Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Welcome To The World My Baby Boys


__ADS_3

Episode khusus proses persalinan Aluna nih guys.


Happy reading. 🤗


Malam harinya, Aluna merasakan nyeri pada bagian punggung dan perutnya seperti saat menstruasi namun ini lebih menyakitkan. Selama satu jam ia mengalami kontraksi yang datang dan pergi secara tidak beraturan namun terasa lebih kuat dan sering. Ia membolak balikan tubuhnya diatas ranjang, mencoba untuk rileks dan berharap nyerinya semakin berkurang. Keringat dingin bercucuran mengalir dari kening dan pelipis wanita itu.


"Kak Rendra, Bi Sumi." Ucap Aluna lirih.


"Bi Sumi, tolong."


Bi Sumi mendengar teriakan minta tolong dari kamar majikannya segera berlari dengan mata masih belum terbuka sempurna. Saat ia membuka pintu, Aluna sedang berusaha menggapai lemari untuk bisa bangkit dari ranjang.


"Ya Allah, nyonya." Pekik Bi Sumi.


"Bi, perut Aluna sakit."


"Waduh, sepertinya nyonya akan melahirkan."


Bi Sumi panik dan berlari mengetuk pintu kamar Rendra.


"Tuan, nyonya akan melahirkan."


Rendra membuka pintu dan berlari ke kamar Aluna. Ia menggendong tubuh wanita itu ke dalam mobil, tanpa diperintah Bi Sumi dengan cekatan membawa satu buah tas perlengkapan persalinan. Wanita itu berlari menyusul majikannya ke basement. Rendra melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Enam belas menit kemudian, mereka sudah berada di Mount Alveria Hospital. Rendra berteriak memanggil petugas medis untuk membantunya membawa Aluna ke ruang bersalin.


"Tolong istri saya." Ucap Rendra dalam Bahasa Inggris.


Disini author menggunakan Bahasa Indonesia aja ya karena tidak terlalu mahir berbahasa Inggris takutnya malah berantakan. 😁


Dua orang perawat membawa Aluna ke sebuah ruangan, diikuti Rendra dan Bi Sumi. Di dalam ruangan, seorang dokter dan tenaga medis memantau pembukaan pada serviks wanita itu untuk memastikan apakah Aluna sudah siap melakukan proses persalinan. Saat diperiksa ternyata wanita itu sudah memasuki fase persalinan aktif dan kemungkinan sudah berada di pembukaan lima.


Rendra dan Bi Sumi tak henti-hentinya berdo'a kepada Tuhan berharap semoga Aluna diberikan kemudahan dan kelancaran sampai proses melahirkan nanti. Rendra bolak balik kesana kemari, perasaannya campur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan anak-anak dari wanita yang ia cintai dan sedih karena harus melihat Aluna menahan rasa sakit akibat akan melahirkan.


Bagi pria itu menemani seorang wanita menjalani proses melahirkan lebih menegangkan daripada ujian kelulusan spesialisasi.


"Tuhan, tolong bantu Aluna."


Lima jam Aluna meringis kesakitan menunggu pembukaan lahiran. Dokter kembali mengecek pembukaan ternyata sudah memasuki pembukaan ke enam dan setelah berdiskusi dengan Rendra, dokter tersebut memberikan bius epidural untuk meredakan rasa sakit akibat kontraksi.


"Tuan, karena ini anak pertama kemungkinan untuk bisa mencapai pembukaan ke sepuluh akan memakan waktu cukup lama."


"Sebaiknya anda memberikan support untuk sang istri." Ucap dokter.


Rendra masuk ke dalam ruangan, ia melihat seorang wanita cantik sedang menahan sakit. Wajahnya penuh dengan peluh.


"Kak!" Panggil Aluna.


"Iya, aku ada disini menemanimu, Luna."

__ADS_1


"Kamu harus kuat, sebentar lagi kedua malaikat kecilmu lahir."


Rendra menggenggam erat tangan Aluna menyalurkan kekuatan kepada wanita itu. Ingin rasanya ia menggantikan rasa sakit yang dirasa oleh Aluna namun apa daya semuanya mustahil dilakukan. Ia hanya bisa memberikan semangat agar wanita itu bertahan.


Saat matahari terbit, seorang perawat memeriksa kembali keadaan Aluna dan wanita itu sudah mengalami fase pembukaan lengkap dan ia dinyatakan sudah siap untuk melahirkan.


Seorang dokter kandungan dibantu dua orang perawat mempersiapkan semua kebutuhan persalinan.


