Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Mulai Melepaskan Bryan


__ADS_3

Kicauan burung membelah kesunyian pagi disertai cahaya kuning keemasan membuat insan di bumi terbangun dari mimpi indah, udara sejuk dipagi hari memberikan kesejukan dan kedamaian bagi setiap manusia. Sinar mentari menerobos masuk dari celah gorden kamar rumah sakit. Perlahan-lahan seorang gadis cantik mengerjapkan matanya, ia baru saja terbangun dari tidur panjang berselimutkan mimpi.


Dalam mimpinya ia bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal, bermain-main bersama dua orang malaikat kecil yang wajahnya memancarkan kilau cahaya namun memberikan keteduhan di hati gadis itu.


"Mimpi itu begitu nyata." Gumam Aluna.


Ia memandang ke sekeliling ruangan manik matanya menangkap sosok wanita dan seorang pria paruh baya sedang tertidur pulas di atas sofa panjang.


"Mommy." Panggil Aluna lirih.


"Aluna." Ayunda terbangun setelah mendengar menantunya memanggil.


Ayunda mendekati bed tempat menantunya terbaring.


"Butuh apa sayang?" Tanya Ayunda lembut.


"Minum."


Ayunda menyerahkan gelas beling berisi air putih dan membantu nenantunya minum.


Glek


Glek


Glek


Satu gelas air putih habis dalam lima kali tenggak. Tenggorkan gadis itu terasa kering ibarat tanaman berbulan-bulan lamanya tidak disirami air.


"Aku dimana mom?" Tanya Aluna.


Gadis itu mengalami disorientasi atau penurunan kesadaran akibat kelelahan sehingga tidak mengenali dimana ia berada sekarang.


"Kamu dirumah sakit sayang, saat perjalanan kesini tiba-tiba saja pingsan." Aluna mengusap tangan menantunya.


"Dari semalam kamu belum sadarkan diri. Mommy tidak tahu apakah kamu betulan pingsan atau memang terlalu nyaman berada dalam pelukan Bryan." Goda Ayunda.


Aluna tersenyum kecut.


"Kamu sudah sadar, sayang." Suara seorang pria mengagetkan mertua dan menantu yang tengah asyik berbincang.


"Ry!"


"Mas!"


Ucap Aluna dan Ayunda bersamaan.


"Bagaimana kamu tahu bahwa istrimu sudah sadar?" Tanya Ayunda penuh selidik.


"Aku memang sengaja datang kesini karena merindukan istri kecilku."


Bryan mengecup kening istrinya. Sementara Aluna hanya tersenyum. Sejujurnya ia belum siap bertemu dengan Bryan, pria yang sudah bermain api dibelakangnya.


Aluna menjauhkan diri dari Bryan dan kembali merebahkan tubuhnya.


Bryan melirik ke arah Reymond yang masih tertidur pulas diatas sofa seperti mengerti maksud putranya, Ayunda membangunkan suaminya.


"Daddy." Ayunda mengusap rambut pirang milik suaminya.


Reymond mengerjapkan matanya. Pandangan mata pria itu langsung tertuju pada seorang pria tinggi serta memiliki wajah sangat mirip dengannya.


"Selesaikan masalah kalian." Bisik Ayunda.


"Mas, minta maaf-lah kepada daddy." Bujuk Aluna.


Kemudian kedua pria itu keluar kamar dan duduk di kursi khusus pengunjung yang ada di sepanjang koridor rumah sakit karena lantai itu hanya di isi oleh keluarga Smith sehingga koridor tersebut sepi tidak banyak orang lalu lalang, hilir mudik kesana kemari. Hanya ada dua orang pengawal yang berjaga disana.


"Daddy." Bryan membuka suara.


Reymond menoleh ke arah putranya.

__ADS_1


"Maafkan aku karena tidak mempercayai ucapan daddy."


Bryan tertunduk, ia merasa berdosa karena sudah tidak mempercayai ucapan daddynya.


"Ry, daddy sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya. Daddy memahami situasimu saat itu nak, Eliza memang pandai ber-acting sampai-sampai kau termakan oleh rayuannya."


Reymond terkekeh betapa bodohnya Bryan karena sudah membela orang yang salah.


"Mulut Eliza memang manis dad, menyesal aku mempercayai semua perkataannya."


"Sudah-sudah, tidak perlu diingat lagi yang penting sekarang kamu berikan perhatian untuk istri dan anak-anakmu." Reymond menepuk-nepuk pundak putranya.


"Baik."


***


Keesokan Harinya


"Aku ingin bertemu dengan nyonya muda kalian." Ucap Rendra.


