
Happy reading 🍂
Setelah terjadi kesepakatan antara Rendra dan Okky terjalin, kini setiap hari murid laki-laki itu rajin memberikan informasi tentang Aluna, murid perempuan yang telah menusukan panah asmara ke hati si "idola sekolah" bernama Rendra Saputra seperti hobi, makanan kesukaan, warna favorit pokoknya semua informasi umum tentang Aluna. Rendra merangkum semua informasi ke dalam sebuah buku agenda khusus yang selalu ia bawa kemana-mana. Buku itu tak pernah jauh dari jangkauannya, bahkan tidur sekalipun buku tersebut selalu ia letakan disamping kasur. Ia menjaganya dengan hati-hati seperti sedang menjaga sebongkah berlian yang sangat mahal.
Hari pertama dengan status murid SMA Harapan Pelita, Aluna dan murid yang lain begitu semangat menjalani peran baru serta lingkungan sekolah yang baru.
"Selamat pagi." Sapa Rendra ketika melihat Aluna turun dari motor diantarkan papa nya, Alexander.
"Oh, selamat pagi kak." Aluna membalas sapaan pria itu.
Alexander hanya memandangi gerak gerik mereka dari kejauhan.
"Kejadian tempo hari, aku minta maaf karena sudah menegurmu terlalu keras." Rendra meminta maaf karena merasa tidak enak hati sudah menegur Aluna dan Rossa ditengah ia sedang memberikan pengarahan kepada murid baru yang lain.
"Tidak apa-apa memang saat itu aku yang bersalah jadi wajar kalau kakak menegur." Aluna mengusap tengkuk karena canggung.
"Oh iya, kenalkan namaku Rendra Saputra." Rendra menyodorkan tangan untuk menjabat tangan Aluna.
Gadis di depan hanya diam, baginya seperti mimpi bisa mengobrol dan berjabat tangan dengan murid paling populer se-SMA.
Rendra masih dengan posisinya.
"Aku, Aluna Alexander. Panggil saja Aluna atau Luna." Gadis itu menjabat tangan Rendra.
Seketika ada perasaan aneh pada diri Aluna ketika ia menjabat tangan Rendra namun segera ditepis perasaan itu.
"Ayo masuk, sebentar lagi upacara akan dimulai."
Tepat pukul tujuh pagi, bel sekolah berbunyi dan seluruh murid SMA Harapan Pelita berkumpul di halaman sekolah untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera yang biasa dilakukan pada hari senin.
Upacara bendera hari senin sudah menjadi rutinitas wajib bagi lembaga pendidikan terutama sekolah baik sekolah negeri maupun swasta.
Upacara bendera mempunyai manfaat yang sangat baik bagi upaya penumbuhan budi pekerti dan karakter bangsa terutama nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Nilai-nilai tersebut diantaranya nilai kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama dan kekompakan, kekuatan fisik dan mental, patroitisme (kepahlawanan) dan masih banyak lagi.
Seluruh petugas, pemimpin dan pasukan upacara sudah berbaris rapi dengan posisi tegak dan siap memulai upacara.
Skip
Skip
Skip
Selama kurang lebih satu jam, akhirnya upacara bendera telah selesai. Masing-masing murid sudah kembali ke kelas dan semua guru memulai kegiatan mengajar.
Seorang guru wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun memasuki ruang kelas 1B.
"Halo, selamat pagi semua. Perkenalkan nama saya, Ibu Fatimah guru mata pelajaran Bahasa Inggris sekaligus wali kelas kalian selama satu tahun kedepan." Bu Fatimah memperkenalkan diri di depan kelas sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
"Sebelum memulai pembelajaran pagi ini, ibu akan mengabsen kalian satu-satu sekalian ingin berkenalan."
__ADS_1
Bu Fatimah mengabsen satu per satu murid kelas 1B termasuk Aluna dan Rossa.
Skip
Skip
Skip
Teng teng teng
Bunyi bel istirahat berbunyi, menandakan kegiatan belajar mengajar harus terhenti sementara.
"Aluna, ayo ke kantin." Rossa mengajak sahabatnya makan di kantin sekolah.
"Tunggu, aku membereskan ini dulu."
