Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Aku Milikmu Seutuhnya


__ADS_3

🚫WARNING! 21+


Bagi kalian yang belum cukup umur diharapkan meng-skip episode ini, namun jika memaksa jangan salahkan author. 🀭


Harap bijak dalam membaca.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Happy reading


Hawa panas perlahan mulai menjalar ke telinga, leher dan menyebar keseluruh tubuh berkumpul pada satu titik dan memberikan reaksi alami. Bryan memperhatikan wajah istrinya yang hampir kehabisan napas, melepaskan ciuman dan membiarkannya menghirup oksigen. Wajah Bryan dipenuhi kabut gairaah yang semakin membara dan menuntut agar bisa tersalurkan. Dorongan untuk bisa memiliki Aluna seutuhnya kini telah merajai pikiran pria itu. Namun ia berusaha untuk menahan diri, tidak ingin menyakiti istrinya. Ia tidak ingin memaksa jika Aluna belum siap.


Akhirnya Bryan menempelkan keningnya di kening istrinya, mengatur deru napas yang tidak beraturan akibat ciuman. Ia mengulurkan tangan untuk menangkup wajah istrinya, melihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Apakah ini pertama kali kamu berciuman?"


Aluna hanya mengangguk, tidak berani menjawab. Ia menundukan wajahnya dan melihat ada sesuatu yang aneh dibagian sana.


"Mas..."


"Kamu..."


"Kenapa?"


"Itu...." Ucap Aluna ragu-ragu sambil menunjuk ke si "biang masalah".


Bryan tahu apa yang membuat wajah istrinya pucat, ia mengulum senyum.


"Apa?"


"Kamu..."


"Itu reaksi yang wajar sayang. Namun, aku tidak akan memaksamu kalau belum siap."


"Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap." Bryan mengusap lembut rambut istrinya dengan penuh cinta.


Melihat ekspresi wajah istrinya menggemaskan timbul keinginan Bryan untuk menggodanya.


"Kamu seharusnya sudah terbiasa dengan hal semacam ini, kan? Bahkan mungkin sampai jengah karena setiap hari kalian mempelajarinya dikampus." Ucap Bryan sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


Aluna membelalakan matanya yang bulat dan mengepalkan tangan meninju udara kosong.

__ADS_1


"Ish, masih saja menggodaku."


πŸƒπŸƒπŸƒ


Saat ini Aluna sedang berperang dengan perasaanya sendiri, apakah harus memberikan sekarang ataukah menunggu sampai benar-benar siap. Tidak adil bagi Bryan untuk menunggu terlalu lama, ia bukan pria suci yang bisa menunggu selama itu. Setelah menimang-nimang akhirnya Aluna memantapkan hati dan sudah membulatkan tekad.


Aluna menghampiri Bryan yang tengah berganti pakaian menggunakan pakaian rumahan, saat dia hendak memakai pakaian tiba-tiba dari belakang gadis itu mendekapnya erat-erat seolah tidak ingin pria itu lepas dari genggamannya.


Keinginan Bryan untuk bisa memiliki Aluna seutuhnya kini muncul kembali, Bryan mengerang mendapatkan sentuhan lembut dari Aluna.


"Jangan bermain-main denganku, sayang."


"Aku sedang bersusah payah menahannya."


"Kalau begitu, kamu jangan menahannya lagi. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku selama ini, mas. Aku milikmu seutuhnya."


Aluna sudah menggunakan seluruh keberaniannya untuk mengatakan hal itu, selama Bryan mandi, ia sudah memikirkannya dengan matang.


Bryan membalikan tubuh, menyentuh dagu Aluna sehingga ia mendongak.


"Kamu sadar dengan yang kamu ucapkan tadi? Aku tidak bisa menjamin akan mampu menahannya jika kamu terus menerus menggodaku."


"Aku berbicara dalam keadaan sadar, mas. Kita sudah menikah dan kamu ingin meminta hak mu sebagai seorang suami, maka aku berkewajiban memberikannya."


"Masih ada waktu untuk menarik kembali ucapan mu, sayang."


Aluna menggelengkan kepala, dia sangat yakin dengan keputusannya.