"Maaf tuan, kami tidak bisa mengizinkan anda masuk. Tuan Bryan sudah meminta kami untuk melarang anda masuk."


"Kenapa? Aku teman dari nyonya muda kalian."


"Tetap tidak bisa tuan."


"Apa kalian lupa dengan wajahku? Lihat baik-baik, baru kemarin aku membesuk Aluna."


Rendra mendekatkan wajahnya kepada dua orang pengawal. Ia menunjuk mata dan hidungnya.


"Lihat-lah."


"Kami masih mengingat anda, tuan tapi maaf tidak bisa."


Rendra memasang wajah masam.


Rendra


📲 Halo Luna, aku sudah di depan kamar tapi pengawalmu melarangku masuk.


Aluna


📲 Kenapa? Kemarin kan masih diperbolehkan masuk.


Rendra


📲 Karena suamimu melarangnya.


Rendra begitu kesal dengan sikap Bryan yang terlalu protective.


Aluna berjalan perlahan-lahan dengan keadaan tangan masih terpasang selang infus sementara tangan lainya memegang handle pintu.


"Kak Rendra." Panggil Aluna.


Rendra mendekat, tangannya mengangkat bungkusan plastik hitam di depan pengawal dan Aluna.


"Nyonya, Tuan Bryan melarang kami untuk...."


"Aku yang akan bertanggung jawab."


"Masuk kak."


Rendra melewati kedua pengawal tadi dan ia sengaja menabrakan pundaknya ke pundak salah satu pengawal.


Pengawal itu hanya mendelik.


"Suamimu keterlaluan Luna." Pria itu protes dengan sikap Bryan.


"Bukan kah memang dari dulu seperti itu?"

__ADS_1


Aluna membuka bungkusan plastik hitam yang dibawa Rendra. Di dalam bungkusan plastik terdapat satu buah kotak makan terbuat dari plastik mika berisikan rujak buah lengkap dengan sambal kacang.


"Wuih, akhirnya ngidamku kesampaian juga." Ucap Aluna.


Ia begitu senang akhirnya keinginan sang buah hati terkabulkan. Sejak dirawat dirumah sakit, ia dilanda hasrat ingin makan rujak buah buatan Mang Budi, seorang penjual rujak yang biasa mangkal di depan pintu masuk cluster perumahan Rendra.


"Terima kasih banyak kak."


Aluna langsung mencomot satu potong buah pepaya dan mencelupkannya ke dalam wadah sambal kacang.


"Ehm, yummy!"


"Enak? Tanya Rendra.


"Sangat enak."


"Aluna, mungkin ini pertemuan terakhir kita."


"Loh, memang mau kemana?" Tanya Aluna penasaran.


"Aku akan kembali ke Singapura karena sudah tidak ada lagi yang bisa ku pertahankan disini."


Hati gadis itu mencelos setelah mendengar ucapan Rendra. Ia merasa bersalah karena belum bisa membalas perasaannya kepada pria itu.


"Kak!"


Aluna terdiam sejenak.


"Jika aku ingin ikut denganmu bagaimana?"


"Hah?" Rendra terkejut mendengar perkataan Aluna.


"Kamu serius?" Tanya Rendra penuh selidik.


Aluna mengangguk.


"Kakak tahu pasti kan bagaimana rumah tanggaku sekarang."


"Aku tahu betul Luna."


Rendra meraih tangan Aluna yang tidak terpasang selang infus namun tiba-tiba saja dari luar muncul Bryan dengan wajah penuh emosi.


"Jangan pernah menyentuh istriku." Teriak Bryan.


"Mas Bryan!"


Bryan menarik tangan Rendra menjauhi tubuh istrinya. Pria itu siap memberikan ucapan selamat siang dari kelima tangannya yang mengepal.


"Hentikan, mas!"


"Tapi dia menyentuhmu, sayang."


"Kak Rendra hanya menyentuh tangan bukan memeluk tubuhku." Ucap Aluna sinis.


Bryan dan Rendra terdiam, mereka bersamaan melihat ke arah Aluna.


"Apa kamu sakit hati melihat pria lain menyentuhku?"


"Sayang, kamu kenapa?"


"Kak Rendra, tolong tinggalkan kami."


"Baik, kamu bicarakan baik-baik dengan suamimu."


"Jika sudah yakin, kamu bisa menghubungiku."


Rendra pergi meninggalkan Aluna dan Bryan, pria itu memberikan ruang bagi keduanya untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga yang sedang menerpa agar tidak semakin berlarut-larut.


"Aku ingin bicara serius dengamu, mas."

__ADS_1


__ADS_2