
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, keadaan didalam mobil hening semua penumpang berikut supir sibuk dengan pemikiran masing-masing. Rudy selaku supir tatapannya fokus ke depan dengan cekatan ia menyalip setiap kendaraan yang ada didepan, menyalakan bunyi klakson jika dibutuhkan. Bryan tengah merasakan bagian punggungnya terasa sakit, luka tusukan itu baru terasa setelah ia berada didalam mobil sementara Aluna tertidur pulas dalam dekapan suami tercinta.
Pria itu menatap lekat wajah istrinya, ia mengelus rambut Aluna namun tiba-tiba saja gadis itu meringis kesakitan.
"Mas, sakit!" Ucapnya.
"Apa yang sakit sayang?" Tanya Bryan panik.
"Aluna-Aluna!" Bryan menepuk lembut wajah istrinya.
"Sayang, katakan. Apa yang sakit."
Namun Aluna tidak menjawab.
"Sial!" Umpat Bryan.
"Rudy, naikan kecepatan. Istriku pingsan." Perintah Bryan.
Rudy langsung menaikan kecepatan mobil, kaki kanannya menginjak pedal gas sementara kaki sebelahnya dalam keadaan siaga bersiap jika sewaktu-waktu harus menginjak rem. Jarum pada speedometer berubah dari angka 60km/jam kini menjadi 90km/jam untung saja keadaan jalanan malam itu tidak terlalu ramai sehingga tak menghambat perjalanan mereka menuju rumah sakit.
Saat mobil itu sudah tiba di depan rumah sakit, Bryan langsung menggendong tubuh istrinya. Ia tidak sabar menunggu petugas medis membawakan brankar.
"Dokter!"
Dokter jaga melihat kedatangan putra pendiri rumah sakit langsung memanggil semua petugas medis, seorang perawat laki-laki dibantu dua rekan sejawatnya menyiapkan ruangan khusus untuk tuan dan nyonya muda Smith.
Aluna dibaringkan diatas bed rumah sakit, dokter yang bertugas malam itu segera memeriksa keadaannya. Bryan sibuk mondar mandir di depan pintu IGD rumah sakit. Penampilan berantakan, kemeja robek akibat perkelahian, luka lebam dihajar para penculik.
"Tuan, sebaiknya luka anda segera diobati jika tidak nanti infeksi." Rudy membujuk atasannya.
"Tidak Rud, aku tidak ingin jauh dari istriku."
"Bagaimana jika semakin parah?"
"Itu urusanku!"
Rudy hanya menghela napas panjang, jika sudah begini mau bagaimana lagi. Ia pasti sulit membujuk Bryan dan hanya Ayunda ataupun istrinya yang bisa membujuk pria itu.
"Ry!" Seorang wanita paru baya memanggil dari kejauhan.
"Mommy!"
Bryan terperanjat saat orang tuanya tiba dirumah sakit. Disusul Rossa, Rendra dan Shera dibelakangnya. Semua orang cemas dengan keadaan Aluna.
"Ry!" Ucap Ayunda.
Bryan tak bisa lagi membendung air mata. Ia sedih melihat keadaan istrinya. Pria itu khawatir dengan keselamatan Aluna dan kedua anaknya.
"Mom, Aluna." Terdengar isak tangis pria itu.
Ayunda memahami kecemasan putranya, ia membawa tubuh anaknya ke dalam dekapan. Mengusap lembut punggung pria itu.
"Tidak apa-apa nak, semua akan baik-baik saja. Istri beserta anak-anakmu akan selamat." Ayunda membunuh ketakutan yang merajai hati putranya.
"Sst!" Bryan mendesis.
"Kamu terluka, Ry?"
"Iya mom, tadi penculik itu menusuk punggungku." Bryan meringis kesakitan.
__ADS_1
"Anak bodoh, mengapa tidak lekas diobati."
"Rudy, kenapa kamu tidak membujuk putraku untuk mengobati lukanya." Ayunda bertolak pinggang.
"Aku menolaknya mom karena tidak mau jauh dari istriku." Bryan membela Rudy.
Pria itu tidak ingin sahabatnya disalahkan .
"Sudah dewasa masih saja bodoh! Jika kau terluka siapa yang akan merawat istrimu?" Tanya Ayunda.
"Mom!" Panggil Reymond.
Pria tua itu menyentuh pundak istrinya.
"Sudah-lah, jangan marahi anak kita lagi."
"Ry, cepat obati lukamu!" Ucap Ayunda tegas.
