
The Jasmine Resort and Spa terletak di area Seminyak, memiliki posisi yang sangat bagus dan stategis karena dekat dengan pusat perbelanjaan, restoran dan pantai di Bali. Hotel ini terletak 3.0 km dari pusat kota menggusung konsep bangunan khas Bali. Hotel berbintang lima menawarkan pelayanan superior dan sejumlah fasilitas mewah kepada para tamu, memiliki kamar 106, terdapat kolam renang umum dan private, sauna, spa dan masih banyak lagi.
Kamar resort yang dipesan Ayunda untuk bulan madu anak dan menantunya adalah tipe kamar ocean pool dengan ukuran kamar 190m2, memiliki kolam renang pribadi berukuran 5×7 meter, ruang sauna, kolam air panas out door ( jacuzzi) dan pemandangan menghadap langsung ke pantai sangat cocok untuk pasangan yang berbulan madu.
"Sebentar lagi matahari tenggelam, aku ingin ke pinggiran pantai. Apakah boleh?" Tanya Aluna ketika Bryan sedang bersantai di kursi panjang pinggir kolam renang.
"Boleh, tunggu aku ganti pakaian dulu."
"Aku bisa sendirian kok kesana. Kamu lanjutkan saja."
"Aku bilang tunggu, ya tunggu!" Tanpa menunggu lama, Bryan segera berjalan menuju kamar mengganti pakaian dengan kaos biru dan celana pendek berwarna putih tidak lupa memakai kacamata hitam sebagai aksesoris tambahan.
"Kalian ikut aku berjalan-jalan dipinggir pantai." Perintah Bryan ke pengawal yang sedang berjaga di depan kamar.
"Baik tuan."
"Loh kok mereka ikut juga sih mas." Aluna memasang wajah cemberut karena melihat kedua pengawal mengikuti mereka dari belakang.
"Dengarkan aku, mulai saat ini kamu harus terbiasa dengan kehadiran mereka." Bryan langsung merangkul Aluna dan mereka berjalan berdampingan dipesisir Pantai Seminyak, menikmati sunset.
"Kalau aku menolak bagaimana?" Kini Aluna melirik Bryan.
"Kamu tahu dunia bisnis itu banyak persaingan. Aku dan daddy sering memenangkan tender dan tentunya banyak pesaing yang merasa iri dengan keberhasilan perusahaan kita. Tidak menutup kemungkinan dari sebagian mereka menaruh dendam kepada aku atau daddy dan kemarin kita baru saja melangsungkan resepsi besar-besaran bahkan masuk media cetak dan elektronik. Aku khawatir, mereka akan mencelakaimu untuk membalas dendam." Bryan menjelaskan alasannya kenapa saat ini Aluna dikawal.
"Jika terjadi sesuatu kepadamu, aku yakin mommy dan nenek pasti akan menjewer telingaku sampai putus."
"Ha-ha-ha, kamu bisa saja." Aluna tertawa mendengar ucapan Bryan.
Bryan berhenti dan membalikan tubuh Aluna, saat ini posisi mereka berhadapan. Bryan maju satu langkah sehingga tidak ada jarak diantara mereka, dengan hati-hati Bryan meraih dan menggenggam kedua tangan Aluna.
"Untuk kali ini, aku mohon jangan menolaknya. Aku sungguh akan merasa bersalah jika hal buruk terjadi kepadamu. Kamu itu istriku dan aku bertanggung jawab untuk melindungi dan memastikan keselamatanmu. Jadi, patuh ya!" Bryan tersenyum lembut ke arah Aluna.
"Baik, kalau kamu memaksa." Aluna berlari meninggalkan Bryan sendirian.
Bryan mengejar Aluna, berusaha menangkapnya namun Aluna selalu menghindar.
Diam-diam kedua pengawal yang berjaga mengambil foto mereka dan mengirimkannya ke Ayunda.
__ADS_1
Bryan menghentikan kegiatannya dan segera merangkul kembali Aluna, memintanya duduk untuk menikmati senja.
"Aluna, bagaimana jika kita mencoba menjalankan peran suami-istri sesungguhnya. Apakah kamu bersedia?"
"Kamu jangan bercanda mas." Aluna masih meragukan ucapan Bryan karena dia berpikir orang dingin dan jutek sepertinya tidak mungkin dengan mudah mengungkapkan isi hati begitu saja kepada seorang wanita.
