
Kabar pernikahan Aluna dan Rendra yang dipercepat menimbulkan kegelisahan dalam diri Bryan. Sudah tiga malam ia mengalami insomnia akibat terlalu memikirkan berita pernikahan antara mantan istrinya dengan seorang pria keturunan Tionghoa.
Malam itu Bryan sulit memejamkan mata. Ia membolak balikan tubuhnya diatas ranjang namun kedua matanya masih terjaga. Pria itu duduk menyenderkan tubuhnya di headboard ranjang berukuran king size. Bryan menatap ruang kosong disebelahnya, dulu ukuran ranjang king size begitu kecil jika diisi bersama Aluna namun kini ranjang tersebut terlalu besar. Pria itu meraba dan mencium bantal yang biasa digunakan mantan istrinya dulu. Ia sengaja meminta para pelayan untuk tidak mengganti bantal tersebut dengan yang baru, Bu Risa dan pelayan lainnya hanya mengganti sarung bantalnya saja tanpa mengganti dengan yang baru.
Ayunda Smith memiliki kebiasaan mengganti bantal dan guling dua tahun sekali untuk menjaga kualitas tidur anggota keluarga. Ia ingin agar seluruh anggota keluarganya memiliki kualitas tidur baik agar keesokan hari, tubuh menjadi lebih segar dan bersiap menghadapi tantangan kehidupan yang diciptakan oleh Sang Pencipta.
Bryan membuka smartphone menggunakan face lock, pria itu memandangi beberapa slide foto Aluna dan kedua anaknya.
"Aku akan terus berusaha meyakinkanmu Aluna bahwa kini pria bodoh ini sudah berubah."
"Besok aku akan menemui kalian, tak peduli jika Rendra menghajar wajah dan perutku asalkan bertemu kalian, aku ikhlas."
Kemudian pria itu mengembalikan kembali smartphone miliknya diatas nakas. Ia mencoba memejamkan mata, mempraktekan metode pernapasan* bertujuan untuk menghilangkan kecemasan pada saat sebelum tidur. Adapun caranya adalah membuang napas dalam-dalam melalui mulut sampai terdengar suara desis lembut, menutup bibir lalu menarik napas melalui hidung dalam-dalam selama empat detik, kemudian tarik napas selama tujuh detik dan terakhir buang napas secara perlahan melalui mulut selama delapan detik hingga terdengar suara "whooosh", tidak lupa mengulangi cara tersebut sebanyak empat kali.
Metode pernapasan terbukti ampuh mengatasi insomnia yang diderita Bryan belakangan ini. Setelah empat putaran, pikiran pria itu menjadi rileks dan matanya perlahan-lahan mulai mengantuk. Detik berikutnya ia sudah menuju ke alam mimpi.
***
Hari ini langit begitu cerah, matahari bersinar memberikan kehangatan bagi manusia di bumi. Detak jantung kehidupan dimulai saat terdengar suara kokok ayam dan semua aktivitas dimulai.
Seorang pria memandang keluar jendela, tatapannya kosong, raganya seolah melayang, menari ke sebuah dimensi lain.
"Aluna." Gumam pria itu.
"Tuan, sarapan sudah siap. Tuan, nyonya besar dan nona muda sudah menunggu dibawah." Ucap seorang pelayan wanita berseragam hitam dan putih.
"Baik, aku akan segera turun. Tolong buatkan teh hangat sama persis seperti buatan istriku." Titah pria itu.
"Segera saya buatkan."
Pelayan itu membungkuk hormat kemudian kembali ke dapur mengerjakan perintah tuannya.
"Morning, mom dan dad." Sapa Bryan saat sudah berada di ruang makan.
Disana sudah ada Ayunda, Reymond dan Shera duduk tenang di kursi makan mewah bergaya victorian style berwarna putih tulang, terbuat dari bahan kayu jati, bahan oscar dan finishing cat duco, panjang meja berukuran 220 cm dan lebar 100 cm, untuk kursinya sendiri berukuran 60x60 cm. Victorian style memberikan kesan mewah dan glamor, keluarga Smith bak seorang raja dan ratu ketika menggunakan satu set meja makan ini.
"Morning juga sayang."
Bryan mencium pipi kedua orang tuanya.
"Aku tidak dicium juga?" Tegur Shera.
"Kamu minta cium saja pada kekasihmu!"
"Ish kakak." Shera cemberut.
