
Happy reading 🤗
Aluna kini sudah duduk di kursi dengan keadaan tangan dan kaki terikat oleh seutas tali tambang.
Ia sendiri tidak tahu saat ini dirinya sedang berada dimana, ruangan yang Aluna tempati merupakan sebuah bangunan bekas pabrik yang sudah lama tidak beroperasi.
Gadis itu baru saja sadarkan diri akibat di bius saat para penjahat menculiknya dan ketika sadarkan diri ia sudah dalam keadaan terikat.
Kelima orang penjahat yang menculiknya berada dalam ruangan sama dengan dirinya. Mereka memperhatikan tubuh gadis itu mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Salah seorang dari mereka nampak puas melihat kondisi Aluna saat ini, pria itu tertawa dan berkata "rupanya kau sudah sadar!" ucapnya.
"Lepaskan aku!"
"Siapa kalian semua?"
"Apa tujuan kalian menculikku?" Teriak Aluna.
Namun mereka tak menghiraukan teriakan gadis itu, malah asyik tertawa sambil menegak sebuah botol berisikan minuman keras.
"Cepat lepaskan aku!" Kali ini Aluna meninggikan suara.
"Dasar ja*lang!" Ucap salah satu pria jahat dengan postur tubuh tinggi dengan kepala plontos.
"Diam kau!
Pria itu mendekat ke arah kursi dimana saat ini tubuh Aluna di ikat.
"Lebih baik kau tutup mulutmu agar ketika bertemu malaikat maut, kau memiliki tenaga untuk menjawab semua pertanyaannya."
"Brengsek kalian, cepat lepaskan aku!"
"Sebelum Mas Bryan dan Kak Rendra menghajar kalian semua!" Bentak Aluna.
Aluna berusaha melepaskan tali pengikat, ia menggerakan tangan dan kakinya semakin digerakan tangan dan kakinya terasa perih akibat luka lecet.
"Ha-ha-ha, mana mungkin mereka bisa menyelamatkanmu. Sebelum itu terjadi, kami sudah menghabisimu." Tangannya mencoba menyentuh wajah cantik Aluna.
"Cuih!" Aluna meludahi wajah pria itu.
"Aku tidak sudi disentuh olehmu. Dasar orang jahat." Aluna memalingkan wajah setelah meludahi pria jahat itu. Ia tidak sudi disentuh oleh pria lain selain suaminya.
__ADS_1
Plak!
Pria dengan tubuh kekar menampar wajah Aluna. Gadis itu meringis kesakitan, wajahnya terasa sakit dan telinganya berdengung. Ia merasakan ibaratkan ada sebuah lebah masuk ke dalam telinganya. Darah segar keluar dari sudut bibir gadis itu.
"Hei hentikan. Apa yang sudah kau lakukan?" Teriak teman pria jahat itu kepada pria kekar.
"Aku memberi dia pelajaran!"
"Wanita ini bisa mati sebelum dihabisi oleh boss!" Pria itu memperingatkan temannya.
"Sudah kau duduk saja, biar aku tangani wanita ini."
Pria kekar dan plontos berjalan sempoyongan menuju kursi kayu yang ada di tengah ruangan. Ia duduk kembali bersama teman-teman se-profesinya melanjutkan kembali pesta miras yang sempat tertunda.
"Nyalimu besar juga gadis kecil."
"Jangan sentuh aku!" Teriak Aluna saat tangan kasar pria itu hendak membelai rambut hitam panjang milik gadis itu. Ingin rasanya ia meninju wajah mereka satu per satu namun ia sendiri tak berdaya.
"Apa kau tidak lelah berteriak terus dari tadi?" Kali ini pria gondrong mengambil alih peran si pria kekar tadi.
"Mau kalian apa?"
"Apa salahku kepada kalian, mengapa ingin menghabisiku?" Tanya Aluna lirih.
Gadis itu pun menitikan air mata, ia ketakutan.... Sangat ketakutan! Saat ini ia berharap Bryan atau Rendra dapat menyelamatkan nyawanya bukan hanya nyawanya tapi juga nyawa kedua bayi kembar yang ada dalam kandungannya.
"Ku mohon, lepaskan aku. Apa kalian tidak kasihan pada bayi dalam kandunganku?" Aluna memohon dengan ucapan lirih, ia tidak lagi berbicara dengan nada kasar.
