Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Reuni Akbar


__ADS_3

Happy reading 🍃


Hampir semua lapisan orang sudah tidak asing dengan istilah reuni sekolah. Reuni merupakan acara nostalgia yang paling diminati. Sering kali memicu nostalgia, kenangan pahit maupun memori indah semasa sekolah dulu. Banyak kenangan yang tersimpan dan sukar dilupakan.


Masa sekolah begitu penuh kenangan, alhasil bagi banyak orang reuni atau temu kangen sesama teman sekolah menjadi acara yang sangat diminati. Bisa bertemu teman sekolah, sahabat bahkan mantan pacar akan menciptakan suatu momen menyenangkan.


Dengan adanya acara reuni, kita bisa mempererat tali silaturahmi, menjalin hubungan bisnis atau bahkan bisa merajut kembali kisah asmara dengan mantan yang sempat terputus.


Sebuah mobil berwarna merah baru saja memasuki pintu gerbang sebuah rumah milik keluarga Smith. Membutuhkan waktu lima menit untuk sampai ke rumah utama atau lima belas menit jika berjalan kaki. Sepanjang perjalanan kita akan diperlihatkan betapa sejuknya rumah itu, banyak pepohonan dan tanaman hijau serta pot bunga yang diletakan di atas rak besi. Mulai dari ukuran yang kecil, sedang dan besar. Modelnya pun beraneka ragam, seperti berbentuk zig zag, setengah lingkaran model gantung di bagian atas, model kotak-kotak bertingkat, kombinasi pot bunga duduk dan gantung setengah lingkaran dan masih banyak lagi. Semua bunga itu merupakan koleksi Ayunda dan menantunya, karena memiliki hobi yang sama jadi hampir setiap akhir pekan mereka pergi ke toko tanaman hias untuk membeli tanaman hias baru.


"Kalian berdua ikut denganku ke acara reuni tapi ingat jangan terlalu mencolok dan jaga jarak satu meter. Paham!"


"Paham nyonya!"


"Bagus."


"Ayo jalan, sepertinya Rossa sudah sampai."


Benar saja, saat Aluna membuka pintu rumah, sahabatnya sudah berdiri di samping mobil.


"Kamu baru sampai?" Tanya Aluna.


Melihat sahabatnya yang kesulitan menuruni anak tangga, Rossa berinisiatif membantu Aluna.


"Iya, baru saja sampai."


"Hati-hati, jangan sampai terjatuh."


Rossa memapah Aluna menuruni empat buah anak tangga dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin terjadi hal buruk menimpa sahabatnya dan juga kedua calon keponakannya yang saat ini berada dalam kandungan Aluna.


"Kalian berdua, tolong kemudikan kendaraanku biar aku yang menjaga nyonya muda kalian dibelakang."


"Baik nyonya."


Satu orang pengawal membuka pintu untuk Aluna dan Rossa sementara satu lagi sudah siap duduk dibalik kemudi.


"Kita ke Hotel Mutiara di Jl. TB Simatupang."


Tanpa menunggu lama, pengawal tersebut melajukan kendaraan dengan kecepatan 50 km/jam. Berjalan keluar gerbang menyusuri jalanan perumahan mewah di kawasan Jakarta Selatan.


"Kamu sudah menghubungi Bryan?"


"Belum, setiap kali ku telpon selalu sibuk."


"Sabar, mungkin dia benar-benar sibuk."

__ADS_1


"Hu'um."


"Aih, kenapa kamu malah bersedih." Rossa menepuk pundak sahabatnya.


"Ingat, bumil tidak boleh banyak pikiran dan stress. Harus bahagia selalu agar baby twins ikutan bahagia juga disini." Sebelah tangan Rossa mengusap perut Aluna.


Tatapan mereka beradu dan sesaat kemudian tertawa bersama.


"Kamu jadi semakin lemah semenjak hamil."


"Kamu paling tahu cara menghiburku Cha. Beruntungnya aku memiliki sahabat sepertimu. Terima kasih."


***


Bukan Jakarta namanya jika setiap akhir pekan jalanan ibu kota tidak mengalami kemacetan. Sebagian orang akan berbondong-bondong memenuhi jalanan pada hari sabtu sore atau hari keenam sebelum hari minggu. Hari sabtu memang waktu yang pas buat bersenang-senang, memanfaatkan waktu luang untuk sekedar bepergian melepas penat setelah seminggu bergulat dengan pekerjaan. Ditambah jalanan yang licin akibat turun hujan mengguyur Jakarta semakin memperparah kemacetan.


