
Happy reading 🤗
"Anak kurang ajar!" Bentak Reymond.
"Lancang sekali mulutmu!" Teriak Reymond.
Reymond membanting koran yang ada ditangannya dan berdiri dihadapan Bryan. Ia emosi karena hari baiknya diganggu oleh anaknya.
"Apa yang sudah daddy lakukan terhadap Eliza?" Ucap Bryan to the point.
"Oh, jadi gara-gara wanita itu kamu datang kesini dan membuat onar dirumahku?"
"Tidak usah berbelit-belit, cepat katakan!"
"Memang apa yang ingin kau ketahui. Wanita ular itu pasti sudah menceritakan semuanya. Walau kenyataannya tidak semua yang ia ceritakan adalah kebenaran!"
"Maksud daddy meminta Eliza pergi menjauh dariku apa?"
"Karena dia bukan wanita baik-baik dan tidak pantas untukmu!"
"Apa karena status sosial hingga daddy tidak mengizinkan kami bersama?"
"Kamu pikir daddy memandang seseorang dari jabatan dan status seseorang?"
"Kalau iya, lantas mengapa aku menjodohkanmu dengan Aluna. Seorang anak gadis dari keluarga biasa!" Teriak Reymond.
Kali ini kesabaran Reymond sudah habis. Sejak tadi ia menahan amarahnya, berkali-kali menarik napas dalam namun anak laki-lakinya terus menerus memancing emosi.
"Karena daddy ingin membalas budi kepada mendiang papa Alexander. Dulu beliau sangat berjasa dalam hidup keluarga kita, iya kan?" Ucap Bryan tak kalah emosi dari Reymond.
Ayunda berlari dari dalam dapur menuju taman belakang, pikirannya tak tenang mendengar keributan yang terjadi diantara suami dan anaknya.
"Kalian hentikan, sudah jangan bertengkar lagi!" Ucap Ayunda sambil berlari ke arah suami dan anaknya.
"Apa kalian tidak bisa membicarakan semuanya dengan kepala dingin?"
"Ry, kamu duduk dulu sini nak. Tidak baik berteriak kepada daddymu."
"Dan kamu sayang, ayo duduk dulu." Ayunda membujuk suaminya.
"Tidak perlu mom, Ry kesini hanya ingin meminta penjelasan saja kenapa daddy tega memisahkanku dengan Eliza." Bryan menepis tangan mommy nya.
__ADS_1
"Lihat, kamu sekarang berani berbuat kasar terhadap orang tuamu sendiri."
Reymond tak terima istrinya diperlakukan kasar oleh putranya.
"Bisa wanita ular itu sangat ampuh, sampai membuat anakku berani menantang orang tuanya sendiri. Kita lihat apakah kamu akan tetap membelanya setelah tahu kebusukan keluarga dan juga wanita itu!" Ucap Reymond dalam hati.
"Lantas sekarang maumu apa, Ry?" Tanya Reymond, ia sudah hilang akal menghadapi amarah anaknya.
"Apa kamu ingin meninggalkan Aluna dan menikahi wanita itu?"
Reymond bertolak pinggang.
"Daddy, kenapa berkata begitu. Mommy tidak setuju Ry meninggalkan istrinya dan kembali ke pelukan wanita itu!"
"Sampai kapanpun, menantu keluarga ini hanya Aluna Alexander bukan Eliza atau wanita lain!" Ayunda terduduk lemas dikursi. Membayangkan anaknya bercerai dan menikahi wanita lain sudah membuat nyonya besar Smith putus asa apalagi kalau sampai terjadi mungkin ia bisa saja meninggal akibat serangan jantung.
"Ry, coba buka mata hatimu nak. Lihat baik-baik siapa Eliza sebenarnya." Ucap Reymond putus asa.
"Jauhi dia sebelum terlambat."
"Aku tidak akan menjauhi Eliza!"
"Bryan!" Teriak Reymond.
"Jangan ringan tangan, mas."
"Bryan, lebih baik kamu ke kamar. Percakapan kali ini cukup disini saja."
"Ry memang akan pergi dari sini mom. Tak sudi aku tinggal satu atap bersama orang tua yang egois dan terlalu ikut campur dalam urusan pribadi anaknya."
