
Happy reading 🍃
Dengan perasaan sedih, Aluna menangis dalam dekapan Rendra. Hatinya hancur berkeping-keping melihat suaminya memeluk wanita lain. Ia berurai air mata, kemeja coklat milik Rendra kini sudah basah oleh air matanya. Rossa hanya menatap pilu. Ia bisa merasakan kesedihan yang merundung sahabatnya.
"Aku ingin sendiri, kalian tidak perlu mengikutiku." Ucap Aluna kepada kedua pengawal.
"Tapi nyonya...."
"Ku mohon untuk kali ini biarkan aku sendiri."
"Kalian tidak perlu cemas, ada aku yang akan menjaga nyonya kalian. Percaya padaku!" Pinta Rendra dengan meninggikan intonasinya.
"Baik tuan tapi ingat jangan berbuat macam-macam!" Kedua pengawal memperingati Rendra.
"Ya!" Ucap Rendra singkat.
"Rossa, kamu ikut mobilku biar Okky yang mengendarai mobilmu." Pinta Rendra.
"Baik kak!"
Rossa berlari ke meja panitia dan menitipkan kunci mobilnya ke Okky.
"Tolong ya kak." Ucap Rossa seraya memberikan kunci mobil.
"Mobilku di basement, J1 plat nomor B1234AA."
"Oke."
Sepanjang perjalanan, Aluna tak henti-hentinya menangis. Entah berapa banyak air mata yang sudah ia teteskan untuk menangisi pengkhianatan suaminya.
"Sudah Aluna jangan menangis lagi. Bisa bengkak matamu jika terus menerus menangis." Rossa mencoba menenangkan sahabatnya.
"Kenapa Mas Bryan tega selingkuh dibelakangku?" Ucap Aluna di sela isak tangisnya.
"Kita belum tahu pasti apakah suamimu benar-benar selingkuh atau tidak. Bukannya wajar ya jika seorang pria berpelukan dengan seorang wanita?"
"Tapi aku merasa bahwa pelukan itu bukan hanya sebuah pelukan biasa."
"Tidak kah kau lihat bagaimana sorot mata Mas Bryan saat ia menatap wajah wanita itu!"
Rossa menggaruk kepalanya dan bergumam "benar juga, aku bisa melihat sorot mata itu penuh dengan cinta."
"Sakit Cha!" Aluna meraba dadanya.
"Lantas sekarang kamu mau kemana?" Tanya Rossa.
Rendra hanya memperhatikan mereka dari kaca spion dan tetap fokus menyetir.
"Untuk sementara waktu, aku ingin menginap dirumahmu saja. Aku ingin menenangkan pikiranku."
"Baiklah!"
"Kak Rendra, kita ke rumahku saja. Biarkan Aluna tinggal beberapa hari ditempatku."
"Hu'um!" Rendra mengangguk.
Empat puluh menit kemudian, kini mereka sudah memasuki area perumahan elite milik orang tua Rossa. Rossa merupakan anak tunggal dan bundanya seorang single parent. Sejak usia lima belas tahun, Rossa sudah tidak tinggal satu atap dengan papanya karena kedua orang tuanya berpisah akibat sang papa ketahuan selingkuh dengan sekretarisnya. Semenjak perpisahan itu, Imelda bundanya Rossa memutuskan untuk tidak menikah lagi karena luka yang ditorehkan oleh mantan suaminya begitu dalam.
"Dua rumah dari depan adalah rumahku." Rossa menunjuk keluar jendela.
Rossa menurunkan kaca mobil.
__ADS_1
"Pak, tolong bukain pintu gerbang." Ucapnya pada pak satpam yang menjaga rumahnya.
"Eh non Rossa."
"Buruan pak!"
Kemudian pak satpam membukakan pintu gerbang.
"Terima kasih."
"Akhirnya sampai juga."
Rossa turun dari mobil diikuti Rendra.
Melihat kondisi Aluna yang lemah, Rendra menawarkan bantuan kembali.
"Aku gendong lagi, mau?" Tanya Rendra dengan harap harap cemas.
"Apa tidak merepotkan?" Tanya Aluna ragu.
"Tentu tidak!"
Aluna mengangguk.
Dengan hati-hati Rendra menggendong Aluna.
"Kamu harus pegangan yang kuat kalau tidak, bisa jatuh!" Goda Rendra.
Aluna hanya tersenyum. Ia mengalungkan tangannya ke leher Rendra. Dengan jarak sedekat ini gadis itu bisa mencium aroma parfum bernuansa aqua yang berasal dari tubuh Rendra memberikan nuansa segar dan tropical, membuat Aluna berasa seperti di pantai.
