
Aryan berontak tak mau lepas dari gendongan Bryan.
"Aryan!" Bentak Rendra.
Pria itu kalut karena merasa posisinya saat ini terancam. Ia tidak ingin penantiannya selama ini sia-sia akibat kemunculan Bryan dalam hidup Aluna.
"Papi!"
Tangis Aryan pecah.
Rendra menarik tubuh Aryan.
"Kak, hentikan!"
"Tidak Aluna!" Bentak Rendra. Ia sudah seperti orang kesurupan.
"Kak!" Aluna menyentuh tangan calon suaminya.
Rendra melepaskan genggamannya dari tangan Aryan.
"Biarkan aku menyelesaikan semuanya. Please!" Pinta Aluna.
Rendra melunak. Ia membiarkan calon istrinya dan Aryan mendekati Bryan.
"Aryan, ayo!"
Aluna menggandeng tangan putra sulungnya. Ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya.
"Sayang, pamitan dulu sama papi. Besok kita temui papi dikantor."
"Really?"
Aluna mengangguk.
"Hole-hole!" Teriak Aryan.
Rendra menyaksikan kedekatan antara calon istrinya, mantan suami dan calon anak tirinya membuat hatinya sakit.
"Ini pertama kalinya Aryan tertawa lepas kepada orang lain, biasanya bocah itu akan tertawa jika bersama papa." Ucap Rendra, tangan kirinya menggenggam tangan Arya. Bocah kecil itu hanya terdiam.
"Papi, Alyan pulang dulu. Bye papi!" Aryan mencium pipi kanan dan kiri Bryan.
"Besok aku ke kantor membawa si kembar."
Kemudian Aluna membawa anak kembarnya ke dalam gedung resepsi pernikahan dan Rendra mengekori dari belakang. Aluna menyalami kedua mantan mertuanya sekaligus memperkenalkan si kembar kepada nenek dan kakeknya.
"Ocha, happy wedding." Ucap Aluna, wanita itu mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya.
"Terima kasih Luna karena sudah hadir dalam pernikahanku."
"Sama-sama, tapi aku tidak bisa lama-lama soalnya...."
"Aku tahu ini pasti akan terjadi." Rossa sudah bisa menebak tanpa diberitahu sahabatnya.
__ADS_1
Kemudian Aluna berpindah menyalami Ruddy.
"Aku sungguh berharap, kalian bahagia selamanya."
"Terima kasih nyonya muda." Balas Ruddy.
Di dalam mobil, Aluna dan Rendra menutup mulut rapat-rapat. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, sementara si kembar tertidur pulas dikursi belakang.
***
Resepsi pernikahan berakhir pukul 23.00, semua tamu undangan sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya menyisakan kedua mempelai, Bryan, Shera, Bunda Imelda, Ronny dan tuan-nyonya besar Smith. Bryan bangun dari kursi dan menghampiri mempelai yang tampak bersinar meski jelas kelelahan. Semua prosesi pernikahan, mulai dari pemberkatan sampai resepsi berjalan lancar tanpa ada kendala sama sekali.
"Happy wedding untuk kalian berdua." Bryan menyalami kedua mempelai.
"Terima kasih tuan." Balas Ruddy dan Rossa hampir bersamaan.
"Jangan sampai kamu menyia-nyiakan istrimu agar tidak menyesal di kemudian hari." Timpal Bryan.
Ruddy terkekeh dan menepuk bahu Bryan.
"Tidak akan pernah tuan, cukup anda saja yang bodoh karena mencampakan berlian mahal demi barang imitasi." Bisik Ruddy.
"Sialan kamu, Rud!"
Ucapan Ruddy membuat Rossa melototi suaminya. Ia tidak ingin sahabat sejatinya dibandingkan dengan wanita iblis seperti Eliza.
"Mas Ruddy!"
Ruddy melingkarkan tangan di pinggang Rossa.
Bryan menatap Ruddy dan Rossa bergantian, ia turut bahagia dan lega karena sahabatnya menikahi gadis baik seperti Rossa. Pria itu tahu betul bagaimana perlakuan Rossa terhadap mantan istrinya dulu, ia selalu ada disaat Aluna membutuhkannya. Bahkan gadis itu lebih setia daripada Bryan.
Keluarga Smith menghadiahkan sebuah rumah dua lantai berada di pusat ibu kota. Jaraknya tidak begitu jauh dari kantor hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit menggunakan kendaraan. Aluna dan Rendra menghadiahkan satu set perlengkapan alat make up karena mereka tahu jika mempelai wanita sangat menyukai bidang tata rias.
