
Happy reading....
Indahnya malam dalam balutan warna hitam, bertebaran bintang diatas langit laksana berlian ditemani sang rembulan menambah keindahan malam ini.
Rembulan bersinar dengan begitu indah, bintang-bintang berkelap kelip menampakkan pesonanya keseluruh umat manusia, seolah-olah mereka ikut merayakan atas penyatuan dua hati yang sudah ditakdirkan untuk bersama. Malam ini, seisi bumi dan ciptaan-Nya menyaksikan dua insan manusia yang memiliki sifat dan kepribadian berbeda melebur jadi satu.
Saat tengah malam, kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta baru saja menyelesaikan acara makan malam romantis disebuah restoran yang ada di kawasan Seminyak, Bali. Menuruni anak tangga setapak demi setapak hingga diujung anak tangga terakhir.
Bryan mengulurkan tangan memastikan tubuh Aluna tidak terjatuh ketika menuruni anak tangga.
"Hati-hati."
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, sesekali Bryan melirik ke arah Aluna memperhatikan wajah cantik istrinya tersebut dalam balutan dress berwarna navy. Mengamatinya dalam diam namun penuh dengan kekaguman.
"Sungguh selama ini aku menyesal sudah menyia-nyiakan permata yang begitu indah hanya untuk menantikan permata indah yang lain." Bryan bergumam dalam hati. Dia merasa bodoh karena selama ini sudah membuang waktu dengan percuma, menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk mencari keberadaan Eliza tanpa melihat kesamping. Untung saja dia segera menyadarinya sebelum permata berharga disampingnya terlepas dan menjadi milik orang lain.
"Tuan, apakah ada tempat lain yang ingin anda kunjungi malam ini?" Tanya Putu masih setia menunggu komando.
Bryan merubah posisi duduk dengan lebih santai, melepas satu kancing bagian atas dan melipat kedua lengan kemeja.
"Aku mengikuti saja kemauan istriku. Bagaimana sayang, mau langsung pulang atau mampir kesuatu tempat dulu?"
Aluna menyenderkan kepala kebelakang, memejamkan mata secara perlahan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Bryan.
"Kita langsung pulang saja ke resort. Tubuhku lelah sekali."
"Baik."
Putu segera menyalakan mesin mobil, meninggalkan area parkir dan bergabung dengan kendaraan lain membelah jalanan utama kota Bali.
Bryan melirik Aluna yang sedang bersandar di seat penumpang.
"Kamu lelah hari ini?"
"Sangat."
"Tapi aku bahagia mendapatkan kejutan makan malam romantis darimu mas." Aluna menjawab semua pertanyaan Bryan dengan mata masih terpejam. Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk membuka mata, rasanya hari ini tubuhnya benar-benar letih.
"Aku akan meminta imbalan dari kejutan yang diberikan." Kini Bryan ikut menyandarkan kepala di seat penumpang.
__ADS_1
"Imbalan apa yang kau inginkan?"
"Kehadiran malaikat kecil diperutmu."
Sontak Aluna terbangun dan membenarkan posisi duduk, sementara Putu yang sedang sibuk mengemudi memasang telinga lebar-lebar mencari informasi terbaru dari hubungan mereka untuk segera dilaporkan ke Reymond dan Ayunda.
"Jika sampai misi ini sukses maka jasa sewa mobil ayahku akan banyak peminat." Ucap Putu dalam hati. Putu berani menerima misi ini karena Reymond dan Ayunda menjanjikan imbalan yang sangat besar bagi usaha sewa mobil milik ayahnya.
"Kamu jangan bercanda mas!" Perasaan Aluna campur aduk antara panik, bingung dan kaget menyatu dalam satu titik yang membuat Aluna ingin rasanya memaki suaminya sendiri.
Kalian bisa membayangkannya sendiri, baru sore hari mereka berdamai dengan keadaan tapi kini Bryan sudah membahas soal anak. Kalau kalian jadi Aluna bagaimana reaksinya? 😁
"Aku serius, memangnya kamu tidak ingin memiliki anak denganku?" Bryan menelisik dengan tatapan tajam seperti sebuah pisau yang baru saja diasah.