"Pria ini masih menggunakan nuansa parfum sama seperti yang pernah ku berikan dulu." Gumam Aluna.
Dalam hati Aluna berkata "maafkan aku karena tidak bisa menerimamu. Hati dan cintaku kini sudah dimiliki Mas Bryan."
"Mari, silahkan masuk." Rossa membuka pintu rumah.
Dari lantai atas, nampak seorang wanita berusia empat puluh lima sedang menuruni tangga. Wanita itu kaget melihat Aluna digendong oleh pria lain dalam keadaan lemah, mata sembab dan keadaan rambut berantakan.
"Aluna, apa yang terjadi?" Dengan tergesa-gesa Imelda menuruni tangga.
"Aku tidak apa-apa tante."
"Bun, untuk sementara waktu Aluna tinggal bersama kita. Boleh ya?" Tanya Rossa.
"Kenapa tidak boleh! Aluna sudah bunda anggap seperti anak kandung sendiri jadi tidak perlu sungkan." Ucap Imelda ramah.
"Tolong bawa Aluna ke kamar." Imelda berjalan memberikan petunjuk ke Rendra untuk mengikutinya.
Rendra membaringkan Aluna diatas ranjang.
"Aw!" Pekik Aluna.
"Kamu kenapa Aluna?" Tanya Imelda panik.
Rossa, sahabatnya tidak kalah panik. Wajah gadis itu langsung pucat seketika.
"Perutku, sakit sekali!" Aluna menyentuh perutnya.
"Bayiku!
"Oh tidak!"
__ADS_1
Aluna meringis kesakitan. Ia merasakan nyeri di perut bagian bawah.
Rendra dan Imelda melongo.
"Bayi!"
"Cepat telpon dokter!" Ucap Imelda setelah bangun dari keterkejutan.
"Tidak perlu, biar aku periksa."
Rendra duduk disamping Aluna yang tengah terbaring lemah diatas ranjang.
"Luna, coba kamu tarik napas panjang dan hembuskan secara perlahan."
Aluna menuruti perintah Rendra.
"Rossa, coba kamu tolong ambilkan perlengkapan medisku di bagasi. Aku selalu menyediakannya di dalam mobil."
Tanpa menunggu lama, Rossa berlari keluar rumah dan membuka bagasi mobil milik Rendra.
Jedug!
"Aduh!"
Kepala Rossa terbentur pintu bagasi mobil saat ia mencari kotak medis.
"Akhirnya aku menemukanmu." Ucapnya sambil mengelus kotak medis berwarna putih.
Ia segera berlari ke dalam rumah.
"Ini kak!"
Rossa menyodorkan kotak medis tersebut.
Rendra mengeluarkan sebuah stetoskop dan langsung memeriksa.
"Tante, bisa minta tolong ambilkan botol berisikan air panas dan sehelai handuk bersih?" Pinta Rendra sopan ke Imelda.
Imelda berjalan ke dapur dan mengambil barang-barang yang diminta Rendra.
"Syukurlah tidak terjadi hal serius pada kandunganmu."
Rossa dan Aluna bernapas lega.
"Kamu hanya stres saja, akibat terlalu banyak menangis." Rendra memasukan kembali stetoskop ke dalam wadahnya.
"Nanti kamu kompres dengan botol berisikan air hangat, lakukan relaksasi ringan, perbanyak minum air dan yang terpenting jangan menagis lagi. Kasihan bayi di dalam perutmu kalau menangis terus, mereka bisa ikutan stres loh."
"Nak, ini botol air panas dan handuknya." Imelda meletakannya diatas nakas.
"Terima kasih tante."
Imelda memberikan isyarat kepada Rossa agar meninggalkan Aluna dikamar bersama Rendra. Ia ingin memberikan ruang untuk mereka berbicara.
"Jangan sampai kejadian ini terulang lagi karena bisa membahayakan janinmu." Rendra membantu Aluna duduk diatas ranjang. Ia membantu gadis itu meneguk air hangat dari gelas yang baru saja dibawakan oleh Imelda.
"Aku menunggu penjelasan darimu, Luna." Ucap Rendra sambil tersenyum ke arah Aluna.
to be continued....
Hayo, masih setia kan dengan novelku. Hehehe... Jangan lupa like, komentar dan jangan lupa masukan novel ini ke dalam list favorit kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Terima kasih. 😊
__ADS_1