Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Jangan Sakiti Istri Kecilku


__ADS_3

Aluna langsung merebut benda pipih persegi panjang berukuran 7.3 inci dari tangan Bryan namun tubuh Aluna tiba-tiba tidak seimbang sehingga tidak sengaja dia mencium pipi Bryan. Nampak noda lipstik menempel di pipi kanan Bryan. Aluna yang menyadari kebodohannya segera menjauhkan tubuh dan menjaga jarak sejauh mungkin. Ingin rasanya dia menggali lubang paling dalam sehingga tidak bisa muncul lagi dihadapan Bryan.


"Bodoh, apa yang sudah aku lakukan?" Aluna merutuki kebodohannya.


"Ehm, maafkan aku."


Aluna segera berlari masuk ke dalam kamar, membuka pintu kamar dan membantingnya dengan sangat keras. Dia benar-benar sangat malu, wajahnya merah merona seperti kepiting rebus karena kecerobohannya dia tidak sengaja mendaratkan sebuah kecupan ke pipi Bryan.


Sementara Bryan masih diam berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali seperdetik kemudian, setelah kesadarannya kembali dia segera menyentuh pipi dan senyuman manis tersungging dibibirnya.


"Ini merupakan ciuman pertama yang diberikan istri kecilku." Bryan bergumam dalam hati.


Walaupun ciuman itu terjadi akibat sebuah ketidaksengajaan tapi bagi Bryan merupakan sebuah kenikmatan yang hakiki. Bagaimana tidak, selama mereka menikah baik Aluna maupun Bryan sama-sama tidak pernah menunjukan kasih sayang seperti pasangan suami-istri diluaran sana jadi sangat wajar jika Bryan menganggap ciuman kecelakaan membawa berkah tersendiri baginya.


Bryan segera bangkit dari sofa, berjalan ke arah kamar dan mengetuk pintu. Memanggil Aluna untuk sarapan.


tok tok tok


"Aluna, ayo sarapan. Aku sudah lapar." Bryan berusaha mengalihkan pembicaraan agar Aluna tidak malu lagi.


Aluna menjatuhkan tubuh keatas ranjang dan menenggelamkan wajah ke bantal.


"Aku sudah tidak lapar, kamu makan saja sendiri."


Sungguh demi apapun, saat ini Aluna benar-benar sangat malu. Memberikan ciuman kepada pria lain walaupun itu suaminya sendiri tapi tetap saja terasa canggung.


"Aluna, kamu sungguh bodoh. Bodoh sekali!" Teriak Aluna.


"Ayo lah, jangan bersikap seperti anak kecil. Aku sudah melupakan kejadian barusan jadi please buka pintu dan temani sarapan." Bryan masih membujuk Aluna.


Dengan malu-malu, Aluna membuka pintu kamar dan menyembulkan kepala.


"Baik."


Bryan berjalan didepan dan Aluna mengekori dari belakang. Dengan sisa keberanian yang ada, Aluna tetap melayani dan menyajikan makanan untuk Bryan.


***

__ADS_1


Siang hari tepat pukul dua belas, Bryan dan Aluna check out dari hotel saat sedang menunggu proses check out kedua orang tua Bryan, Shera, Om Bagas, Tante Melissa, si kembar dan Nenek Rina baru saja keluar lift. Tante Melissa menggandeng Nenek Rina, Om Bagas dan Reymond menuju meja resepsionis, sementara Ayunda, Shera dan si kembar menghampiri Aluna yang sedang menunggu di sofa.


"Kak Aluna." Sapa Shera.


"Halo kak Aluna. Bagaimana semalam, apakah kak Bryan bermain kasar?" Tanya Lilly anak sulung Melissa.


Usia Lilly dan Freya dengan Aluna sebenarnya tidak terlalu jauh, paling berjarak kurang lebih sekitar dua tahun lebih tua dari Aluna namun mereka tetap memanggil Aluna dengan panggilan "kakak".


"Cerita dong kak, bagaimana malam pertama kalian setelah melangsungkan resepsi pernikahan?" Freya menimpali.


"Benar, apakah Bryan berhasil mencetak goal?" Ayunda tidak mau kalah.


"Memangnya Bryan bisa membobol gawang Aluna? Dia kan dingin dan jutek." Tante Melissa bertanya dengan nada sinis.


"Apakah kalian tidak ada pertanyaan lain?" Tegur Nenek Rina.


