Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Sikap Aneh Bryan


__ADS_3

Happy reading 🍂


Di dalam mobil, Bryan tak henti-hentinya menciumi kening istri tercinta, memeluknya dengan erat dan kini pria itu meletakan kepalanya dipangkuan Aluna.


"Mas, kamu kok jadi manja begini."


"Kamu tidak takut fansmu hilang?"


"Aku bukan artis jadi untuk apa takut."


"Lagipula aku manja ke istri sendiri, memangnya salah?"


"Tidak salah kok sayang. Ululu, suamiku kok jadi mudah marah begini sih."


Aluna mencubit pipi suaminya, ia tak sengaja menyentuh rambut tipis di sekitar wajah Bryan memberikan sensasi aneh setiap kali gadis itu bersentuhan dengan suaminya.


"Sampai kapan kamu menyentuh wajahku?"


"Ehem." Aluna berdehem.


"Mas, sepertinya kamu harus bercukur deh. Lihat, wajah tampanmu hampir terkubur oleh rambut-rambut halus ini."


"Kamu bantu aku membersihkannya, mau?"


"Loh kok gitu sih."


"Kamu tidak mau dapat pahala karena melayani suami?"


"Ih, kebiasaan deh selalu mengancam orang lain." Aluna cemberut dan memalingkan wajah.


"Bukannya mengancam sayang tapi aku berbicara sesuai fakta loh."


"Iya, aku akan membantumu."


"Terima kasih istri kecilku." Bryan menarik hidung istrinya dengan gemas.


"Ish, sakit tahu!"


***


Satu jam kemudian, kini iring-iringan mobil keluarga Smith sudah sampai depan pintu gerbang rumah mewah gaya eropa modern. Tidak ada perubahan sama sekali sejak pertama Aluna meninggalkan rumah itu untuk menggelar pesta resepsi pernikahan hingga saat ini ia kembali dari bulan madu. Semuanya masih seperti dulu.


Ayunda memang pandai mengurus rumah, walaupun tangan mulusnya tidak terlibat langsung namun ia mengawasi dengan ketat bagaimana para pelayan membersihkan rumah mewahnya dengan begitu teliti bahkan setitik debupun tak berani menempel.


Bagi Aluna, rumah mewah keluarga Smith bergaya eropa modern tak sekedar rumah baginya melainkan tempat ia mendapatkan kasih sayang dari orang tua lengkap yang selama ini gadis itu dambakan.


"Silahkan tuan, nyonya." Rudy membukakan pintu untuk kedua majikannya.


"Ayo sayang, turun."


"Kenapa kamu malah melamun." Bryan menyentuh pundak istrinya dari samping.


"Oh, tidak apa-apa."


"Hu'um."


Mereka berdua turun dan Bryan menautkan kelima jarinya ke jari tangan Aluna, kilauan cincin pernikahan berwarna putih dengan permata yang terbuat dari berlian asli memantulkan kilau cahaya saat benda itu terkena pantulan lampu.


"Cie kak Bryan, sekarang sudah berani pamer kemesraan dimuka umum." Shera yang baru saja turun dari mobil segera menghampiri kakak dan kakak iparnya.


"Berisik, anak kecil."

__ADS_1


"Aku bukan anak kecil lagi kak."


"Bukan anak kecil tapi masih bau kencur!"


"Au ah, gelap!" Shera mengalah dan ingin merangkul kakak iparnya.


"Aku tidak mengizinkanmu merangkul Aluna."


"Astaga kak Bryan, menyebalkan sekali dirimu." Shera menghentakan kaki dan berjalan dengan langkah panjang.


"Lihat dad, anak mu sudah ada kemajuan." Ayunda cekikikan melihat tingkah putra sulungnya.


"Anak kita sudah mulai bucin tuh."


"Apaan bucin?" Tanya Reymond, dia tidak mengetahui arti dari bahasa gaul yang diucapkan istrinya.


"Aih, daddy benar-benar ketinggalan zaman."


"Bucin itu budak cinta."


"Gejalanya seperti Bryan sekarang."


"Oh." Reymond ber "oh" ria.


Ceklek


Bu Risa selaku kepala pelayan, membukakan pintu utama rumah mewah itu. Kini mereka disambut layaknya seorang raja dan ratu seperti di negeri dongeng. Para pelayan dan beberapa pengawal sudah berbaris menyambut kedatangan tuan dan nyonya Bryan Smith yang baru saja pulang berbulan madu.