Bryan mendengus kesal. Ia berjalan tergesa-gesa menuju lantai tiga. Di dalam lift, pria itu berteriak seperti orang gila meluapkan emosi.
Sesampainya di lantai tiga, pria itu melihat seorang gadis tengah merapikan pakaian dan memasukannya ke dalam koper besar. Gadis itu sibuk memasukan barang-barangnya sambil berurai air mata.
"Aluna!" Ucap pria itu lirih.
Aluna tidak menoleh, ia masih saja melanjutkan kegiatannya. Kini gadis itu berjalan menuju kamar mandi, mengambil alat mandi, memasukannya ke dalam wadah putih berukuran kecil dan menggabungkannya dengan barang-barang lain. Ia mengambil buku mata kuliah dan perlengkapan alat tulisnya.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Dan ini kenapa kamu memasukan semua barang-barangmu ke dalam koper besar." Bryan menghampiri istrinya, ia dengan jelas bisa melihat gadis itu menangis.
__ADS_1
"Siapa yang menyakitimu, katakan padaku!" Bryan menyentuh pundak gadis itu dan kini posisi mereka berhadapan.
"Kamu yang menyakitiku, mas." Ucap gadis itu getir.
"A-apa kamu mendengar pertengkaran kami?" Tanya Bryan gugup.
"Aku dengar semuanya!"
"Bukan cuma itu, aku pun melihatmu memeluk Eliza di dekat toilet hotel tempat acara reuni akbar diadakan."
"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu." Bryan membantu istrinya duduk diatas ranjang. Aluna tak menolak karena sejujurnya ia pun lelah dari tadi berdiri dan bolak balik mengemasi semua barang-barangnya.
"Aluna, i-itu...." Bryan tidak tahu harus memberikan penjelasan apa kepada istrinya.
"Mas Bryan, seharusnya dulu aku langsung menolak perjodohan ini jika tahu kau masih mengharapkan wanita lain." Ucap Aluna lembut.
Gadis itu menangkupkan tangannya ke wajah pria dihadapannya. Ia memperhatikan wajah suaminya. Mulai dari manik mata, hidung kemudian bibir.
"Aku tanya padamu, apakah kau masih mencintainya?"
Bryan tak merespon pertanyaan istrinya.
Aluna menghela napas dan berucap "aku sudah tahu jawabanmu, jika memang kau masih mencintai Eliza dan berencana menikahinya, silahkan. Aku tidak akan menghalangimu asalkan kau bahagia itu sudah cukup. Sebelum menikahi wanita itu, kau harus menceraikanku dulu namun saat ini perceraian tidak akan sah karena...."
"Karena apa sayang?" Tanya Bryan penasaran.
Dengan sisa kekuatan yang ada, gadis itu melanjutkan kalimatnya "karena saat ini aku sedang mengandung. Sebentar lagi kamu akan menjadi papa. Papa dari dua bayi kembar." Ucap Aluna berurai air mata.
"Tapi kamu tidak usah khawatir, setelah melahirkan aku akan meminta bunda Imelda untuk membantu mengurus surat perceraian kita agar secepatnya kamu bisa menikahi Eliza."
Aluna mencium kening, hidung dan kini turun ke bibir mungil milik suaminya. Lama ia mencium bibir pria itu.
"Aku akan menjaga anak-anak kita dengan baik."
"Oh iya, ini hasil USG pertamaku. Kata dokter Dianka, anak-anak kita dalam keadaan sehat. Usia kandungan sudah memasuki enam minggu. Awalnya aku ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunmu tapi...."
"Aku tidak yakin bisa merayakan ulang tahunmu bulan depan." Ucap Aluna panjang lebar.
Bryan bergeming, lidahnya terasa kelu tak dapat berucap. Pria itu masih belum bangun dari keterkejutan.
"Kelak anak-anak kita akan memiliki wajah rupawan mirip kamu agar semua orang tahu bahwa bayi ini adalah anak-anak Tuan Bryan Smith." Aluna tersenyum getir.
__ADS_1
Aluna memeluk tubuh suaminya untuk terakhir kali. Ia benar-benar merindukan dekapan, kelembutan dan kasih sayang dari suaminya. Semenjak hamil keinginan untuk dimanjakan oleh suaminya semakin menjadi mungkin karena hormon kehamilan menyebabkannya ingin selalu berada di dekat pria itu.
to be continued....