Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Lembaran Baru Kehidupan Aluna


__ADS_3

Sepanjang perjalanan tidak ada satu orang-pun yang mengeluarkan suara. Rendra sibuk memperhatikan kondisi Aluna, Bi Sumi memandangi pemandangan diluar jendela sementara Okky fokus menyetir.


Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Okky sudah sampai di landasan jet pribadi. Rendra sengaja meminjam pesawat itu dari orang tuanya dan meminta bantuan pamannya untuk mengurusi semua kepindahan Aluna ke Singapura serta menyembunyikan keberadaan gadis itu. Ia ingin Aluna hidup damai dengan lembaran baru tanpa dihantui perasaan takut akan dicelakai lagi oleh Eliza dan lepas dari bayang-bayang keluarga Smith. Rendra hanya ingin agar gadis itu hidup bahagia layaknya gadis seusianya.


Ren, sudah sampai." Ucap Okky.


Okky dibantu Bi Sumi menurunkan semua koper dan beberapa barang penting milik Aluna. Dua orang pramugari laki-laki membawa koper-koper itu ke bagasi dan yang lain membawakan sebuah kursi roda untuk Aluna.


Rendra berpamitan kepada Okky dan mengucapkan terima kasih karena selama ini selalu menjadi sahabat yang baik, menemani dirinya dalam suka maupun duka.


Rendra, Bi Sumi dan Aluna masuk ke dalam pesawat. Rendra dan Aluna duduk bersisiran sementara Bi Sumi duduk dikursi belakang. Pria itu sengaja mengajak Bi Sumi untuk menemani Aluna selama berada disana, saat melahirkan nanti pasti gadis itu membutuhkan bantuan seorang nanny.


Rendra bukan tipe pria yang mudah percaya dengan orang baru sehingga membuatnya memutuskan membawa wanita paruh baya itu tinggal bersama. Lagipula Aluna sudah nyaman berada di dekat Bi Sumi jadi Rendra bisa merasa aman jika harus meninggalkan gadis itu saat bertugas.


Setelah take off, Rendra membawa tubuh Aluna dan membaringkannya disebuah ranjang di kamar utama yang berada di hidung pesawat dibawah kokpit, menggantungkan botol infus ke sebuah gantungan khusus. Ia duduk dikursi disamping Aluna membantu dan merawatnya dengan penuh cinta layaknya seorang dokter kepada pasien namun kali ini pasien itu memiliki tempat khusus di hati sang dokter.


"Kak, terima kasih karena sudah bersedia membawaku pergi." Ucap Aluna lemah.


"Sama-sama Luna apapun akan ku lakukan demi kebahagiaanmu."


"Aku rela mengambil resiko besar demi kamu gadis yang sangat ku cintai."


"Walaupun aku tahu cintaku tak kan terbalas." Rendra menunduk, ia merasakan hatinya sakit saat mengucapkan kalimat itu.


"Kak, mungkin saat ini aku belum bisa menerimamu tapi bisakah kakak berikan sedikit waktu untukku menyembuhkan luka ini dan belajar mencintaimu lagi?" Tanya Aluna serius.


Selama ini Rendra begitu baik dan selalu menolong Aluna, pria itu rela mengorbankan apapun demi kebahagiaannya. Ia rela mencintai Aluna walaupun tahu bahwa cintanya tak kan terbalas jadi kali ini dengan penuh keyakinan Aluna ingin memberikan kesempatan kepada pria itu sembari ia menyembuhkan luka di hati.


Bagaimana reaksi Rendra? Tentu saja ia kaget dan tertegun sejenak karena diluar dugaan Aluna memberikan kesempatan kepadanya untuk mengisi kembali ruang kosong di hati gadis itu.


"Aku tidak salah dengar?"


Aluna menggelang.


"Tidak." Jawab Aluna yakin.


"Tapi tolong beri waktu untuku ya kak." Pinta Aluna.


"Tentu."


"Berapa lama? Lima tahun, sepuluh tahun atau berapa tahun aku siap menunggu."


Aluna tertawa melihat pria di hadapannya menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Ehm, empat tahun bagaimana?"


"Oke, empat tahun setelah itu kita...."


"Ya, kita akan menikah dan aku akan menjadi Nyonya Rendra Saputra." Aluna tersenyum manis.


"Tunggu, apa kamu yakin Bryan akan menceraikanmu?" Rendra ragu karena ia tak yakin Bryan akan melepaskan Aluna begitu saja.


