
"Bangunan ini begitu luas, sebaiknya kita bagi dalam tiga tim. Kalian berlima ikut denganku mencari dibangunan sayap kanan, empat orang dibagian sayap kiri dan sisanya mencari dibangunan utama." Ucap pak polisi memberikan instruksi.
Mereka semua mengangguk setuju.
"Baik tuan."
Mereka mulai berpencar. Bryan bersama Rudy dan anak buahnya mencari dibagunan utama pabrik, dalam pencahayaan minim mereka masuk ke dalam gedung utama.
Bryan tak bisa membayangkan jika istrinya benar-benar ditahan dalam bangunan itu. Ia pasti ketakutan.
Dengan sangat teliti, ketiga tim penyelamat mencari Aluna di setiap sudut ruangan, menembus kegelapan dan udara dingin malam hari. Bangunan ini begitu luas jika tidak membagi dalam beberapa tim pasti akan memakan waktu yang cukup lama untuk bisa menemukan Aluna.
"Tuan, disana." Rudy menunjuk sebuah ruangan yang memantulkan cahaya.
"Hanya ini satu-satunya ruangan disini yang disinari cahaya!" Ucap anak buah Bryan.
"Apa mungkin Aluna disekap disana?"
"Ayo!"
Bryan dan tim berjalan dengan pelan mendekati ruangan itu.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki mereka semakin mendekat dan saat sudah berada di depan ruangan, pria itu mendengar suara tangisan seorang gadis.
"Dobrak!" Titah Bryan.
Brugh!
Dengan sekali tendang, pintu kayu lusuh itu hancur. Mereka segera berlari ke arah Aluna.
"Aluna!"
Bryan melihat keadaan istrinya yang tak berdaya segera berlari menghajar dan menerjang semua para penculik. Ia dibantu anak buahnya mendaratkan bogem mentah ke wajah mereka.
Bugh!
Bugh!
"Brengsek kalian, berani-beraninya menculik istriku!"
Pria itu menendang perut penjahat yang sudah berani menampar wajah mulus Aluna.
"Ku bunuh kau!"
Emosi Bryan tak terkendali, ia seperti seorang banteng yang siap menyeruduk orang di depannya.
Eliza terkejut dengan pemandangan di depannya, keringat dingin mengucur dari pelipis dan tubuhnya gemetar. Ini kedua kalinya wanita itu melihat kemarahan Bryan. Kejadian pertama saat ada seorang pria menyentuh tangannya, Bryan langsung menghajar habis-habisan pria itu tanpa ampun.
Aluna hanya memandang sayu, tubuhnya begitu lemah namun ia bisa melihat jelas bagaimana suaminya dengan gagah berani menghajar semua penculik.
Satu per satu para penculik tumbang ditangan Bryan dan anak buahnya. Bryan sudah diselimuti kabut amarah, wajah tampannya tergantikan oleh luka bekas pukulan, kemeja casual yang ia kenakan robek akibat pergulatan.
"Eliza!" Teriak Bryan.
Tubuh Eliza meremang. Ia semakin gemetar.
"Ry!" Ucap Eliza lirih.
__ADS_1
"A-aku...."
"T-tidak b-bermaksud...." Ucap Eliza terbata-bata.
"Kenapa kau melakukan ini?!" Tanya Bryan masih dengan nada tinggi.
"I-itu...."
"Jawab!"
"Ry, aku hanya ingin kau mencintaiku seorang."
"Aku tidak ingin ada wanita lain yang dicintai dan mencintaimu." Jawab Eliza dengan berkaca-kaca.
"Lantas mengapa kau juga menghancurkan keluargaku?"
"Karena aku dendam kepada daddymu akibat keegoisan tuan Reymond, bapakku meninggal!" Teriak Eliza.
"Maka dari itu, aku menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkannya."
"Dengan cara memperalatku?!"
"Bukan begitu Ry! Kamu salah paham."
Eliza panik karena kini jaraknya dengan Bryan semakin dekat.
"Ry, kamu tenang dulu."
Tanpa disadari, seorang penjahat berambut gondrong mengeluarkan sebuah pisau dan langsung menusuk punggung Bryan.
Sret
Darah merembes dari kemeja berwarna army milik Bryan. Rudy berlari dan menghajar penjahat itu.
"Tuan, anda terluka!" Ucap Rudy.
"Ry, maafkan aku!" Ucap Eliza memelas.
"Kamu wanita iblis, El!"
