Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Awal Malapetaka


__ADS_3

Happy reading 🍃


"Dokter, apakah saya boleh minta sesuatu?"


"Boleh, minta apa nyonya Bryan?"


"Saya minta tolong rahasiakan kabar kehamilan ini dari mommy, daddy dan Mas Bryan."


"Kebetulan, sebentar lagi Mas Bryan ulang tahun jadi saya ingin memberikan kejutan untuknya."


"Baik nyonya, akan saya rahasiakan tapi ingat jaga kandungan anda."


"Tentu dokter."


"Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih dokter."


"Selamat siang."


"Selamat siang."


Aluna dan Rossa berjalan berdampingan menunggu lift naik ke atas.


"Aluna, aku turut berbahagia atas kabar baik ini." Aluna bisa melihat mata Rossa berkaca-kaca.


"Terima kasih Ocha."


Ting


Pintu lift terbuka


Mereka berdua masuk ke dalam pintu lift berjalan turun ke lobi rumah sakit.


"SMA kita mau mengadakan acara reuni akhir pekan nanti, apakah kamu datang?"


"Aku akan datang jika kamu datang."


"Ya sudah, nanti aku jemput di rumahmu."


"Oke! Aku akan meminta izin Mas Bryan terlebih dahulu."


***


Perusahaan RA Art and Design


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Masuk!"


"Permisi tuan, sudah waktunya bertemu klien di restoran mall dekat kantor." Rudy mengingatkan bahwa siang ini atasannya akan bertemu klien membahas proyek terbaru yang ditangani oleh perusahaan RA Art and Design.


"Baik, ayo jalan."


Dengan gagah dan penuh wibawa, Bryan berjalan, tatapannya fokus ke depan. Sesekali memberikan senyuman kepada karyawan yang menyapanya.


Banyak perubahan yang terjadi pada pria itu setelah hidup bersama dengan Aluna layaknya suami istri. Kini Bryan sudah mulai tersenyum jika ada karyawan yang menyapa, tidak sedingin dan sejutek dulu.


Bruum


Bruum


"Silahkan tuan." Rudy membukakan pintu mobil untuk Bryan.


"Hu'um."


Mereka berdua memasuki kawasan pusat perbelanjaan (mall) yang terkenal di Jakarta, banyak terdapat toko atau kios menjual berbagai macam perlengkapan dan kebutuhan konsumen seperti toko sepatu, toko pakaian, drug store, perhiasan, aksesoris, toko perlengkapan bayi, bioskop, restoran, supermarket dan masih banyak lagi. Biasanya arsitektur bangunannya yang melebar (luas), umumnya memiliki tiga lantai.


Pusat perbelanjaan akan ramai pengunjung disaat akhir pekan karena banyak keluarga atau pasangan muda mudi akan menghabiskan waktu berbelanja atau hanya sekedar berkeliling cuci mata melihat-lihat barang yang dipajang di sebuah toko.


"Selamat datang." Ucap seorang pelayan restoran.


"Silahkan tuan." Pelayan itu mengantarkan Bryan dan Rudy ke meja yang sudah di reservasi sebelumnya.


"Ini buku menu, jika butuh apa-apa bisa tekan bel ini."


"Baik, terima kasih."


Selang lima menit kemudian, klien yang ditunggu kedatangannya oleh Bryan kini berdiri tepat di depan meja pria itu.


Wanita itu mengenakan setelan blazer lengan pendek bergaris berwarna biru tua dan bahannya terbuat dari bahan berkualitas tinggi dikerjakan oleh tenaga profesional terdapat sebuah manik kancing pada blazer dipadukan dengan garis leher potongan rendah memberikan kesan feminim, elegan dan pesona intelektual seorang wanita dewasa.


"Selamat siang, Tuan Bryan." Ucap wanita itu lembut.


"Selamat siang, nona...." Bryan tidak meneruskan kalimatnya. Pria itu mendongak dan melihat wanita di hadapannya.


Bryan benar-benar tertegun melihat kecantikan wanita di hadapannya bahkan pria itu tidak berkedip sedikit pun dan kini dia menyadari bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah Eliza, cinta pertama dalam hidupnya.


Berbanding terbalik dengan Rudy, pria itu bersikap biasa saja seolah-olah sudah pernah bertemu beberapa kali dengan wanita itu. Memang benar, Rudy sudah mengetahui bahwa saat ini Eliza sudah kembali namun pria itu tidak menyangka bahwa klien yang akan ditemui oleh boss nya adalah wanita yang dulu pernah amat dicintai oleh Bryan.


