
Sudah hampir tengah malam ketika akhirnya semua tamu berpamitan kepada pemangku hajat. Keriuhan mereda seiring dengan berakhirnya pesta. Panitia yang bertugas masih lalu lalang membersihkan sisa-sisa sampah yang ada di ballroom. Aluna dan Bryan sudah beristirahat di kamar hotel yang sudah dibooking sebelumnya begitupun Ayunda, Reymond, Nenek Rina, Tante Melissa, Om Bagas, Shera dan si kembar (Lilly-Freya).
Aluna dan Bryan sudah berada di kamar presidential suite Hotel Xxxx akhirnya bisa melepas lelah setelah hampir seharian berdiri menyalami tamu undangan. Aluna sudah ingin segera berendam air hangat di bathtub untuk melemaskan otot dan me-rileks-kan tubuh.
"Hari ini cukup melelahkan, tak ku sangka akan selarut ini pestanya." Aluna segera menjatuhkan tubuh ke atas ranjang.
"Kamu tidak mandi dulu?" Tanya Bryan baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku mau langsung tidur saja deh, sudah lelah sekali tubuhku." Aluna memejamkan mata.
"Sudah mandi dulu sana, bukan kah tadi kamu bilang ingin berendam air hangat?" Dengan sabar Bryan menasihati Aluna.
"Benar juga. Ya sudah aku mandi dulu." Aluna bangkit menuju meja rias membersihkan sisa riasan yang masih menempel di wajah.
Untung saja riasan yang dipakai tidak terlalu tebal sehingga memudahkan untuk dihapus.
Mata Aluna melihat pantulan tubuh atletis Bryan dari cermin, melihat tetesan air jatuh dari rambut meluncur turun ke leher dan menghilang menembus handuk yang menutupi tubuh Bryan.
Wajah Aluna seketika merona, menyaksikan pemandangan langka yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ini bukan kali pertama Aluna tidur satu kamar dengan Bryan tapi melihat pemandangan langka di depannya merupakan pengalaman pertama.
Bryan masih sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, tidak menyadari bahwa saat ini dia tengah diperhatikan.
Aluna tidak tahan segera berlari ke kamar mandi, membanting pintu dengan keras dan membuat Bryan kaget.
"Hei, apa yang kamu lakukan Aluna. Kenapa kamu membanting pintu?" Teriak Bryan.
"Maafkan aku, tidak sengaja." Aluna berteriak dari dalam kamar mandi.
Dia segera menyalakan keran bathtub dan menyenderkan tubuh.
"Apa yang sudah aku saksikan? Tadi itu.... Itu.... Tubuhnya, ototnya, perutnya atletis sekali. Roti sobek....."
Aluna meracau tidak jelas.
"Argh, sial. Kenapa aku jadi tidak fokus."
"Oh astaga! Sejak kapan Mas Bryan memiliki roti sobek ditubuhnya."
Aluna menggelengkan kepala agar pikirannya kembali jernih sejernih mata air dipegunungan.
Sudah hampir dua puluh menit, air dalam bathtub sudah hampir terisi penuh. Aluna mematikan keran, meneteskan beberapa tetes minyak esensial dan melepaskan gaun namun karena gaun yang digunakan bagian belakang ritsleting sedikit sulit dijangkau menyebabkan Aluna kesusahan. Berkali-kali mencoba selalu gagal.
__ADS_1
"Oh Tuhan, kenapa sulit sekali."
Aluna masih berusaha membukanya. Memutarkan tubuh kesamping kanan, kesamping kiri tetap tidak berhasil.
"Apa yang harus ku lakukan." Aluna terduduk lemas di lantai. Saat ini dia benar-benar membutuhkan bantuan Rossa.
"Sebaiknya aku telpon Rossa, meminta bantuan dia."
"Tapi ini sudah larut, kasihan dia jika harus datang kesini hanya untuk membantuku melepaskan gaun pengantin."
Aluna mengacak-acak rambutnya. Sungguh sial sekali nasibnya malam ini.
"Apakah aku harus meminta bantuan Mas Bryan? Hanya dia yang bisa membantuku."
"Tidak, kalau dia membantuku maka akan melihat tubuhku dong."