"B-bukan begitu hanya saja, aku belum siap." Aluna tidak berdaya menatap tatapan tajam dari Bryan. Tatapan itu begitu tajam dan Aluna tak kuasa berlama-lama membalas.
"Jangan tundukan pandanganmu."
"Lihat mataku, Aluna!" Bryan tidak bisa menahan emosi segera menyentuh dagu Aluna.
"Apa yang membuatmu belum siap? Apa kamu masih ragu dengan keseriusanku?"
"I-itu, a-aku...."
"Maaf tuan-nyonya, kita sudah sampai di resort." Sebetulnya Putu masih ingin berlama-lama mendengarkan percakapan mereka hanya saja ini sudah larut malam dan dia sudah mulai mengantuk.
"Ehm."
Bryan segera membuka pintu mobil, meningglkan Aluna yang masih terduduk di kursi penumpang. Putu melihat kejadian itu segera berinisiatif membukakan pintu untuk nyonya muda Bryan.
"Terima kasih." Ucap Aluna lirih sambil berjalan.
Bryan sama sekali tidak menoleh sedikitpun kearah belakang, tidak mengecek apakah Aluna sudah turun dan mengekorinya dari belakang.
ceklek
Bryan membuka pintu dan segera melepas sepatu hitam dan membuangnya kesembarang tempat.
"Malam ini kalian tidak perlu berjaga, aku bisa menjaga diri dengan baik."
__ADS_1
"Besok pagi pukul enam kalian boleh kembali berjaga lagi disini." Bryan memberi isyarat kepada kedua pengawal yang sedari tadi mengawal mereka.
"Baik tuan." Kemudian mereka undur diri menuju kamar masing-masing.
Aluna masuk ke dalam kamar, melihat Bryan tengah melepas kancing kemeja dan mempertontonkan tubuh atletis.
"Mas." Aluna memanggil namun Bryan acuh dan meninggalkan Aluna sendirian diruang tamu.
Dia memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin meredam gejolak yang dari tadi ditahannya. Berkali-kali dia mencoba menetralkan pikirannya agar tidak memikirkan sesuatu dibalik dress indah yang menutupi tubuh Aluna.
"Argh!"
Bryan menggeram, meninju dinding kamar mandi. Memikirkan Aluna membuatnya semakin frustasi apalagi saat mengenakan dress dibawah lutut dengan kerah O, dimana bagian pundak, sebagian punggung terekspose dengan leluasa.
Diruang tamu, Aluna sedang memikirkan cara agar Bryan tidak marah lagi. Sungguh dia benar-benar tidak ingin berada di situasi rumit seperti ini. Saat sedang asyik melamun tiba-tiba Bryan muncul dan berjalan menuju lemari es, mengambil sebotol air mineral dingin.
Kini pikirannya sudah sedikit lebih tenang dan emosinya sudah mulai meredam. Situasi terasa canggung diantara keduanya.
"Ehm, sebelum tidur kamu bersih-bersih dulu agar tidurmu semakin nyenyak." Bryan mengawali percakapan, mencairkan suasana agar tidak canggung.
Aluna segera menuruti perintah Bryan, masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual malam sebelum tidur.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Aluna melemparkan pandangan kesekeliling ruangan mencari keberadaan Bryan.
"Mas, kamu tidak tidur diranjang?" Aluna menyentuh lengan Bryan yang tengah tertidur di sofa.
Aluna bisa merasakan saat ini Bryan hanya pura-pura tidur untuk menghindari dirinya.
"Aku tahu kamu belum tidur mas dan kamu bersikap seperti ini untuk menghindariku kan?"
"Jika terbangun dan ingin tidur diranjang bersamaku, silahkan."
"Good night mas."
Aluna mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi Bryan sebelum meninggalkan ruang tamu.
to be continued
__ADS_1
Kapan nih episode Bryan unboxing Aluna? Sabar ya kakak, sebentar lagi di unboxing kok. So, ditunggu terus ya kelanjutan ceritanya.
#Jangan lupa like, vote dan komentar serta masukan novel ini ke dalam list favorite kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua.😊