
Happy reading 🍂
Bali
Empat Hari Kemudian...
Pagi-pagi sekali Aluna sudah terbangun dari mimpi indah dan saat ini sedang mempacking bawaannya ke dalam koper. Masa untuk berbulan madu sudah usai dan saatnya kembali ke rutinitas biasa.
"Mas, sebelum ke bandara kita mampir pusat oleh-oleh dulu ya membelikan cindera mata untuk keluarga dirumah."
"Iya sayang, nanti aku minta Putu mampir sebentar."
"Kamu tidak ingin pergi jalan-jalan lagi sebelum meninggalkan Bali?"
"Tidah ah, sudah cukup."
Treng ting treng ting
"Ponsel mu berbunyi sayang."
"Tolong bawain kesini dong."
"Ini tuan putri."
"Terima kasih suamiku tercinta." Aluna memberikan kecupan di pipi suaminya.
"Aaah, jadi semangat lagi setelah mendapatkan ciuman dari istri kecilku."
"Ha-ha-ha, kamu bisa saja."
"Aku angkat telpon dulu ya."
"Hu'um." Bryan menganggukan kepala dan memberi ruang untuk istrinya menerima telpon.
My Besties calling
Tertera nama Rossa dilayar ponsel milik Aluna.
Aluna
📲 "Halo Ocha."
Rossa
📲 "Kamu lama sekali mengangkat telponku!"
Aluna
📲 "Iya maaf, tadi tuh aku sedang merapikan barang bawaan."
Rossa
📲 "Hm, pantas saja."
Aluna
📲 "Ada apa?"
Rossa
📲 "Kamu sudah tahu belum kalau Kak Rendra sudah kembali ke Indonesia?"
Deg!
Jantung Aluna seperti berhenti berdetak mendengar nama Rendra, membuat perasaanya tidak nyaman. Ia ingat betul akibat pertemuan yang tak terduga menyebabkan gadis itu harus menerima hukuman dari suaminya.
Rossa
📲 "Kamu masih mendengarkanku, kan?"
Aluna
📲 "Sudah!"
Rossa
📲 "Tahu dari mana? Apa kak Rendra sendiri yang memberitahumu?"
Aluna
__ADS_1
📲 "Nanti aku ceritakan. Sudah dulu ya, aku masih harus membereskan barang-barangku."
Rossa
📲 "Cih, mentang-mentang sedang bulan madu. Ya sudah, aku tunggu ceritamu. Bye Aluna!"
Aluna
📲 "Bye!"
Aluna menutup sambungan telpon.
"Sudah selesai menelpon?"
"Eh, mas Bryan. Kamu mengagetkan ku saja."
"Sudah."
"Kenapa wajah mu menjadi pucat. Rossa memberi kabar apa?"
Bryan mendekati tubuh istrinya yang sedang berdiri di dekat kolam renang.
"Sayang, katakan padaku. Ada apa?"
"Bagaimana mungkin aku memberitahumu yang sebenarnya mas. Aku yakin ketika menyebut nama Rendra, kamu pasti akan sangat marah. Bahkan akan menghukumku sepanjang hari diatas ranjang." Ucap Aluna dalam hati.
"Tidak ada apa-apa mas."
"Kamu sudah merapikan kopermu?"
Aluna mengalihkan pembicaraan karena khawatir suaminya akan mengorek informasi lebih dalam.
"Sudah sayang."
"Jam berapa kita akan check out?"
"Tunggu sampai aku menyelesaikan hidangan penutupku." Bryan mendekati telinga Aluna dan meniup area sekitar telinga.
"Kamu mau apa?" Aluna kini waspada, ia memasang posisi siaga. Menutupi bagian dada dengan kedua tangan.
Bryan tertawa melihat tingkah istrinya.
"Ih Mas Bryan, selalu saja menggodaku."
"Aku suka melihat wajahmu ketika ketakutan."
"Itu sangat menggemaskan."
Bryan tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak akan memakanmu lagi. Nanti kita lanjutkan di rumah saja."
"Mas Bryan!" Aluna berteriak karena suaminya tidak henti-hentinya menertawakan dia.
Bryan menggelitiki pinggang istrinya karena area itu sangat sensitif bagi Aluna.
"Aw, hentikan mas!"
"Baik, baik. Aku hentikan."
Bryan membenarkan posisi tubuhnya, kini mereka berdua ada diatas ranjang.
"Sayang, setelah sampai Jakarta bagaimana kalau kita ikut program hamil?"
"Aku sudah tak sabar ingin memiliki anak dari pernikahan kita."