__ADS_1
"Sudah, ayo makan."
Dan merekapun memulai menyantap hidangan dimeja makan, namun sebelum itu Reymond selaku kepala keluarga akan memimpin do'a sebagai rasa syukur atas nikmat dan rezeki dari Tuhan.
"Setelah sarapan aku akan menemui Aluna dan anak-anak." Bryan mengawali percakapan di tengah kesibukan mereka menyantap makanan.
"Di apartemen Aluna?"
Ayunda menyuapkan satu sendok nasi berserta lauk ke dalam mulut.
"Benar dad."
"Ry, sebaiknya kamu mengikhlaskan Aluna biarkan dia hidup bahagia bersama Rendra."
"Mom, aku sudah berkali-kali bilang bahwa sampai kapanpun tidak akan melepaskan Aluna."
"Mommy tahu, kamu masih mencintai wanita itu tapi mau sampai kapan menunggu? Sementara Aluna sendiri sudah tidak mencintaimu." Sambung Ayunda.
"Lebih baik kamu menjalin hubungan baru dengan Diana. Dia gadis baik dan mommy sudah lama kenal dengan kedua orang tuanya."
"Bahkan kamu juga sudah bertemu Dokter Dianka, mamanya Diana, iya kan?"
"Kamu lebih mahir menilai seseorang hanya dengan menatap matanya saja."
"Diana memang baik tapi aku tidak mencintainya."
"Ry!"
"Maafkan aku, mom."
Bryan bangkit dari kursi, tiba-tiba saja pria itu sudah tidak bernapsu. Napsu makannya hilang bersamaan dengan hembusan napas kasar yang keluar dari hidungnya.
"Kalian lanjutkan saja, aku akan jalan sekarang."
"Tapi Ry!" Ayunda meletakan sendoknya diatas piring.
"Mom! Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri, kita tidak perlu ikut campur."
"Mommy hanya kasihan saja dad pada putra kita. Selama hampir lima tahun hidupnya berantakan akibat bercerai dengan Aluna."
"Daddy mengerti perasaan mommy. Jika Bryan menyerah, dia akan berhenti mengejar Aluna."
"Benar mom, sekarang berikan saja dukungan bagi Kak Bryan." Ucap Shera.
Ayunda menimang-nimang pendapat suami dan anaknya, ia sadar bahwa belakangan ini terlalu memaksakan kehendak kepada Bryan sampai melupakan perasaan putranya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan mommy, Ry."
Setelah mengendarai mobil selama tiga puluh menit, kini Bryan sudah berada di depan pintu apartemen milik Aluna. Pria itu sengaja menemui mantan istrinya untuk membujuk agar wanita itu membatalkan pernikahan yang akan dilangsungkan dua hari lagi.
Ting Tong
Terdengar suara bel pintu, Aluna meminta Bi Sumi menggantikan dirinya mengawasi si kembar yang tengah asyik bermain gadget.
"Mas Bryan!"
"Aku mengganggumu?"
"Tidak, silakan masuk."
Aluna membuka pintu lebar dan mempersilakan ayah dari kedua putranya duduk.
"Duduk, mas."
"Anak-anak kemana?" Tanya Bryan basa-basi.
"Ada, mereka sedang bermain gadget ditemani Bi Sumi."
Aluna berjalan ke arah dapur, membuatkan teh hangat kesukaan Bryan. Ikatan pernikahan diantara Aluna dan Bryan memang sudah lama putus namun wanita itu tidak pernah lupa minuman kesukaan mantan suaminya bahkan ia masih mengingat semua hal yang disukai oleh pria itu.
"Diminum dulu."
Bryan menghirup aroma teh hangat buatan Aluna.
"Ehm, masih sama seperti dulu."
"Tumben kesini, ada apa?"
"Sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?" Tanya Bryan penuh selidik.
"Ah, i-i-tuuu...."
Bryan memicingkan mata.
"Sial, kenapa aku jadi gugup begini!" Ucap Aluna dalam hati.
"Ehm!" Aluna berdehem.
"Sudah siap semuanya hanya saja untuk resepsi akan digelar sesuai rencana. Besok lusa kami hanya akan melakukan prosesi ijab qabul saja." Aluna meremas jemari lentiknya.
"Aluna, aku mohon batalkan pernikahan itu dan tolong kembalilah kepadaku."
__ADS_1
to be continued....
NOTE : * sumber : health.kompas.com