Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Pria Bodoh!


__ADS_3

Sementara itu, Bryan baru saja keluar hotel. Acara reuni akbar yang diselenggarakan oleh panitia alumni SMA Harapan Pelita berjalan lancar. Kini ia dan wanita cantik disampingnya sudah berada di dalam mobil milik Gugun. Malam ini untuk pertama kalinya mereka berkumpul lagi setelah beberapa tahun tak berjumpa, ada rasa rindu di dada ketika mengingat betapa bahagianya dulu saat masih bersama. Kenangan manis saat masih sekolah memang sulit dilupakan.


"Acaranya seru ya! Aku berasa seperti remaja lagi saat berkumpul dengan para alumni SMA kita."


"Benar El. Dibanding kalian tentunya aku yang paling awet muda." Ucap Gugun.


Eliza tak kuasa menahan tawa, wanita itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Gugun.


"Awet muda matamu! Apa kamu tidak pernah bercermin dirumah. Itu lihat, rambutmu sebagian sudah ada yang beruban dan ini lihat kerutan mulai bermunculan." Eliza menunjuk rambut dan wajah Gugun dari kursi belakang.


"Sialan kamu El. Bertahun-tahun tidak bertemu mulutmu masih pedas. Aku heran kenapa Bryan bisa betah berpacaran denganmu!" Cibir Gugun.


"Dia rela meninggalkan istrinya yang lemah lembut demi wanita ganas sepertimu." Sindir Gugun.


Eliza merasa tersindir dengan perkataan Gugun. Wanita itu tak menyangka bahwa teman lamanya berani menyindirnya secara terang-terangan.


"Bryan memang harus meninggalkan gadis itu karena ia tidak pantas berada disamping kekasihku ini." Eliza mulai memperlihatkan aksi manjanya bergelayut di lengan Bryan.


"Benar 'kan, Ry!" Ucap Eliza manja.


Bryan tidak menggubris perkataan Eliza. Pria itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ry, kamu kok diam saja." Tanya Eliza.


"Lepaskan aku, El." Bryan membuat jarak dengan wanita itu.


"Sial! Nampaknya Bryan termakan oleh ucapan Gugun. Aku harus merayunya lagi agar benar-benar melupakan gadis itu." Ucap Eliza dalam hati.


"Aku rasa ucapanku barusan tepat sasaran. Buktinya, Bryan langsung menjaga jarak dengan wanita ganas ini."


"Oh iya, sudah sejauh mana pembangunan museum mini milikmu El?" Tanya Gugun mengalihkan pembicaraan.


"Tinggal tahap survey lokasi, untuk desain dan tata letak sudah clear semua. Mungkin besok atau lusa, aku dan Bryan akan ke Bandung." Ucap Eliza kecut.


Moodnya seketika berubah, ia sedikit tersinggung dengan ucapan Gugun.


"Kalian hanya pergi berdua? Tidak takut ada setan yang mengikuti?"


"Maksudmu?" Tanya Eliza.


"Kamu tidak tahu, jika laki-laki dan perempuan berjalan hanya berdua saja yang ketiganya adalah setan loh!"


"Brengs*k!" Maki Eliza dalam hati.

__ADS_1


"Makin lama perkataan Gugun semakin membuat moodku hancur saja. Apa dia sengaja menyindirku secara halus?"


Eliza menahan agar emosinya tidak meledak.


"Sabar Eliza, ini baru permulaan kedepannya akan banyak cobaan lebih menyakitkan lagi. Aku harus sabar demi membalas dendam almarhum bapak."


"Kita sudah dewasa jadi tak masalah jika ada setan diantara kami. Lagipula aku yakin, Bryan akan bertanggung jawab." Eliza melirik ke arah Bryan sementara pria disampingnya hanya mematung.


"Gila kau, El! Bagaimana bisa Bryan bertanggung jawab, dia sudah beristri. Memangnya kamu mau jadi yang kedua?"


"Tentu saja tidak mau! Aku hanya ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya dalam hati Bryan." Ucap Eliza.


Wanita itu semakin tertantang. Ia dengan berani menjawab semua pertanyaan yang menyudutkannya.


"Lalu...."


"Ya Bryan harus bercerai dengan istrinya karena sampai kapanpun aku tak mau dimadu."