Aluna mendongakan kepala, ia memandangi wajah, menatap lekat manik biru milik suaminya. Ia menangkupkan tangan ke wajah Bryan dan mengusapnya.
"Boleh, kapan?"
"Kamu tidak keberatan sayang?"
"Tidak." Aluna menggelengkan kepala.
"Anak itu merupakan anugerah dari Tuhan jadi mana mungkin aku menolaknya. Banyak wanita diluaran sana yang menginginkan anak, bertahun-tahun lama menunggu tapi tak kunjung hadir dan jika Tuhan menitipkannya segera maka aku akan dengan senang hati menerima kehadirannya." Aluna tersenyum simpul.
"Aah, aku bahagia sekali sayang."
Bryan memeluk erat tubuh Aluna dan mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Baik lah, aku akan mencari dokter kandungan yang terbaik untukmu."
"Kamu tidak coba tanya mommy, mas. Siapa tahu mommy punya rekomendasi dokter kandungan yang bagus."
"Mommy ikut arisan, kemungkinan besar anggota arisannya dari kalangan orang menengah keatas."
"Siapa tahu salah satu dari teman arisan ada seorang dokter kandungan." Aluna memberikan saran kepada suaminya.
"Benar, nanti aku akan tanyakan ke mommy."
Bryan sangat antusias jika mereka membahas masalah anak. Rasanya Bryan tidak sabar ingin agar istri kecilnya hamil buah cinta mereka.
***
Jakarta
"Daddy, hari ini Aluna dan Bryan kembali dari Bali kan?" Tanya Ayunda.
"Iya, mungkin sore atau malam hari sampai Jakarta."
"Yeah, akhirnya kakak iparku kembali." Shera berteriak kegirangan.
"Pelankan suaramu, Ra. Telinga mommy sakit mendengar kamu berteriak." Ayunda menegur anak bungsunya.
"Aih mommy, tidak bisa melihat aku bahagia kah?" Shera bertanya dengan nada sinis.
"Bukannya tidak senang hanya saja sikapmu seperti anak-anak. Belajar lah menjadi gadis dewasa."
"Dih mommy." Shera mengerucutkan bibirnya dua centi lebih maju dari semula.
"Sudah-sudah, ayo siap-siap kita jemput Aluna dan Bryan di bandara."
"Oke."
Ayunda, Reymond dan Shera berjalan menuju kamar masing-masing untk bersiap menjemput Aluna dan Bryan.
|| Bandara ||
Satu jam kemudian, akhirnya Reymond dan istri serta anak bungsunya sudah tiba dibandara. Mereka sedang menunggu kedatangan anak serta menantu kesayangan keluarga Smith, tak perlu menunggu lama akhirnya kedua orang yang dinanti tiba.
"Aluna." Ayunda segera memeluk menantu kesayangannya.
"Mommy!" Aluna membalas pelukan mertuanya.
"Ih, mommy tuh kangen tahu sama kamu."
"Sama mom, aku juga kangen banget."
"Kakak tidak kangen aku?" Shera merasa cemburu karena Aluna hanya merindukan mommy nya saja.
"Ya kangen lah Ra!" Kali ini gantian Shera yang memeluk tubuh Aluna.
Sementara Bryan dan Reymond jadi penonton melihat para wanita keluarga Smith melepas rindu dengan cara saling berpelukan.
"Ehm!"
"Jangan terlalu lama memeluk istri kecilku." Bryan melepaskan tubuh istrinya dari pelukan Shera.
"Nanti calon anakku tidak bisa bernapas karena mama nya kamu siksa!"
"Ha!"
"Anak?!"
Kedua mertua Aluna dan adik iparnya membola.
"Aa-apa maksud kamu Ry?" Tanya Ayunda gugup.
"Berdo'a saja semoga dalam waktu dekat istri kecilku hamil." Bryan segera merangkul istrinya dan menuntunnya naik ke atas mobil.
Sebetulnya Ayunda dan Reymond bahkan Shera sudah mengetahui saat ini anak dan menantunya sedang belajar menerima status pernikahan yang terjadi tanpa adanya cinta diantara Aluna dan Bryan namun mereka tak menduga bahwa saat ini hubungan keduanya sudah sangat jauh melangkah kedepan.
"Daddy, apa kamu dengar barusan?"
"Hu'um." Reymond menganggukan kepala.
"Atau jangan-jangan...." Ayunda langsung tersenyum membayangkan sebentar lagi dia akan mempunyai cucu.
"Sebentar lagi kita punya cucu daddy." Ayunda bergelantungan ditangan suaminya.
__ADS_1
to be continued.....