Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Penderitaan Bryan


__ADS_3

Jakarta


|| Kediaman Smith ||


Beberapa jam sebelum Aluna menjalani proses persalinan.


Saat Aluna meringis kesakitan akibat kontraksi, di negara berbeda dengan perbedaan waktu satu jam seorang pria berusia 26 tahun mengalami mulas seperti hendak BAB dan merasakan nyeri pinggang mirip wanita saat mengalami siklus menstruasi di hari pertama. Sudah dua jam ia berbaring diatas ranjang king size miliknya, ranjang yang biasa ia tiduri ketika Aluna masih tinggal disana. Ia merintih dan peluh sebesar biji jagung membanjiri kening pria itu.


"Tuhan, apa yang terjadi padaku? Rasanya sakit sekali." Ujar pria itu seraya menyentuh perutnya.


Ia membalikan tubuh kekarnya ke arah jendela kamar menghadap taman belakang, rasa mulas itu tak kunjung hilang membalikan kembali ke arah pintu kamar juga tidak hilang malah semakin menjadi membuat pria itu mengerang karena kesakitan.


Perlahan-lahan ia meraba-raba atas nakas mencari smartphone yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi, browsing dan lain-lain. Ia memindai wajahnya untuk membuka kunci. Pria itu mencari nama seseorang diantara kumpulan koleksi nomor di phone booknya.


Bryan


📲 Rud, lekas kemari.


Ucap pria itu singkat.


Belum membuka suara, pria itu sudah mematikan sambungan telpon.


Ruddy hanya membola, pasalnya Bryan menelpon ditengah malam saat semua orang beristirahat dan bermain ke alam mimpi. Ia sedang asyik terbang ke alam mimpi namun tiba-tiba saja dering ponselnya berbunyi mengembalikan kesadaranya. Dengan mata masih terpejam ia menerima panggilan masuk dari atasan sekaligus sahabatnya.


"Sikapmu masih saja tidak berubah, Ry!" Ruddy mengomel saat ia menyadari bahwa sambungan telpon sudah dimatikan secara sepihak.


Ia mengerjapkan mata, berjalan ke westafel mencuci muka dan berganti pakaian. Ia menerobos udara malam menyusuri jalanan sepi ibu kota. Menuju parkiran basement apartemen yang ia beli pada tahun kedua setelah bekerja menjadi asisten pribadi Bryan. Ia melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang, berusaha fokus pada jalanan dan melawan kantuk. Sejujurnya ia enggan untuk pergi ke rumah Smith namun karena mendengar suara Bryan yang kesakitan pria itu tidak tega dan dengan terpaksa melajukan mobilnya.


Setengah jam kemudian, Ruddy sudah sampai di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi ke awan. Ia membuka jendela mobil agar diperbolehkan security untuk bisa memasuki rumah mewah tersebut.


"Selamat malam pak." Sapa Ruddy.


"Eh tuan, silahkan masuk."


Security itu menekan tombol dibawah meja kerjanya dan secara otomatis pintu gerbang terbuka sendiri.


Ruddy melajukan kembali kendaraannya, sepuluh menit mobil tersebut sudah berada di depan pintu. Ia menekan bel kemudian seorang pelayan membukakan pintu. Pria itu berjalan menaiki lift yang membawanya ke lantai tiga ruangan khusus yang ditempati Bryan.


"Tuan." Ucap Ruddy.


"Masuk Rud, pintu tidak dikunci."


Ruddy melihat Bryan sedang terbaring menahan sakit.


"Tuan, apa yang terjadi?"


Pria itu baru tersadar ketika lampu kamar menyala. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Bryan saat menahan sakit seluruh piyamanya basah dan sprei biru langit miliknya pun basah.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Rud. Sudah dua jam aku merasakan mulas seperti mau BAB tapi saat ke kamar mandi tak ada satu pun yang keluar. Pinggangku sakit pokoknya seluruh tubuhku pegal-pegal."


"Apa ini karena tuan sudah tidak berolah raga semenjak ditinggal Nyonya Aluna?"


"Diam Rud, jangan membuatku semakin kesal."


