Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Memergoki Suamiku


__ADS_3

Happy reading 🍂


"Kami memang bertemu di Bali tanpa sengaja." Aluna menjawab pertanyaan Rossa.


"Wah-wah, tempo hari ternyata kamu berbohong kepadaku. Pantas saja saat itu kamu terbata-bata menjawab telponku." Ucap Rossa kesal.


Aluna menyenggol kaki Rossa.


Merasa ia telah salah ngomong, Rossa menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Maaf, aku salah ngomong." Ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke sembarang tempat.


"Ada yang ingin kamu ceritakan?" Tanya Rendra hati-hati.


Rendra menggerakan tangannya maju ke arah jemari Aluna.


"Tuan, tolong jaga sikap anda!" Ucap pengawal C kepada Rendra.


"Maafkan aku Luna." Rendra menjauhkan tangannya dari jemari gadis itu.


Sementara itu, di ruangan yang sama Bryan dan Eliza baru saja tiba. Mereka duduk di kursi barisan ke tiga dari depan.


"Ternyata peserta nya banyak juga ya Ry."


"Iya!"


"Silahkan tuan." Rudy menarik kursi untuk atasannya.


Kemudian ia menarik kursi untuknya sendiri.


Selang lima menit, Gugun bergabung dengan mereka. Pria itu tergesa-gesa saat memasuki ballroom hotel.


"Sorry, aku terlambat. Jalanan macet sekali jika akhir pekan." Ucap Gugun.


"Tidak masalah, kami juga baru sampai kok."


Diatas panggung seorang MC sudah membuka acara reuni sore itu, sebagai pembuka panitia meminta grup band XO' band untuk naik ke atas panggung menghibur para tamu undangan.


Bryan tertegun sesaat ketika melihat kelima mantan personil XO' band maju ke atas panggung.


"Pria itu sepertinya tidak asing. Aku pernah bertemu dengannya dimana?"


"Kamu kenapa Ry?" Tanya Eliza.


"Tadi katamu, mantan personil band itu adik kelas kita?" Jari telunjuknya mengarah ke atas panggung.


"Benar, empat tahun dibawah kita."


"Ada apa?"


"Kalau pria itu adik tingkatku, berarti Aluna...."


"Bodoh, mengapa aku bisa tidak tahu jika istriku alumni SMA Harapan Pelita!"


Pria itu buru-buru beranjak dari kursi.

__ADS_1


"Aku ke toilet sebentar."


Eliza panik melihat perubahan suasana Bryan yang tiba-tiba. Wanita itu menyambar ponselnya diatas meja dan ikut menyusul ke toilet.


"Aku juga akan ke toilet."


Bryan berjalan dengan langkah panjang, ia tidak memperhatikan lingkungan sekitar yang ada dalam pikirannya hanya Aluna.


"Apa mungkin istriku juga berada disini?"


Tut


Tut


Tut


"Kenapa tidak diangkat!" Bryan mondar mandir menunggu sambungan telpon terhubung.


Treng


Tring


Trung


Ponsel Aluna berbunyi.


"Eh, Mas Bryan telpon." Raut wajah gadis itu bersinar seperti cahaya rembulan di malam hari.


"Aku ke toilet sebentar, Mas Bryan telpon."


"Permisi, toilet dimana?" Aluna bertanya kepada panitia yang berjaga di depan pintu masuk.


"Anda jalan lurus saja, setelah itu belok kanan nanti toiletnya ada disekitaran situ."


"Baik, terima kasih."


Dalam hati Aluna, ia sangat bahagia karena setelah sekian lama menunggu akhirnya Bryan menghubunginya. Rasanya seperti banyak jutaan kupu-kupu bersemayam di perutnya, menggelitik dan membuatnya tersenyum.


"Aneh, kenapa aku begitu bahagia mendapat telpon darinya seperti anak muda yang sedang pacaran saja!"


Gadis itu semakin cepat melangkahkan kakinya.


"Ry!" Ucap Eliza.


Bryan menoleh karena ada seseorang memanggil namanya.


"Eliza!"


"Kenapa kamu disini?"


Tanpa diduga, tiba-tiba saja Eliza berhambur dan memeluk tubuh Bryan. Pria itu bergeming. Alih-alih menyingkirkan tubuh Eliza, pria itu malah membalas dan memeluknya erat-erat seolah-olah ia takut wanita dalam pelukannya pergi dan meninggalkannya seperti dulu. Karena mendapat respon baik, akhirnya Eliza memperdalam pelukannya di dada bidang milik suami orang.


