Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Lanjutan episode kemarin....


Happy reading 🤗


"Lantas...."


"Kita fokus membahas soal Eliza."


"Mas, tujuan Eliza mendekatimu karena dia ingin hubungan antara kamu dengan daddy putus."


Aluna menatap wajah suaminya, kini tatapan mata mereka beradu.


"Eliza kembali ke Indonesia karena ia ingin menghancurkan keluarga Smith."


"Tolong percaya padaku." Aluna menggenggam tangan suaminya.


"Terima kasih karena kamu masih perhatian terhadapku dan juga daddy." Lanjut Bryan.


Setelah mengucapkan kalimat itu, seperti ada medan magnet pada diri Aluna membuat Bryan mendekati tubuhnya dan mencondongkan wajah ke arah istrinya. Ia tak kuasa menahan hasrat untuk mencicipi bibir ranum gadis itu. Bibir merah jambu, mungil dan tipis ibarat candu baginya, terasa manis seperti madu.


"Ehm, mas."


Aluna mendorong dada suaminya.


"Kita dalam proses perceraian, tidak pantas melakukannya."


"Apa kamu benar-benar ingin berpisah denganku?" Tanya Bryan.


"Sejak kamu meminta untuk memulai semuanya dari awal, aku bertekad dalam hati bahwa sampai kapanpun tidak akan meninggalkanmu namun ternyata dirimu sendiri yang menginginkan perpisahan ini jadi tolong jangan salahkan aku!"


"Jika kita berpisah nanti, cari-lah pendamping yang benar-benar tulus mencintaimu dan keluarga Smith."


"Jangan bertengkar lagi dengan daddy. Beliau adalah orang tuamu jadi bersikap hormat-lah kepadanya. Tidak boleh jadi anak durhaka."


Aluna melirik arloji di tangan kirinya. Waktu menunjukan pukul empat sore, itu artinya ia sudah satu jam berada di kantor Bryan.


"Sudah sore, aku harus pulang. Kak Rendra pasti cemas karena jam segini belum sampai rumah."


"Apa kamu tidak berniat pindah dari rumah itu?"


Bryan menaikan satu alisnya ke atas.


"Belum menemukan tempat tinggal yang cocok."


"Perlu aku bantu?"


"Tidak perlu!"


"Kapan kamu akan check up kandungan?" Tanya Bryan basa-basi. Pria itu berniat mengulur waktu karena ia masih ingin berlama-lama bersama istrinya.


"Mungkin dua minggu lagi, genap usia kandungan dua belas minggu."


"Apa masih sering mual dan muntah?"


"Sudah berkurang."


"Apa anak-anakku menyusahkanmu selama berada di dalam kandungan?"


"Mas, kenapa baru sekarang kamu memberikan perhatian kepadaku. Disaat aku sudah mulai melepaskanmu." Ucap gadis itu dalam hati.


"Tidak, mereka sama sekali tidak menyusahkanku." Seulas senyum terlukis di wajah gadis itu.


***


"Nona, silahkan ikutin saya. Tuan Rudy sudah menunggu diruangannya." Seorang resepsionis mengantarkan Rossa ke ruanga kerja Rudy.


"Sebelah sini."


Rossa mengikuti semua arahan wanita yang berjalan di depannya.

__ADS_1


"Ini ruangannya."


"Terima kasih mbak."


"Sama-sama. Semoga kencan kalian berjalan lancar."


"Hah!"


Resepsionis itu hanya tersenyum dan meninggalkan Rossa yang berdiri di depan pintu ruang kerja milik Rudy.


"Kencan kok dikantor!" Rossa mendengus kesal.


Tok


Tok


Tok


"Permisi tuan, ini saya Rossa."


"Silahkan masuk." Ucap Rudy.


"Halo tuan, saya Rossa sahabatnya Aluna."


Rossa mengulurkan tangan.


"Saya Rudy asisten tuan Bryan."


Kini keduanya berjabat tangan.


"Silahkan duduk."


"Terima kasih."


Rossa duduk disebuah kursi kantor hadap berwarna hitam, terbuat dari bahan kain jaring, bagian sandaran menggunakan bahan jaring dan bagian kaki terbuat dari besi kokoh.


"Mengenai Eliza si wewe gombel."


Rudy terkekeh mendengar ucapan Rossa.


"Maaf tuan, saya memang kalau ngomong sering ceplas ceplos." Rossa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tidak masalah."


"Lanjutkan!"


"Tadi sepulang kuliah, saya dan Aluna mampir ke sebuah restoran Jepang. Ketika sedang menyantap hidangan, Aluna mendengar percakapan antara Eliza dan temannya karena posisi mereka saling membelakangi sehingga sahabat saya bisa mendengar jelas semua pembicaraan wanita itu."


