Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Aryan Mau Papi Bukan Papa!


__ADS_3

Happy reading 🤗


Kabar rencana lamaran antara Ruddy dan Rossa terdengar oleh telinga Bryan, pria itu bahagia akhirnya sahabat sekaligus asistennya tidak lagi menyandang gelar "jomblo" setelah bertahun-tahun hidup tanpa menjalin status dengan seorang gadis. Ruddy hanya pernah sekali berpacaran namun saat ia melanjutkan study diluar negeri kekasihnya meminta putus karena tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh (LDR\= Long Distance Relationship) dan membuat pria itu enggan untuk menjalin kasih dengan seorang gadis hingga suatu hari author dalam novel ini mempertemukannya dengan seseorang.


Saat pertama kali bertemu, Ruddy sudah jatuh hati pada Rossa namun ia berusaha memendam rasa karena ingin agar gadis itu fokus dalam pendidikan dan kini waktu yang tepat bagi pria itu mengutarakan niatnya meminang gadis cantik nan baik hati untuk menjadi istrinya. Bak gayung bersambut ternyata Rossa-pun jatuh hati pada Ruddy sejak pandangan pertama, gadis itu mencintai Ruddy apa adanya. Ia mencintai kebaikan hati Ruddy, kesetiaannya terhadap keluarga Smith dan yang terpenting adalah bakti pria itu kepada mendiang kedua orang tuanya. Ruddy begitu sabar dan ikhlas merawat orang tuanya saat mereka sakit bahkan ketika ajal menjemput ia tidak sedikit-pun meninggalkan bapak dan ibunya sendiri menghadap Sang Pencipta. Itulah sebabnya mengapa Rossa semakin jatuh cinta dan memantapkan hati menerima pria itu sebagai pendamping hidupnya.


Setelah proses lamaran, keluarga Rossa dan Tuan Smith selaku wali dari Ruddy mendiskusikan tanggal pernikahan, baik Ruddy maupun Rossa meminta agar pernikahan mereka dilangsungkan secepat mungkin karena tidak ingin terlalu lama menunggu. Waktu empat tahun sudah cukup bagi keduanya saling mengenal dan tidak ada alasan lagi untuk mereka menunda pernikahan, jika sudah ada calon dan niat yang kuat mengapa hari ditunda.


Kebahagiaan tidak hanya menyelimuti keluarga Rossa dan Ruddy namun juga keluarga Saputra. Empat hari setelah acara lamaran berlangsung di kediaman Rossa, secara resmi Rendra melamar Aluna disaksikan oleh keluarga inti Saputra seperti papa, mama, om dan tante dari pihak laki-laki serta Bi Sumi dan juga Rossa. Gadis itu tidak ingin melewatkan momen bahagia sahabatnya jadi ia terbang dari Jakarta ke Singapura menggunakan jet pribadi milik keluarga Saputra. Ia bersama keluarga Rendra menghadiri acara pertunangan antara Rendra Saputra dengan Aluna Alexander.


Si bungsu Arya begitu antusias melihat apartemen maminya dipenuhi banyak orang apalagi banyak makanan dan minuman tersedia diatas meja, anak kecil itu menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk mencicipi semua makanan dan cemilan yang dibuatkan oleh Bi Sumi. Sementara Aryan, ia hanya sibuk memperhatikan tingkah laku orang dewasa sesekali melirik ke arah maminya.


"Olang dewaca aneh, kenapa teltawa telbahak-bahak memang meleka cedang menonton acala kaltun?" Omel Aryan saat Bi Sumi duduk disamping kursi anak kecil itu.


Bi Sumi terkekeh mendengar ucapan polos anak majikannya, ia berbicara dengan kalimat yang sulit dimengerti oleh orang lain.


"Tuan muda kenapa? Seharusnya bahagia karena sebentar lagi Tuan Rendra menjadi papanya Tuan Muda Aryan."


"Tidak, Alyan maunya papi bukan papa." Teriak Aryan.


Sontak teriakan Aryan membuat semua orang menghentikan sementara kegiatannya, mereka menatap ke arah bocah kecil itu dengan tatapan penuh tanya tanda. Aluna menghampiri putranya, perasaannya bergejolak saat mendengar teriakan putranya.


"Bagaimana Aryan tahu bahwa Rendra bukan papinya?" Tanya Aluna dalam hati.


"Aryan sayang, kamu kenapa?" Aluna mengusap rambut putranya.


"Alyan mau papi bukan papa."


"Aryan bisa kok panggil papa Rendra dengan sebutan papi jika mau." Bujuk Rendra.