"Kamu tenang saja kak, aku akan meminta Bunda Imelda mengirimkan pengacara terbaik untuk membantu proses perceraikanku. Lagipula aku punya alasan kuat mengapa ingin berpisah dengannya. Mas Bryan sudah selingkuh dan aku tidak terima." Aluna cemberut.


"Oke-oke, kalau butuh bantuan kamu tahu harus kemana kan?" Rendra mengerlingkan sebelah mata.


"Dih dasar genit."


Aluna melempar bantal kecil disampingnya ke arah Rendra namun pria itu menghindar. Ia malah tertawa melihat wajah Aluna merona.


"Akhirnya kamu tertawa lagi Luna." Ucap Rendra dalam hati.


***


Enam Bulan Kemudian


Tak terasa sudah enam bulan Aluna berada di Singapura, negara dengan ciri khas patung yang berbentuk singa dan tubuh ikan (Merlion). Hari demi hari kandungannya membesar, kedua anak-anaknya tumbuh sehat dan aktif. Dokter kandungan memberitahukan bahwa HPL nya sekitar dua minggu kedepan sehingga Rendra dan Bi Sumi sudah mulai sibuk menyiapkan semua kebutuhan persalinan wanita itu.


"Ma, pa apakah kalian melihatku dari atas sana?"


Aluna menatap langit berwarna biru dari lantai tujuh sebuah kondominium yang berada di Orchard Road, Singapura. Rendra sengaja memilih lokasi Orchard Road agar Aluna bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan disepanjang ruas jalan karena lokasi itu sangat strategis, sangat nyaman dan ramah bagi pejalan kaki. Pria itu ingin Aluna segera sembuh dari luka dan melupakan masa lalunya dengan lembaran baru bersama kedua anaknya dan tentu saja dengan dirinya.


"Pa, maafkan aku karena tidak bisa menepati janji untuk tidak meninggalkan Mas Bryan. Aku terpaksa melakukannya, ku harap papa mengerti."


"Nyonya, ini susu yang anda minta." Ucap Bi Sumi.


Wanita itu menaruh segelas susu putih ibu hamil didekat rak televisi.


"Terima kasih bi."


"Oh iya, Kak Rendra belum pulang?"


"Belum nyonya, katanya pulang terlambat karena harus melakukan tindakan operasi dulu."


"Apa nyonya mau makan siang sekarang?"


"Memang bibi masak apa?"

__ADS_1


"Bibi masak tumis kangkung, ayam dan tahu goreng serta sambal tomat terasi."


"Semua bahan makanan yang diberikan oleh Mama Irene sudah habis semua bi?" Tanya Aluna.


"Sudah nyonya, yang bibi masak barusan adalah bahan masakan terakhir."


"Hufh, kapan lagi aku akan menikmati makanan itu."


"Akan aku carikan besok khusus untuk calon istriku." Ucap Rendra.


"Kak Rendra!"


Aluna begitu bahagia melihat Rendra pulang kerja.


"Kenapa? Kamu merindukanku?" Goda pria itu.


"Ish, kepedean."


"Jika kamu mau, besok aku akan meminta mama membawakan kembali bahan makanan langsung dari Indonesia. Bagaimana?"


"Ehm, terlalu merepotkan Mama Irene."


"Mama tidak akan repot jika calon menantunya sendiri yang meminta."


Bi Sumi hanya menonton majikannya menggoda wanita pujaannya. Ia tersenyum geli melihat bagaimana alay nya Rendra saat menggoda Aluna.


"Aduh, tuan dan nyonya. Lebih baik bibi kembali ke dapur daripada jadi obat nyamuk."


Rendra dan Aluna terkekeh.


"Aku sudah mengajukan cuti untuk bulan ini agar bisa menemani proses persalinanmu."


"Mama dan papa juga akan datang untuk memberikan support kepadamu."


"Aku tidak tahu harus membalas dengan apa kebaikan kalian semua." Mata Aluna berkaca-kaca.


"Tidak perlu sungkan, orang tuaku ikhlas membantu. Apalagi mereka tahu bahwa kamu adalah calon istriku."


"Apa mereka setuju kakak mendekati wanita hamil yang dicampakan oleh suaminya?"


"Mereka tidak keberatan Luna, malah sangat bahagia karena jika aku menikahimu maka langsung mendapatkan dua orang cucu yang lucu dan menggemaskan."


Aluna dan Rendra tertawa bersama.

__ADS_1


"Kak Rendra selalu bisa menghiburku." Ucapnya dalam hati.


__ADS_2