Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Hanya Ingin Membuatmu Tersenyum


__ADS_3

Happy reading 🤗


Sebuah mobil hitam keluaran terbaru tengah melaju di jalanan cluster elit di daerah Jakarta. Cluster tersebut berada di lokasi strategis dikelilingi berbagai fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, restoran, rumah sakit dan lain sebagainya.


Dalam satu blok perumahan terdapat beberapa fasilitas yang disediakan oleh pihak developer seperti sarana ibadah, jogging track, taman, area bermain anak dan sarana olahraga lengkap yang bisa digunakan oleh penghuni cluster. Gerbang masuk ke perumahan cluster terbatas hanya ada satu atau dua buah gerbang masuk utama. Dilengkapi sistem keamanan 24 jam dan diawasi CCTV sehingga memberikan rasa aman bagi penghuni perumahan.


Pada umumnya perumahan cluster dibangun dengan desain yang seragam serta tanpa pagar namun perumahan ini justru sebaliknya, para penghuni cluster diperbolehkan memilih desain sesuai selera. Rendra sengaja memilih konsep rumah futuristik modern dengan bangunannya menggunakan struktur simetris membuat rumah tampak tegas dan modern menggunakan material yang halus dan mengkilap seperti kayu jati muda menambah kesan futuristik.


Material yang mengkilat dan memantulkan cahaya menjadi ciri khas rumah ini terdapat beberapa kaca jendela dan bagian atap rumah memberi akses masuknya cahaya matahari.


Desain rumah ini dibangun dua lantai diatas luas bangunan kurang lebih 92 meter persegi, memiliki tiga buah kamar tidur dan dua buah kamar mandi. Pada bagian depan rumah terdapat sebuah carport yang mampu menampung sebuah mobil dan dua buah sepeda motor juga terdapat sebuah taman kecil.


"Aluna, kita sudah sampai. Ayo turun." Ucap Rendra membuyarkan lamunan gadis itu.


Pertama kali memasuki kawasan cluster, ia dibuat terkagum-kagum oleh tampilan bangunan di hadapannya. Setiap penghuni perumahan memiliki selera masing-masing sehingga membuat perumahan tersebut nampak tidak membosankan.


"Kamu melamun?" Rendra membantu Aluna melepaskan sabuk pengaman yang masih menempel ditubuh gadis itu.


"Eh iya kak. Terima kasih." Jawab Aluna gugup.


Jarak gadis itu dengan Rendra hanya sepuluh centi sehingga membuatnya bisa merasakan hembusan napas pria yang duduk disampingnya.


Aluna memalingkan wajah agar tatapan mata mereka tidak beradu.


"Ayo!"


Rendra menurunkan satu buah koper besar dan satu buah kardus berisi buku-buku mata kuliah milik Aluna.


Seorang wanita tua berusia lima puluh tahun membukakan pintu rumah setelah mengetahui majikannya datang. Wanita itu bernama Bik Sumi, seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Rendra. Ia mulai bekerja dirumah itu sejak Rendra memutuskan untuk kembali dan bekerja di Indonesia.


"Selamat datang, tuan dan nyonya."


"Bik Sumi, mulai hari ini nyonya Aluna akan tinggal bersama kita jadi kamu akan bertanggung jawab terhadap semua kebutuhannya."


"Baik tuan." Jawab Bik Sumi sambil menganggukan kepala.


"Halo bik, perkenalkan nama saya Aluna Alexander."


Aluna memperkenalkan diri, ia menyodorkan tangan kanannya agar bisa berjabat tangan dengan wanita tua di depannya.


"Eh nyonya, anu...." Ucap Bik Sumi gugup.


Wanita tua itu ragu, ia tidak tahu apakah harus berjabat tangan dengan gadis itu atau tidak.


Aluna menarik tangan Bik Sumi sehingga tangan keduanya saling menyentuh.

__ADS_1


"Senang berkenalan dengan bibi." Ucap Aluna lembut.


"Perempuan ini begitu sopan dan lembut, pasti Tuan Rendra sangat mencintainya." Ucap Bik Sumi dalam hati.


"Bik, kamu tolong bawakan kardus itu ke kamar Aluna biar saya bawa yang ini." Rendra menunjuk sebuah kardus besar yang tergeletak di teras rumah.


"Baik tuan."