"Selamat malam."


"Selamat datang kembali tuan dan nyonya muda." Para pelayan membungkuk memberi tanda hormat kepada kedua Aluna dan Bryan.


"Hem." Bryan hanya menjawab seperlunya saja.


Walaupun status Aluna saat ini adalah seorang nyonya muda keluarga Smith namun tidak membuat gadis itu angkuh dan seenaknya memperlakukan para pelayan serta penjaga yang bekerja dirumah itu. Aluna memperlakukan mereka dengan sangat baik sehingga para pelayan dan penjaga sangat menghormati nyonya muda Bryan.


"Kalian berdua, tolong bawakan koper ku dan milik istriku ke kamar." Bryan memerintahkan kedua pelayan yang berdiri tepat disampingnya.


"Baik tuan."


"Bagaimana sayang, apakah bulan madumu menyenangkan?" Tanya Ayunda.


Kini mereka berjalan menuju ruang tamu untuk bersantai sejenak melepas lelah.


"Menyenangkan mom. Terima kasih untuk kadonya."


"Sama-sama sayang."


"Oh iya mom, punya rekomendasi dokter kandungan bagus tidak untuk istriku?" Tanya Bryan tanpa basa-basi.


Sontak pertanyaan Bryan membuat seluruh penghuni rumah membelalakan mata. Bahkan beberapa dari pelayan ada yang berbisik diam-diam membicarakan kelakuan aneh tuan muda Bryan.


"Kalian tidak perlu kaget begitu. Aku hanya ingin agar istriku secepatnya hamil." Pria itu melirik dan memberikan senyuman untuk istrinya.


"Ada Ry, teman arisan mommy kebetulan seorang dokter kandungan di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Reputasinya di bidang kedokteran tidak perlu diragukan lagi."


"Kalau mau, nanti mommy buatkan janji dengannya."


"Boleh, secepatnya mom."


"Mas, tidak baik memerintah orang tua."

__ADS_1


Aluna merasa suaminya ini bukan meminta bantuan malah terkesan seperti memerintah dan hal itu membuat gadis itu tidak suka.


"Tidak apa-apa, sayang. Suamimu memang begitu kalau sudah ngebet."


"Mau secepatnya mendapatkan apa yang di inginkan."


"Oh pantesan."


Ayunda dan Reymond menatap Aluna lekat-lekat.


"Pantesan apa sayang?"


"Apa Bryan main kasar pas pertama kalian melakukan itu?"


~Blush~


Wajah Aluna seketika merona.


"Aku selalu main lembut mom." Jawab Bryan dingin.


"Hah!"


"Tunggu, ini kak Bryan yang dulu ku kenal kan?" Shera menyentuh kening kakaknya dengan punggung tangan. Mengukur suhu tubuh pria jangkung disampingnya, siapa tahu ia sedang sakit atau salah minum obat.


"Jauhkan tanganmu dari keningku."


"Benar, ini kak Bryan yang ku kenal tapi dalam versi yang berbeda."


"Diam anak kecil!"


Bryan dan Shera sejak kecil memang selalu bertengkar. Shera tipe gadis periang dan mudah bergaul harus memiliki seorang kakak laki-laki yang dingin dan jutek memberikan tekanan tersendiri bagi gadis itu. Tak ayal hampir setiap hari mereka bertengkar namun Bryan sangat mencintai Shera, adik bungsunya. Pria itu mencintai Shera dan anggota keluarga yang lain dengan caranya sendiri. Walaupun Bryan tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya kepada mereka tapi mommy dan Shera bisa merasakannya.


"Mommy telpon dulu kalau begitu."


tut tut tut


Sambungan telpon tersambung.


Ayunda


📲 "Halo Dianka, besok kamu praktek tidak?"


Dianka


📲 "Praktek Ay, ada apa?"


Ayunda


📲 "Besok akan ada anak dan menantuku, kamu tolong layani mereka ya."


Dianka


📲 "Dengan senang hati."


📲 "Besok pagi pukul sepuluh di Rumah Sakit Xxxx."


Ayunda


📲 "Oke, terima kasih Di."


Ayunda mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


to be continued...


#Jangan lupa like, komentar dan masukan novel ini ke dalam list favorite kalian. Kritik dan saran membangun, author tunggu. Terima kasih. Love kalian semua. 😊


__ADS_2