
Happy reading 🤗
Malam itu semua tamu undangan yang hadir turut berbahagia atas perayaan ulang tahun tuan muda Smith. Untaian do'a terucap dari bibir mereka berharap agar Bryan panjang umur, selalu diberikan kesehatan dan semua yang dicita-citakan bisa terkabul.
Ulang tahun kali ini terasa berbeda dari tahun lalu karena ia tidak bisa merayakan bersama keluarga dan istri tercinta padahal saat ia memutuskan membuka hati untuk istrinya, pria itu berharap Aluna bisa berada disisinya dan menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya namun semua harapannya sirna karena kini terdapat jurang pemisah diantara ia dan keluarga berikut istri tercintanya.
"Ry, potongan kue itu akan kamu berikan kepada siapa?" Rengek Eliza.
Dengan penuh percaya diri Bryan berucap "potongan kue pertama akan ku berikan kepada Rudy, sahabatku. Ia orang paling setia dan tak pernah mengkhianatiku. Pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Mengapa bukan diberikan kepadaku, bukan 'kah aku juga setia kepadanya! Selama ini tak pernah menjalin cinta dengan pria lain dan dihatiku hanya ada Bryan seorang." Ucap Eliza dalam hati.
Bryan menyodorkan piring kertas berwarna gold ke Rudy, pria itu menerima potongan kue pertama dari atasannya dengan senang hati. Ia merasa tersanjung dengan pujian yang diucapkan oleh sahabatnya.
Hubungan yang terjalin antara Rudy dan Bryan tidak hanya sebatas atasan maupun sahabat melainkan lebih dari itu. Mereka sudah seperti saudara karena bagi Rudy, keluarga Smith merupakan malaikat penyelamat baginya dan juga ibunya. Ia sangat berhutang budi kepada tuan Reymond, berkat kebaikan pria tua itu Rudy bisa membiayai operasi ibunya dan menuntaskan pendidikannya diluar negeri. Tuan Reymond dengan suka rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu biaya sekolah Rudy maka dari itu ia tidak bisa tinggal diam jika melihat ada orang yang berniat jahat menghancurkan keluarga Smith.
"Apa kamu pikir aku bukan sahabat sejatimu, Ry?" Tanya Gugun. Ia iri karena tidak mendapatkan potongan kue pertama dari sahabatnya.
"Aku kan setia juga kepadamu, saat kau terpuruk kami selalu ada disisimu. Bahkan saat kau patah hati akibat ditinggal seseorang, aku menjadi pelampiasan kemarahamu, apa kau tidak ingat?" Ucap Gugun sinis. Ia melirik tajam ke arah Eliza.
Merasa tersindir, wanita itu mengubah topik pembicaraan.
"Bagaimana kalau kita makan kuenya, pasti kalian sudah lapar 'kan!" Ucap Eliza menyembunyikan kegelisahannya.
Eliza memotong kue ulang tahun berbentuk hati tersebut menjadi irisan kecil, meletakannya diatas piring kertas dan membaginya kepada para hadirin.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa perkataan Bryan barusan mengandung makna mendalam. Apakah ia sudah tahu bahwa dibelakangnya aku secara diam-diam menyusun rencana untuk menghancurkan keluarga dan menyingkirkan istrinya?"
Tiba-tiba saja ia meremang. Bulu kudunya berdiri membayangkan Bryan mengetahui rencananya mungkin hal buruk akan menimpanya, bisa saja ia tak kan selamat dari amukan kemarahan pria yang ia cintai. Wanita itu tahu betul bagaimana emosinya Bryan jika sedang marah, sebuah bangunan kokoh bisa ia hancurkan dalam sekejap.
"Aku jangan berpikiran negatif dulu, mungkin ini hanya perasaanku saja. Lagipula tidak mungkin ketahuan, aku melakukannya dengan begitu rapi." Eliza mencoba menenangkan hatinya.
Malam semakin larut dan tak terasa pesta pun usai. Semua tamu undangan berpamitan, menjabat tangan Bryan dan kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Kini hanya tersisa Eliza, Bryan, Rudy, Gugun dan dua orang pelayan cafe.
