Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Bryan Versi Kecil


__ADS_3

Previously...


"Ehm, bagaimana jika pernikahan itu diadakan dua bulan setelah Rossa dan Tuan Ruddy menikah? Ya sekitar empat bulanan dari sekarang. Selain itu, Aluna ingin meminta sesuatu, apakah boleh?" Tanya Aluna ragu.


"Apa, katakan saja."


"Aluna ingin pernikahan nanti diadakan di Jakarta dan sebelum akad nikah dilakukan ingin sekali rasanya berziarah ke makam papa dan mama. Sudah hampir lima tahun Aluna tidak kesana."


"Boleh?" Tanya Aluna penuh harap.


"Tentu saja boleh." Jawab Rendra.


"Baik-lah jika mau kalian begitu. Kami sebagai orang tua hanya bisa menuruti dan membantu persiapan pernikahan." Ucap tantenya Rendra.


***


Dua Bulan Kemudian


Aluna, si kembar dan Bi Sumi sudah duduk di kursi penumpang. Mereka sedang berada di pesawat jet pribadi milik Papa Fengying. Besok merupakan hari bersejarah dalam hidup Rossa karena ia akan melangsungkan pernikahan di salah satu gereja terkenal di Jakarta. Aluna berencana menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya karena pagi harinya ia ada janji dengan seorang desainer baju pengantin oleh sebab itu ia tidak bisa datang saat pemberkatan berlangsung.


Satu setengah jam waktu tempuh antara Singapura-Jakarta, kini mereka sudah berada di bandara sedang menunggu jemputan. Aluna sedang sibuk memainkan smartphone memesan sebuah apartemen untuk disewa selama beberapa bulan tinggal di Jakarta. Ia membandingkan dengan apartemen yang sengaja Rendra pesan untuknya.


"Mami, I want to pee." Ucap Arya.


"Mau pipis?"


"Hu'um, kebelet mami." Arya menyentuh bagian celana panjang miliknya.


Mukanya memerah akibat menahan pipis.


Aluna melihat wajah putranya sungguh menggemaskan apalagi saat merengek mirip sekali dengan papinya.


"Diantar Bi Sumi saja ya."


"Aryan mau ikut juga?"


Aryan mengangguk.


"Bi, tolong ajak mereka ke toilet biar Aluna tunggu disini."


"Baik nyonya."


Bi Sumi menggandeng tangan kedua anak majikannya.


Bugh!


"Aw!" Pekik si bungsu, Arya.


Arya terjatuh ke lantai saat ia baru saja keluar dari toilet wanita. Anak itu menunggu Bi Sumi dan kakak kembarnya di depan pintu masuk toilet. Ia berlarian kesana kemari karena terlalu excited, untuk pertama kalinya bocah itu menginjakan kaki di tanah air tempat maminya dilahirkan.


"Maaf om, Alya tidak cengaja."

__ADS_1


Pria itu tercengang karena anak berusia lima tahun sudah bisa mengucapkan kata maaf dengan lantang akibat tidak sengaja menabrak seseorang.


"Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya Pria itu.


Ia membantu Arya berdiri. Aryan memperhatikan saudara kembarnya dari kejauhan, ia baru saja keluar dari toilet diantar Bi Sumi. Posisi pria itu membelakangi Aryan jadi bocah itu tidak bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki yang menabrak adiknya. Bi Sumi melihat Arya berinteraksi dengan orang asing segera menghampiri dan menarik tangan bocah itu.


"Tuan muda tidak apa-apa?" Tanya Bi Sumi.


"Ini anak ibu?"


"Anak majikan saya, tuan. Maafkan dia ya tuan." Bi Sumi membungkukan badan.


"Tidak masalah, lagipula saya juga yang salah."


Pria itu melirik dan pada detik berikutnya ia mematung menatap lekat wajah anak kecil yang sedang berdiri disamping Bi Sumi.


"Wajah anak ini mengapa begitu mirip denganku?" Tanyanya dalam hati.


"Ayo tuan muda, kita temui mami. Pasti sudah menunggu." Ajak Bi Sumi


Belum habis dari keterkejutan, Bryan sudah kehilangan jejak mereka.


"Sial, kemana perginya mereka." Maki Bryan.


Ia berlari mencari jejak wanita paru baya itu namun menghilang begitu saja sementara Bi Sumi sudah berada dalam mobil saat Bryan mencarinya.


