Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Wanita Penggoda


__ADS_3

Happy reading 🍂


"Ini saya tuliskan beberapa resep vitamin dan suplemen yang bisa ditebus di apotek." Dokter Dianka menyerahkan secarik kertas putih ke Aluna.


"Bulan depan datang lagi untuk check up. Kita akan evaluasi."


"Baik dokter, terima kasih banyak." Ucap Aluna.


"Sama-sama, semoga berhasil ya."


***


Keesokan harinya, sesuai dengan rencana awal Aluna akan pergi ke kantor bersama Bryan. Ini pertama kalinya ia mengunjungi kantor tempat suaminya bekerja karena selama menikah Bryan tidak pernah mengajak istrinya. Bryan kini sedang berdiri di depan cermin, pria itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna navy dipadu dengan celana slimfit. Otot tubuhnya terlihat jelas dibalik setelan yang ia kenakan.


Aluna lama memandangi keindahan di depannya, gadis itu tidak berkedip sedikitpun. Ia semakin asyik memperhatikan penampilan suaminya yang sangat tampan.


"Sungguh indah sekali ciptaan-Mu." Gumam Aluna dalam hati.


"Kamu ingin aku membatalkan semua pertemuan hari ini, agar bisa seharian berada dikamar bersamamu?" Tanya Bryan.


Ucapan Bryan membuyarkan lamunan Aluna.


"Ehm, aku tidak mengerti maksudmu mas." Aluna mencoba menutupi kegugupannya karena ia tidak mau ketahuan oleh Bryan bahwa sejak tadi sedang memandangi ketampanan suaminya.


"Pura-pura!"


"Sungguh, aku tidak mengerti." Kini Aluna membelakangi suaminya. Ia mengambil dasi yang akan dipasangkan ke kerah kemeja suaminya.


"Anggap saja aku tidak berkata apa-apa."


Aluna segera memasangkan dasi ke kerah kemeja suaminya. Jarak diantara mereka sangat dekat sehingga Aluna bisa dengan jelas mencium aroma parfum suaminya. Pikirannya berkelana kemana-mana, membayangkan kilas balik rutinitas malam yang sering mereka lakukan pada malam hari membuatnya meremang seketika.


"Ehm!" Aluna berdehem. Ia berusaha membuang jauh pikiran kotor yang kini berada dalam otaknya.


"Hai kau iblis, jangan meracuni pikiranku dengan kilas balik percintaan yang sudah kami lakukan semalam!" Ucap Aluna dalam hati. Ini memarahi iblis dalam dirinya.


"Aluna, sayang." Ucap Bryan lembut.


"Eh, iya mas. Ini sudah selesai."


Gadis itu segera menurunkan tangannya.


"Apa kamu masih ingin melanjutkan kegiatan panas kita semalam?" Tanya Bryan dengan lugas.


"Jika iya, tunggu aku menyelesaikan tanda tangan kontrak setelah itu kita lanjutkan di ruanganku. Kita belum pernah mencobanya di kantor, kan?" Goda Bryan.


"Ih, kamu mesum sekali mas." Aluna mencubit perut suaminya.


"Ha-ha-ha. Lihat, wajahmu memerah." Bryan menunjuk wajah istrinya.


"Au ah, gelap!" Aluna meninggalkan suaminya sendirian dikamar. Ia berjalan menuju lantai satu.

__ADS_1


Setelah sarapan, Aluna dan Bryan pamit kepada Ayunda dan Reymond untuk pergi ke kantor. Kedua insan itu kompak mengenakan pakaian berwarna navy. Bryan mengenakan setelan kemeja panjang berwarna navy sementara Aluna mengenakan long dress tanpa lengan berwarna navy, terdapat karet dibagian pinggang dipadu dengan long cardi berbahan brokat serta high hell tali dan tas jinjing putih berbahan kulit asli dengan merk xxxx semakin membuat gadis itu terlihat angun.


Empat puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi Aluna sudah terparkir di tempat khusus petinggi perusahaan. Dua orang pengawal segera berdiri tegak di depan pintu mobil, menanti Aluna turun dari mobil. Kemudian, seorang supir membukakan pintu untuk Aluna dan Bryan.


"Silahkan tuan, nyonya."


"Terima kasih Pak Udin." Balas Aluna ramah.


