
Happy reading 🍃
Kini kedua sahabat itu masuk ke sebuah restoran Korea yang menjual makanan khas negeri gingseng.
Restoran ini mengusung konsep kekinian ala anak muda zaman sekarang dengan nuansa K-Pop. Selain itu, restoran ini juga menyediakan fasilitas self service pada setiap mejanya dengan menggunakan i-Pad sehingga pengunjung bisa memesan makanan, request lagu hingga memanggil pelayan hanya dengan sekali sentuh.
Saat pertama kali masuk restoran, kita disambut oleh dua orang pelayan wanita dengan pakaian tradisional masyarakat Korea Selatan (Hanbok).
Hanbok pada umumnya memiliki warna cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku.
"Aluna, apa mereka berdua akan ikut masuk juga?"
"Iya, kalau tidak akan kena omel Mas Bryan."
"Ck-ck-ck, suamimu sekarang over protective."
"Ya sudah, ayo masuk." Aluna menarik tangan sahabatnya.
***
Sementara di tempat lain, Bryan tengah memperhatikan seorang karyawan wanita yang sedang sibuk memaparkan laporan keuntungan dari perusahaan RA Art and Design.
Pria itu menopang dagu dengan kedua tangan, sesekali mengetuk-ngetukan pena diatas meja. Pikiran pria itu tidak fokus.
"Rapat kali ini kita akhiri saja sampai disini." Bryan berdiri dan meninggalkan ruang rapat begitu saja.
"Ada apa dengan Tuan Bryan, mengapa rapat kali ini begitu singkat?"
"Namanya juga pengantin baru, jadi ingin selalu dekat dengan pasangan."
"Tapi aku tidak menyangka, Tuan Bryan yang terkenal dingin sekarang bisa berubah karena seorang wanita."
"Sst! Hentikan percakapan kalian. Jika terdengar Tuan Bryan, habislah kita semua."
Terdengar bisik-bisik dari beberapa orang petinggi perusahaan dan karyawan yang menghadiri rapat siang itu, mereka membicarakan perubahan sikap Bryan.
"Lebih baik kita kembali bekerja."
Bryan berjalan dengan langkah panjang, merogoh saku jas dan menelpon seseorang yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Tut
Tut
Sambungan telpon belum tersambung.
"Argh! Kemana gadis ini?" Ucap Bryan kesal.
"Rudy, istriku tadi pergi ke mall dikawal penjaga kan?"
"Iya tuan, para pengawal selalu menemani nyonya kemanapun ia pergi."
"Lantas mengapa istriku tidak mengangkat telpon?"
"Saya tidak tahu tuan."
Anda sekarang benar-benar sudah gila tuan. Gila karena nyonya muda. Dulu anda sangat menentang perjodohan yang dilakukan oleh Tuan Reymond tapi lihat sekarang baru satu jam nyonya muda tidak berada disini, tingkah laku anda seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Ternyata anak panah dari seorang Cupid mampu membuat anda tergila-gila akan sosok Nyonya Aluna. (Rudy)
Terdengar suara seorang gadis dari seberang sana.
"Halo, mas!"
"Astaga sayang, kamu kemana saja? Berkali-kali ku telpon tidak diangkat." Kini Bryan sudah kembali tenang karena istrinya menjawab telpon.
"Tadi aku ke toilet sebentar."
"Ada apa?"
"Kamu sudah makan?"
"Sudah sayang."
"Huu, padahal aku ingin mengajakmu makan siang bersama." Raut wajah Bryan berubah. Ada sedikit rasa kecewa hinggap di hati pria itu.
"Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar sudah lapar jadi makan duluan."
"Maafkan aku ya."
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa-apa."
"Kalau begitu, aku jemput saja. Bagaimana?"
"Kamu beritahu aku posisi saat ini."
"Memangnya kamu tidak bekerja?"
"Perusahaan ini milikku daddy, apakah pria tua itu berani menegurku karena menemui istri kecilku."
"Hush, tidak sopan berbicara begitu kepada orang tua."
"Memang benar kan, daddy ku merupakan pria tua! Usia dia sudah hampir kepala lima. Sudah saatnya memiliki cucu."
"Aih, pembicaraan kita mulai ngelantur kemana-mana. Aku di mall xxxx dekat kantormu. Cepat kesini!"
"Baik sayang. Aku segera kesana."
"Bye!"
"Bye!"
Dua puluh menit kemudian....
"Sayang." Bryan menghampiri Aluna yang sedang duduk di depan toko perlengkapan bayi.
"Kamu sudah sampai!"
