
Happy reading 🍂
Saat ditengah perjalanan, ia tidak sengaja menabrak seorang pria yang tak asing baginya.
Bruk
"Aw!"
Aluna terjatuh dilantai, lengannya membentur meja dan tangannya menumpu dilantai sehingga menyebabkan telapak tangannya terluka.
"Maaf nona, saya tidak sengaja." Pria itu bangkit dan berusaha membantu Aluna berdiri.
Aluna meringis kesakitan menahan rasa nyeri akibat membentur meja, sementara Bryan masih asyik dengan ponselnya tidak menyadari bahwa saat ini istrinya sedang terluka. Kedua pengawal yang baru saja menyerahkan kertas order-an segera berlari menghampiri majikannya.
"Mampus, alamat kena damprat tuan muda lagi!" Umpat pengawal B kepada temannya.
"Balik Jakarta, tinggal nama kita." Pengawal A menimpali.
Kedua pengawal itu segera mengambil posisi berhadap-hadapan dengan pria itu, mereka siap mendaratkan bogeman untuk nya.
Pengawal A dan pengawal B sudah mengepalkan tangan dan hendak meninju pria itu namun dihentikan Aluna.
"Hentikan, kalian jangan memukulnya. Ini bukan salah dia." Aluna membela pria itu.
Aluna merentangkan tangan, menghadang agar kedua pengawalnya tidak memukul pria yang sudah menabraknya.
"Tapi nyonya, dia sudah menyebabkan anda terluka."
"Ini hanya luka kecil, tidak perlu dibesar-besarkan." Aluna menahan perih ditelapak tangannya.
"Tunggu, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Tanya pria itu seraya membalikan tubuhnya agar berhadap-hadapan dengan Aluna.
Pria itu memperhatikan Aluna dari atas rambut sampai ujung kaki, begitu terus sampai dua kali. Dia mengerahkan semua kemampuan daya ingatnya untuk mengingat siapa gadis dihadapannya.
"Aluna Alexander, kan?" Setelah dia menggali memori ingatan beberapa tahun lalu akhirnya bisa mengenali siapa gadis itu.
"Kamu, Kak Rendra Saputra?"
Ya, pria itu bernama Rendra Saputra. Kakak kelas Aluna sewaktu masih dibangku SMA. Seorang pria yang pernah mengisi hati Aluna selama bertahun-tahun, merupakan cinta pertama bagi gadis itu.
"Apa anda mengenal pria ini nyonya?" Pengawal A masih cemas dengan kejadian yang baru saja dialami Aluna.
"Ya, dia kakak kelasku dulu sewaktu masih di SMA. Kalian tidak usah repot-repot menghajarnya."
"Tapi nyonya, nanti tuan muda."
"Aku yang akan bertanggung jawab."
"Oh Aluna, aku sungguh tidak sengaja. Apakah perlu ku bawa ke rumah sakit untuk mengobati lukamu?" Rendra menyentuh tangan Aluna, memastikan separah apa luka yang disebabkan oleh kecerobohannya.
Bryan baru menyadari bahwa Aluna belum kembali sejak lima menit yang lalu dan pandangannya segera mengarah ke arah Aluna berada saat ini. Ia melihat ada seorang pria tengah mengobrol dengan istrinya dan bahkan bukan hanya mengobrol tapi juga menyentuh tangan gadis pujaannya.
__ADS_1
"Sial!" Umpat Bryan segera bangkit dari kursi dengan langkah panjang.
Bryan sudah tersulut emosi, ia menggertakan gigi, mengepalkan tangan dan deru napasnya tak beraturan.
"Apa yang sedang anda lakukan kepada istriku?" Ucap Bryan dengan suara lantang.
"Mati aku!" Ucap pengawal A dalam hati.
Pengawal A dan B hanya menunduk. Ini sudah kedua kalinya mereka melihat Bryan marah.
"Loh istri." Ucap Rendra keheranan.
"Iya, gadis yang anda sentuh adalah i-s-t-r-i k-u." Bryan mempertegas kata istri di depan Rendra.
Aluna kaget bukan main, saat mengetahui Bryan menyusulnya dengan wajah dipenuhi emosi.
"Anda siapa, berani-beraninya menyentuh istriku!" Tanya Bryan penuh emosi.
Beberapa pengunjung menoleh kearah Bryan dan seorang pelayan menghampiri.
