
Malam semakin larut dan kini semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing namun Aluna dan Rendra masih menikmati udara segar di malam hari. Mereka duduk di kursi rotan di dekat kolam renang. Pria itu sengaja meminta calon istrinya untuk menemaninya sebentar sekaligus menyampaikan isi hatinya.
"Aluna, ada yang ingin aku sampaikan padamu." Rendra membenarkan posisi duduknya.
"Ada apa kak?"
"Aku ingin...."
"Ingin apa kak?" Tanya Aluna penasaran.
"Pernikahan kita dipercepat, seminggu lagi kita akan melangsungkan ijab qabul!"
"Apa?" Aluna berteriak histeris.
"Kenapa mendadak kak? Dan kenapa tidak berdiskusi denganku dulu."
"Untuk apa aku mendiskusikannya denganmu?"
"Apa kamu berencana kabur dari pernikahan kita?" Tanya Rendra sinis.
"Bukan begitu kak, hanya saja kenapa harus minggu depan. Kakak seharusnya meminta pendapatku dulu."
Aluna bangit dari kursi rotan, ia berjalan ke pinggiran kolam renang. Wanita itu menatap ke atas langit yang dipenuhi gemerlap bintang.
"Aku tidak ingin kamu berubah pikiran!"
"Maksud kakak apa? Aku tidak mengerti."
Aluna duduk dipinggir kolam renang dan tangannya bermain-main disana.
"Aku melihat kejadian tadi, saat pria itu menciummu!"
Aluna menggigit bibir bawah.
"Mas Bryan tidak sengaja melakukannya."
Rendra tersenyum sinis.
"Tidak sengaja katamu? Jangan coba membelanya!"
"Jika kamu ingin dicium oleh seorang pria, kenapa dulu tidak mengizinkan bibirku menyentuh daging empuk itu."
Rendra sedikit berteriak membuat Aluna terperanjat.
"Kak, kecilkan suaramu. Jangan sampai semua orang terbangun dan mendengar pembicaraan kita."
"Kamu lebih memikirkan orang lain daripada aku, CALON SUAMIMU!"
Kali ini Rendra bangkit dari kursi dan menyentuh pundak Aluna secara paksa. Pria itu mencengkram lengan Aluna dengan kuat hingga membuat wanita itu meringis.
"Kak, sakit!"
"Aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan mantan suamimu!"
__ADS_1
"Kak, tolong lepaskan. Sakit!"
"Jawab Aluna, apakah kamu menikmati saat pria itu mencium bibirmu?" Rendra menatap tajam mata Aluna.
"Jawab!" Bentak Rendra.
"Kak!" Aluna memohon dengan ucapan lirih.
"Sekali lagi aku bertanya padamu, apakah kamu masih mencintai mantan suamimu?"
Aluna bergeming, ia hanya meneteskan air mata. Bibir tak mampu berucap, lidah kelu dan otaknya tak mampu berpikir jernih. Wanita itu tidak bisa membohongi perasaannya, selama hampir lima tahu, ia masih mencintai Bryan mantan suaminya.
Di dalam hati Aluna hanya ada Bryan seorang. Jiwa dan raganya sudah ia berikan kepada mantan suaminya, pria pertama yang sudah menyentuh tubuhnya, mencium bibirnya dan membuatnya terpenjara dalam sangkar emas yang sengaja diciptakan untuk menjerat wanita itu dalam sebuah ikatan bernama cinta.
Bertahun-tahun Aluna berusaha melupakan masa lalunya namun semua kenangan indah bersama Bryan selalu muncul. Ia mencoba berlari ke arah cahaya terang yang ada diujung sana tapi mantan suaminya terus mengikuti, membuatnya lelah dan menyerah.
"Hanya dengan melihat air matamu, aku sudah bisa tahu jawabannya."
Rendra melepaskan cengkramannya, kini posisi pria itu membelakangi Aluna.
"Persiapkan dirimu karena satu minggu lagi kita akan melangsungkan pernikahan. Jangan coba-coba kabur jika tidak ingin menyesal."
Setelah mengatakan kalimat terakhir, Rendra meninggalkan Aluna. Pria itu kembali ke kamar, ia melihat tersangka utama duri dalam hubungan percintaannya dengan Aluna tengah tertidur pulas menghadap dinding.
"Kali ini aku tidak akan menyerah dari anda tuan. Kita lihat saja, siapa yang kan jadi juaranya!" Ucap Rendra lirih.