Kecantikan Eliza benar-benar membuat jantung Bryan berdebar-debar. Pria itu merasakan pipinya menghangat ketika melihat penampilan Eliza begitu cantik dan sangat dewasa. Ia kembali mengingat kenangan masa lalu saat bersama wanita itu, perasaan yang hampir hilang kini bersemi kembali.


Namun buru-buru Bryan mengenyahkan perasaan itu dan atensinya ia pusatkan kembali ketujuan awal datang ke restoran.

__ADS_1


"Silahkan duduk nona." Bryan berusaha bersikap tenang di hadapan Eliza.


Eliza tersenyum dan duduk di kursi.


"Terima kasih."


Kini mereka berdua duduk berhadap-hadapan. Suasana menjadi canggung, Bryan masih terkejut dengan pertemuan yang tak direncanakan sementara Rudy sibuk dengan pikirannya sendiri.


Aku sungguh tidak mengetahui bahwa klien yang akan kami temui adalah Eliza. Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan? Aku khawatir pertemuan ini akan menjadi awal malapetaka dari kehancuran rumah tangga tuan dan nyonya muda. Hubungan mereka baru saja terjalin namun kenapa wanita ini muncul disaat tuan muda sudah mulai membuka hati untuk gadis lain. Bagaimana nasib rumah tangga tuan muda? Bagaimana nasib nyonya muda? Apakah tuan muda akan tetap dengan pendiriannya? Ataukah tuan muda akan goyah dan mulai menjalin kembali hubungan yang sudah lama kandas? (Rudy).


Kamu masih seperti dulu Ry, pria tampan, dingin dan penuh wibawa namun bedanya sekarang kau telah beristri dan sayangnya wanita itu bukan aku. Tapi akan aku pastikan, cepat atau lambat kamu akan jatuh kepelukanku lagi. Dan saat waktunya tiba, aku juga akan menghancurkan si tua bangka itu dengan tanganku sendiri. (Eliza).


"Sudah lama tidak bertemu, apa kabar anda tuan?" Tanya Eliza mencairkan suasana.


"Baik." Jawab Bryan seenaknya.


"Saya dengar anda sudah menikah. Selamat atas pernikahan anda." Eliza mengulurkan tangan ke arah Bryan.


"Terima kasih." Dengan gugup Bryan menyambut uluran tangan wanita itu.


Ada gejolak aneh yang menjalar dalam tubuh Bryan saat ia menyentuh tangan wanita di hadapannya. Gejolak yang dulu pernah ia rasakan saat pertama kali bersama Eliza.


"Mungkin kah rasa itu muncul kembali?" Gumam Bryan dalam hati.


Rudy melafalkan do'a berkali-kali memohon agar pertemuan kali ini tidak membangkitkan kembali cinta lama yang pernah bersemi di hati Bryan.


"Oh iya, saya berencana mengadakan acara pameran seni dan ingin agar perusahaan kalian terjun langsung dalam mengatur dekorasi ruangan sehingga penikmat seni merasa senang berada dalam pameran nanti."


"Selain itu, aku juga berencana ingin membangun sebuah museum khusus untuk anak muda yang memiliki bakat dibidang seni dan ingin agar perusahaan kalian yang mendesain museum tersebut."


"Apakah kalian bisa?"


"Bisa, perusahaan kami akan berusaha semaksimal mungkin memberikan kepuasan kepada anda."


"Baik, kalau begitu deal." Eliza mengulurkan tangan ke depan untuk berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan kerjasama.


"Besok anda bisa datang ke perusahaan untuk membahas tindak lanjut kerjasama kita, nona." Ucap Bryan seraya menerima jabatan tangan Eliza.


Rudy hanya memperhatikan gerak gerik mereka sambil menulis catatan penting sebagai laporan agenda kerjasama yang akan dipertanggung jawabkan di akhir bulan.


"Sejauh ini masih aman tapi entah kedepannya bagaimana. Semoga saja nona Eliza tidak berniat buruk dan menjadikan kerjasama ini sebagai senjata untuk merebut kembali tuan Bryan." Ucap Rudy dalam hati. Tangannya masih sibuk mencatat agar tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.


to be continued....


Aduh, Bryan sudah bertemu kembali nih dengan Eliza, cinta pertama sekaligus pacar pertamanya. Kira-kira Bryan akan goyah gak ya? Hm, penasaran? Baca terus ya kelanjutan ceritanya.


Jangan lupa like, komentar, kritik dan saran yang membangun agar author semakin rajin up date. Terima kasih. 😊

__ADS_1


__ADS_2