
Happy reading 🍂
Aluna memandangi wajah suaminya, perlahan-lahan mencondongkan wajahnya kedepan dan bersiap mencium bibir Bryan namun tiba-tiba seorang pelayan datang mengantarkan makanan.
"Permisi, ini makanannya." Seorang pelayan meletakan nampan berisi makanan pesanan Aluna dan Bryan.
Aluna dan Bryan berdehem bersamaan, membenarkan posisi duduk seperti semula.
"Te-terima kasih." Ucap Aluna gugup.
Entah setan apa yang meracuni pikirannya, sampai ia berani mencium suaminya ditempat umum. Mereka memang sudah sah menjadi suami-istri, tidak ada yang salah jika mengungkapkan kasih sayang hanya saja negara kita menganut adat timur jadi tidak lazim melakukan tindakan diluar kebiasaan dan norma yang ada di Indonesia.
"Urusan kita belum selesai. Malam ini, aku akan memberikan hukuman kepadamu jadi persiapkan diri sebaik mungkin."
Aluna menghela napas kasar, ia sudah bisa membayangkan hukuman apa yang akan diberikan suaminya. Dalam sehari ia sudah membuat Bryan marah dua kali dan pasti hukuman yang ia terima akan sangat menyiksa.
"Baik." Ucap Aluna pasrah.
"Kalian berdua, cicipin makanan ini." Perintah Bryan ke kedua pengawal yang duduk di kursi dekat meja Aluna.
"Baik tuan." Pengawal A dan pengawal B mencicipi satu persatu makanan yang dipesan nyonya muda.
"Aman tuan." Ucap mereka serempak.
"Cepat makan, setelah itu kita nikmati sunset dari sini."
Bryan menyodorkan piring berisikan nasi jinggo dan rujak bulung ke hadapan istrinya.
"Habiskan semua, aku tidak ingin kamu kelelahan dalam menjalankan hukuman nanti malam." Ucap Bryan sambil menyantap hidangan di atas meja.
"Hu'um." Aluna hanya menjawab singkat.
Dalam keheningan, Aluna dan Bryan menikmati hidangan tanpa terjadi percakapan diantara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hari semakin senja, matahari mulai kembali ke peraduan. Sinar matahari yang menguning ketika ingin tenggelam dan cahayanya yang redup terasa begitu sempurna menghipnotis pandangan mata. Ditambah pemandangan laut selatan dan deburan ombak menambah keindahan matahari tenggelam di Tanah Lot, Bali.
***
__ADS_1
Pukul tujuh malam waktu setempat, Putu sudah siap menunggu dalam mobil di parkiran tempat wisata Tanah Lot, Bali. Ia menyalakan musik dengan volume keras, menjentikkan jari, menggerakan kepala mengikuti suara musik untuk mengusir rasa bosan karena menunggu.
tok tok tok
Dari luar kaca mobil, seorang pria mengetuk berkali-kali. Putu yang menyadari ada seseorang yang mengetuk kaca mobil segera menoleh dan melihat Bryan sedang menunggu diluar.
"Maaf tuan, saya pikir bukan anda." Putu segera meminta maaf karena ia sadar telah membuat Bryan menunggu.
"Silahkan tuan." Putu membukakan pintu untuk tuan dan nyonya muda Bryan.
"Terima kasih." Ucap Bryan singkat.
Aluna segera menjatuhkan tubuhnya di kursi belakang penumpang, disamping Bryan. Sejak tadi ia tidak bersuara, hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Cepat nyalakan mesin mobil, kita segera kembali ke resort." Perintah Bryan sambil menyenderkan kepala ke sandaran kursi penumpang.
"Baik tuan."
Putu segera menyalakan mesin mobil, melajukan kendaraan roda empat dengan kecepatan sedang.
"Sepertinya terjadi sesuatu diantara mereka." Ucap Putu dalam hati.
Tiga puluh tujuh menit kemudian, kini mobil yang membawa Aluna dan Bryan sudah memasuki pekarangan resort. Putu membukakan pintu untuk Bryan terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Aluna.
