
🚫 WARNING! 21+
Mengandung adegan yang hanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Harap bijak dalam membaca.
Happy reading 🤗
Aluna menatap sebuah jam dinding mewah yang dipasang di tembokan aula utama rumah keluarga Smith. Jam itu dilengkapi permata indah yang disusun rapi melingkari jam dinding, penambahan kawat hitam yang dibentuk seperti burung sedangkan inti jam dinding berada ditengah. Penambahan sebuah permata putih tepat berada di atas inti jam menambah kesan mewah namun simple.
"Pantas saja mataku mengantuk, ternyata sudah pukul sebelas."
Aluna memejamkan mata sejenak di sofa. Ia merasakan seseorang tengah memijat pundaknya dengan lembut. Wanita itu menoleh ke belakang.
"Kamu belum istirahat sayang."
Aluna tersenyum dan terharu melihat perlakukan istimewa suaminya, pria itu membalas dengan senyuman manis.
"Belum mas."
"Kamu sudah selesai memeriksa tugas para mahasiswa magangmu?"
"Sudah."
Aluna menyentuh tangan Bryan.
"Mas."
"Ehm, kenapa?"
"Sudah, tidak perlu dipijit lagi."
"Tidak apa-apa. Jarang loh seorang CEO mau memijat pundak istrinya."
Aluna mencolek hidung mancung pria itu.
"Kamu bisa saja."
"Kita ke kamar sayang." Bryan mengajak istrinya kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Ayo!"
Mereka berdua bergandengan tangan menuju lantai tiga.
"Silakan masuk tuan putri."
Bryan membukakan pintu kamar.
Aluna mengedarkan pandangan, melihat furnitur, pernak-pernik dan tata letak furnitur semua masih berada di posisi yang sama saat wanita itu terakhir kali meninggalkan rumah keluarga Smith.
"Aku tidak merubah posisi furnitur semenjak kamu pergi."
"Memangnya kenapa?"
"Dengan begini, aku bisa mengobati rasa rinduku kepadamu."
Bryan menarik tangan Aluna, kini mereka sudah berada di dalam kamar.
"Foto itu!" Aluna melotot melihat foto pernikahan mereka.
Foto itu diambil saat mereka mengelar resepsi pernikahan di sebuah hotel mewah.
__ADS_1
"Aku masih menyimpannya, mana mungkinku buang. Itu kenang-kenangan kita. Walaupun saat itu kita menikah karena keterpaksaan saja namun aku tidak sampai hati menyingkirkan benda itu."
Bryan menuntun Aluna duduk di tepian ranjang. Lama keduanya saling menatap satu sama lain.
"Aluna...."
Belum sempat Brayn melanjutkan perkataannya tiba-tiba saja suara gemuruh petir menggelegar dan seketika membuat Aluna berteriak, meloncat serta memeluk tubuh suaminya.
Bryan menahan tawa.
"Kamu sudah memiliki anak tapi masih takut dengan suara petir." Bryan menggoda istrinya namun tetap memeluk erat tubuh Aluna.
"Ish Mas Bryan, jangan menertawakanku!"
"Selama hampir lima tahun siapa yang menggantikanku, memelukmu saat suara gemuruh petir terdengar?"
"Aku hanya bersembunyi dibawah bantal!"
"Lalu, saat bersama si kembar?"
"Ehm...."
"A-aku yang memeluk mereka karena takut."
"Ha-ha-ha!" Tawa Bryan pecah.
Aluna melepaskan pelukannya dan menjauhkan diri dari Bryan.
"Kamu jahat!" Protes Aluna.
Wanita itu beranjak dan meninggalkan Bryan, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Seluruh tubuhnya dipenuhi peluh.
Dua puluh menit kemudian, Aluna keluar dari kamar mandi dengan piyama biru langit yang ia beli saat menghabiskan waktu bersama Bryan dan si kembar.
Wanita itu melirik ke arah ranjang kosong disamping Bryan.
"Kamu sudah selesai mandi?" Tanya Bryan dengan suara serak khas bangun tidur.
Rupanya pria itu tertidur akibat terlalu lama menunggu istrinya mandi.
"Aku mengganggumu ya?"
"Tidak! Sini." Bryan menepuk ruang kosong disampingnya.
Aluna ragu untuk melangkahkan kaki. Ini pertama kalinya wanita itu tidur satu ranjang dengan seorang pria setelah sekian lama tidur sendiri.
"Tapi...."
Bryan langsung menarik lengan Aluna dan menuntunnya ke atas ranjang.
"Kamu sudah menjadi istriku dan mulai malam ini sepatutnya kita tidur bersama."
