Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Firasat Bryan


__ADS_3

Happy reading semua🤗


Previously....


Saat mereka sudah sampai dipintu gerbang perumahan tiba-tiba saja dari arah belakang ada sebuah mobil jeep berwarna biru tua menghampiri keduanya. Salah satu dari mereka mendekati Bik Sumi dan mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur ke jalan menyebabkannya pingsan akibat membentur aspal jalanan. Kemudian pria itu mengeluarkan sehelai kain kecil yang sudah diberi obat bius ke arah hidung Aluna dan seketika gadis itu pun pingsan.


"Cepat bawa gadis itu ke dalam mobil." Teriak si pengemudi mobil jeep kepada temannya."


"Berat sekali tubuh gadis ini!" Pria jahat itu mengeluh kepada temannya.


"Kelinci putih masuk kandang." Ucap pria jahat melalui walkie talkie yang tersimpan diatas dashboard mobil.


Kemudian dua orang penjahat yang bertugas mengalihkan pandangan security perumahan dan satu orang mata-mata yang menyamar sebagai tukang sampah segera meninggalkan lokasi. Mereka terus berjalan sampai menghilang dipersimpangan jalan. Ketiga penjahat itu tidak memperdulikan Bik Sumi yang sedang pingsan berlumuran darah akibat keningnya terkena aspal jalan.


Seorang penjual cilok keliling melihat tubuh Bik Sumi tergeletak begitu saja dalam keadaan yang memprihatinkan. Pria itu segera berteriak minta tolong dan meminta bantuan warga untuk menghubungi pihak rumah sakit agar membawa mobil ambulans ke lokasi.


"Tolong!"


"Tolong!"


"Tolong!" Teriak penjual cilok meninggikan volume suaranya.


Warga sekitar datang beramai-ramai ke lokasi kejadian termasuk security perumahan.


"Ini 'kan asisten rumah tangganya dokter Rendra." Ucap security perumahan.


"Jangan-jangan dua orang yang tadi adalah komplotan penculik sengaja mengecohku." Gumam bapak security.


"Tadi saya lihat wanita ini berjalan dengan seorang wanita hamil tapi dia dibawa pergi oleh orang misterius, wajahnya memakai topeng dan membawanya menggunakan sebuah mobil jeep biru tua." Ucap salah satu saksi yang melihat kejadian.


"Loh bapak bagaimana sih, petugas keamanan tidak mengetahui warganya diculik." Ucap seorang ibu tua menenteng tas belanjaan. Ia baru saja pulang dari mini market disekitar perumahan.


"Eh, malah ngobrol. Cepat panggilkan ambulans." Penjual cilok menyela percakapan warga.


Tak lama kemudian, sebuah mobil ambulans membawa tubuh Bik Sumi ke brankar dan memasukannya ke dalam mobil.


Bapak security segera melaporkan kejadian kepada Rendra via telpon seluler namun tidak dijawab.


"Aduh, dokter Rendra kemana di telpon tidak diangkat!"


"Bagaimana ini, sepertinya nyonya rumah itu diculik."


Sementara itu, sebuah mobil ambulans baru saja tiba di rumah sakit tempat dimana Rendra bekerja sebagai dokter spesial bedah.


Dua orang perawat pria dan satu orang perawat wanita segera mendorong brankar ke dalam ruang IGD. Petugas kesehatan memberikan kode warna kuning untuk Bik Sumi yang menandakan bahwa pasien merupakan prioritas kedua yang memerlukan perawatan segera tetapi penanganan medis masih dapat ditunda karena kondisi pasien dalam kondisi stabil.*


Meski kondisinya tidak kritis, pasien masih harus memerlukan penanganan medis yang cepat. Pasalnya kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat dan menyebabkan kecacatan atau kerusakan organ.**

__ADS_1


"Semua tanda-tanda vital dalam keadaan normal dokter."


"Baik, segera lakukan tindakan medis."


"Karena terdapat luka robek maka kita harus menjahitnya." Ucap dokter IGD yang sedang berjaga.


Karena keadaan IGD saat itu masih sepi sehingga Bik Sumi langsung mendapatkan penanganan dari dokter dan perawat yang bertugas pagi itu.