Bik Sumi berjalan ke arah kardus tersebut, sementara Rendra membawa Aluna ke lantai dua. Selama gadis itu tinggal dirumah Rendra, ia akan menempati kamar yang berada di lantai dua. Pria itu sengaja memilih kamar di lantai atas agar Aluna bisa memandangi bunga-bunga dan pepohonan hijau yang ada di taman cluster. Ia berharap agar gadis itu bisa secepatnya melupakan permasalahan yang sedang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya.


"Ini kamarmu!" Rendra membuka pintu kamar.


Kamar itu berukuran 4×4 meter dengan cat dinding berwarna biru langit dan semua furnitur dikamar itu di dominasi warna putih. Rendra sengaja memilih warna biru langit karena mengetahui bahwa biru langit adalah warna kesukaan Aluna. Pria itu masih mengingat semua hal tentang Aluna. Ia masih hapal lagu kesukaan gadis itu, makanan kesukaannya, hobi dan tempat-tempat yang biasa dikunjungi saat waktu luang.


"Wah, indah sekali."


Aluna takjub dengan keadaan kamar itu. Bersih dan tertata rapi.


"Kamu suka?" Tanya Rendra.


"Sangat suka, terima kasih kak."


Gadis itu tersenyum manis dan membuat hati Rendra meleleh.


"Ya Tuhan, senyuman gadis ini begitu menggoda. Andai saja kau menjadi istriku pasti saat ini sudah ku baringkan diatas ranjang dan...."


"Tidak! Aku tidak boleh berpikiran macam-macam." Ucap Rendra dalam hati.


"Kak Rendra kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Permisi tuan, ini kardusnya."


Bik Sumi dibantu seorang tukang kebun yang sedang bekerja di rumah tetangga membawa sebuah kardus besar ke kamar Aluna.


"Letakan saja disana." Perintah Rendra.


"Terima kasih banyak Bik Sumi dan Pak Amin."


"Kalau begitu, kami permisi dulu."


Pak Amin menuruni tangga.


"Bik, tolong buatkan roti gandum panggang dengan toping telur rebus dan alpukat dan tidak lupa segelas susu untuk nyonya Aluna." Ucap Rendra kepada Bik Sumi sebelum wanita tua itu menuruni anak tangga, menyusul Pak Amin.

__ADS_1


"Baik tuan, segera saya buatkan."


"Aku merepotkan kalian."


"Sudah menjadi kewajibanku melayani tamu khusus sepertimu."


"Oh iya, pulang dari rumah sakit nanti aku mampir ke supermarket. Ada yang ingin kamu beli?"


Aluna berpikir sejenak.


"Nitip susu untuk ibu hamil, boleh?"


"Tentu saja!"


"Mau rasa coklat, vanila atau beli keduanya?"


Rendra begitu antusias mendengar permintaan gadis yang dicintainya.


"Rasa coklat saja kak."


"Aku akan belikan susu ibu hamil khusus untuk mengurangi mual dan muntah agar di pagi hari kamu tidak perlu bolak balik kamar mandi. Bagaimana?"


"Boleh, asal tidak merepotkan."


"Tidak merepotkan sama sekali, aku malah senang karena bisa membantu mamud cantik sepertimu."


Aluna melongo.


"Mamud, apa itu?"


"Mama muda. Kamu kan hamil diusia yang masih sangat muda dan julukan itu pantas untukmu." Rendra terkekeh.


"Ih, kak Rendra masih saja menggodaku." Aluna melipat tangan ke dada.


"Ku pikir setelah menjadi dokter muda dan sukses membuat kakak melupakan kebiasaan itu tapi ternyata tidak."


"Jangan salahkan aku yang selalu menggodamu tapi salahkan wajahmu yang terlalu imut untuk digoda."


Aluna tidak tersenyum. Gadis itu kesal karena kebiasaan Rendra dari dulu tidak pernah berubah. Setiap kali bersama, pria itu pasti akan menggodanya hingga membuat pipinya merah merona seperti tomat.


"Oke-oke, maafkan aku."


Rendra menghampiri Aluna dan menyentuh bahunya.


"Aku hanya ingin membuatmu tersenyum lagi, agar mereka ikut bahagia."

__ADS_1


Mata Rendra melirik ke arah perut Aluna.


to be continued....


__ADS_2