Aluna memijat pelipis, mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan keluarga suaminya.


"Ehm itu, anu---" Aluna tidak melanjutkan kalimat.


"Hufh, apa yang sedang mommy dan tante Melissa lakukan?" Bryan muncul tiba-tiba ditengah perbincangan. Dia menghampiri Aluna dan mencoba membantunya.


"Ck, tingkat ke-kepoan kalian sudah berada diatas rata-rata." Bryan kesal dan mengulurkan tangan kearah Aluna.


"Ayo, kita harus segera berangkat."


Aluna menerima uluran tangan Bryan.


"Tunggu, kakak jawab dulu pertanyaanku." Freya menahan tangan Aluna.


"Frey, lepaskan tanganmu. Jangan sakiti Aluna!"


"Kak Bryan apa-apaan sih. Siapa yang menyakiti kak Aluna." Freya tidak terima karena dituduh menyakiti Aluna.


"Lepaskan tanganmu dari istri kecilku." Bryan berteriak membuat semua orang menoleh kepadanya.


"Mas, hentikan. Aku tidak apa-apa. Freya tidak menyakitiku." Aluna berusaha menahan agar emosi Bryan tidak meledak.

__ADS_1


"Dasar posesif!" Freya melepaskan tangan Aluna dan langsung menekuk wajah.


"Ry, selama satu minggu kedepan semua pekerjaanmu biar Rudy yang urus. Kamu fokus saja dengan bulan madu jangan pikirkan urusan pekerjaan selama kamu di Bali." Reymond menasihati Bryan.


"Baik dad." Bryan mengangguk.


"Mommy tunggu kabar baik dari kalian." Ayunda berbisik ke Aluna.


"Jangan main kasar Ry, kasihan tuh Aluna ketakutan tadi melihat kamu berteriak." Ujar tante Melissa sinis.


"Kalian hati-hati dijalan. Semoga setelah pulang berbulan madu, nenek segera mendapatkan cicit dari kalian." Nenek Rina memeluk Aluna dan Bryan bergantian.


Dalam hati Aluna berkata "bagaimana mungkin memberikan cicit, kami saja tidak pernah melakukannya."


"Hei anak kecil, kalian tidak usah sibuk mengurusi masalah pribadiku." Bryan menegur Lilly dan Freya.


"Cih, kamu tidak pernah berubah kak. Masih saja jutek." Ucap Lilly ketus.


"Semoga kelak anakmu tidak mewarisi sifat jutek dan dingin ayahnya." Freya ikut menimpali.


Semua tertawa mendengar kalimat Freya tanpa terkecuali Aluna.


"Iya semoga saja tidak." Tanpa sadar Aluna mengusap perut ratanya dengan penuh cinta.


"Ya sudah, aku dan Aluna pamit dulu. Terima kasih karena sudah membantu mengurus acara resepsi kami berdua."


Bryan memeluk satu per satu keluarganya, begitu juga Aluna. Dia memeluk Ayunda, nenek Rina, tante Melissa, Shera dan si kembar rusuh Lilly dan Freya.


"Jangan lupa oleh-oleh ya kak." Shera memeluk erat kakak iparnya.


"Pasti, kamu buat saja daftar oleh-oleh yang diinginkan."


"Oke, siap."


Setelah pamit dan memeluk keluarga besar Smith, Aluna dan Bryan keluar hotel. Di depan hotel sudah menunggu sebuah mobil yang siap mengantarkan Aluna dan Bryan menuju landasan pacu jet pribadi milik keluarga Smith.


Mobil Bryan dikawal oleh beberapa orang pengawal yang ditugaskan khusus untuk melindungi Bryan dan Aluna selama berada di Bali. Reymond cemas akan keselamatan Aluna karena semua rekan bisnis dan pesaing perusahaan RA art and design pasti sudah mengetahui bahwasannya saat ini Bryan sudah menikah. Tidak menutup kemungkinan pesaing bisnis Reymond memiliki dendam pribadi sehingga merencanakan mencelakai Aluna.

__ADS_1


Awalnya Bryan menolak dengan rencana Reymond mengikut sertakan beberapa pengawal untuk berjaga selama berada di Bali namun setelah didesak Ayunda akhirnya Bryan setuju karena memang saat ini pasti banyak musuh mengincar nyawa Aluna.


#Jangan lupa vote, like dan tambahkan novel ini ke dalam daftar pustaka agar kalian tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua. ☺️


__ADS_2