Mereka sibuk memberikan instruksi kepada Aluna untuk terus mengejan dan sesekali seorang perawat mengusap peluh yang meluncur dari kening wanita itu.


"Terus nyonya, dorong terus."


"Lagi nyonya."


"Kepalanya sudah mulai terlihat."


Dan pada dorongan ke empat, seorang bayi laki-laki mungil, lucu dan tampan keluar dari mulut rahim Aluna. Perawat A dengan sigap menggendongnya, kemudian dokter memberikan instruksi lagi ke Aluna saat ia merasakan perutnya mulas. Dokter tersebut meminta Aluna untuk mengejan kembali karena di dalam perutnya masih ada seorang bayi yang siap lahir ke dunia.


"Ayo nyonya, dorong lagi."


"Bagus."


Aluna menarik napas panjang.


Hufh!


Hufh!


Oek


Oek


Suara tangis bayi menggema di lorong-lorong rumah sakit tepat pada pukul delapan pagi. Rendra dan Bi Sumi yang sedang menunggu di depan ruangan langsung melonjak bangun.


"Kedua jagoanku sudah lahir." Ucap Rendra.


Bi Sumi menitikan air mata saat mendengar suara tangisan kedua anak majikannya.


"Tuan, anda resmi menjadi calon papa." Ucap Bi Sumi.


Mata Rendra berkaca-kaca. Ia sangat senang sampai rasanya ingin pingsan. Saat Aluna mengeluhkan sakit akibat kontraksi dan pembukaan yang tak kunjung bertambah membuatnya hampir gila dan kini semua penderitaan itu berakhir saat suara tangisan dua orang bayi terdengar dari dalam ruang bersalin.


"Tuan Rendra." Seorang dokter keluar dari ruang bersalin.


Rendra menghampiri dokter tersebut.


"Selamat, bayinya laki-laki semua."


"Terima kasih dokter."

__ADS_1


Rendra dan Bi Sumi menunggu diruang VIP yang sudah disiapkan sebelumnya. Rambut wanita itu tampak basah akibat peluh, punggung tangannya terpasang selang infus. Aluna memejamkan mata saat perawat memindahkan brankarnya ke ruang rawat inap.


"Aluna." Panggil Rendra.


"Kak, mana anak-anakku." Ucap Aluna lirih.


"Masih dibersihkan oleh perawat."


"Oh."


Seorang perawat membawa box bayi masuk ke dalam ruangan. Ia menggendong seorang bayi yang dibungkus kain hijau dan membaringkannya disamping Aluna.


"Ini kakaknya." Ucap perawat.


"Dan ini adiknya." Ucapnya seraya membaringkan satu lagi seorang bayi laki-laki yang dibungkus kain biru muda disisi sebelahnya.


Aluna begitu bahagia menatap kedua bayi mungil dan lucu disampingnya. Mereka begitu tampan dan menggemaskan. Hidung, bibir dan wajahnya sangat mirip Bryan sementara mata dan bulu matanya lentik seperti Aluna. Ia jadi teringat kenangan saat bersama Bryan dulu sewaktu berada di Pulau Dewata.


"Mas lihatlah wajah kedua anak kita sangat mirip denganmu." Ucapnya dalam hati.


"Aluna, selamat."


"Terima kasih kak."


Rendra menatap wajah kedua bayi itu dan ia baru menyadari bahwa keduanya mirip Bryan mulai dari hidung, bibir dan wajah.


"Pantas saja Aluna melamun."


Karena tidak ingin merusak momen bahagia, Rendra mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan.


"Akan kamu beri nama siapa?"


"Kakaknya akan ku beri nama Aryan Smith sementara adiknya bernama Arya Smith."


"Bagaimana menurut kakak, bagus tidak?"


"Kamu yakin menyematkan nama keluarga Smith dibelakang nama anakmu?" Tanya Rendra ragu.


"Kakak keberatan?"


"Tidak, maksudku...."


"Kak, aku hanya ingin memberikan penghormatan kepada daddy Reymond karena sudah begitu baik kepadaku."


"Boleh ya?"


Rendra menatap mata Aluna lekat-lekat.


"Baiklah, aku setuju. Lagipula, mereka akan menjadi anak-anakku bukan anak mantan suamimu apalagi cucu keluarga Smith."

__ADS_1


Rendra mencoba tersenyum padahal dalam hatinya ia kurang setuju jika Aluna menyematkan nama Smith dibelakang nama kedua putranya. Ia khawatir Aluna berubah pikiran dan kembali ke sisi Bryan.


__ADS_2