Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Mari Berpisah


__ADS_3

Sudah satu bulan dari kepergian Alexander namun masih menyisakan kesedihan mendalam bagi Aluna. Selama satu bulan itu juga Bryan tidak memberikan kabar, tidak pulang kerumah dan semua urusan pekerjaan diserahkan kepada Rudy.


Kantor RA art and design


"Rudy, apa boss mu tidak masuk kerja lagi hari ini?" Tanya Reymond ketika mereka berpas-pasan di lobi kantor.


"Tidak tuan, Tuan Bryan masih belum masuk kerja."


"Nanti siang aku akan datang ke apartemennya dan kamu jangan memberitahu anak bo*doh itu!"


"Baik tuan."


Reymond meneruskan langkah menuju ruang presdir diikuti asisten pribadi yang setia mendampingi selama bertahun-tahun.


"Tuan, apakah saya perlu membawa beberapa body guard untuk membawa pulang Tuan Bryan?"


"Tidak usah Johan, biarkan aku sendiri yang menyeret anak itu. Dia sudah membuatku malu, untung saja Aluna tidak berbicara di depan umum bahwa Bryan adalah suaminya. Jika itu sampai terjadi, keluargaku akan menjadi buah bibir. Mertua meninggal tapi menantu tidak ikut mengantarkan ke pembaringan terakhir."


Reymond melemparkan semua berkas diatas meja, jika mengingat kejadian itu ingin rasanya dia memberikan tinju ke wajah Bryan.


"Anak itu sungguh membuatku kesal." Tangan Reymond mengepal di udara, deru nafas semakin cepat seperti orang sedang maraton.


"Sabar tuan, tolong kendalikan emosi anda."


"Kamu tolong bereskan semua ini, aku akan ke ruang rapat menggantikan anak bo*doh itu!"


"Baik tuan."


...****************...


Rapat berlangsung selama kurang lebih dua jam, presdir RA art and design meninggalkan ruangan dan menuju parkiran khusus pemilik perusahaan. Di dalam mobil sudah ada Johan orang kepercayaan sekaligus asisten pribadi dan merangkap juga menjadi supir pribadi Reymond Smith.


"Apakah kita bisa jalan sekarang tuan?"


"Iya, segera kau lajukan mobil ini. Kalau bisa hanya dalam waktu lima menit sudah sampai!"


"Akan saya usahakan secepatnya sampai lokasi."


"Huum."


Setelah mendapat persetujuan dari Reymond, mobil itu bergerak meninggalkan parkiran dan bergabung dengan kendaraan lain di jalanan ibu kota. Jam sudah menunjukan waktu makan siang jadi jalanan tidak terlalu ramai dan itu sangat memudahkan Johan. Akhirnya Reymond sampai di apartemen Bryan.

__ADS_1


Dengan langkah panjang dia berjalan menaiki lift dan menekan bel apartemen.


ting tong


ting tong


ting tong


Bryan merasa heran siapa gerangan yang menekan bel sampai berkali-kali. Tanpa curiga dia segera membuka pintu dan dari balik pintu muncul Reymond dengan wajah merah padam.


"Dasar anak bo*doh, kemana saja kamu selama ini?" Umpat Reymond.


"Ada apa dad, aku sudah bilang sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun!"


"Anak sialan, sudah satu bulan kamu meninggalkan rumah dan istrimu. Apa kamu lupa bahwa saat ini kau sudah beristri?"


"Istri apa dad? Aku bahkan tidak mencintai gadis itu. Aku menikahinya hanya karena paksaan dari kalian!" Bryan berteriak sambil memaki.


"Cukup Bryan, jangan pancing emosiku."


Reymond duduk dikursi mengatur napas dan meredam emosi. Saat ini tidak ada gunanya mereka bertengkar.


"Dengarkan daddy, mertuamu Alexander sudah meninggal satu bulan lalu. Dia meninggal tepat satu hari setelah kalian menikah. Itulah sebabnya daddy berkali-kali menelpon mu ingin memberitahukan kabar itu."


Bryan mematung jadi kemarin Reymond berkali-kali menelpon hanya ingin memberitahu berita duka kepadanya dan bo*dohnya dia malah asik menghabiskan waktu disini bercengkrama dengan berbungkus bungkus ro*kok padahal disana Aluna sedang berduka.