Aluna memasukan buku tulis dan kotak pensil ke dalam tas ransel kemudian menutupnya dengan rapat.
Mereka berjalan menuju kantin, disana mereka bertemu dengan Rendra dan teman geng nya.
"Aku kesana dulu." Rendra pamit meninggalkan teman-temannya.
Rendra mendekati Aluna yang sedang duduk di kursi bawah pohon beringin.
"Aluna, boleh aku duduk disini."
"Oh kak Rendra, tentu saja boleh. Silahkan."
"Aku ganggu kalian?"
"Tidak kok."
Rossa membawa satu mangkuk mie rebus instan lengkap dengan telur dan sosis dan meletakannya ke atas meja.
"Punya mu masih dibuatkan, sebentar lagi matang." Ucap Rossa ke Aluna.
"Memang kamu pesan apa?"
"Aku pesan mie ayam kak. Kakak tidak sekalian pesan makanan?"
"Aku sudah pesan mie ayam juga tapi masih nunggu."
"Oh."
Aluna ber "oh" ria.
"Oh iya, minggu depan sekolah kita akan mengadakan makrab. Apakah kalian ikut?"
"Tentu!" Jawab Aluna dan Rossa serempak.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mie ayam yang dipesan oleh Aluna dan Rendra sudah matang. Rendra menawarkan diri untuk membawakan mangkuk mie ayam milik Aluna.
"Selamat makan." Ucap Aluna.
Aluna, Rossa dan Rendra menikmati makanan dengan diselingi obrolan tentang pengalaman selama menjalani kegiatan MOS.
Satu minggu kemudian
Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid kelas 1 tiba, mereka akan mengadakan kegiatan Makrab (Malam Keakraban) yang diselenggarakan oleh pengurus OSIS. Siang hari mereka sudah berkumpul sesuai urutan kelas dan berbaris di lapangan mendengarkan sambutan-sambutan dari pihak sekolah dan ketua panitia.
Makrab atau malam keakraban merupakan sebuah serangkaian acara dari pengenalan sekolah bagi murid baru dengan tujuan untuk mengakrabkan sesama murid baru dan juga para senior atau kakak kelas.
"Nanti malam akan ada api unggun dan acara ramah tamah jadi kalian persiapkan satu atau dua orang sebagai perwakilan kelas untuk tampil." Ucap Nurma selaku penanggung jawab kelas 1B.
"Aku tidak mau maju." Ucap murid A.
"Aku juga tidak mau." Ucap murid B.
Terjadi keributan di kelas karena dari empat puluh murid kelas 1B tidak ada yang mau menjadi perwakilan kelas.
"Bagaimana kalau Aluna saja yang maju."
"Aku pernah mendengar dia bernyanyi dan suaranya cukup merdu." Rossa memberikan saran.
"Sekalian kamu maju juga Rossa, temani Aluna." Ucap murid C.
"Benar."
"Ngaco kamu, aku mengidap penyakit demam panggung. Jika aku maju maka akan merusak acara."
"Oh iya, kamu tidak ingat waktu dia memperkenalkan diri di depan kelas. Seluruh tubuhnya bergetar karena gugup." Ucap murid A.
"Ha-ha-ha." Semua murid tertawa mengingat kejadian sewaktu kegiatan MOS masih berlangsung.
"Ih, kalian mengapa menertawakanku?" Rossa kesal karena semua teman kelas mengejeknya.
"Sudah, kalian tidak usah ribut lagi." Ucap Nurma yang sedari tadi mendengar diskusi yang terjadi di kelas 1B.
"Kita tanyakan dulu, apakah Aluna bersedia menjadi wakil kelas untuk tampil nanti malam."
"Bagaimana Aluna, kamu bersedia?"
Semua murid menatap Aluna penuh dengan permohonan, berharap agar ia bersedia tampil dalam acara nanti malam.
"Baik, aku bersedia. Jika aku berbuat kesalahan pas tampil nanti tolong dimaafkan ya karena ini pertama kalinya aku bernyanyi di depan umum."
"Kamu tenang saja, kami tidak akan menghukum mu."
Akhirnya semua murid kelas 1B bisa bernapas lega karena Aluna bersedia tampil dalam acara api unggun nanti malam.
__ADS_1
to be continued....