"Tidak mau, Alyan mau papi bukan papa!" Aryan menangis kemudian berlari ke kamarnya.


Semua orang saling menatap dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu.


"Kak." Ucap Aluna lirih.


"Kamu susul Aryan, bicara baik-baik dengannya. Biar aku yang urus disini."


Rendra tersenyum berusaha menyembunyikan keterkejutannya akibat perkataan calon anak tirinya.

__ADS_1


"Baik."


"Semuanya, Aluna ke kamar sebentar."


Wanita itu pamit meninggalkan ruang tamu menuju kamar putranya.


"Aryan."


Aluna melihat putranya terbaring diatas ranjang menutupi wajahnya menggunakan bantal sementara jarinya memainkan gantungan kunci berbentuk awan tersenyum.


"Aryan kenapa menangis?" Tanya Aluna.


"Ada yang mau Aryan bicarakan dengan mami?" Wanita itu mencoba mencari penyebab mengapa anaknya berubah.


"Mami, Alyan mau papi. Tidak mau papa."


Bocah kecil itu mengintip dari balik bantal yang hanya menutupi sebagian wajahnya.


"Tadi Aryan tidak dengar, kata Papa Rendra mulai sekarang bisa memanggilnya papi."


Aryan menggelengkan kepala


"Alyan mau Papi Blayn."


Tubuh Aluna seketika melemas, jantungnya serasa mau meloncat keluar dan lidahnya kelu.


"Tuhan, apa yang baru saja aku dengar? Bagaimana Aryan tahu tentang Mas Bryan!"


"Kata teman-teman di cekolah, Alyan bukan anak Papa Lendla." Ucapnya dengan cadel karena belum bisa mengucapkan huruf "R".


"Dan juga Alyan pelnah lihat ada foto mami dan papi pakai baju bilu dalam kotak itu telus Alyan juga menemukan ini." Aryan mengangkat gantungan kunci ditangannya.


Aluna baru sadar bahwa gantungan kunci itu merupakan hadiah dari Bryan saat mereka menghabiskan waktu di mall. Wanita itu menyimpan semua kenangan bersama mantan suaminya dalam sebuah kotak besar yang ia taruh di dalam gudang namun ia tak menyangka bahwa Aryan menemukan kebenaran siapa ayah kandung dia sebenarnya.


"Aryan ingin bertemu papi?"


"Iya mami, Alyan ingin ketemu papi."


"Papi dimana kenapa tidak tinggal belcama kita?"

__ADS_1


"Karena papi sedang bekerja."


"Kapan pulang, Alyan lindu!" Ucapnya polos.


"Aryan benar-benar ingin bertemu papi?"


"Iya."


"Baik sayang, nanti kita pulang ke Jakarta. Mami janji akan mempertemukan Aryan dengan papi tapi ini rahasia."


"Oke, mami."


Aryan memeluk erat tubuh Aluna, bocah kecil itu merasa bahagia akhirnya akan bertemu dengan ayah kandungnya.


Mungkin ini waktu yang tepat bagiku mempertemukan Aryan, Arya dengan Mas Bryan. Aku memang sudah berpisah dengan Mas Bryan namun tidak bisa memutuskan ikatan darah antara ayah dan anak. Sangat egois jika aku terus menerus menutupi kebenaran ini dari kedua anaku. (Aluna)


Aluna bergabung kembali dengan Rendra beserta keluarganya diruang tamu, ia duduk disamping Rendra yang sedang berbincang dengan omnya.


"Kebetulan Aluna sudah kembali, bagaimana jika kita membahas soal rencana pernikahan." Ucap Mama Irene memberikan ide.


"Benar-benar, kita harus membahasnya segera."


"Kamu ada rencana Ren kapan mau melangsungkan pernikahan?" Tanya Papa Fengying.


"Rendra serahkan semua ke Aluna saja pa."


"Bagaimana Aluna?" Tanya tantenya Rendra.


Rossa membisikan sesuatu ke sahabatnya.


"Jangan sampai bentrok dengan pemberkatan pernikahanku. Awas saja kalau sampai terjadi!" Ancam Rossa.


Aluna tersenyum.


"Tidak akan."


"Ehm, bagaimana jika pernikahan itu diadakan dua bulan setelah Rossa dan Tuan Ruddy menikah? Ya sekitar empat bulanan dari sekarang. Selain itu, Aluna ingin meminta sesuatu, apakah boleh?" Tanya Aluna ragu.


"Apa, katakan saja."

__ADS_1


"Aluna ingin...."


to be continued....


__ADS_2