"Argh." Bryan mengusap kasar wajahnya.


"Tunggu, aku akan bersiap dulu."


Kini Bryan sudah siap dengan penampilan lusuh, kemeja kusut dan rambut gondrong. Kesan keren yang melekat pada Bryan pergi entah kemana.


Reymond berjalan beriringan dengan Bryan, mereka memasuki mobil menuju rumah Alexander.


Tak terasa mereka sudah memasuki pekarangan rumah milik Alexander. Mereka berdua melihat jelas Aluna sedang termenung duduk sendiri di kursi teras rumah. Dari kejauhan Bryan bisa melihat kesedihan mendalam pada diri Aluna. Sebetulnya dia tidak tega tapi dorongan untuk tidak memperdulikan gadis itu lebih besar dan mengalahkan nalurinya sebagai suami.


Reymond dan Bryan keluar bersamaan.


"Assalamu a'laikum." Ucap Reymond tatkala memasuki rumah.


Tidak ada respon

__ADS_1


"Assalamu a'laikum." Reymond sekali lagi mengucapkan salam.


Rossa yang mendengar ada seseorang yang sedang mengucapkan salam segera berlari kedepan dan mendapati Reymond dan Bryan berdiri di depan rumah.


"Wa'alaikum salam. Eh ada Om Reymond dan Kak Bryan, silahkan masuk." Rossa mempersilahkan tamu untuk masuk ke dalam.


"Aluna, itu ada Om Reymond dan Kak Bryan datang. Ayo temui mereka."


Aluna bangkit dari kursi dibantu Rossa dan Rossa mendudukannya di sofa tamu. Aluna masih melamun, tatapan mata kosong, badannya semakin kurus, mata sembab dan terdapat lingkar hitam disekitar kulit mata.


"Aluna, ada Om Reymond ingin berbicara denganmu." Bisik Rossa ditelinga Aluna.


Pandangan Aluna memperhatikan kedua pria dihadapannya. Mata indah miliknya menatap ke manik biru milik Bryan seolah tersihir kesadaran Aluna kembali. Dia langsung memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata milik Bryan.


"Ada apa daddy datang kesini?"


"Daddy datang kesini ingin kamu---."


"Ingin agar kamu kembali kerumah bersamaku." Potong Bryan.


"Omong kosong, bukan kah kamu senang aku pergi dari rumah itu?" Tanya Aluna penuh emosi.


"Kamu salah paham." Bryan berusaha menjelaskan.


"Salah paham apa? Kamu sendiri pergi meninggalkanku begitu saja padahal kamu janji ingin mengantarkan ku kerumah sakit tapi kamu malah ingkar!"


Aluna menagis, hatinya sakit, dia kecewa dengan sikap Bryan.


"Hiks, hiks. Kamu bohongin aku Mas." Aluna jatuh ke dalam pelukan Rossa.


"Disaat papa ku meninggal, kamu bahkan tidak menghadiri pemakaman nya. Kamu boleh saja tidak menganggapku sebagai istrimu tapi apakah kamu juga tidak menganggap papa ku sebagai mertua?"


"Aku sangat berharap kamu hadir kemarin tapi semakin aku berharap semakin hancur hatiku. Kamu takut aku akan mengganggumu kan makanya kamu mematikan ponsel agar daddy tidak terus menerus menelpon."


"Asal kamu tahu mas, aku pun terpaksa menerima pernikahan ini bukan karena aku benar-benar mencintaimu. Aku menikahimu hanya demi papa!"


"Dan sekarang karena papa ku sudah tiada, kamu boleh menceraikan ku!" Ucap Aluna panjang lebar.


"Aluna, apa yang kamu katakan nak jangan bicara sembarangan disaat kamu sedang emosi. Mari kita bicarakan dengan kepala dingin tanpa emosi." Bujuk Reymond.


Bryan tidak bisa berkata, dia hanya diam seribu bahasa. Tidak menyangka bahwa Aluna akan membahas perceraian di usia pernikahan mereka masih seumur jagung.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen agar author selalu semangat update. 😊


__ADS_2