereka duduk di kursi rotan di dekat kolam renang. Pria itu sengaja meminta calon istrinya untuk menemaninya sebentar sekaligus menyampaikan isi hatinya.


"Aluna, ada yang ingin aku sampaikan padamu." Rendra membenarkan posisi duduknya.


"Ada apa kak?"

__ADS_1


"Aku ingin...."


to be continued....


__ADS_2