"Baik mom!"
Bryan ditemani Rudy pergi ke ruangan lain, disana sudah ada seorang perawat yang sudah siap mengobati luka Bryan.
Shera duduk di dekat Rossa.
"Kak Ocha bisa tahu kakak ipar disini dari siapa?" Shera memulai percakapan.
"Oh itu dari Tuan Rudy."
Shera melongo.
"Si es balok?" Tanya Shera tak percaya.
"Rudy kan dingin mirip kak Bryan."
Rossa terkekeh.
"Masa sih!"
"Benar, setiap kali ku tanya jawabannya singkat kan ngeselin!"
"Mungkin saat itu Tuan Rudy sedang bad mood jadi menjawab se-kenannya."
"Tunggu, kakak ada hubungan apa dengan es balok?" Tanya Shera penuh selidik.
Rossa panik.
"T-tidak ada hubungan apa-apa."
Rossa memalingkan wajahnya yang memerah akibat malu.
"Ada hubungan spesial-pun tak masalah kak, aku malah bahagia karena es balok segera menyusul kak Bryan."
"Hah!"
"Menyusul apa?"
"Menyusul ke pelaminan." Ucap Shera cekikikan.
Pandangan mata Shera tak sengaja beradu dengan mata tajam milik daddynya.
__ADS_1
"Mati! Kenapa bisa keceplosan sih." Ia merutuki kebodohannya.
Disaat semua orang cemas dengan keadaan Aluna, ia malah cekikikan tak jelas. Orang lain bisa saja beranggapan bahwa Shera tidak memiliki empati terhadap kakak iparnya namun ia tak tahan mendengar fakta bahwa saat ini Rudy yang dijuluki "si es balok" tengah dekat dengan seorang gadis. Ini pertama kalinya dalam sejarah, ada seorang gadis yang tahan di dekat pria itu.
"Es balok mulai mencair." Ucap Shera dalam hati.
Bryan baru saja selesai diobati, kini lukanya sudah diperban. Ia berjalan dipapah Rudy. Sesekali meringis kesakitan.
Dokter jaga yang mengenakan jas putih dengan stetoskop melingkar di leher membuka pintu ruangan.
"Dokter!" Bryan beranjak dari kursi.
"Istri saya bagaimana?" Tanya Bryan putus asa.
"Keadaan nyonya Aluna saat ini baik-baik saja, ia hanya dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Oh iya, apakah pasien sering mengalami sakit pada kandungannya?"
"Setahu saya ini kedua kalinya ia mengeluhkan sakit dok." Ucap Bryan.
"Ehm begitu. Saya akan meminta dokter kandungan untuk memastikan keadaan anak-anak anda, bagaimana tuan?" Tanya dokter.
"Baik dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istri dan kedua anak saya."
"Tentu!"
"Kita tunggu satu jam kedepan, jika hasil observasi oke maka nyonya sudah bisa dipindahkan ke bangsal rawat inap." Lanjut dokter.
"Ya sudah, saya permisi dulu."
"Terima kasih dokter." Ucap Bryan.
Semua orang bisa bernapas lega setelah mendengar keadaan Aluna.
"Syukur-lah menantuku baik-baik saja."
"Iya sayang, menantu dan kedua cucu kita kuat." Timpal Reymond.
"Aku pergi dulu sayang, ada urusan yang harus ku selesaikan." Ucap Reymond.
Tiba-tiba ia teringat wanita iblis yang sudah menjadi dalang atas penculikan menantu kesayangannya.
"Shera, kamu jaga mommymu. Daddy ingin buat perhitungan dengan wanita iblis itu."
"Rud, tolong kamu handle semua masalah disini. Aku ingin menemui Eliza dan mengungkapkan semua kebenarannya." Bisik Reymond.
Rudy menganggukan kepala.
"Mom." Panggil Bryan.
Bryan duduk ditengah-tengah mommy dan adik perempuannya.
"Maafkan Ry!" Bibirnya bergetar saat mengucapkan permintaan maaf kepada wanita yang sudah melahirkannya.
Pria itu menempelkan kepalanya ke pundak sang mommy.
"Mommy sudah memaafkanmu nak. Nanti kamu minta maaf juga ya ke daddy."
Dengan penuh cinta dan kasih sayang, Ayunda mengusap lembut kepala putranya. Rudy, Shera, Rossa dan Rendra terharu melihat pemandangan langka di depan mereka.
"Badai sudah berlalu." Ucap Rudy.
__ADS_1