"Baik, jika kamu sudah yakin. Jadi jangan salahkan aku jika mulai hari ini dan seterusnya akan selalu memakanmu setiap hari." Sudut bibir Bryan tertarik keatas.


Tanpa basa-basi, Bryan langsung merangkum wajah Aluna dan mencium bibir ranum yang ada dihadapannya dengan hati-hati. Bryan menatap kedua mata Aluna, mencari tahu respon istrinya, tidak ada penolakan malah ia mengikuti dan mengimbangi permainan Bryan.


Ia mengendong istrinya ala bridal style dan membaringkannya ke atas kasur. Mencium leher jenjang dan memberikan tanda kepemilikan di sana sebagai bukti bahwa gadis ini milik Bryan seutuhnya. Tangan Aluna tidak tinggal diam, dia menyentuh punggung Bryan dan menikmati sentuhan lembut tangan suaminya.


Dengan perlahan Bryan melepas semua pakaian yang dikenakan Aluna. Dia menelan saliva dengan susah payah, hawa panas semakin menguasai tubuhnya, meminta untuk segera mendapatkan apa yang selama ini selalu mengganggu pikirannya.


Bryan menunduk dan ******* setiap ruang bibir Aluna dengan rakus. Aluna menutup mata sambil mengalungkan tangan ke leher Bryan.


Ciuman lembut lama kelamaan berubah menjadi ciuman panas, menimbulkan gejolak aneh bagi Aluna.


"Mas..."

__ADS_1


Dengan cepat Bryan melepaskan kain penutup yang tersisa ditubuhnya, membuang kesembarang tempat dan kembali menyerang Aluna seperti binatang buas.


Aluna mencengkram seprei erat-erat ketika merasakan ada gelombang badai menghampirinya, napas tersengal dan jantung berdegup tak beraturan.


"Boleh aku mulai sekarang?"


"Boleh, mas."


"Tapi pelan ya." Pinta Aluna.


Setelah mendapat lampu hijau, Bryan segera melakukan penyatuan dengan pelan. Aluna mencengkram punggungnya dengan sangat kuat sehingga menimbulkan luka disana.


Aluna mendesah, kini rasa sakit itu sudah berubah menjadi sebuah kenikmatan yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup. Bryan seperti orang gila mendengar suara ******* Aluna, ia semakin mempercepatan dan membuat tubuh Aluna gemetar seperti ada suatu gelombang yang menghampiri.


"Mas, aku...."


Bryan benar-benar sudah tidak bisa menahan, rasanya ia pun ingin segera mendapatkan pelepasannya.


"Ah..."


Setelah mendapatkan pelepasan, Bryan mencium kening Aluna dan ambruk disamping istrinya. Peluh mereka membasahi seprei putih yang kini sudah berubah warna.


"Terima kasih sayang." Ucap Bryan ditengah deru napas yang tidak beraturan.


"Sama-sama mas."


"Mulai dari sekarang, kamu, Aluna Alexander adalah milik dari Bryan Smith dan tidak akan ku biarkan satu orang pun menyentuhmu."


Aluna hanya mengangguk, dia sudah tidak memiliki tenaga untuk merespon ucapan Bryan.


"Dan dengan tanda kepemilikan ini, kamu tidak bisa pergi tanpa izin dari ku Aluna. Selamanya kamu akan selalu menjadi milik ku." Bryan menunjuk tanda merah disekujur tubuh Aluna. Ada rasa bangga dengan hasil karya yang dia hasilkan.


Kemudian dia menyentuh perut Aluna, mengusapnya dengan lembut dan berucap "semoga kelak di dalam rahimmu hadir seorang malaikat yang menjadi buah cinta kita berdua."


Bryan segera menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya. Kini kedua insan yang sedang dimabuk cinta perlahan-lahan memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi masing-masing.


Hari kedua di Bali, mereka habiskan hanya untuk beristirahat dikamar. Memulihkan stamina akibat pergulatan panas.


Maaf ya guys, 2 hari ini author sibuk bolak balik revisi episode ini. Padahal kalimatnya sudah author sensor tapi tetap gak dilolosin oleh pihak NT. πŸ˜₯


#Jangan lupa like, vote dan tambahkan novel ini ke list favorite kalian agar author semakin semangat. Terima kasih. Love kalian semua. 😊

__ADS_1


__ADS_2