"Aku serius. Nanti aku akan meminta Rudy membatalkan perjanjian pra nikah kita sebagai bukti kesungguhanku. Bagaimana?"
Kali ini Aluna benar-benar melihat keseriusan terpancar dari kedua matanya, tidak ada sedikitpun kebohongan apalagi keraguan pada diri Bryan.
Aluna berpikir sejenak, menarik napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan.
"Baik, mari kita coba memulainya." Aluna memberikan senyuman terindah untuk pria dihadapannya.
Bryan sungguh bahagia mendengar penuturan Aluna. Dia segera membawa kepala Aluna ke da*a bidang miliknya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya.
"Jadi mulai saat ini, kita resmi pacaran dong." Tanya Bryan tiba-tiba membuyarkan suasana romantis.
"Sepertinya begitu." Pandangan Aluna masih fokus menatap langit yang mulai gelap.
Langit terang perlahan berganti berwarna jingga, menandakan sang fajar akan segera kembali ke peraduannya. Warna jinggal mulai muncul ditengah-tengah di antara langit yang mulai gelap cantik dan memukau. Keindahannya membius semua insan.
***
Senja kini berganti malam, matahari berganti bulan namun kebahagiaan masih menyelimuti kedua insan yang baru saja membuka lembaran baru.
Malam ini untuk pertama kalinya, Aluna dan Bryan makan malam bersama. Melakukan candle light dinner romantis ala anak muda zaman sekarang.
Bryan sudah rapih dengan setelan kemeja lengan panjang berwarna navy dan celana panjang berwarna putih sementara Aluna menggunakan gaun casual dibawah lutut berwarna navy dengan kerah O dipadukan high heels berwarna senada memancarkan kecantikan dan ketampanan bagi dua sejoli yang sedang dimabuk cinta.
"Malam ini kamu terlihat begitu cantik sayang!" Bryan tidak bisa mengalihkan pandangan karena malam ini Aluna benar-benar sangat cantik.
Bryan menciumi pundak mulus Aluna karena menggenakan kerah O sehingga dengan leluasa mendaratkan ribuan ciuman di pundak Aluna.
"Hentikan mas." Aluna menjauhkan diri namun tubuhnya ditarik Bryan.
"Biarkan aku menciuminya lebih lama lagi." Bryan seperti orang kesetanan, bolak balik menciumi pundak Aluna dengan sangat rakus sehingga membuat sang empunya kegelian.
__ADS_1
"Ehm mas, ayo kita berangkat. Sudah waktunya makan malam." Aluna berusaha mengalihkan perhatian Bryan.
"Kita batalkan saja bagaimana? Aku masih ingin berduaan denganmu sayang."
"Tidak bisa mas, perutku sudah lapar."
"Ayo kita berangkat." Lanjut Aluna.
Aluna bangkit dari kursi rias. Sebenarnya dia sedikit risih dengan sikap Bryan yang menciumi pundaknya dengan sangat rakus.
"Baiklah, ayo kita jalan tapi setelah makan malam aku ingin melanjutkan kegiatan tadi ya." Pinta Bryan dengan penuh permohonan.
"Hufh, tapi aku takut mas."
"Takut apa? Apakah kamu takut aku tidak bisa mengendalikan diri?" Tanya Bryan terus terang.
Aluna membelakan mata mendengar ucapan Bryan, apa yang dia pikirkan ternyata bisa dibaca oleh Bryan.
"Iya." Aluna menjawab singkat dan menundukan wajah.
kruyuk kruyuk
Ditengah percakapan serius antara Aluna-Bryan, tiba-tiba suara perut Aluna mengacaukan semuanya.
"Ya sudah, mari kita berangkat. Aku tidak ingin membiarkan istri kecilku kelaparan. Bagaimana kamu akan mengimbangiku jika kau kelaparan."
"Mengimbangi apa?" Tanya Aluna penuh curiga.
"Nanti juga kamu akan tahu."
Bryan mencolek dagu Aluna dan berjalan menuju pintu.
"Semoga mas Bryan tidak berniat macam-macam kepadaku." Gumam Aluna dan berjalan menyusul Bryan.
to be continued
Bryan udah mulai mengutarakan isi hatinya nih, Aluna juga sudah mau membuka hati. Kita tunggu keromantisan mereka yuk di episode selanjutnya. 😁
__ADS_1