Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Family Time


__ADS_3

Pernikahan merupakan suatu yang sakral karena di dalamnya terdapat sebuah janji suci antara dua insan manusia dihadapan Sang Pencipta, namun untuk menjalani sebuah bahtera rumah tangga pasti tidaklah mudah karena akan banyak kerikil kecil menghadang. Dua orang asing dipersatukan dalam satu atap dengan sifat, karakter berbeda dan kebiasaan yang tak sama sering menimbulkan percikan api permasalahan dalam sebuah rumah tangga. Jika mampu meredam ego masing-masing maka pernikahan akan langgeng namun apabila salah satu atau keduanya tidak bisa meredam maka pernikahan akan berujung di meja pengadilan.


Setiap pasangan yang memutuskan untuk menikah pasti menginginkan rumah tangganya harmonis sampai maut memisahkan namun takdir Tuhan siapa tahu. Ketika Aluna memutuskan menerima perjodohan dengan putra sahabat papanya, awalnya ia tidak menyangka bahwa pernikahan itu akan menghasilkan benih cinta dihatinya. Saat wanita itu menerima ajakan Bryan untuk menjalani pernikahan layaknya suami-istri sesungguhnya ia berharap agar pernikahan itu bisa harmonis namun harapan berbanding terbalik dengan kenyataan. Ditengah kebahagiaan merajut kasih, menyulam benang cinta bersama suami tiba-tiba saja Eliza muncul menghancurkan semua impian wanita itu hingga ia terpaksa meninggalkan semua kenangan bersama suami dengan membawa luka dan kenangan indah dalam hidupnya.


Ketika seorang istri berpisah dengan suami maka anak yang akan menjadi korban, ia akan terpisah dari orang tuanya. Begitu juga dengan Aryan dan Arya, selama hampir lima tahun mereka berpisah dari ayah kandungnya tak pernah sedikitpun dari Aluna menyinggung tentang Bryan maupun keluarga Smith. Ia menutupi semua kebenaran bahwa dalam darah kedua anaknya mengalir darah keluarga Smith, salah satu orang berpengaruh dalam usaha dibidang dekorasi dan seni. Aluna lupa sekuat apapun ia menutupinya kebenaran pasti terungkap dan benar saja Aryan putra pertamanya mengetahui bahwa Bryan adalah ayah kandungnya. Ada sebagian orang mengatakan "kita bisa saja bercerai dengan pasangan namun tidak bisa memutuskan hubungan antara ayah dengan anak". Dan kini Aluna mencoba memberikan kebahagiaan untuk kedua putranya dengan cara mendekatkan ayah dengan putranya.


"Kamu tidak keberatan jika aku mengajak si kembar ke pusat perbelanjaan?" Tanya Bryan saat keduanya duduk di sofa sementara si kembar asyik menonton televisi di ruangan yang biasa Bryan gunakan untuk beristirahat.


"Tidak mas, kamu boleh mengajak anak-anak pergi kemanapun. Mereka juga anak-anakmu." Aluna menghirup aroma teh hijau hangat disebuah cangkir keramik motif bunga-bunga berwarna kuning keemasan.


"Asalkan sebelumnya kamu minta izin dulu kepadaku, agar aku tidak kebingungan mencari mereka."


"Kamu begitu menyayangi mereka. Terima kasih karena sudah merawat kedua anakku dengan baik." Bryan tersenyum.


"Sudah kewajibanku merawat dan membesarkan mereka, mas."


"Selama ini kamu pasti kesulitan membesarkan mereka seorang diri. Belum lagi saat melahirkan dan aku tidak ada disisimu."


"Memang sulit mas menjadi single parents tapi untung saja ada Kak Rendra dan Bi Sumi membantu menjaga mereka."


"Apa kamu benar-benar akan menikah dengan pria itu?" Tanya Bryan penuh selidik.


"Tentu saja, kami sudah bertunangan dan semua persiapan sedang dipersiapkan."


"Kamu bisa membatalkannya dan kembali kepadaku, sayang."


Tatapan mata mereka beradu, cukup lama keduanya saling menatap secara intens.


"Mami, papi ayo beli lobot-lobotan."


Suara Arya menghentikan kegiatan mereka.


"Ehem!" Aluna berdehem.


"Ayo sayang." Aluna menggandeng tangan Arya.


"Papi ayo."


Aryan menggandeng tangan Bryan.