"Tuan, anda kenapa?" Tanya Ruddy.


"Rud, tadi aku tak sengaja menabrak seorang anak kecil. Wajahnya sangat mirip denganku."


"Bukan, bukan hanya wajah tapi hidung dan bibirnya mirip denganku. Dan... Dan matanya mirip istriku. Oh tidak maksudku mantan istriku. Tidak, istriku!" Ucap Bryan. Ia terlalu antusias sehingga tidak bisa bicara dengan benar. Pikirannya dipenuhi oleh rasa bahagia karena bertemu dengan seorang anak kecil yang mirip dengannya.


"Mungkin hanya mirip saja tuan, belum tentu itu putra anda."


"Brengsek kau Rud! Mengapa kau mematahkan keyakinanku?" Bryan mencengkram kerah kemeja milik Ruddy.


"Saya tidak mau anda terlalu berharap, tuan."


Bryan melepaskan cengkramannya.


"Kita ke makam Papa Alexander. Aku ingin berziarah."


***


Pemakaman Umum


Seorang wanita muda ditemani dua orang putra kembarnya sedang melantunkan ayat-ayat pendek Al-Qur'an dan do'a untuk mendiang papa dan mamanya. Ia sengaja mengunjungi makam kedua orang tuanya sebelum menuju penginapan.


"Pa, ma, Aluna datang. Ini si kembar, Aryan dan Aryan."


"Maafkan Aluna baru bisa mengunjungi makam kalian, tapi do'a selalu aku panjatkan setelah selesai sholat."

__ADS_1


Aluna menaburkan bunga dan sebotol air untuk kedua makam orang tuanya. Kemudian ia meletakan dua buket bunga forget me not yang melambangkan kesetiaan kepada pasangan. Bunga ini merupakan salah satu bunga favorit Aluna dan ia banyak mengoleksi bunga tersebut saat masih tinggal di kediaman Smith.


"Pa, ma, Aluna pamit dulu. Kapan-kapan aku kesini lagi mengajak si kembar."


"Ayo sayang, kita pulang."


"Bye-bye, gland ma, gland pa." Ucap Arya.


Selang beberapa menit kemudian, turun seorang pria dari mobilnya. Ia berjalan dengan langkah panjang menuju makam orang tua mantan istrinya.


"Benar dugaanku, kau sudah kembali sayang."


Hati Bryan berbunga-bunga saat melihat dua buket bunga segar forget me not berada diatas pembaringan terakhir mantan mertuanya.


"Tuan, are you ok?" Ruddy menepuk pundak Bryan.


"Dia sudah kembali."


"Siapa?"


"Aluna, istriku." Ucapnya seraya tersenyum memperhatikan bunga yang ada di depannya.


"Aku yakin, anak kecil itu adalah anak-anaku."


"Tuan...."


"Ruddy, percayalah kali ini aku tidak berhalusinasi. Aluna benar-benar sudah kembali."


Awalnya Ruddy tidak mempercayai ucapan Bryan namun saat matanya melihat buket bunga forget me not, pria itu yakin bahwa Aluna memang sudah kembali. Wanita itu kembali bersama kedua putranya.


"Ruddy, apakah Rossa tidak memberitahumu bahwa Aluna akan datang saat pernikahan kalian?" Tanya Bryan.


Kini Bryan dan Ruddy sudah berada di dalam mobil, karena hari semakin sore dan langit berubah menjadi mendung mereka memutuskan kembali pulang.


"Tidak tuan. Ocha tidak memberitahu saya apa-apa terkait nyonya muda."


Bryan menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Aneh sekali. Aku curiga selama ini kalian menyembunyikan sesuatu dibelakangku." Ucapnya penuh selidik.


Aduh! Jika Tuan Bryan curiga bahwa selama ini aku sudah bekerjasama menutupi keberadaan nyonya muda bisa bahaya, namun aku juga tidak bisa membiarkan ketenangan nyonya muda diganggu oleh mantan suaminya. Sekarang nyonya muda sudah kembali, itu artinya ia sudah siap bertemu dengan Tuan Bryan dan entah apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya. (Ruddy)


"Anda jangan berburuk sangka terus tuan, tidak baik bagi kejiwaan anda."


"Cih, kamu pikir aku sudah gila?"


"Anda memang gila karena sudah dicampakan nyonya muda."


"Sialan!" Maki Bryan.


Ruddy hanya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2