Waktu tempuh dari rumah keluarga Smith di kawasan Jakarta Selatan dengan lokasi diselenggarakannya acara reuni sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai tujuan namun akibat kemacetan yang terjadi sehingga membuat Aluna menghabiskan waktu satu jam untuk sampai lokasi.


"Kita sudah sampai tujuan nyonya."


Seorang pengawal turun dan membukakan pintu untuk Aluna sementara pengawal yang bertugas mengemudikan kendaraan melajukan mobil menuju basement.


Sebelum memasuki hotel, pengunjung yang datang akan melakukan dua tahap pemeriksaan keamanan. Pertama pemeriksaan sebelum memasuki gedung hotel dimana seorang security akan mengeluarkan sebuah alat bernama x-Ray security scanner bertujuan mendeteksi barang bawaan tanpa mengeluarkan isinya dan kedua saat memasuki ballroom, para tamu akan diminta menunjukan kartu undangan oleh panitia untuk menghindari agar tidak ada tamu ilegal bergabung dalam acara reuni tersebut serta menjaga kenyamanan dan ketenangan selama acara berlangsung.


"Ramai sekali Cha." Aluna meremas jemari Rossa. Akibat gugup tangan gadis itu berkeringat.


"Halo nyonya, bisa tunjukan kartu undangan?"


"Ini pak."


Aluna dan Rossa menunjukan dua kartu undangan. Setiap tamu yang hadir diperbolehkan membawa satu orang pendamping menemanin selama acara berlangsung.


"Mereka berdua pengawal saya jadi diperbolehkan masuk juga kan pak?" Tanya Aluna ragu.


"Selama tidak berbuat onar dan memiliki undangan maka akan kami persilahkan."


Aluna tersenyum lega.


"Syukurlah. Terima kasih pak."


"Silahkan masuk."


Panitia acara reuni membukakan pintu untuk keduanya.


Reuni akbar yang diadakan oleh alumni SMA Harapan Pelita dihadiri oleh 1200 peserta alumni mulai dari angkatan ke 70 sampai 75.

__ADS_1


Berbagai rangkaian acara digelar mulai dari pembukaan secara ceremonial, penampilan tari pembuka dari siswa SMA Harapan Pelita, persembahan musik dari mantan personil XO' band, sambutan ketua panitia dan dilanjut acara makan malam bersama.


Aluna dan Rossa mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari kursi kosong. Seorang pria melambaikan tangan ke arah mereka.


"Disini masih kosong." Ucap pria itu yang tak lain adalah Rendra.


Rossa menarik lengan Aluna mendekati kursi yang masih kosong. Kursi itu berada tepat di barisan kedua dari depan.


"Kalian duduk saja disini, kebetulan masih kosong dan kedua pengawalmu juga boleh duduk disini kalau mau."


"Aku terima tawaranmu kak. Terima kasih." Rossa menarik kursi dan duduk perlahan.


"Silahkan duduk, Aluna." Rendra menarik kursi disampingnya untuk gadis itu.


Kedua pengawal yang menjaga Aluna sudah bersiap menghadang Rendra namun dihentikan oleh nyonya muda Bryan.


"Tidak apa-apa. Dia temanku."


"Terima kasih kak." Ucap Aluna sambil memposisikan duduknya dengan nyaman.


"Bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah sehat. Kakak sendiri bagaimana?" Tanya Aluna balik.


"Sehat."


"Suamimu tidak ikut?"


"Mas Bryan sibuk jadi tidak bisa menemaniku."


"Oh!" Balas Rendra.


"Apakah suamimu melakukan tindakan kekerasan saat kita bertemu kembali di Bali?"


"Eh, kalian pernah bertemu di Bali?"


"Tidak!" Sanggah Aluna.


"Apa yang tidak!" Tanya Rossa.


"Maksudku, Mas Bryan tidak melakukan tindakan kekerasan terhadapku setelah bertemu kakak."


"Kami memang bertemu di Bali tanpa sengaja." Aluna menjawab pertanyaan Rossa.


"Wah-wah, tempo hari ternyata kamu berbohong kepadaku. Pantas saja saat itu kamu terbata-bata menjawab telponku." Ucap Rossa kesal.

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2