"Maaf!" Hanya satu kalimat terucap dari bibir ranum Eliza. Ia tak memiliki kekuatan untuk melanjutkan ucapannya.


Eliza menangis tersendu-sendu. Hatinya sakit jika mengingat dulu dengan begitu tega meninggalkan Bryan sendirian tanpa berita sama sekali. Ia menyadari letak kesalahannya dimana namun itu semua bukan keinginannya. Sejujurnya ia ingin selalu berada disamping Bryan selamanya, menjadi istrinya dan hidup berbahagia sampai maut memisahkan.

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa." Bryan mengusap punggung wanita dalam pelukannya.


Aroma tubuh Eliza membangkitkan kembali ingatan pria itu akan kenangan manis dan kisah cintanya pada masa sekolah dulu.


"Wangi ini masih sama seperti dulu." Ucap Bryan dalam hati.


"Aku terpaksa meninggalkanmu, Ry."


"Maksudmu?" Tanya Bryan penasaran.


Baguslah, ini waktu yang tepat bagiku untuk membongkar semua kejahatan si pria tua brengs*k itu. (Eliza)


"Jadi, satu hari sebelum acara perpisahan sekolah ada seorang pria tua datang kerumah membawa empat orang pengawal, mereka mengancam akan mencelakai kedua orang tuaku jika aku tidak pergi meninggalkanmu."


"Pria itu menjanjikan masa depan cerah untuk aku dan keluargaku. Dia menyodorkan sebuah koper kecil yang di dalamnya terdapat banyak lembaran uang seratus ribuan ke hadapan kami dengan catatan...."


"Lanjutkan!" Perintah Bryan.


"Aku dan keluargaku pergi meninggalkan kota Jakarta untuk selamanya." Eliza kembali terisak.


"Saat itu aku tidak punya pilihan lain. Satu sisi aku ingin selalu berada di dekatmu namun disisi lain tak sanggup ku korbankan ibu dan bapak demi mempertahankan cinta kita."


"Dengan berat hati, aku menerima tawaran itu. Makanya pas hari perpisahan aku tidak muncul."


"Pria itu menyekolahkan ku di London. Awalnya dia rajin mengirimkan uang untuk biaya hidup disana tapi lama kelamaan ia tidak pernah lagi mentransfer ke rekeningku hingga aku terpaksa bekerja paruh waktu hanya sekedar mencari sesuap nasi. Jika tidak bertemu dengan Maura mungkin aku akan jadi gelandangan disana dan mati mengenaskan!" Ucap Eliza panjang lebar.


"Kamu tahu siapa pria yang sudah mengancamku?"


Eliza mendongakkan kepala.


"Daddy mu, Ry. Tuan Reymond Smith."


"Brengs*k!" Bryan mengepalkan tangan.


"Seharusnya dari awal aku bisa menebaknya pantas saja selama ini selalu menemui jalan buntu setiap kali mencarimu, El."


Bryan merasa bersalah karena ia tidak bisa menjaga wanita yang dicintainya dengan baik. Pria itu kembali memeluk Eliza, melepaskan rasa rindu yang terpendam di jiwa.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada sepasang mata bulat memperhatikan tingkah laku dua manusia yang sedang melepas rindu. Hatinya terasa sakit melihat suaminya memeluk erat wanita lain, tatapan pria itu begitu lembut dan mendalam.


"Mas Bryan!" Ucapnya lirih.


"Nyonya muda!" Ucap Rudy.


"Aluna!" Ucap Rendra.


Rudy hanya mematung, menyaksikan atasannya sekaligus sahabatnya sedang berpelukan dengan wanita lain dan tragisnya lagi kegiatan mereka disaksikan pula oleh nyonya muda Bryan Smith.


Aluna menyentuh kepalanya yang terasa pusing, badannya seperti melayang, tubuhnya limbung dan pandangannya kabur. Dengan sigap Rendra menangkap tubuh mungil gadis pujaannya.


"Bawa aku pergi dari sini." Pinta Aluna.


Dengan senang hati Rendra menggendong tubuh Aluna dan membawanya pergi dari tempat itu.


to be continued....

__ADS_1


Jangan lupa like nya kakak... 😊


__ADS_2