"Jika kami melepaskanmu maka nyawa keempat teman-temanku berikut aku jadi taruhannya."
"Aku bisa memberikan uang jika itu yang kalian inginkan. Asuransi kematian milik mendiang papaku dan hasil penjualan rumah, ku rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian berlima."
"Kami bisa saja menerima uangmu, nyonya muda, namun melenyapkanmu merupakan sebuah hiburan bagi kami semua."
Kelima penjahat itu tertawa terbahak-bahak. Aluna merinding membayangkan kelima penjahat itu menyentuh tubuh dan mengulitinya dengan sebuah pisau tajam. Mengiris satu per satu bagian tubuh, org*n d*lam tubuhnya dan memasukannya ke dalam sebuah plastik hitam besar.
"Ya Tuhan, apakah memang aku harus mati ditangan mereka semua?" Tanyanya dalam hati.
Sekilas bayangan wajah suami, mertua, mendiang papa-mama, sahabat dan juga Rendra muncul di benak gadis itu. Air mata Aluna kian jatuh dengan deras dari kedua matanya. Ia hanya bisa berdo'a agar Bryan maupun Rendra segera menemukannya.
__ADS_1
"Mas, cepat tolong aku dan nyawa kedua bayi kita." Ucapnya dalam hati.
"Kenapa kau malah menangis?" Apa kau takut mati?" Pria itu semakin bersemangat menggoda Aluna, suara tawa kelima penjahat bersahutan dengan isak tangis yang keluar dari mulut gadis itu.
"Tolong lepaskan aku." Ucap Aluna lirih. Ia berusaha memohon dengan wajah memelas.
"Tunggu sampai kami menghabisimu." Ucap pria itu pada Aluna.
Terdengar suara deru langkah seseorang memasuki bangunan bekas pabrik yang sudah terbengkalai. Ia berlenggak-lenggok seperti seorang model berjalan diatas runaway.
"Ternyata kamu sudah sadar, nyonya muda Bryan!" Ucap wanita itu.
Suara wanita itu tidak asing bagi Aluna. Ia mendongak dan melihat Eliza berdiri dengan angkuh di seberang sana dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Kenapa kamu menculikku, El?"
Eliza mendekat ke arah gadis itu, ia membungkuk dan menyentuh rambut milik Aluna. Ia menjambaknya dengan keras.
"Aw!"
"Eliza, lepaskan tanganmu." Aluna berteriak.
"Dasar gadis murahan, berani-beraninya kau mengancamku. Kini lihat balasannya. Aku tidak hanya akan melenyapkanmu tapi juga melenyapkan kedua bayimu." Ucap Eliza di dekat telinga gadis itu.
"Aku mohon jangan lakukan itu." Aluna memohon dengan sisa tenaga yang dimiliki. Gadis itu merasa lelah karena semua energinya terkuras habis akibat berteriak.
"Apa katamu?" Kini Eliza semakin mengeratkan genggamannya.
"Tidak semudah itu Aluna."
"Aku akan membuatmu menderita dan menyesali atas perbuatanmu tempo hari. Seharusnya kau tidak usah ikut campur dalam urusanku."
"Ehm.... Walaupun tidak ikut campur cepat atau lambat aku pun akan tetap menghabisimu karena sudah merebut Bryan dari sisiku."
Eliza melepaskan tangannya dengan kasar. Kepala gadis itu terasa sakit dan rasanya ia sudah tidak kuat menerima siksaan dari wanita iblis dan antek-anteknya.
"Kamu tidak akan berani menghabisiku dan kedua anak-anakku, 'kan?" Tanya Aluna lirih.
"El, di dalam tubuh kedua bayi ini mengalir darah dari pria yang begitu kau cintai. Apa kau tega melenyapkan mereka berdua? Darah daging Mas Bryan." Aluna mencoba meluluhkan hati Eliza agar wanita itu melepaskannya walaupun ia tahu kemungkinan untuk bisa lepas dari jeratan kejahatan wanita iblis itu hanya 1%. Selama ia masih bernapas maka cara apa pun akan dilakukan termasuk memohon kepada wanita yang tega sudah menghancurkan rumah tangganya.
__ADS_1
to be continued....