Bryan berjalan dengan langkah panjang tanpa menunggu Aluna turun.
ceklek
Bryan langsung melepaskan sepatu putih dan meletakannya dibalik pintu resort. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Aluna baru saja masuk ke kamar.
Ia menuju meja rias, membersihkan sisa make up yang menempel diwajah.
Pikirannya melayang keatas awan, sekelebat ingatannya kembali ke masa SMA.
Flash back on
Masa SMA adalah masa-masa paling indah. Pasalnya masa SMA memberikan pengalaman baru mulai dari pengalaman terlibat drama dengan teman geng hingga drama percintaan.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri kalau drama percintaan juga hadir mewarnai masa SMA. Pada masa SMA, seorang remaja putra atau putri bisa membedakan cinta monyet dan cinta yang lebih serius juga belajar untuk memegang sebuah komitmen. Rasa cinta kepada lawan jenis merupakan suatu hal yang wajar bagi setiap orang begitu pun dengan Aluna Alexander.
Sewaktu SMA, ia pernah menyukai seorang pria layaknya gadis seusianya. Ia menyukai seorang pria yang paling populer se-SMA bernama Rendra Saputra. Seorang pria dengan perawakan tinggi, berkulit putih dan memiliki lesung dagu. Ia murid lelaki dengan jumlah penggemar terbanyak se-SMA Harapan Pelita. Hampir semua murid perempuan mengidolakannya. Mulai dari murid kelas 1 sampai dengan murid kelas 3 selalu menjadikannya topik pembahasan di sela waktu istirahat.
Namun Rendra Saputra tidak pernah menghiraukan tatapan memuja dari murid perempuan di SMA Harapan Pelita, ia hanya fokus dengan tujuan awal belajar di sekolah itu. Prinsipnya hanya satu yaitu belajar dengan tekun hingga ia sukses mencapai cita-cita yang di impikan. Hingga suatu hari Rendra bertemu dengan seorang murid perempuan calon adik kelasnya yang bernama Aluna Alexander. Gadis itu seperti bidadari dalam sekali tatapan Rendra langsung jatuh hati kepadanya padahal ia baru saja bertemu dengan Aluna.
"Gadis itu sangat cantik." Ucap Rendra ketika pertama kali bertemu Aluna dalam sebuah kegiatan masa orientasi siswa atau dengan sebutan MOS.
Dimana Rendra bertugas sebagai ketua panitia yang bertanggung jawab terhadap kelancaran masa orientasi siswa (MOS) dengan jabatan sebagai wakil ketua OSIS dalam struktur kepemimpinan organisasi siswa.
Rendra mencari cara agar bisa berkomunikasi dengan Aluna bahkan mencari letak kesalahan dari gadis itu contohnya seperti disaat Aluna memberikan bekal makanan untuk Rossa. Ia melihat peluang besar untuk mendekati gadis pujaannya.
Selama masa orientasi siswa berlangsung, mata Rendra tidak pernah absen memandangi kecantikan Aluna. Berkali-kali ia melontarkan pujian dalam hatinya untuk gadis itu. Mencuri-curi pandang bila ada kesempatan.
"Ren, aku perhatikan dari tadi kamu memandangi murid itu terus. Apa kamu menyukainya?" Tanya Okky sesama panitian MOS.
"Bisa dikatakan begitu." Pandangan mata Rendra masih fokus kearah Aluna yang sedang duduk di lapangan basket dengan beralaskan koran.
Aluna dan murid kelas 1 yang lain sedang berkumpul di lapangan basket untuk mendengarkan materi seputar visi-misi SMA Harapan Pelita.
"Kamu serius menyukainya?"
"Serius."
"Murid itu bernama Aluna Alexander, dia tetangga rumahku." Ucap Okky.
Rendra menatap tajam ke arah Okky.
"Aku serius Ren."
"Aku bisa memberikan apapun untuk mu asalkan kau berikan semua informasi tentangnya." Ucap Rendra.
"Ehm, kalau aku minta kau kerjakan semua tugas sekolah dari guru, bisa?"
"Aku akan melakukannya asalkan semua informasi yang kau berikan valid."
"Baik, deal."
__ADS_1
Okky menyalami tangan Rendra sebagai bukti kesepakatan.
to be continued....