"Berniat melenyapkan istri dan kedua anakku yang masih di dalam kandungan."
"Aku khilaf Ry!"
Eliza berlutut di hadapan Bryan, ia menangkupkan kedua tangan. Mengharap belas kasih pria itu. Rasanya saat ini jalan terbaik untuk menyelamatkan nyawanya hanya memohon dan berharap Bryan bermurah hati mau melepaskannya.
Plak!
Bryan menampar pipi kanan Eliza.
Plak!
Kini giliran pipi kiri.
Bryan melakukannya berulang kali.
Aluna menyaksikan bagaimana perlakuan suaminya terhadap Eliza, menjadi kasihan. Ia mengerti mengapa wanita itu tega menculik dan berniat melenyapkannya. Wanita mana-pun pasti tidak akan suka jika pria yang ia cintai dimiliki orang lain.
"Mas!" Ucap Aluna lirih.
Bryan menghentikan kegiatanya. Pria itu menoleh ke arah Aluna yang sudah terkulai lemah dalam keadaan masih terikat. Bryan dan anak buahnya terlalu bersemangat hingga melupakan Aluna.
"Rudy, urus wanita ini dan pastikan ia mendekam selamanya dipenjara." Ucap Bryan dingin.
__ADS_1
"Sayang!" Bryan menyentuh wajah istrinya.
Disaat bersamaan, Rendra, pak polisi dan timnya sudah berkumpul diruangan yang sama. Bryan dibantu Rendra membuka ikatan tali yang mengikat lengan serta kaki Aluna.
"Sayang maafkan aku." Bryan membersihkan darah yang sudah mengering dari sudut bibir dan hidung istrinya.
Pria itu mencium seluruh wajah Aluna dan berhenti di bibir mungil gadis itu. Rendra hanya memandangi mereka dengan perasaan sakit di hati melihat kemesraan di depannya.
"Ehem! Tuan, sebaiknya kita segera bawa Aluna ke rumah sakit." Ucap Rendra.
Tanpa menunggu lama, Bryan menggendong tubuh istrinya.
"Sampai bertemu dirumah sakit." Ucap Bryan singkat.
Pria itu meninggalkan Rendra.
"Rudy, kita bawa istriku ke rumah sakit keluarga. Pastikan berita ini tidak sampai tersebar." Perintah Bryan
"Baik tuan."
Rudy pun melajukan mobilnya dan keluar dari pekarangan bangunan pabrik.
Bryan memberikan sebotol air mineral, ia sangat yakin pasti istrinya sangat kehausan.
"Sayang, minum-lah."
"Sakit!" Keluh Aluna.
"Iya sayang, sebentar lagi kita sampai."
"Bayi kita, mas."
"Mereka kuat, pasti akan baik-baik saja." Bryan menenangkan istrinya padahal jauh dilubuk hatinya sebetulnya ia pun khawatir dengan keadaan anak-anaknya.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku."
"Itu sudah kewajibanku sebagai suamimu." Bryan memeluk tubuh istrinya erat-erat. Ia melupakan rasa sakit dipunggung akibat terkena tusukan pisau.
"Mas, lukamu."
"Tidak apa-apa, nanti juga sembuh."
Aluna bisa mencium jelas aroma khas tubuh suaminya. Aroma yang selama ini sangat ia rindukan saat jauh dari pria itu.
"Maaf tuan, Eliza dan anak buahnya sudah dalam perjalanan menuju sel."
"Pastikan mereka membusuk dipenjara."
"Baik tuan."
"Apa perlu saya menelpon nyonya dan tuan Reymond?"
Bryan tak menjawab, ia teramat malu jika kedua orang tuanya mengetahui kejadian ini mereka pasti akan mencaci dirinya karena terlalu mempercayai wanita licik seperti Eliza.
"Tuan, saya yakin nyonya dan tuan besar tidak akan mencaci anda. Kehadiran mereka akan memberikan semangat untuk nyonya muda."
"Apa benar?"
"Benar tuan, melihat hubungan yang terjalin antara nyonya besar dan nyonya Aluna pasti saat ini support keluarga sangat berguna selama masa penyembuhan." Rudy meyakinkan sahabatnya.
"Kalau begitu, tolong minta mereka datang ke rumah sakit."
"Pasti tuan, dengan senang hati." Senyum tipis terukir dari wajah Rudy.
__ADS_1
"Kebahagiaan akan hadir kembali di keluarga Smith." Ucap Rudy.