"Oh iya, aku pulang duluan ya karena masih ada urusan." Ucap Eliza. Buru-buru ia mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. Ia berlari menuju mobil yang terparkir di depan cafe. Rudy, Bryan dan Gugun menatap sinis kearah wanita itu.
"Dia sudah mulai beraksi, saatnya kita jalankan misi." Ucap Bryan.
Rudy dan Gugun menganggukan kepala. Bryan memasang sebuah headset wireless di telinganya, sesaat kemudian ia terhubung dengan tim penyelamat yang dibentuk untuk menyelamatkan Aluna dari penculikan.
Rendra dan temannya yang berprofesi sebagai polisi mengikuti Eliza menggunakan sebuah sepeda motor. Mereka berpenampilan layaknya seorang ninja, berpakaian serba hitam, mengenakan masker dan tak lupa menggunakan helm. Sementara Bryan dan Rudy baru saja masuk ke dalam mobil, Gugun membuka laptop miliknya yang ia sembunyikan dibalik meja bar. Ia duduk dengan tangan menopang dagu, mata sipitnya tetap fokus mengawasi titik hitam kecil yang terus bergerak.
"Jaga jarak kalian, jangan sampai Eliza curiga."
"Di depan ada pertigaan, belok kiri." Ucap Gugun. Ia memberikan arahan kepada Bryan dan Rendra. Pria itu ternyata sebelumnya sudah memasang alat pelacak pada mobil milik Eliza, ia sengaja menempelkan benda bulat kecil itu dibagasi mobil bertujuan agar Bryan dan Rendra bisa mengetahui tempat wanita itu menyekap Aluna.
"Seratus meter dari depan, berhenti. Aku rasa kita sudah menemukan lokasinya."
Anak buah om Bagas sudah siap dengan posisi masing-masing tinggal menunggu perintah dari tuan muda Smith. Bryan diikuti Rudy dan Rendra berjalan ke arah bangunan pabrik kosong, mereka bersembunyi dibalik reruntuhan dinding mengendap-endap seperti seorang maling.
"Pantas saja sulit menemukan tempat ini ternyata lokasinya begitu terpencil." Ucap Rudy.
__ADS_1
"Kapan kita akan mulai?" Tanya Bryan tidak sabar. Rasanya tangan pria itu sudah gatal ingin menghajar para penculik yang sudah tega menyekap istrinya.
"Tunggu sampai situasi aman."
Eliza berjalan dengan penuh percaya diri, sepanjang perjalanan ia terus bersiul dan bersenandung menyanyikan lagu ulang tahun. Hatinya berbunga-bunga, ia bahagia akhirnya bisa merayakan pesta ulang tahun lagi bersama orang terkasih.
"Halo Aluna!" Sapa Eliza.
Ia tertawa melihat kondisi gadis itu. Mata sembab, pipi merah akibat ditampar, sudut bibir dan hidung mengeluarkan aroma amis akibat darah yang mengucur karena tamparan bertubi-tubi.
"Malam ini, aku dan suamimu menghabiskan malam bersama loh. Kamu tahu tidak, selama pesta suamimu tidak sedikitpun menyebut namamu. Itu artinya, kamu tidak ada arti apa-apa dihati Bryan!" Bentak Eliza.
Aluna sudah lemah hingga tak mampu membalas ucapan Eliza. Hanya air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya.
"Mengapa menangis, apakah kau sedih karena suamimu tak pernah menganggap kau ada?" Tanya Eliza sinis.
Ya Tuhan, andaikan aku memiliki kekuatan super dan bisa lepas dari sini mungkin wanita iblis ini sudah aku tampar dan kuinjak wajahnya dengan sepatu kets kesayanganku. (Aluna).
Gadis itu sudah geram dengan perlakuan Eliza beserta anak buahnya. Mereka benar-benar memperlakukan Aluna dengan begitu kejam, tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk makan dan minum walau hanya seteguk. Tenggorokannya kering dan tubuhnya semakin melemah.
Eliza menyentuh ujung dagu gadis itu.
"Ayo kita mulai!" Eliza tersenyum sinis ke arah gadis itu.
to be continued....
__ADS_1