"Ha-ha-ha. Sinting! Benar-benar sinting, kau Eliza!"


Gugun hanya tertawa. Sementara Bryan sudah tidak tahan mendengar ucapan Eliza yang semakin lancang menjelek-jelekan istrinya.


"Cukup El, jangan kau teruskan lagi. Aku muak mendengarnya." Bentak Bryan.


"Bagus, pertunjukan segera dimulai. Kita lihat saja, apakah Bryan tetap mempertahankanmu atau kembali ke pelukan istrinya."


"Kenapa kamu membentakku, Ry! Apa salahku?" Tanya Eliza, matanya mulai berkaca-kaca. Ini pertama kalinya Bryan membentak wanita itu.


Seumur hidup, Eliza baru kali ini melihat sifat asli Bryan saat sedang marah.


"Maafkan aku tapi tolong jangan menggunjingkan istriku lagi."


"Iya tapi tidak perlu membentakku." Air mata Eliza mulai jatuh.


"El, tolong maafkan aku. Sudah, kamu jangan menangis lagi."


Bryan membawa tubuh Eliza dalam dekapannya. Ia mengelus punggung wanita itu.


"Maafkan aku."


Bryan merasa bersalah karena sudah membentak wanita yang masih berstatuskan kekasihnya walaupun mereka sudah lama tak bersama namun belum ada kata putus terucap dari keduanya.


"Kamu jahat. Demi membela istrimu, kau tega membentakku." Ucapnya di sela isak tangis.

__ADS_1


"Air mata buaya!"


"Dan lihat, bagaimana bodohnya tuan muda Smith. Dia mudah termakan jebakan klasik dari wanita ganas ini."


"Bukan begitu El, cuma aku tidak tahan mendengar kau menjelek-jelekan Aluna. Dia tidak pernah sedikitpun menjelek-jelekanmu ataupun wanita lain jadi ku mohon berhentilah." Pinta Bryan penuh harap.


Entah mengapa hatiku terasa sakit saat mendengar wanita disampingku menghina Aluna. Dada ini seperti di tusuk sembilu, sakit dan membuatku emosi. Aluna sosok gadis baik dan tak pernah menjelekan keburukan orang lain lantas mengapa wanita ini tega berkata buruk tentangnya? (Bryan)


Gugun hanya memperhatikan adegan drama gila yang terjadi dikursi belakang, dimana Bryan yang menjadi tokoh utama. Pria itu sudah buta akibat cintanya kepada Eliza sehingga ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk.


"Bryan, kau benar-benar bodoh!" Maki Gugun dalam hati.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bryan sudah mendatangi kediaman keluarga Smith. Sudah hampir sepuluh hari ia tidak menginjakan kaki dirumah itu, semenjak menangani sebuah proyek pembangunan museum milik Eliza, pria itu lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di apartemen yang ia beli sebelum menikah dengan Aluna.


"Selamat pagi tuan muda." Sapa Bu Rita saat ia melihat tuan muda Smith berjalan menuju aula utama.


"Dimana daddy?" Tanya Bryan.


"Tuan besar sedang berada di taman belakang." Jawab Bu Risa sopan.


Bryan langsung menghampiri Reymond. Di taman belakang, pria itu melihat seorang pria tua sedang duduk santai membaca sebuah koran dan menikmati secangkir kopi.


"Daddy!" Ucap Bryan dengan meninggikan satu oktaf suaranya.


Reymond terperanjat karena mendengar putra semata wayangnya memanggilnya dengan nada suara tinggi tanpa menyapanya terlebih dahulu.


"Ada apa Ry?"


"Masih pagi kenapa kamu berteriak!"


"Apa daddy dan mommymu tidak pernah mengajari sopan santun?" Reymond masih sibuk membolak balikan koran yang sedang ia pegang.


"Untuk apa aku bersikap sopan terhadap orang tua seperti daddy!"


"Anak kurang ajar!" Bentak Reymond.


to be continued....


Hayo, kira-kira Bryan datang ke rumah pagi-pagi banget mau ngapain tuh? 😁


Penasaran? Yuk ah kasih jempol dulu, agar author semakin semangat upload episode terbaru. Jangan lupa favoritkan novel ini agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Thank you all.

__ADS_1


__ADS_2