
Kediaman Keluarga Smith
Malam harinya, Aluna baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu baru selesai membersihkan diri, seharian berada di kampus membuat tubuhnya lelah. Segudang kegiatan kampus mengguras energi dan pikirannya. Belum genap satu bulan sejak perkuliahan di semester baru dimulai gadis itu sudah merasa semua tenaganya terkuras habis.
Saat ini Aluna sedang memilih piyama tidur yang akan ia kenakan. Berkali-kali gadis itu membolak balikan piyama yang tergantung di lemari akhirnya ia menemukan piyama yang cocok. Pilihannya jatuh pada satu setel piyama berwarna hijau tosca bermotif bunga-bunga kecil, terdapat dua buah saku dibagian depan. Ia terlihat begitu imut menggenakan piyama tersebut.
La la la 🎶
Dum dum dum 🎶
Aluna bersenandung, kedua tangannya menggenggam sebuah alat pengering rambut.
"Ehm, kenapa tiba-tiba aku jadi ingin makan buah kiwi."
Gadis itu mematikan alat pengering yang ia genggam kemudian menaruhnya di laci meja rias. Ia berjalan keluar kamar dan menuruni rumah mewah itu menggunakan lift.
"Sepertinya semua orang sudah tertidur."
Ia berjalan mengendap-endap seperti seorang maling, tangannya meraba meja atau benda apa pun yang ada disampingnya menjaga agar tubuhnya tidak berjatuh karena keadaan di rumah itu gelap. Semua pencahayaan sudah dimatikan.
Bu Risa memergoki nyonya mudanya berjalan ke arah dapur segera menegur majikannya.
"Selamat malam nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
Aluna terperanjat karena mendengar suara seseorang di belakangnya.
"Astaga, Bu Risa! Bikin kaget saja!" Aluna mengelus dadanya.
"Maafkan saya, nyonya. Tidak bermaksud membuat anda kaget." Bu Risa merasa bersalah karena sudah membuat kaget majikannya.
"Tidak apa-apa bu."
"Apa anda membutuhkan sesuatu?"
"I-itu bu, di lemari es apakah ada buah kiwi?"
"Tiba-tiba saja aku ingin makan buah kiwi segar."
"Ada nyonya, biar saya ambilkan."
Bu Risa berjalan melewati Aluna dan mencari buah kiwi yang di inginkan oleh majikannya.
"Ini buah kiwinya nyonya." Ucap Bu Risa sambil menyodorkan sepiring buah kiwi yang sudah dikupas sebelumnya.
"Terima kasih." Aluna mengambil piring buah dan duduk dikursi barstool.
"Enak sekali." Aluna mengambil satu potong buah kiwi dan memasukannya ke dalam mulut.
"Apakah perlu saya nyalakan kembali lampunya?"
"Tidak usah bu. Biarkan seperti ini."
__ADS_1
Setelah menghabiskan satu piring buah kiwi segar, Aluna meminta Bu Risa mengantarkannya ke kamar.
"Terima kasih Bu Risa sudah mengantarkanku ke kamar."
"Sama-sama nyonya."
Bu Risa pamit kembali ke kamar untuk beristirahat, sementara Aluna berjalan ke arah ranjang, merebahkan tubuhnya diatas kasur dan menarik selimut. Ia mengelus perutnya yang masih rata dan berucap "malam ini cukup sampai disini dulu ya mamam buahnya anak-anak mommy, besok kita lanjut lagi." Sudut bibir gadis itu tertarik keatas, sebuah senyum simpul tercipta dari bibir mungil milik Aluna. Perlahan-lahan ia memejamkan mata dan terbuai dalam mimpi indah.
Tepat pukul enam pagi, seluruh pelayan yang bekerja di rumah Smith sudah siap dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang bertugas mencuci piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyetrika pakaian dan ada juga yang menyapu halaman. Keenam pelayan tersebut selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan teliti setiap hari, diawasi langsung oleh Bu Risa selaku kepala pelayan rumah tangga.