Rendra berencana pulang ke rumah karena waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi dan saatnya pergantian shift. Ia melihat beberapa orang tetangganya sedang menunggu di kursi pengunjung depan ruang IGD.


"Siapa yang sakit pak?" Tanya Rendra.


"Asistennya anda dokter."


"Apa?" Ucap Rendra kaget.


"Lantas wanita yang bersama asisten saya dimana pak?" Kali ini Rendra begitu mencemaskan keadaan Aluna. Ia tidak menemukan Aluna dibarisan para pengantar.


"Saya menduga sepertinya sudah terjadi penculikan terhadap sepupu anda, karena tadi sempat ada saksi mata melihat Bu Aluna dibius dan dibawa oleh pria misterius. Ia menutupi wajahnya menggunakan topeng."


Perasaan Rendra campur aduk, ia merasa bersalah karena membiarkan gadis pujaannya keluar sendirian tanpa pengawasan darinya.


Pria itu langsung meminta bantuan Okky untuk mengurus administrasi dan kebutuhan Bik Sumi karena ia ingin memastikan keadaan Aluna.


"Okky, tolong kamu urus semua kebutuhan Bik Sumi. Aku mau mencari tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa."


"Ya sudah, kamu cari Aluna jika memang telah terjadi penculikan segera minta bantuan polisi."


Rendra meninggalkan rumah sakit menuju perumahan tempat ia tinggal. Ia mengintrogasi petugas keamanan dan saksi mata di lokasi kejadian. Pria itu bisa menyimpulkan bahwa, Aluna memang diculik namun ia tidak tahu motif dan dalang dari penculikan itu siapa.


***


|| Kantor RA art and design ||


Di dalam ruang kerja, seorang pria sedang sibuk menatap layar monitor jari-jarinya bermain diatas keyboard mengetik laporan kinerja para karyawan perusahaan. Dering ponsel membuyarkan konsentrasinya.


Pengawal Bayangan


📲 Halo tuan, nyonya Aluna diculik.


Rudy


📲 Apa? Bagaimana bisa?


Rudy menggebrak meja kerjanya yang berplitur warna kayu jati.


Pengawal Bayangan

__ADS_1


📲 Kami kehilangan jejak saat persimpangan jalan.


Rudy


📲 Cepat kalian temukan nyonya muda, jangan sampai terjadi hal buruk kepadanya.


Rudy mematikan sambungan telpon. Perasaan pria itu tak tenang, ia menghentikan semua pekerjaannya.


"Siapa yang berani menculik nyonya muda!" Teriak Rudy.


Untung saja ruangan itu memiliki kemampuan kedap suara sehingga teriakan pria itu tidak terdengar dari luar.


"Apakah mungkin Eliza?"


"Awas saja, jika wanita iblis itu adalah dalang dari penculikan nyonya muda, akan aku tampar dia dengan tanganku sendiri!"


Bryan berjalan dengan gagah berani memasuki perusahaan, setelan jas berwarna coklat dipadu sepatu hitam pentofel semakin memancarkan aura ketampananya. Semenjak pria itu bertemu kembali dengan Aluna wajahnya berseri dan seulas senyum selalu tersungging di bibirnya.


"Kenapa perasaanku tidak tenang. Apakah terjadi sesuatu kepada istri dan kedua anakku?" Tanya Bryan.


Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.


Tut


Tut


Tut


Tidak ada jawaban dari seberang sana.


"Apa yang terjadi kepadamu, sayang!" Bryan semakin cemas karena istrinya tidak juga menjawab panggilan telpon.


"Tuan, para dewan direksi sudah menunggu anda diruang rapat." Ucap sekretaris.


"Baik."


Bryan berjalan menuju ruang rapat. Perasaan pria itu tidak tenang selama rapat berlangsung ia terus menerus melamun memikirkan istri dan anak-anaknya yang ada dalam kandungan.


"Sayang, semoga kamu baik-baik saja." Gumam pria itu.


to be continued...


Bagaimana nasib Aluna dan kedua bayinya? Penasaran? Baca terus ya novelku kakak-kakak tercinta. Jangan lupa like dan masukan novelku ke dalam list favorit kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua. 😊


sumber pencarian :


* hellosehat.com

__ADS_1


**hellosehat.com


__ADS_2