Kini mereka berdua sudah berada di ruangan CEO tempat Bryan menghabiskan waktu bercengkrama dengan tumpukan berkas laporan yang harus ia tanda tangani.


Ruangan itu cukup luas, di dominasi warna putih. Sementara tirainya berwarna biru langit, warna kesukaan Bryan. Di tengah ruangan terdapat satu set meja kerja, meja kayu berpelitur putih, beberapa rak buku dan lemari arsip berwarna putih diletakan di samping kiri dekat pintu masuk. Dua buah sofa panjang berwarna biru tua berada di samping kanan berhadapan dengan rak buku dan lemari arsip.


"Ayo masuk!" Perintah Bryan.


"Iya sayang."


"Kamu terpana dengan kemewahan kantorku?"


"Hah?!" Aluna melongo.


"Tidak usah melotot begitu, sayang."


"Kelak, semua kemewahan ini akan menjadi milikmu. Jika aku tiada, semua warisan milik daddy akan jatuh ke tanganmu." Bryan menarik pinggang Aluna agar gadis itu duduk diatas pangkuannya.


"Kamu ngomong apa sih mas!" Aluna berusaha melepaskan diri namun suaminya semakin erat menarik pinggangnya.


"Aku serius sayang."


"Tidak! Kamu tidak boleh pergi meninggalkanku." Aluna mulai berkaca-kaca.


Bryan melirik wajah istrinya, ia melihat sebutir bening kristal meluncur disudut mata istrinya.


"Apa kamu takut kehilanganku?" Tangan Bryan mengusap butiran bening dengan jari telunjuk.


"Hu'um." Mulut Aluna seolah terkunci, gadis itu hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.


Bryan memeluk erat tubuh istrinya, saking eratnya membuat Aluna susah bernapas.


"Mas, sesak!"


Bryan segera melonggarkan pelukannya.


Tok


tok


tok


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!"

__ADS_1


"Permisi tuan, perwakilan dari Mega Art sudah disini dan meminta izin untuk bertemu." Ucap Rudy.


"Apakah wanita itu lagi yang datang?"


"Benar tuan!"


"Cih!" Bryan mendengus kesal.


Aluna memahami kekesalan suaminya, ia berinisiatif memberikan ciuman singkat di pipi Bryan.


Cup


"Tidak apa-apa. Anggap saja wanita itu tidak ada."


"Baiklah, suruh wanita itu segera menghadapku dan kamu, sayang tunggu aku di dalam."


Aluna menuruti perintah suaminya. Ia melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang biasa digunakan Bryan untuk beristirahat. Di dalam ruangan itu terdapat satu buah ranjang berukuran king size, televisi LED 32 inci dan satu buah lemari.


"Walaupun tidak terlalu luas tapi ruangan ini cukup nyaman."


Aluna merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Entah mengapa akhir-akhir ini tubuh gadis itu sering merasa lelah.


Tok


tok


tok


"Permisi tuan." Ucap seorang wanita dibalik pintu.


"Masuk!"


"Silahkan duduk."


Wanita itu duduk dengan menyilangkan kaki. Sekilas penampilan wanita dihadapan Bryan terlihat begitu menggoda dengan blouse putih dan rok hitam model span diatas lutut. Bagi sebagian kaum adam pasti akan tertarik tapi bagi Bryan, wanita itu sama sekali tidak menarik. Baginya, wanita yang sangat menarik di dunia ini hanya istrinya.


"Ini berkas kontrak yang harus di tanda tangani oleh atasanmu. Tolong berikan kepadanya setelah ia kembali dari luar negeri." Bryan menyerahkan setumpuk kertas putih yang sudah dibubuhi tanda tangan.


"Kamu bisa mengeceknya sebelum membawanya." Ucap Bryan dingin.


"Saya percaya kepada anda, tuan."


Wanita itu menutup kembali tumpukan kertas putih itu dan berjalan mendekati kursi Bryan.


Tanpa diduga, wanita itu sudah duduk diatas meja kerja Bryan dengan pose yang dibuat se-menggoda mungkin. Dia mencoba mengalungkan tangannya ke leher Bryan dan....


to be continued.....


Kira-kira cerita selanjutnya apa nih? 🤔


#Jangan lupa like nya kakak. Masukan juga novel ini ke dalam list favorit kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2