__ADS_1


Mereka berempat berjalan bersisiran, semua orang menatap kagum akan sosok Aluna dan kedua anaknya. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah Bryan. Semenjak tahu bahwa Aluna sudah kembali, pria itu mulai bersikap hangat dan mampu meredam emosi persis ketika saat wanita itu masih menjadi istrinya.


"Selamat siang tuan." Sapa karyawan Bryan saat berpapasan dengan atasanya di lobi.


"Ya, selamat siang." Bryan membalas seraya tersenyum hangat.


"Tuan Bryan sudah kembali." Bisik karyawan tersebut.


"Kamu benar, selama ada Nyonya Aluna maka Tuan Bryan akan mencair dan kita akan selamat dari amukan kemarahan beliau."


Beberapa karyawan mulai berbisik membicarakan perubahan yang terjadi pada atasannya.


Aluna senyum-senyum sendiri.


"Apa yang kamu tertawakan?" Tanya Bryan, saat ia memasangkan seat belt pada kedua putranya.


"Aku kasihan kepada semua karyawanmu, mas. Mereka pasti tersiksa selama empat tahu bekerja dibawah siksaanmu!" Ucap Aluna mengejek.


"Itu karena kamu, coba tidak pergi meninggalkanku mungkin saat ini para karyawan hidup damai." Balas Bryan.


"Salah siapa, dulu lebih memilih cinta pertamanya daripada istri kecilnya."


Bryan menarik napas panjang.


"Kamu sekarang lebih berani dan ucapanmu lebih tajam, sayang."


"Mas, jangan panggil aku sayang lagi. Aku sudah menjadi milik orang."


"Akan aku rebut kembali kamu dari tangan Rendra."


"Mas!" Bentak Aluna.


"Mami!" Ucap Aryan.


Aluna baru menyadari bahwa saat ini bukan hanya ada mereka berdua di dalam mobil melainkan ada dua orang bocah kecil sedang memperhatikan kedua orang tuanya.


"Maafkan mami, sayang!"


Aluna memasang seat belt mencoba menghilangkan amarahnya.

__ADS_1


|| Pusat Perbelanjaan ||


"Papi, Alya mau itu!" Arya menunjuk koleksi robot-robotan Ironman.


"Mau ini?"


"Iya papi, tolong ambilin."


Bryan mengambilkan robotan Ironman dari atas rak.


"Papi, Alyan mau ini ya." Aryan membawa satu buah buku gambar dan satu kotak pensil warna.


"Boleh sayang, ambil saja semua yang ingin Aryan beli. Kalau perlu, semuanya akan papi belikan untuk kakak dan adek."


Bryan berjongkok dan mengusap rambut kedua putranya.


"Mas, jangan terlalu memanjakan mereka."


"Aku hanya ingin menebus kesalahanku dimasa lalu karena sudah menelantarkan kalian."


"Cukup berikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka, itu sudah lebih dari cukup."


Aluna mengingatkan mantan suaminya untuk tidak terlalu memanjakan kedua anaknya karena ia tidak ingin mereka tumbuh menjadi anak-anak manja di masa depan.


"Baik-baik."


"Setelah ini kita ke butik teman mommy, aku ingin membelikan pakaian untukmu."


"Tidak perlu, pakaianku masih banyak yang belum ku pakai."


"Aluna, please jangan menolak niat baikku."


"Kamu belikan saja pakaian untuk anak-anak, bagaimana?" Aluna memberikan sebuah ide karena tidak ingin membuat Bryan kecewa.


"Ok tapi aku belikan satu dress untukmu, terima ya." Bryan mengedipkan sebelah mata.


"Terserah kamu saja deh mas!" Aluna pasrah karena mantan suaminya selalu memaksa.


Hampir tujuh jam mereka menghabiskan waktu berada di dalam mall, keluar masuk toko pakaian, toko perhiasan, tempat hiburan anak-anak, restoran dan terakhir menonton film di bioskop. Ketika keluar mall, langit sudah berubah menjadi gelap, sang surya sudah kembali ke peraduan. Sinar mentari tergantikan oleh sinar rembulan dan bintang bertaburan diatas langit. Udara malam, semilir angin menjadi saksi betapa bahagianya Bryan karena bisa berkumpul kembali bersama kedua anaknya Aryan dan Arya.

__ADS_1


__ADS_2