Bryan masih kesal karena Aluna pergi meninggalkannya begitu saja. Sudah enam bulan pria itu mencari keberadaan istrinya tapi tidak berhasil, Aluna menghilang bagaikan ditelan bumi. Tidak ada informasi mengenai wanita itu. Seluruh detektif, pengawal bahkan polisi sudah dikerahkan mencari kesudut kota, setiap pelosok tetap tidak ditemukan membuat pria itu gila dan membuatnya tidak bersemangat menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Aluna.


"Maafkan saya, tuan."


Ayunda mendengar suara langkah kaki saat ia pergi ke dapur membuatkan teh hangat untuk Reymond melirik dan sekilas melihat Ruddy menaiki lift menuju lantai tiga. Setelah wanita itu membawakan segelas teh hangat, ia meminta izin menemui Bryan dikamarnya karena khawatir hal buruk terjadi pada putranya. Benar saja, setelah ia sampai di depan kamar melihat wajah putranya pucat, keringat memenuhi sebagian wajah dan piyama.


"Ry!" Pekik Ayunda.


Wanita itu segera berlari dan berjongkok disamping ranjang.


"Nak, kamu kenapa?" Ayunda mengelus rambut putranya.


"Tidak tahu mom, perutku mulas dan seluruh tubuhku rasanya sakit semua."


"Tadi kamu makan makanan pedas?"


"Tidak." Bryan menggelengkan kepala.


"Aduh mom, sakit sekali."


"Aw!" Teriak Bryan.


"Ry!" Ayunda cemas melihat putranya.


"Cepat panggil dokter." Perintah Ayunda.


Ruddy sudah mengeluarkan ponselnya dari saku celana namun dihentikan Ayunda.


"Tunggu!"


"Apakah mungkin istrimu saat ini sedang berjuang melahirkan kedua anak-anakmu!"


"Soalnya dulu ketika mommy melahirkan daddymu juga seperti ini merasakan mulas dan nyeri pinggang."


Rasanya jantung Bryan jatuh.


"Kalau tidak salah bulan ini usia kandungan Aluna genap sembilan bulan." Ucap Bryan.


Ruddy menahan tawa, ini pertama kalinya ia melihat pria dingin, cuek dan terkenal sangat tempramental meringis kesakitan.


"Tuan, ini balasan dari Tuhan karena dulu anda sudah menyia-nyiakan nyonya dan kedua anak-anak." Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Siapa yang mengizinkanmu tertawa." Bentak Bryan.


"Maaf tuan."


Ruddy menghentikan tawanya.


"Lantas aku harus bagaimana mom, sakit sekali."


"Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu sampai Aluna melahirkan setelah itu rasa mulas dan sakit akan menghilang dengan sendirinya."


Bryan membelalakan matanya.


"Apa?"


"Kapan istriku akan melahirkan?" Tanya Bryan frustasi.


"Biasanya persalinan anak pertama membutuhkan waktu yang cukup lama."


"Argh!" Bryan berteriak karena perutnya semakin mulas.


Bryan jadi teringat akan sosok gadis kecil yang ia nikahi satu tahun belakangan ini. Gadis kecil yang hatinya pernah disakiti bahkan rela ia tinggalkan demi wanita di masa lalunya membuat pria itu merasa bersalah.


"Sayang, jika memang kau sedang berjuang melahirkan buah cinta kita maka bertahanlah. Aku ikhlas merasakan sakit asalkan kau dan anak-anak selamat." Bryan menguatkan dirinya menerima penderitaan selama istrinya menjalani proses persalinan.


***


Singapura


|| Mount Alvernia Hospital ||


Beberapa jam pasca melahirkan.


Kedua orang tua Rendra sejak pagi-pagi sudah mempersiapkan semua kebutuhan sebelum terbang ke Singapura menggunakan jet pribadi dan kini keduanya sudah berada di rumah sakit.


"Aluna." Ucap Mama Irene.


Mama Irene dan Papa Fengying masuk ke ruangan tempat Aluna beristirahat pasca melahirkan kedua jagoan kecil nan menggemaskan.


"Mama, papa."


Aluna hendak merubah posisinya.


"Kamu rebahan saja sayang."


Mama Irene meletakan parcel buah yang sengaja dibeli sebelum mengunjungi calon menantunya.


"Kapan mama dan papa tiba?" Aluna meringis karena luka jahitan pada area intimnya terasa nyeri.

__ADS_1


"Baru saja sayang."


__ADS_2