"Maaf tuan, tolong jangan buat keributan disini." Ucap pelayan itu kepada Bryan.
"Diam kamu!" Bryan membentak pelayan itu.
"Tapi tuan..."
Bryan mengepalkan tangan, menarik kerah kemeja milik Rendra dan mengarahkan tinju ke wajah mulus pria itu.
"Astaga mas, hentikan." Aluna mencoba melerai perkelahian.
Kedua pengawal yang berjaga segera menjauhkan tubuh Bryan dari Rendra dan membawanya kembali ke kursi.
"Maafkan kelakuan suamiku barusan kak."
"Suaminya dijagain nyonya jangan sampai membuat keributan lagi seperti tadi, kalau mau ribut lebih baik tinggalkan warung saya."
"Baik bu, maafkan kelakuan suami saya."
Aluna pamit dan berjalan menuju kursi.
Dengan ragu, ia duduk dikursi di hadapan Bryan. Pria itu masih saja mengepalkan tangan dan mengarahkan pandangan ke arah Rendra dengan tatapan menusuk.
"Maaf." Hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Aluna. Ia bingung harus berkata apa dengan kondisi Bryan yang masih marah.
"Siapa pria itu?"
"Kenapa dia menyentuhmu?"
"Apa kalian saling kenal?"
"Apa dia mantan pacarmu?"
__ADS_1
"Apa kamu menikmati ketika dia menyentuh tanganmu?"
Rasanya kepala Aluna mau pecah mendengar semua pertanyaan tak berbobot yang keluar dari mulut suaminya.
"Pertanyaan mana dulu yang harus ku jawab?"
"Secara urut saja!" Balas Bryan singkat.
Hufh, Aluna menarik napas panjang. Memang ini saatnya dia harus menceritakan siapa Rendra Saputra sebenarnya agar tidak terjadi kesalah pahaman antara mereka berdua.
"Pria itu bernama Rendra Saputra, kakak kelasku sewaktu masih SMA."
"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya setelah lulus SMA. Ku dengar dia melanjutkan study ke Singapura dan entah bagaimana ceritanya kami bertemu kembali disini."
"Masih ada pertanyaanku yang belum kamu jawab!"
"Sudah ku jawab semua."
"Apa kamu menikmati ketika ia menyentuh tanganmu?"
Glek
Aluna menelan saliva, pertanyaan konyol apa ini. Bagaimana mungkin ia menikmati disentuh pria lain. Oh astaga, rasanya kepala Aluna saat ini sungguh ingin pecah. Perasaan nya campur aduk antara sedih, bahagia dan bahkan ingin tertawa menertawakan sikap suaminya yang sedang dilanda cemburu.
"Mas...." Aluna menyentuh tangan Bryan namun pria itu menghempaskan.
Aluna meringis kesakitan karena telapak tangan yang digunakan menyentuh Bryan terdapat luka akibat terjatuh.
"Sst." Aluna mendesis menahan sakit.
"Jawab pertanyaanku, Aluna Alexander!" Bryan masih dibaluti amarah.
"Aku tidak menikmatinya mas. Aku hanya akan menikmati bila orang itu adalah kamu."
Rasanya seluruh isi bumi jatuh menimpa tubuh Aluna, bagaimana mungkin ia bisa mengatakan kalimat itu dihadapan seorang pria sekalipun pria itu adalah suaminya.
"Apa kamu mencintainya?" Bryan melemparkan tatapan tajam dengan mata elangnya.
"Oh Tuhan, pertanyaan apa lagi ini." Batin Aluna.
Sungguh saat ini Aluna sudah tidak tahan dengan sifat cemburu suaminya yang terlalu berlebihan.
"Tidak, pria yang aku cintai hanya kamu seorang mas." Jawab Aluna dengan berkaca-kaca.
"Bohong!" Bryan mengalihkan pandangan ke arah laut.
"Sungguh, aku tidak sedang berbohong. Kamu mau aku membuktikan apa?" Tanya Aluna.
"Kamu ingin aku mencumbumu disini seperti yang ku lakukan di GWK tadi?"
"Coba saja, kalau kamu berani." Bryan menantang.
__ADS_1
"Baik, jika dengan cara ini kamu merasa puas." Aluna segera berpindah tempat disamping Bryan dan menangkup wajah suaminya.
to be continued...