Bryan menyenderkan kepala istrinya di dada bidang milik pria itu.
Aluna bisa mendengar dengan jelas detak jantung suaminya berdebar tak beratur. Selama lima menit tak ada perbincangan apapun. Hembusan napas Bryan bisa Aluna rasakan, ia mendongar dan menatap wajah suaminya.
"Kamu tampan mas." Ucapnya lirih.
"Baru sadar bahwa aku tampan!"
__ADS_1
Aluna terperanjat dan mendorong dada pria itu karena tidak seimbang menyebabkan tubuh Aluna oleng, dengan sigap Bryan menarik pinggang sang istri dan tanpa sengaja bibir mereka saling menyentuh.
Cup!
Aluna membelalakan mata tak percaya dengan kejadian barusan. Bibir mereka saling menempel, terasa basah dan sangat manis. Jantungnya menari-nari dan sulit dikendalikan, hingga rasanya mau copot.
Sedangkan Bryan menutup mata menikmati bibir istrinya. Pria itu menahan tengkuk Aluna agar ciumanan mereka semakin dalam.
Aluna berontak dan berusaha melepaskan diri dalam pelukan suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Bentak Aluna.
"Aku hanya memanfaatkan kesempatan saja. Kesempatan langka tidak mungkinku sia-siakan."
"Lagipula, Aryan dan Arya sudah tidak sabar ingin punya adik." Ucap Bryan cuek.
Kini pria itu tidur membelakangi Aluna sementara wanita itu bergeming.
Apa aku tidak salah dengar? Tadi pria ini mengatakan si kembar menginginkan adik! Oh astaga, mana mungkin kami melakukannya malam ini. Kami baru saja menikah tapi aku tidak mungkin membiarkan Mas Bryan menunggu terlalu lama. (Aluna).
Aluna mendekat dan mencium leher Bryan.
"Ssst, ah!" Desis Bryan.
Pria itu menikmati ciuman lembut istrinya. Kemudian ia menoleh dan menyentuh tengkuk Aluna.
Wanita itu membalas ciuman Bryan dengan sangat agresif, mengalungkan tangan ke leher suaminya sehingga tidak ada jarak pemisah diantara keduanya.
Tangan Bryan perlahan bergrilya menyentuh bagian belakang dan meremassnya dengan keras.
Aluna melenguh saat merasakan sentuhan nakal suaminya, tak hanya disitu saja tangan Bryan menjalar menyentuh setiap bagian inci tubuh istrinya. Ia meremaaas dua benda kenyal di depan sana.
Wanita itu membuka mata dan melihat mata suaminya sayu dipenuhi kabut g*irah. Aluna tak tinggal diam, ia membantu Bryan melepaskan piyama yang dikenakan pria itu tanpa melepaskan pangutan.
Bryan melepaskan tiap manik kancing piyama istrinya, sejenak ia tertegun dengan benda kenyal dihadapannya. Kemudian pria itu melahapnya dengan rakus.
Aluna merasa pening akibat sentuhan suaminya, hingga ia tak bisa menahan lagi gejolak hasraaat dalam dirinya.
"Mas, tolong jangan permainkanku lagi!"
Bryan memahami maksud istrinya, kemudian ia melepaskan seluruh helai benang yang tersisa dan merebahkan tubuh wanita itu dengan hati-hati.
Pria itu terus menciumi seluruh tubuh Aluna dan memberikan sebuah tanda merah pada leher jenjang, putih dan mulus milik istrinya.
"Ah!"
Jeritan Aluna membuat has*rat Bryan semakin bergelora, membuat sesuatu dibawah sana mengeras dan ingin segera dilampiaskan.
"Aku boleh memulainya sayang?"
Aluna hanya mengangguk.
Dengan penuh cinta Bryan mencium kening istrinya dan melepas penutup kain yang menempel ditubuhnya. Aluna terbelalak dan ragu saat melihat sesuatu dibawah sana yang sudah berdiri dan mengeras namun Bryan segera mengukung dengan tubuh besarnya.
Aluna menjerit saat suaminya melakukan penyatuan. Ini pertama kalinya bagi Aluna setelah hampir lima tahun tidak merasakan sebuah kenikmatan yang hanya dirasakan oleh pasangan suami istri. Mereka saling mencumbu dan berciuman melepas rindu akibat perpisahan.
Kini tidak ada lagi tangisan, air mata dan pengkhianatan, yang ada hanya tawa, canda dan kebahagiaan menyelimuti keluarga Smith.
__ADS_1
...~THE END~...