"Wanita itu mendekati tuan Bryan hanya ingin membalas dendam kepada tuan Reymond. Aluna tidak terima dan langsung melabrak wanita ganjen itu."


"Saya takut wanita itu berniat mencelakai Aluna. Jadi...."


"Silahkan lanjutkan."


Rudy melihat keraguan pada diri gadis yang sedang duduk dihadapannya.


"Jadi saya datang kesini ingin meminta bantuan anda untuk menjaga Aluna. Dengan kondisi dia saat ini, khawatir Eliza akan mencelakai dan juga bayi di dalam kandungannya."


Rudy tersenyum.


"Sebetulnya, saya sudah mengetahui rencana licik wanita itu dan ada sebuah rahasia juga yang ia sendiri tidak mengetahuinya."


Rossa tercengang.


"B-bagaimana anda bisa tahu?" Tanya Rossa gugup.


"Saat pertama kali bertemu dengannya di sebuah restoran dan ia memilih perusahaan kami menangani pembangunan museum milik wanita itu, saya langsung curiga."


"Puncak kecurigaan saya saat acara reuni akbar lalu, dari situ mulai meminta seseorang untuk menyelidiki kedatangan Eliza. Semua peristiwa terjadi secara kebetulan."

__ADS_1


Rossa menganggukan kepala. Ia serius mendengar perkataan Rudy.


"Selanjutnya, kamu pasti sudah tahu."


"Aih, wanita itu benar-benar jahat, licik dan tidak tahu malu."


"Lantas mengapa anda tidak langsung menyerahkan bukti kebusukan wewe gombel itu kepada tuan Bryan."


"Saya sedang menunggu waktu yang tepat untuk membongkar kelicikan Eliza."


"Apa tuan Reymond sudah mengetahui hasil penyelidikan anda?" Tanya Rossa penasaran.


Semakin lama berbincang dengan Rudy, gadis itu semakin antusias.


"Tidak ada satu orang-pun mengetahui hal ini." Rudy menopang dagu dengan tangan.


"Bersifat rahasia?"


"Betul!"


"Kalau rahasia, kenapa anda memberitahu saya?"


"Karena kamu gadis istimewa."


~blush~


Wajah gadis itu seketika merona.


Apa, istimewa? Tunggu, aku tidak salah dengar 'kan! Tadi dia bilang aku gadis istimewa! Oh astaga, kenapa tiba-tiba saja aku merasa tersanjung dengan pujian pria ini. Jangan-jangan aku menyukainya. Tidak....Tidak mungkin! Kami baru pertama kali bertemu mana mungkin aku menyukainya. (Rossa).


Rossa menggelengkan kepala.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Rudy cemas.


"Iya tuan!"


"Saya percaya kamu bisa amanah. Tolong jangan sampai nyonya muda dan orang diluaran sana mengetahui rahasia ini saat waktunya tiba maka saya orang pertama yang akan membongkarnya." Senyum smirk terukir di sudut bibir pria itu.


"Soal keselamatan nyonya muda, saya akan meminta tuan Bagas menyediakan pengawal terbaiknya untuk menjaga nyonya muda tapi kali ini mereka akan menjaganya dari jauh atau dengan kata lain menyamar agar Eliza tidak curiga."


"Baik tuan."


"Saya juga berjanji akan menjaga rahasia ini." Rossa mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.


"Nyonya muda beruntung sekali memiliki sahabat sepertimu."


Lagi-lagi Rudy memuji Rossa.


OMG, lama-lama berada disini aku benar-benar akan jatuh cinta. Bagaimana ini? Benteng pertahananku hampir roboh akibat diterjang badai pujian dari pria tampan ini. (Rossa).


"Eh, i-iya tuan. Bagi saya, Aluna bukan sekedar sahabat tapi sudah seperti saudara sendiri. Tuan tahu tidak, dulu kami berencana menjodohkan papa Alexander dengan bunda tapi sayang tidak berhasil."


"Alasannya?" Kini giliran Rudy yang penasaran dengan cerita Rossa.


"Karena papa Alex dan bunda saya sama-sama tidak berencana menikah lagi."


"Loh kok begitu, seharusnya bundamu dan tuan Alex menikah saja. Sama-sama single!"


"Tuh kan, tuan Rudy berpikiran sama seperti kami saat itu."


"Kami menggunakan berbagai macam cara mendekatkan mereka tapi selalu gagal hingga akhirnya saya dan Aluna menyerah."


"Sangat disayangkan sekali ya." Ucap Rudy.


"Hu'um."


Akhirnya mereka semakin terlibat dalam sebuah percakapan seru hingga lupa waktu.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2