
|| DUA TAHUN KEMUDIAN ||
Setelah menjalani proses penjajakan dan saling mendalami karakter satu sama lain, membuat Rendra memantapkan hati meminang gadis pujaan hati.
Diana dengan sabar dan tulus memberikan cinta dan kasih sayang serta perhatiannya untuk sang kekasih, Rendra tersentuh dan perlahan-lahan melupakan Aluna. Kini di hati pria itu hanya ada nama Diana, seorang gadis yang dulu pernah ia tolak cintanya.
Saat Rendra sudah melupakan Aluna, ia langsung memberikan kejutan untuk gadis itu. Rendra sengaja datang dari Singapura ke Jakarta dan melajukan kendaraannya menuju rumah sakit tempat Diana bertugas, dihadapan rekan sejawat, pria itu berlutut seraya menunjukan sebuah cincin berlian yang dipesan khusus untuk kekasihnya. Ia menyatakan keinginannya mempersunting Diana dan menjadikan gadis itu satu-satunya ratu dalam hatinya.
Diana terharu menerima kejutan yang diberikan oleh Rendra. Kesabarannya berbuah manis, sebentar lagi ia akan menjadi istri dari pria yang dulu pernah menolak cintanya.
"Hei, kenapa menangis?" Tanya Rendra saat ia melihat Diana meneteskan air mata.
"Ini air mata kebahagiaan mas, aku tak menyangka kamu akan melamarku disini." Diana tersipu malu saat ia melihat sekeliling, semua orang menatapnya penuh rasa iri.
"Bagaimana Di, apakah kamu menerima lamaranku?"
"Iya mas, aku menerimanya." Ucap Diana.
Kemudian Rendra bangkit dan memeluk erat tubuh kekasihnya. Suara tepuk tangan dan sorak gembira memenuhi lorong rumah sakit. Para pengunjung rumah sakit yang hilir mudik sengaja berhenti hanya untuk menyaksikan proses lamaran yang ditujukan kepada Diana, seorang psikiater handal dengan segudang prestasi.
"Aku sudah meminta restu pada Mama Dianka dan beliau memberikan restu."
"Dua bulan lagi kita menikah, aku tidak ingin terlalu lama menunggu."
"Hu'um, aku ikuti apa maumu, mas."
***
Waktu yang dinantikan tiba, kini Rendra dan Diana sudah resmi menjadi suami istri. Mereka berdua duduk dipelaminan, senyum bahagia terukir dari bibir masing-masing.
Diantara kerumunan tamu undangan, nampak Aluna, Bryan dan si kembar tengah duduk menunggu giliran memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai. Ayunda, Rendra, Shera dan tak terkecuali Ruddy serta Rossa juga hadir dalam resepsi pernikahan.
"Sayang, sini biar aku saja yang menggendong Byanca." Bryan mengambil alih tugas menggendong si kecil.
Bayi itu bernama Byanca Smith, anak ketiga dan anak perempuan dari pasangan Aluna Alexander dan Bryan Smith. Aluna berhasil mengabulkan keinginan kedua putranya. Ia memberikan kado ulang tahun untuk Aryan dan Arya tepat disaat mereka menginjak usia enam tahun. Si kembar begitu bahagia mendapatkan kado dari mami dan papinya. Hampir setiap hari menanyakan kapan adek bayi lahir hingga Aluna lelah menjawab pertanyaan mereka.
Semenjak Aluna hamil, Bryan menjadi suami siaga. Ia membantu istrinya melewati fase kehamilan trimester pertama. Fase dimana setiap wanita hamil akan mengalami mual dan muntah. Pria itu banyak belajar bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, ia menyesal karena dulu pernah melepaskan istrinya saat wanita itu tengah berbadan dua. Namun kini Bryan ingin menebus semua kesalahannya dengan cara menjadi suami siaga. Tidak sedikitpun ia meninggalkan Aluna sendirian dirumah bahkan pria itu rela membatalkan semua pertemuan penting demi mendampingi sang istri menjalani proses melahirkan.
Setiap detik rasa cinta pria itu kepada Aluna semakin bersemi sepanjang hari. Bryan tidak ingin membiarkan Aluna terlalu lelah mengurusi ketiga buah hati sehingga ia tetap memperkerjakan Bi Sumi untuk mengasuh si kembar sementara Byanca akan diurus olehnya beserta Aluna.
Saat ia melihat Aluna kecapekan karena menggendong Byanca, pria itu berinisiatif menggantikan istrinya. Bryan ingin istrinya bisa beristirahat sejenak menikmati pesta pernikahan, menyantap makanan lezat dan berbagai aneka cemilan yang tersedia.
"Kamu tidak apa-apa menggendong Baby By?"
"Tidak sayang, sudah kamu makan dulu setelah itu kita naik menyalami kedua mempelai." Titah Bryan.
__ADS_1
Pria itu duduk seraya menggendong tubuh mungil Baby By dalam pangkuan.
"Sudah kosong, ayo naik." Bryan mengajak istri dan kedua putranya naik ke pelaminan.
Bryan dan Aluna menyalami kedua mempelai yang hari itu nampak bahagia dalam balutan pakaian pengantin.
"Happy wedding dokter." Aluna memeluk Diana.
"Terima kasih Aluna." Diana memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri.
Kini Aluna berpindah menyalami mantan tunangannya.
"Kak, samawa ya."