"Mengapa duduk sendirian disini?" Bryan duduk disamping istrinya.
Tatapan mata Aluna lurus ke depan, ia sedang memperhatikan sepasang muda mudi sedang mengantri di booth boba.
"Aku mau itu!" Aluna menunjuk ke depan.
"Kenapa tidak minta para pengawal membelikan untukmu?"
"Tidak mau!" Aluna menggelengkan kepala.
"Aku maunya kamu yang membelikan."
"Jangan bercanda sayang!" Bryan melirik ke arah istrinya.
"Tapi...."
"Ya sudah kalau tidak mau." Aluna beranjak dari bangku namun tangannya segera ditahan.
"Tunggu, aku akan membelikannya untukmu."
"Aku mau rasa honey milk tea, topping coconut jelly dan less ice.
"Baik, tuan putri."
Bryan segera memasuki barisan antrian. Cukup lama pria itu mengantri hingga tiba giliran ia memesan.
"Ini, pesanannya." Bryan menyodorkan satu buah cup boba ukuran large ke arah istrinya.
"Wuah, terima kasih banyak sayang."
Tanpa menunggu lama, gadis itu segera menyeruput minuman segar dihadapannya.
"Ehm, nikmatnya."
Slurp
Slurp
Slurp
"Kamu menyukainya?"
"Hu'um."
"Sebetulnya dulu aku tidak terlalu suka dan jarang membelinya tapi entah mengapa tiba-tiba saja ingin mencobanya."
"Kamu mau mencicipi?"
"Tidak, habiskan saja olehmu."
__ADS_1
"Oke!"
"Tadi kamu jalan sendiri?"
"Aku bertemu Rossa, tadi kami sempat makan siang karena sudah ditunggu bunda jadi dia pamit pulang duluan."
"Oh."
Bryan ber "oh" ria.
"Masih mau jalan-jalan?"
"Kita pulang saja. Aku sudah lelah."
"Akhir-akhir ini aku mudah lelah padahal baru jalan sebentar."
"Perlu ku antar ke rumah sakit?" Bryan menyentuh kening istrinya dengan punggung tangan.
"Tidak perlu, hanya ingin istirahat saja."
"Ya sudah, ayo."
Kemudian mereka berempat termasuk dua pengawal pergi meninggalkan mall menuju parkiran basement.
"Sepertinya akan turun hujan." Gumam Aluna.
"Tenang saja, aku akan menjagamu." Bryan menggandeng tangan istrinya.
Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh petir namun hujan belum turun membasahi bumi.
Jleger
Jleger
"Ah!" Aluna menutup daun telinga dengan tangannya.
"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja selama ada aku disampingmu." Bryan memeluk tubuh gadis itu.
Aluna hanya memejamkan mata, ia tidak berani melihat kilatan cahaya petir yang menyilaukan pandangan.
"Lajukan mobil dengan kecepatan sedang. Kita langsung pulang saja." Bryan meminta Pak Udin melajukan mobil.
"Baik tuan."
Pak Udin melajukan mobil dengan sangat hati-hati.
"Kamu tidak kembali ke kantor?"
"Aku akan mengantarmu pulang, lagipula jika memaksa tetap berada di kantor membuatku tidak tenang."
"Berada jauh darimu membuatku gila. Apalagi sebentar lagi akan turun hujan, kamu pasti membutuhkanku." Bryan mengusap rambut gadis itu.
"Apa tidak masalah jika kamu bolos kerja? Sudah satu minggu meninggalkan pekerjaan dan sekarang kamu bolos lagi."
"Tidak usah kamu pikirkan."
"Tapi aku tidak enak hati, mas. Nanti karyawan kantor membicarakan hal buruk tentangmu, bagaimana?"
"Tinggal aku pecat!"
"Loh kok gitu sih?"
"Terus aku harus bertindak bagaimana?"
"Kamu tidak boleh semena-mena dengan jabatan yang kau miliki."
"Kalau dipecat, bagaimana nasib anak dan istri mereka."
"Kasihan tau!"
"Oke-oke, aku tidak akan memecat mereka."
"Dan tidak akan semena-mena lagi menggunakan jabatanku di kantor. Besok aku akan mulai giat bekerja lagi, bagaimana?"
"Nah, gitu dong."
Aluna semakin menempelkan tubuhnya dalam pelukan Bryan. Gadis itu seolah-olah melupakan traumanya terhadap suara gemuruh petir.
__ADS_1
#Jangan lupa like nya kakak dan masukan novel ini ke dalam list favorit kalian agar tidak ketinggalan cerita sslanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua. 😊