"Sudah larut, aku pamit dulu." Ucap Bryan.
"Hati-hati di jalan." Balas Rossa.
Bryan berjalan menuju pintu keluar.
"Ayo kita istirahat."
Rossa tersenyum lebar.
"Pamit kepada bunda, tuan dan nyonya Smith dulu."
Ruddy mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan mertuanya. Ia menggandeng tangan Rossa dan menghampiri Bunda Imelda yang sedang berbincang dengan Nyonya Smith.
"Bunda, tuan dan nyonya Smith."
"Terima kasih karena sudah menjadi wali saya. Saya sungguh bersyukur karena bertemu orang baik seperti kalian." Ruddy membungkuk dengan sopan.
"Tidak perlu sungkan, Rud. Kami sudah menganggapmu seperti putra sendiri." Balas Nyonya Smith.
__ADS_1
"Bunda, kedepannya saya harap jika butuh bantuan jangan sungkan menghubungi saya."
Ruddy mencium tangan Bunda Imelda. Bunda Imelda sangat bersyukur memiliki menantu seperti Ruddy.
"Tentu saja. Sering-seringlah mampir ke rumah."
"Baik bunda."
"Bunda, Ocha pamit ya." Ia memeluk bundanya.
"Iya sayang. Berbaktilah kepada suami. Semoga kalian bahagia selalu."
Nyonya Smith berkaca-kaca menatap pemandangan yang mengharukan itu. Rossa bergantian memeluk tubuh Nyonya Smith.
Malam itu, mereka tidak langsung menempati rumah yang diberikan oleh Tuan Smith melainkan menginap di hotel yang sama tempat melangsungkan resepsi pernikahan. Seluruh tubuh terasa lelah sehingga tidak memiliki banyak energi untuk bisa pulang kerumah apalagi jarak dari hotel ke rumah membutuhkan waktu satu jam.
"Ayo masuk!" Ruddy membukakan pintu kamar.
Seluruh ruangan sudah dihias dan ditaburi bunga mawar merah serta lilin besar membuat suasana semakin romantis.
Rossa tersenyum dan refleks mencium sudut bibir suaminya.
Ruddy menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas kasur.
"Kamu sudah berani menciumku?"
Ruddy mengungkung tubuh Rossa dengan kedua tangannya, lalu menunduk hingga wajah mereka saling berhadapan.
"Apakah aku boleh meminta hakku sekarang?" Tanya Ruddy.
"Tentu saja. Lakukanlah mas." Rossa mencium bibir suaminya.
Ruddy membalas ciuman istrinya dengan ssngat buas.
"Aku akan melakukannya dengan sangat pelan."
Wajah pria itu merah akibat menahan hasrat yang ia bendung selama empat tahun berada di dekat Rossa.
Pria itu kembali menciumi bibir Rossa, turun ke leher dan menghidu aroma khas tubuh istrinya, memberikan tanda kepemilikan dimana-mana pada tubuh istrinya. Deru napas keduanya saling bersahutan, detak jantung berpacu tak beraturan. Kemudian, mereka berlayar ke pulau cinta dimana hanya ada mereka berdua di pulau itu.
Malam itu untuk pertama kali, Rossa merasakan bagaimana seluruh tubuhnya meremang akibat sentuhan lembut dari jemari suaminya. Seluruh tubuhnya bergetar bagaikan tersengat listrik. Rasa sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan kebahagiaan yang tengah menyelimutinya.
Kebahagiaan yang sempat hilang kini kembali, Tuhan sudah mengembalikan kebahagiaannya lewat kehadiran Ruddy. Dulu ia bersedih atas perpisahan kedua orang tuanya namun kini Dia sudah menggantikannya dengan sejuta kebahagiaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Mas, lakukan lebih cepat!" Ucap Rossa saat pertama kali ia merasakan sebuah gelombang menghampiri.
"Tentu babe!"
Satu jam mereka memadu kasih hingga akhirnya Ruddy mencapai puncak kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan. Pria itu terkulai lemah disamping tubuh Rossa.
"Terima kasih babe." Ucap Ruddy seraya mencium kening istrinya.
Hai-hai, terima kasih author ucapkan karena kalian masih setia membaca kisah Aluna dan Bryan hingga episode ini. Author sedang mempersiapkan ending untuk cerita ini. Jika kalian punya saran atau ide bisa langsung tulis di kolom komentar. 😊
__ADS_1