"Terima kasih Luna."
Diana menatap tubuh mungil Baby By yang sedang tertidur pulas dalam gendongan sang papi.
"Wah, Baby By pinter ya tidak rewel saat dibawa ke pesta."
"Tentu aunty, By kan anak pintar." Ucap Bryan menirukan suara khas anak kecil.
Sontak membuat Aluna, Rendra dan Diana tertawa bersamaan. Bi Sumi hanya tersenyum, sementara si kembar geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah konyol papinya.
"Di, turut berbahagia." Ucap Bryan
Bryan berbisik dan berucap pada Rendra "selamat menempuh hidup baru dan selamat datang dalam dunia pernikahan yang sesungguhnya."
"Maksud tuan?"
"Nanti juga kamu akan mengerti." Bryan berlalu dan turun dari pelaminan.
Kini tiba giliran Ruddy dan Rossa memberikan ucapan kepada kedua mempelai. Ruddy tengah mengendong si kecil Rubby dalam dekapan jika diperhatikan, asisten tuan muda Smith nampak seperti seorang hot daddy yang begitu peduli terhadap buah hatinya, mencerminkan potret ayah ideal dan suami idaman.
"Dokter, selamat berbahagia." Ucap Ruddy kepada Diana dan Rendra.
"Terima kasih Tuan Ruddy."
"Semoga pernikahan kalian langgeng dan segera diberikan momongan." Timpal Rossa.
"Tentu saja Rossa, aku akan pastikan secepatnya Rendra junior segera lahir dan menjadi penjaga kedua sahabatnya." Ujar Rendra seraya melirik ke arah Rubby dan Byanca yang duduk di deretan kursi tamu undangan.
"Mas!" Diana mencubit perut suaminya.
"Ya sudah, kalau begitu sekali lagi selamat untuk kalian berdua."
__ADS_1
Malam harinya, saat semua tamu kembali ke rumah masing-masing, Diana dan Rendra baru saja masuk ke kamar hotel yang sudah dihias untuk pasangan pengantin baru. Banyak taburan bunga mawar dilantai dan diatas sprei. Diatas sprei putih terdapat satu pasang handuk dibuat menyerupai angsa membentuk sebuah hati.
Rendra sengaja memesan kamar hotel agar ia bisa menikmati malam pengantin tanpa gangguan dari siapapun. Pria itu ingin agar di rahim sang istri segera hadir buah cintanya bersama Diana.
"Honey, malam ini aku langsung buka segel ya." Ucap Rendra tanpa basa basi.
Diana yang baru saja keluar kamar mandi dengan masih mengenakan kimono mandi hanya mematung. Ucapan suaminya yang tiba-tiba membuat napasnya tercekat.
Memang selama menjalin kasih, Rendra sudah mewanti-wanti ingin segera memiliki keturunan setelah menikah nanti. Maka tak heran jika selama enam bulan terakhir Diana dan Rendra mengikuti serangkaian pemeriksaan kesehatan guna memastikan tubuh keduanya sehat sehingga program hamil yang dilakukan gadis itu berhasil.
"Honey, kamu melamun? Apa kamu tidak setuju jika aku menyentuhmu malam ini?" Rendra berdiri dihadapan istrinya.
"Tidak mas, jika kamu mau lakukan sekarang. Aku sudah siap."
Mendapat lampu hijau dari sang istri, Rendra segera menggendong Diana di atas ranjang. Pria itu melepaskan ikatan kimono yang menutupi tubuh istrinya, menciumi bibir dan menyentuh bongkahan daging dihadapannya. Diana membantu suaminya melepaskan semua pakaian dan ketika keduanya sudah sama-sama polos, dengan hati-hati Rendra melakukan penyatuan.
"Sst!" Diana mendesis.
"Kamu harus menahannya honey."
"Pelan-pelan mas, sakit sekali." Diana mencengkram punggung Rendra dan memberikan luka gores disana.
"Iya, kamu tahan, sebentar lagi aku berhasil."
Beberapa menit kemudian, Rendra berhasil melakukan penyatuan dan kini tubuh keduanya saling menempel.
Diana menikmati setiap sentuhan yang diberikan Rendra, ia terbuai dan terlena oleh gerakan sensual yang diciptakan suaminya hingga tubuh gadis itu gemetar saat sebuah gelombang kenikmatan menghampiri.
"Mas, aku...."
Rendra mengetahui bahwa sebentar lagi istrinya akan mengalami pelepasan, sehingga ia mempercepat laju gerakannya.
"Tahan honey, kita keluarkan bersamaan."
"Ah!"
Teriak Diana dan Rendra bersamaan.
Kini mereka terkulai lemah diatas ranjang, Rendra menarik selimut menutupi setengah tubuh.
"Terima kasih Diana karena kamu sudah memberikan cinta tulus, kasih sayang dan perhatian padaku sehingga aku bisa melupakan wanita itu."
"Kini dan seterusnya hanya ada kamu dihatiku, Dokter Diana."
"Sama-sama mas." Ucap Diana lirih
__ADS_1
Wanita itu merasa lelah akibat pergulatan yang baru saja terjadi sehingga tidak memiliki tenaga untuk membuka mata. Ia teramat ngantuk setelah melayani suaminya selama hampir satu jam. Perlahan-lahan kedua mata dua sejoli yang tengah berbahagia terpejam, mereka berdua terbang menuju alam mimpi bersama-sama.