"Kalau tidak meminta bantuannya sampai besok aku tidak bisa keluar dari sini."
Aluna masih berperang dengan pikirannya, mencari jalan keluar agar bisa melepaskan gaun pengantin, mandi dan segera istirahat.
"Ya, aku harus meminta bantuan Mas Bryan." Aluna membulatkan tekad akan meminta bantuan Bryan.
Aluna beranjak dan menuju pintu. Membuka pintu dengan lembut namun posisi tubuh masih berada di dalam kamar mandi.
"Belum, ada apa?" Jawab Bryan, dia masih menonton televisi.
"Aku mau minta tolong, boleh?"
"Apa?"
"Kamu kesini dulu sebentar." Pinta Aluna.
Bryan beranjak dan menuju pintu kamar mandi. Di tatapinya wajah kusut Aluna.
"Ada apa? Bukan kah dikamar mandi sudah disediakan bath robe untuk mu juga?"
"Iya tapi bukan itu." Aluna masih belum menjelaskan ingin meminta bantuan apa ke Bryan.
"Lantas apa?" Bryan sudah tidak sabar menunggu.
"Itu...itu...."
__ADS_1
"Jika kamu tidak bicara, aku akan kembali."
Bryan memutar badan hendak berjalan namun tangannya dicekal.
"Tolong bantu aku melepaskan gaun ini. Ritsletingnya susah dibuka, dari tadi aku mencoba tapi selalu gagal."
Benteng pertahanan diri yang dibangun Aluna selama bertahun-tahun roboh, dia harus menahan malu dihadapan suaminya.
Bryan berbalik dan memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Aluna, apa kamu tidak salah bicara?"
"Tidak mas, aku sungguh minta bantuanmu."
Mata Aluna sudah berkaca-kaca dan membuat Bryan tidak tega.
"Begini Aluna, kamu tahu jika aku membantumu maka sebagian dari tubuhmu akan terekspos. Aku pria normal dan akan mengalami reaksi alami seperti pria diluaran sana. Apakah kamu tidak takut akan terjadi sesuatu diantara kita malam ini?" Tanya Bryan penuh hati-hati.
Suami mana yang akan tahan melihat tubuh istrinya terekspos dihadapannya, pasti dia akan merasakan perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya apalagi Bryan pria normal dan belum pernah melakukannya dengan siapapun. Bahkan ketika berpacaran dengan Eliza, dia tidak pernah melakukan sesuatu diluar batas hanya sebatas pegangan tangan saja.
Aluna mematung mendengar penuturan Bryan.
"Ehm, memangnya apa yang akan terjadi?" Tanya Aluna pura-pura. Dia tidak mengerti maksud Bryan.
"Sudah lupakan saja. Cepat kamu berbalik, aku akan membukannya. Setelah itu kamu mandi dan segera tidur."
Perlahan-lahan Bryan membuka ritsleting gaun pengantin, bersusah payah menelan saliva berkali-kali ketika gaun itu turun inci demi inci dari punggung mulus Aluna ketika sudah hampir mencapai pinggang, Bryan menghentikan gerakan dan segera membalikan tubuh.
"Aku rasa sampai batas ini, kamu bisa melepaskannya sendiri."
"Hm, terima kasih banyak mas."
Bryan tidak langsung kembali ke ranjang, dia membuka lemari es menuangkan sebotol air putih dingin ke dalam gelas kemudian menegaknya sampai tandas.
Malam ini Bryan benar-benar dipermainkan oleh hasr*tnya sendiri. Dia sudah menahan godaan sejak lama, hanya dalam mimpi saja Aluna sudah begitu mengg*da.
"Gadis itu apakah sengaja menguji kesabaranku?"
Mata Bryan melirik sesuatu dibalik pakaian yang dikenakan, membayangkannya saja sudah membangkitkan ga*rah.
"Sial, mengapa kamu bangun disaat yang tidak tepat?" Ucap Bryan kesal, menutup lemari es dan menuju sofa.
__ADS_1
"Malam ini sebaiknya aku tidur di sofa saja, aku tidak yakin dapat menahannya jika berdekatan dengan Aluna."
#Jangan lupa vote, like dan tambahkan novel ini ke dalam list favorite kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua. ☺️