Pria itu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, menggosok gigi dan mencuci muka sebelum tidur. Ia berharap esok hari akan lebih baik dan Dewi Amor memberikan kesempatan kepadanya untuk menancapkan panah asmara ke hati calon istrinya.
Keesokan hari, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Ayunda sejak pukul lima pagi sudah disibukan dengan pekerjaan dapur, ia dibantu dua orang pelayan, Diana dan Aluna menyiapkan sarapan. Ayunda meminta kedua pelayannya memotong daging mengikuti serat yang nampak pada permukaan agar ketika diolah menjadi sop, daging tersebut empuk dan mudah dikunyah. Diana bertugas mencuci semua bahan makanan, Ayunda yang akan turun langsung dalam proses pengolahan makanan sementara Aluna akan menata hidangan jika sudah matang.
"Wuah, aroma masakan mommy tercium sampai sini."
"Macakan glandma kan memang enak aunty!" Si bungsu Arya mengangkat ibu jari ke udara.
"Memang Arya pernah cobain masakan grandma?" Tanya Reymond penasaran.
"Hu'um." Arya mengangguk.
"Waktu glandma main ke rumah bawa cayur kangkung untuk kakak dan adek."
"Aduh, kok grandfa tidak diajak ya." Reymond pura-pura merajuk karena ingin menjahili cucunya.
"Glandpa tidak boleh melajuk, nanti mukanya jelek milip badut."
Sontak semua orang tertawa mendengar celotehan Arya tak terkecuali Rendra, pria itu ikut tertawa juga melihat sikap menggemaskan dari calon anak tirinya.
Aryan hanya memperhatikan kembarannya, ia memang tidak banyak berbicara hanya sesekali saja menimpali jika ditanya orang lain.
"Aryan kenapa diam saja?" Tanya Bryan.
"Alyan lapal papi." Bisiknya ditelinga Bryan.
"Oh lapar, tunggu sebentar lagi ya nak. Makanan akan segera matang."
__ADS_1
"Baik!"
Tak lama kemudian, Aluna berjalan menuju meja makan. Kedua tangannya membawa sebuah panci besar buatan pengrajin asal Italia. Alat masak ini dibuat secara manual, dipalu menggunakan tangan sehingga hasilnya sangat detail dan berkualitas tinggi. Tak heran jika harganya sangat mahal.
"Yey, makanannya cudah datang." Arya berjodet kegirangan diatas kursi makan.
"Hati-hati, nanti kamu jatuh." Bryan menegur putra bungsunya.
"Papi, Alya tidak akan jatuh kalena ada papi dan papa akan menjaga." Arya tersenyum gemas kearah papinya.
"Tapi papi yang akan selalu melindungi kakak dan adek sampai kapanpun loh." Bryan mencolek hidung putra bungsunya.
"Saya harap Tuan Bryan menjaga batasan saat berbicara dengan anak kecil." Ucap Rendra sinis.
Bryan bersiap membela diri, mulutnya sudah terbuka sempurna.
"Hentikan, tidak baik bertengkar di hadapan anak kecil."
"Lebih baik kita mulai saja, lagipula semua orang sudah berkumpul." Timpal Ayunda.
Aluna dibantu kedua pelayan membagikan piring, sendok dan garpu, Shera membantu menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Eeh, tunggu dulu." Sergah Reymond.
"Arya lupa ya."
Arya berpikir sejenak.
"Kita kan belum berdo'a."
"Oh iya, Alya lupa."
Kini bocah kecil itu tertawa menutupi mulutnya.
"Alya belicik, dali tadi kamu tidak mau diam."
Aryan melipat tangan kedada.
"Loh, malah bertengkar."
"Grandfa pimpin do'a dulu ya, agar kita selalu bersyukur atas rezeki yang sudah Tuhan berikan."
Aryan dan Arya mengangguk bersamaan.
"Baiklah, mari kita berdo'a dulu sebelum menyantap semua hidangan. Berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing."
Suasana hening tercipta, semua orang memanjatkan do'a kemudian dilanjutkan dengan menyantap sarapan yang dimasak oleh Nyonya Besar Smith.
"Enak sayang?" Tanya Aluna.
"Sangat enak mami." Ucap Aryan dan Arya bersamaan.
Sejak umur empat tahun, Aluna sudah mengajarkan kedua putranya untuk hidup mandiri. Mulai dari makan dan membersihkan diri setelah habis buang hajat namun untuk mandi wanita itu masih sering terlibat membantu si kembar. Jadi tidak heran jika saat ini kedua putra Aluna makan tanpa dibantu siapapun.
__ADS_1