Nyonya dan tuan besar Smith tengah asyik menikmati secangkir kopi hangat di taman belakang, mereka menghirup udara pagi dengan penuh rasa syukur. Shera, nona muda keluarga Smith sedang menyiapkan semua kebutuhan sekolah di kamarnya di lantai dua. Sementara Aluna masih bermalas-malasan diatas ranjang empuk di kamarnya namun tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang mau keluar dari mulutnya. Ia segera menyingkirkan selimut dari tubuhnya, berlari ke arah westafel dan memuntahkan isi perutnya.
Oek
Oek
Oek
"Setiap pagi kenapa selalu begini?" Aluna terkulai lemah di lantai.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia berdiri dan bertumpu pada benda disekitar untuk bisa kembali ke ranjang.
Hiks
Hiks
Hiks
Aluna menekan bel yang berada disamping nakas ranjang. Bel itu berfungsi untuk memanggil pelayan untuk datang ke kamar. Di setiap kamar di kediaman Smith sudah disediakan bel tersebut baik di kamar utama maupun kamar tamu agar memudahkan penghuni rumah ketika membutuhkan bantuan para pelayan.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!"
Muncul seorang pelayan dari balik pintu.
"Permisi nyonya muda, apa yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayan wanita berusia sekitar tiga puluh tahun.
"Tolong buatkan aku wedang jahe hangat"
"Baik nyonya."
Pelayan itu berbalik dan meninggalkan Aluna.
"Kamu membuatkan wedang jahe untuk siapa?"
__ADS_1
"Nyonya muda. Aku perhatikan akhir-akhir ini setiap pagi dia selalu muntah."
"Jangan-jangan, nyonya muda sedang hamil."
Sontak semua pelayan yang sedang berkumpul di dapur langsung bersorak kegirangan.
"Tunggu! Kita jangan senang dulu, bisa saja penyakit maag nyonya Aluna sedang kambuh."
"Iya ya, benar katamu."
"Selama belum ada pengumuman, kita jangan senang dulu."
"Iya benar."
"Ya sudah, aku antarkan wedang ini dulu untuk nyonya muda."
Kelima pelayan itu langsung bubar dan kembali bekerja. Satu orang pelayan menuju kamar Aluna.
"Ini wedangnya nyonya."
"Baik, terima kasih."
"Masih ada yang dibutuhkan?"
"Pagi ini aku ingin makan roti tawar isi selai marmaled, telur mata sapi setengah matang dan segelas susu segar diantarkan ke kamar, bisa?"
Pelayan itu melongo mendengar permintaan Aluna, tidak biasanya nyonya muda keluarga Smith meminta sarapan pagi dengan berbagai varian menu.
"Hei, mbak Susi. Apa kamu mendengarku?" Aluna melambaikan tangan ke depan pelayan itu.
"Eh, iya nyonya. Bisa!"
"Akan saya buatkan."
"Cepat ya, air liur ku sudah tak tertahankan lagi ingin secepat mungkin menyantapnya."
"Baik nyonya."
Pelayan itu berlari, tidak ingin membuat Aluna menunggu terlalu lama.
"Sabar ya sayang, sarapan kalian sedang dibuatkan."
Aluna mengelus lembut perut ratanya dengan kedua tangan. Ia bersenandung sambil sesekali tersenyum.
"Anak-anak mommy sehat terus di dalam perut ya, tidak boleh nakal apalagi membuat susah."
Tiba-tiba gadis itu jadi teringat mendiang mamanya, satu butir kristal bening meluncur tanpa izin dari sang empunya.
Apa dulu mama mengalami morning sickness juga sepertiku? Terus sikap papa bagaimana untuk membantu meringankan penderitaan mama? Apakah papa selalu siaga berada didekat mama selama masa kehamilan? Apakah aku mampu menjadi mommy yang baik bagi kedua anak-anakku? (Aluna).
Sejuta pertanyaan memenuhi benak Aluna, ia memerlukan jawaban segera namun gadis itu tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Biasanya disaat genting sepertinya ini, ia bisa menanyakan segala hal kepada Bryan namun saat ini pria yang menikahinya tidak berada disisi gadis itu membuatnya semakin sedih.
__ADS_1
"I really miss you, mas!"